Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia

Mentari Delita // 11140110136

 

Image

Saya ingin bertanya, apa yang ada dibenak anda saat mendengar kata “kanker”?. Tentu sebuah hal yang sangat berbahaya dan begitu menakutkan. Lalu berikutnya, saya ingin tahu apa yang ada dibenak anda saat penderita kanker tersebut adalah anak – anak? tentunya akan sangat menyedihkan dan tentu akan ada kata “kasihan”. Namun inilah yang ingin saya bagikan pada anda kali ini, sebuah kisah singkat tentang anak- anak penderita kanker. Anak – anak yang terlihat biasa diluar namun ternyata begitu keluar dari biasa.

 

Kisah ini dimulai dari saat saya melepas alas kaki dan mencuci tangan saya, lalu masuk ke sebuah rumah dua tingkat di jalan percetakan negara, Jakarta Pusat. Sebelum berjalan lebih jauh ke ruang demi ruang, saya duduk berbincang sesaat bersama para pengasuh di rumah ini. Tentang apa saja keseharian mereka dan bagaimana sabarnya mereka menghadapi anak anak setiap harinya.

 

Sekitar setengah jam akhirnya saya mulai menapaki anak tangga menuju lantai dua. Siang itu, tangan – tangan mungil mereka tengah asik melipat kertas warna. Siang itu, apa yang terdengar oleh kuping ini adalah lucunya celoteh mereka dalam irama kepolosan. Siang itu, seluruh atmosfer membuat saya semakin antusias memulai hari disini. Sesekali tertawa, meski sebenarnya menyimpan iba yang begitu besar. Selalu mencoba ikut tersenyum meski sebenarnya air mata tidak dapat saya tahan. Rumah dimana saya sedang berada saat itu punya nama, yaitu Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI).

 

Mungkin banyak dari kalian yang belum pernah mendengar tentang YKAKI sebelumnya. Tempat ini adalah rumah bagi anak – anak penderita kanker dibawah 14 tahun. Dari mulai leukemia, retinoblastoma, tumor otot dan macam – macam jenis kanker lainnya. Dari yang didalam kota hingga luar kota semua bisa ditampung di yayasan ini. YKAKI adalah anggota ICCCPO (International Confederation of Childhood Cancer Parent Organizations) memiliki akses serta sarana untuk memperoleh informasi yang tepat bagi pengobatan dan atau perawatan anak penderita kanker.

 

Yayasan ini dibentuk dengan dasar kasih sayang, dengan empati dan kepedulian terhadap anak – anak penderita kanker sekaligus orang tua mereka. YKAKI didirikan dalam rangka menyediakan pendidikan selama masa penyembuhan dan dukungan kepada orang tua anak penderita kanker dengan cara yang paling mungkin sehingga mereka akan merasa beban dan tekanan selama masa perawatan anak mereka akan berkurang.

 

Sebelumnya saya ingin memaparkan visi yayasan ini terlebih dahulu. Yaitu sebagai berikut: Setiap anak Indonesia yang menderita kanker berhak memperoleh pengobatan dan perawatan yang sebaik-baiknya, termasuk hak belajar dan bermain selama masa perawatan di rumah sakit.

 

Dan memiliki misi:

 

- Pengobatan dan perawatan anak penderita kanker sangat menguras tenaga dan pikiran serta membutuhkan biaya yang tinggi.

 

- YKAKI memberikan informasi bagi masyarakat awam dan berbagai pengalaman dalam menangani penyakit kanker.

 

- YKAKI menyediakan fasilitas pendidikan, akomodasi serta transportasi bagi anak-anak yang sedang dalam pengobatan dan perawatan di rumah sakit.

 

- Usaha-usaha lain yang menyangkut kanker pada anak dalam arti seluas-luasnya.

 

                Sekarang saya ingin kembali berbagi kisah pada anda, tentang bagaimana setiap waktu yang saya lewati bersama tempat ini memberikan kesan dan pelajaran berharga yang tidak mungkin saya lupakan.

 

                Dimulai dari perkenalan saya dengan anak pertama, Melani(7) namanya, ia mengidap kelenjar getah bening. Sekilas, ia adalah anak yang paling terlihat sehat disini. Tidak ada tanda – tanda seperti seorang pengidap kanker, tidak lemas ataupun pucat bahkan begitu penuh semangat. Saat saya mencoba mengajaknya bicara, ia tengah membuat sebuah burung kertas dengan kertas lipat warna orange. Caranya yang begitu antusias menyambut saya, membuat saya begitu mudah dekat dengan anak ini. Semangat .. semangat dan semangat adalah satu – satunya hal yang selalu ia tunjukan pada saya. Luar biasa, bahkan sebagai orang sehatpun saya tidak punya semangat sebesar itu.

 

Lalu berikutnya, saya bertemu dengan mahluk kecil yang sangat cantik meski tidak punya rambut alias botak. Indah(5) seperti namanya, meski kini hanya bisa melihat dengan satu mata saja namun ia masih bisa berlari kian kemari melebihi mereka yang punya penglihatan normal. Anak ini begitu mudah dekat orang asing, sering kali ia memeluk dan menggenggam tangan saya. Lalu bagaimana mungkin saya tidak jatuh cinta dengan anak semanis ini? Namun lagi dan lagi semangat yang saya lihat dari anak ini membuat saya malu pada diri sendiri. Hal lain yang saya dapat darinya adalah bagaimana kita memang seharusnya menghargai setiap organ tubuh yang kita miliki sebelum pada akhirnya mereka rusak dan hanya sebuah pajangan.

Hari semakin senja, saya masih berada disini dan tidak sedetikpun rasanya ingin pulang. Waktu yang semakin panjang membuat saya kini duduk bersama Raji yang sama sekali tidak bisa melihat. Sebelum duduk bersama diranjangnya, ia tengah digendong sang ayah. Sedikit cerita dari sang ayah, Raji baru saja di operasi beberapa hari silam. Sebelum kini penglihatannya harus benar – benar hilang. Ia sedikit berbeda dengan Indah dan Melani, ia tidak banyak bicara, dan hanya bergelayut manja pada sang ayah. Sesekali tersenyum lalu kembali tanpa ekspresi. Saya bukan takut, namun benar – benar tidak tega padanya. Sehingga saya memutuskan untuk tidak berlama – lama duduk bersama anak ini.

 

Pergi meninggalkan kamar Raji, saya berjalan celingak – celinguk layaknya orang asing. Mengintip ruangan demi ruangan, mencari sesuatu yang bisa saya gali. Ada beberapa kamar yang berpenghuni dan ada yang kosong. Hingga sampai di sebuah ruangan, tempat tidur paling pojok menarik perhatian saya. Ada seorang anak laki – laki sedang tidur disana. Tubuhnya besar, sedikit berisi dan juga tanpa rambut alias botak. Saya menduga bahwa umurnya sudah sekitar 14 tahun. Dengan hati – hati saya masuk dan memperhatikannya. Mengambil tempat duduk disebuah ranjang disamping ranjangnya. Rupanya ia tidak tidur, hanya memejamkan mata dan membolak – balikan posisi tidurnya.

 

 

                Percakapan kamipun dimulai meski berawal dari canggung satu sama lain. Saya mulai dengan mengajaknya untuk sama – sama duduk saling berhadapan. Bertanya siapa namanya dan berapa umurnya. Ia menjawab perlahan dengan malu – malu.

 

 

 

“nama saya Adi kak, umurnya 14 tahun”

 

              Sedikit ada rasa senang bahwa dugaan saya benar, umurnya 14 tahun. Anak ini memang tidak banyak bicara, tapi ia mampu menjawab pertanyaan demi pertanyaan saya dengan sangat baik. Saya tahu ia bukan malas bicara, tapi ia malu. Tapi itulah yang membuat saya semakin penasaran dengan anak ini. Dengan mimpinya terutama. Awalnya memang ia malu – malu namun melihat saya yang tidak tahu malu akhirnya ia mulai bersemangat bercerita tentang mimpinya ingin jadi seorang artis. Sontak saya tertawa, bukan menghina. Tetapi sorot matanya yang penuh semangat mengucapkan kata “artis” terlihat begitu lucu. Selanjutnya saya bertanya, siapa idolanya. Ia diam, berpikir lalu menjawab “nggak ada”. Saya kembali tertawa, anak – anak benar – benar menarik. Ia tidak tahu mengapa ingin jadi artis dan bahkan tidak punya idola. Tapi ia tahu bahwa artis merupakan cita – citanya.

 

Selesai berbincang cukup lama dengan Adi yang sangat menarik itu, saya lalu masuk ke sebuah ruang kelas. Didalam kelas, ada beberapa sukarelawan asing yang sedang mengajar bahasa inggris ke beberapa anak, karena tidak ingin mengganggu saya mengambil posisi tempat duduk paling pojok. Memperhatikan dan terkadang tertawa karena tingkah anak – anak yang polos. Tidak lupa juga memainkan kamera saya dan mengambil beberapa gambar. Rupanya sukarelawan asing itu sudah satu minggu berada disini, dan hari ini adalah hari terakhir mereka. Sontak saya berpikir pasti akan sangat berat meninggalkan tempat semenarik ini.

Setelah saya rasa cukup puas berada didalam kelas, saya turun kembali kebawah. Bermain bersama Indah dan Melani di teras. Dan rupanya, sore itu ada donatur orang India yang datang dan ingin merayakan ulangtahun anaknya di YKAKI. Sudah dipersiapkan keyboard dan segala macam perlengkapan pesta lainnya. Pemandangan ini sungguh menarik bagi saya, dimana mereka semua bisa saling berbagi kebahagiaan,berbagi tawa meski tidak semuanya bisa menikmati ada yang hanya duduk diam dikursi roda, atau bertumpu pada tongkat seperti tidak ada semangat. Namun mereka semua tetap membuat saya kagum, akan semangat dan kegigihannya.

 

Sebelum pamit pulang, saya sempatkan untuk kembali penemui beberapa pengasuh disini. Mereka kembali berbagi cerita tentang suka duka merawat anak – anak luar biasa itu. Dan bukan hanya anak – anak, para pengasuh disini juga membuat saya kagum. Mereka begitu tulus dan sabar menghadapi anak – anak.

 

Dalam perjalanan pulang, saya terus berpikir tentang semua hal yang saya dapat hari ini. Semua hal membuat saya malu, bahwa semangat yang luar biasa justru datang dari orang – orang yang tidak pernah saya duga. Semangat yang luar biasa datang dari adik – adik kecil yang kemungkinannya untuk hidup lebih lama, mungkin sangat kecil. Lalu masih pantaskah saya tidak bersyukur untuk setiap nikmat yang saya miliki saat ini. Rasanya tidak.

 

Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak anda semua untuk terus bermimpi dan jangan pernah berhenti sekecil apapun kemungkinan untuk meraihnya. Dan saya juga ingin mengajak anda semua untuk selalu bersyukur untuk setiap detik yang masih kita miliki. Dan yang terakhir, saya ingin berterimakasih kepada Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia dan seluruh atmosfernya untuk pelajaran yang tak akan pernah mampu untuk saya beli.

 

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s