‘Saya kuliah di subsidi oleh rakyat, maka itu saya harus berjuang untuk rakyat’

‘Saya kuliah di subsidi oleh rakyat, maka itu saya harus berjuang untuk rakyat’

Oleh : David Jonathan – 11140110116

Minggu lalu kami ke makam, langit cerah di sore hari, beberapa masyarakat lain terlihat juga turut datang membersihkan makam keluarganya. Dikala senja ibu duduk termenung, melihat tiang dan bendera merah putih, ciri khas Republik Indonesia yang berdiri tegap di makam anaknya. Mengenang peristiwa terakhir kali ia melihat anaknya. Terpahat kalimat yang berbunyi “Saya kuliah di UI di subsidi oleh rakyat, maka itu saya harus berjuang untuk rakyat” di batu nisan makamnya.

“Negara telah melupakan anak saya,  sampai hari ini tidak ada jawaban pasti siapa dalang dibelakang skenario ini. Bantuan hukum, penghargaan, kompensasi, duit sepeser pun tidak ada yang kami terima dari pemerintah” Ho Kim Ngo Ibunda Yun Hap.

Image

Indonesia saat itu masih dalam masa-masa kelabu dan sulit. Setelah lengsernya Presiden Soeharto, lalu tidak langsung merdeka bebas (orde baru), tetapi masih dalam kondisi masa transisi yang sangat sulit. Kepemerintahan dilanjutkan oleh B. J. Habibie, sebagai presiden yang sebelumnya menjadi wakil Soeharto. Tidak sedikit masyarakat dan mahasiswa yang lalu menentang kepemerintahan B. J. Habibie, menuntut harus segera diganti presidennya. Waktu itu tanggal 23 September 1999 dimana mahasiswa se-Indonesia bersatu berdemo dan bergerak bersama untuk mengagalkan pengesahan rancangan UU Penanggulan Keadaan Bahaya (PKB) dimana isinya menurut banyak kalangan sangat memberikan keleluasaan kepada militer untuk melakukan keadaan negara sesuai kepentingan militer. Secara tidak langsung kebijakan ini memberikan kapasitas dan pintu yang lebih lebar kepada militer untuk melawan, seperti kejadian 1 tahun sebelumnya tragedi mei 98. Sehingga dikahwatirkan akan semakin banyak korban mahasiswa yang berjatuhan ketika melakukan aksi unjuk rasa.

Hari itu Yun Hap berpamitan untuk kegiatan rutinitas kampus pada tangal 22 September 1999. Memang ada wacana ia akan ikut turun berdemo, ia hari itu mengenakan kaus putih layknya anak muda, dengan celana jeans. Ia seorang teknik electro yang cemerlang, ini ditunjukan dari hasil belajarnya yang mampu membuat ia layak menerima beasiswa dari Universitas Indonesia. Selain itu menjadi suatu kebanggan tersendiri bagi Yun Hap yang bisa menembus Universitas Negeri, dengan menyandang etnis Tiong Hua. Ia lah orang satu-satunya keturunan Tiong Hua yang saat itu menerima beasiswa 100 persen dari UI.

Di malam harinya Yun Hap mengabarkan kepada keluarga dirumah, bahwa ia belum bisa pulang berhubung jalanan ramai, banyak yang di tutup dan resiko yang sangat besar. Tanggal 23 nya lalu disusul ia akhirnya sempat pulang krumah, untuk mandi, makan dan berberes diri. Tanggal 24 paginya ia melakukan aktivitas rutinannya. Agenda hari itu ialah belajar bersama temannya di kampus. Tetapi beliau tidak mengatakan bahwa akan ada aksi turun jalan. Hari itu memang menjadi hari penentu keputusan rancangan UU PKB tersebut disahkan atau tidak. Menjelang sore Yun Yie, adik kandung Yun Hap mengintai bentrokan dari jembatan penyeberangan semanggi. Hingga pukul 7 malam Yun Yie pulang ke rumah.

Image

Namun Yun Hap masih di jalan raya, dimana terdengar kabar bahwa keputusannya UU PKB tidak jadi disahkan alias batal. Seruan dan teriakan merdeka memenuhi jalan – jalan yang mereka lalui. Tiba-tiba sekitar pukul 8 malamnya sepanjang jalan semanggi di kedua arah padam listrik sehingga jalan tersebut gelap gulita. Serangan dan gerakan tentara menyerbu tiada angin tiada topan, disaat mahasiswa sudah mulai berpulang dengan sukacita. Tentara-tentara ini menggunakan mobil dan berada pada jalur yang berlawanan arah di kedua arah baik itu semanggi menuju grogol dan sebaliknya. Tembakan demi tembakan di lontarkan sepanjang jalan itu seakan aparat membabi buta dalam penyerangannya. Kondisi yang gelap gulita dan serangan mendadak membuat Yun Hap tidak bisa bergerak bebas. tepatnya di depan Universitas Katolik Atma jaya Yun Hap ditemukan dalam kondisi sekarat, setelah 2 jalan semenjak serangan tersebut. Keterlambatan penanganan medis akhirnya membuat Yun Hap harus mengahiri nafasnya di dalam ambulance menuju RSCM. Banyak suara yang mengatakan bahwa Yun Hap terkena peluru nyasar dikarenakan ia melindungi seorang pengamen anak kecil yang tengah duduk dipinggir jalan. Meskipun bgtu pengamen ini tetap terkena peluru nyasar di bagian paru-parunya. Tetapi keberuntunganlah yang ia dapatkan, karena ia masih hidup sampai hari ini. menurut pengakuan keluarga Yun Hap, pengamen ini sering mendatangi makam Yun Hap untuk merawat makam Yun Hap, sekligus membantu Kel. Yun Hap.

Sekitar pukul 11 setengah 12 malam terdengar suara dering telepon rumah. Kabar dukacita menyelimuti keluarga, ayahnya segera bergegas ke RSCM (Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo) bersama Yun Yie, untuk memastikan bahwa anaknya telah berpulang. Sesampainya di RSCM, di leher korban terdapat jaitan yang merupakan bekas diambilnya sisa peluru yang tersangkut di lehernya. Yun Hap terkena peluru bertipe ss1 yang biasa digunakan untuk menembaki Tank, masuk dari punggung kiri belakang hingga tersangkut di bagian depan terggorokan (Leher).

Naas dan sangat disayangkan anak kelahiran Pangkal Pinang ini meninggalkan keluarganya sebelum ia lulus kuliah. Satu semester lagi ia akan lulus tetapi lalu berhenti dan berpulang. Kedatangan Ibu bersama ke 2 anaknya kali ini sekaligus juga mengunjungi makam bapak, yang sudah satu tahun berpulang. Ayahanda Yun Hap meninggal pada tanggal 15 septermber 2012 yang lalu. Selisih beberapa hari dengan tanggal berpulangnya Yun Hap.

Image

Yang menarik keluarga Yun Hap sampai hari ni tidak ada mengeluarkan uang sedikit pun untuk masalah peti mati, tanah tempat pemakaman, biaya rumah duka dan rumah sakit. Semuanya berjalan begitu saja, dan mengalir. Bahkan keluarganya mendapatkan sebuah rumah, dari para simpatisan selang 2 tahun dari kejadian itu. Saat-saat dirumah duka pun sama, 3 ruang dibuka karena saking ramainya para masyarakat berdatangan. Baik itu warga Etnis Tiong Hoa dan muslim.

Pria kelahiran 17 Oktober 1977, seorang yang idealismenya tinggi. Di rumah ketika ia bilang A maka akan terjadilah A, ketegasan dan idealisme ini yang membuat anak ini disukai oleh teman-teman sperjuanganya. Ia pun pernah berpesan sebelum kejadian ini yaitu, ia minta namanya untuk dijadikan nama jalan disuatu jalan, ini diungkapkan Yun Hap kepada teman-temanya.

Satu hal yang membuat keluarga tetap bisa bertahan dan tegar yaitu keikhalasan dan kebesaran hati dari ibunda dan kedua adik kandung Yun Hap. Mereka mengaku, jika diturut emosi dan jiwa, maka tidak akan pernah selesai masalah ini. banyak bantuan datang dari Komnas Ham, tetapi itu semua tidak terlalu membantu. Bahkan pemerintah yang sehrusnya melayani dan bertanggung jawab atas keputusan yang dibuat malah menjadi resisten kepada pihak korban. Keluarga menyadari bahwa etnis Tiong Hoa masih dipandang sebelah mata di negara ini, sehingga percuma saja kita menuntu ksana kemari, yang ada lelah fisik.

Satu-satunya yang menjadi jalur bagi keluarga untuk terus mengenangkan Yun Hap kepada masyarakat yaitu melalui kamisan. Yang diadakan di Monas setiap kamis. Mereka sadar kerusuhan Mei 98 lebih mengerikan, dan sampai hari ini belum terungkap siapa dalangnya. Lalu apa lagi ini tragedi semanggi 2 tahun 1999.

Beberapa penghargaan Yun Hap dapatkan yaitu dari Universitas Indonesia, yang memasukan namanya sebagai pejuang keadilan dan melawan tirani militerisme saat itu. Selain itu IP-PSMTI (Ikatan Pemuda – Paguyuban Sosial Marga Tiong Hoa Indonesia) memberikan kenangan pengahargaan dengan tulisan huruf mandarin. Selain itu beberapa program kunjungan ke makam Yun Hap.

Rumahnya cukup sederhana bertempatkan di Tanjung Duren Gang Manggis. Gang yang hanya selebar 3 meter ini tempat dimana Ibu dan Keluarga Yun Hap terus melanjutkan hidup dalam semangat dan visi misi kedepan yang lebih baik. Masa lalu tiada guna disesali, tetapi justru menjadi bahan motivasi bagi kita semua untuk kehidupan yang lebih baik. Meja makan berbentuk lonjong, terbuat dari kayu. Berlampukan TL, kini hanya tiga kursi yang dipakai. Ibu, adik Pria dan adik perempuan dari Yun Hap. Ayahanda meninggal karena penyakit hati yang sudah lama mengerogoti tubuhnya.

Posted in Peristiwa | Leave a comment

Pejuang Tanjung Pasir

Garis Pantai Tanjung Pasir

Garis Pantai Tanjung Pasir

Imanuel Krisma Hutama – 11140110221

Pohon kelapa masih menjulang tinggi seperti biasanya. Angin yang berhembus tidak hanya mengibarkan rambut, tetapi juga turut menggoyangkan daun kelapa yang kesana kemari sesuai arah angin. Ada deretan jejak kaki di pasir, ada yang telihat jelas, tetapi ada juga yang samar-samar. Terlihat hembusan angin juga menerbangkan butiran-butiran pasir dan entah terbawa sampai kemana. Butiran ini terpisah dengan butiran yang lain, terbang terhempas angin dan jatuh kembali ke pasir, bertemu dengan butiran lainnya

Siang ini sekitar pukul sebelas, dimana sedang terjadi angin laut, yaitu angin yang berhembus dari laut ke darat dan biasanya dimanfaatkan oleh nelayan untuk pulang dari perburuan ikan. Tetapi, terlihat nelayan disini tidak lagi memanfaatkan angin laut. Perahu kayu mereka sudah menggunakan mesin diesel. Akibatnya, tidak ada lagi suara khas burung dan deburan ombak yang mewarnai suasana pantai, melainkan suara mesin berbahan bakar solar yang dominan di pantai ini.

Selain itu, terik matahari ternyata mampu menggerakkan hati saya untuk membeli sebuah es kelapa di salah satu warung. Kebetulan saya lewat dan ditawari oleh seoarang perempuan muda, pemilik warung itu.

“Mas boleh mas es kelapanya, mampir dulu mas,” ajak Anis, prempuan muda asal Bogor. Saya pun tertarik oleh suara ramahnya. “Iya mbak, satu ya mbak,” balas saya dengan ramah.

Saya pun dipersilahkan duduk di sebuah saung yang tidak jauh dari warung, jaraknya hanya dua langkah kaki. Saung itu sebagaian besar terbuat dari bambu. Tiang penyangga yang digunakan terbuat dari bambu, lalu atap terbuat dari daun kelapa kering yang sudah dianyam sedemikian rupa, dan alas duduk terbuat dari bambu juga. Ketika saya duduk, suaranya khas, berbunyi seiringan dengan membengkoknya batang bambu ketika saya duduki.

Ketika duduk, seketika mata saya diperlihatkan pemandangan laut dengan warna birunya. Lalu, terlihat beberapa gundukan pulau yang samar dan perahu-perahu yang sedang melaut. Garis antara cakrawala dan ujung laut terlihat sangat jelas, seakan langit dan laut bertemu di ujung sana.

Namun, saya menurunkan pandangan saya ke bibir pantai. Sempat tersentak di benak saya, karena sangat berbeda dari apa yang saya lihat sebelumnya. Ternyata di bibir pantai tidaklah sebiru di tengah laut. Air berwarna coklat muda yang keruh dan berbagai sampah plastik maupun organik seperti batang kayu, turut menghiasi pemandangan bibir pantai.

Ya, inilah Pantai Tanjung Pasir yang berada di Kelurahan Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Tangerang. Sepintas terlihat indah, namun ada juga yang tidak.

“Ini mas es kelapanya,” ucap Anis sambil menaruh sebuah kelapa utuh yang di dalamnya ada es di dekat saya.

Sembari minum es kelapa, saya juga berbincang dengan Anis mengenai keadaan pantai di sini. Ternyata ada banyak warung yang berjejer rapi di sekitar pinggir pantai ini. Tidak hanya menjajakan berbagai minuman dingin, tetapi ada juga yang menjajakan berbagai hidangan laut, seperti ikan bakar atau ikan goreng, udang bakar, cumi-cumi dengan berbagi sausnya, cah kangkung, dan berbagai hidangan khas laut lainnya.

Namun, menurut Anis, bangunan warung disini tidak lah permanen. Hal ini dikarenakan fungsi dari pantai ini sebenarnya adalah sebagai tempat latihan untuk TNI AL, bukan lah sebagai tempat wisata. Sehingga, sewaktu-waktu warung yang ada di sini bisa dibongkar untuk kepentingan TNI AL.

“Iya mas, disini dikelola sama TNI. Saya nggak tau dari kapan, saya juga pendatang di sini,” jawabnya ketika saya tanyai tentang keberadaan TNI AL.

Selembar uang senilai sepuluh ribu saya keluarkan untuk harga es kelapa ini. Setelahnya, saya berjalan lagi menyusuri pinggir pantai.

Tidak jauh dari saya berdiri, sekitar lima meter terlihat ada beberapa bangunan di samping kanan saya, mungkin kantor pengelola pantai ini. Bangunan ini tidak besar, lebih nampak seperti rumah kecil dengan cat temboknya yang berwarna biru muda. Saya dekati dan ternyata ini adalah tempat TNI AL yang dibicarakan oleh Anis tadi.

Di depan bangunan tidak lagi berupa pasir, tetapi sudah merupakan jalan aspal kecil sebagai jalur lalu lintas. Disitu saya bertemu dengan Supri, yang kebetulan sedang nongkrong bersama dengan orang-orang TNI AL. Ia merupakan salah satu tokoh masyarakat di Desa Tanjung Pasir ini. Orangnya sederhana, terlihat dari kaos berkerah dan celana bahan hitam yang dikenakan, ditambah sandal jepit dan topi coklat yang menutupi kepalanya dari terik matahari.

Sudah 37 tahun Supri tinggal di sini dari kecil, namun orang tuanya bukan lah asli dari Desa Tanjung Pasir, terutama ayahnya. Suharsono, ayah dari orang tua Supri berasal dari Yogyakarta.

Pada 1971, Suharsono diusianya yang masih bujangan, beserta kedua saudaranya pergi merantau ke daerah Tanjung Pasir. Menurut Supri, seperti yang diceritakan oleh ayahnya, awalnya pantai ini hanya disisi oleh tumbuhan ilalang dan beberapa bangunan kecil (tempat TNI AL sekarang), yaitu stasiun radio yang dimiliki oleh Elnusa, anak perusahaan Pertamina. Fungsi dari stasiun radio ini sendiri adalah sebagai tempat komunikasi antara pertambangan minyak di laut dengan pihak pusat Pertamina.

“Dulu kalo kata bapak, ngeri lewat sini. Disini kan dulu cuma ilalang, kalo ada orang, cuma keliatan kepalanya. Soalnya ilalangnya tinggi-tinggi,” kisah Supri.

Ternyata Suharsono tidak hanya merantau seperti kebanyakan perantau lainnya. Beliau juga mengajar baca tulis untuk penduduk asli yang tidak bisa baca dan menulis. Sehingga, sampai sekarang, beliau dianggap sebagagi pejuang bagi penduduk asli Tanjung Pasir.

Selain mengajar untuk warga sekitar, Suharsono diangkat sebagai pegawai honorer di Elnusa sebagai pihak keamanan. Namun, semenjak ada proses didirikannya Bandara Soekarno-Hatta pada 1975, ternyata keberadaan bandara ini dapat mengangu proses komunikasi dengan pihak pusat Pertamina. Sehingga setelah mengalami beberapa proses, pada 1984 terjadi tukar kekuasaan dengan TNI AL.

Kenapa TNI AL?

Hal ini dikarenakan saat itu banyak terjadi kasus penyelundupan barang dan TNI AL, selain menjaga dan mengawasi daerah Tanjung Pasir, sekaligus juga mengelolanya.

Perginya Elnusa dari Tanjung Pasir berdampak kepada para pegawainya, rata-rata para pegawai dipindahtugaskan, tetapi Suharsono tidak mau. Beliau ingin menetap dan diangkat kembali menjadi pegawai honorer oleh TNI AL.

“Bapak akhirnya ngerapiin tempat ini, dibersihin. Soalnya abis kejadian itu, ada orang yang berkunjung, dan makain lama makin banyak,” kata Supri.

Sebagai pekerja honorer, tidak lah cukup untuk menghidupi keluarga. Oleh karena itu, semenjak banyak orang yang berkunjung ke pantai ini, oleh beliau dimintai uang kebersihan. Lagi pula hal ini sudah mendapat izin dari komandan TNI AL saat itu.

Tanjung pasir pun semakin ramai dikunjungi, sehingga pada tahun 1993, Tanjung Pasir diangakat statusnya sebagai tempat wisata dengan pengelola dari TNI AL dan warga sekitar. Suharsono dikenal sebagai pelopor terciptanya tempat wisata Pantai Tanjung Pasir. Menurut Supri, ayahnya selalu memimpin desa ini untuk selalu menjaga kebersihan dengan mengajak warga sekitar.

Hingga, sekitar delapan tahun kemudian, yaitu pada tahun 2001, masuk lah para pedagang yang sebagaian besar merupakan penduduk asli. Setelah ada pedagang, dirasakan ekonomi penduduk Desa Tanjung Pasir meningkat. Dahulu rata-rata profesi dari penduduk adalah nelayan dan petani. Sekarang, sekitar 60 % penduduk Tanjung Pasir berprofesi sebagai pedangang. Sisanya adalah nelayan dan penyebrang untuk ke beberapa Kepulauan Seribu.

Saat awal berdiri, Pantai Tanjung Pasir memang hanya sebagai termpat wisata pantai. Namun, setelah adanya jasa penyebrangan ke Kepulauan Seribu, pantai ini hanyalah menjadi tempat persinggahan sementara. Karena ternyata para pengunjung lebih senang untuk pergi ke Pulau Untung Jawa, salah satu pulau dari Kepulauan Seribu.

“Ya kalo saya liat, sekitar tujuh puluh persen orang-orang pergi ke Pulau Untung Jawa,” jelas Supri.

Semakin bertambahnya waktu, ada juga pihak lain yang peduli dengan kondisi di Tanjung Pasir, yaitu dari Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu. Pada akhir Desember tahun 2010, mereka datang untuk membangun lebih baik lagi kondisi masyarakat Tanjung Pasir. Dengan diketuai oleh Ibu Ani Yudhoyono, banyak yang telah di lakukan, seperti pembangunan rumah komputer, yaitu rumah yang didirikan sebagai tempat untuk belajar komputer.

Lalu ada juga rumah pintar, yaitu berisikan buku-buku bacaan untuk anak-anak Tanjung Pasir yang tidak mampu menlajutkan pendidikannya dan mendirikan beberapa MCK. Program ini tidak dipungut biaya sama sekali, sehingga anak-anak hanya perlu mendaftar dan bisa belajar dengan tanpa tanggungan biaya sedikit pun.

Saat ini, Desa Tanjung Pasir lebih baik dari pada sebelumnya. Kini, sejak kedatangan Suharsono, yang dulunya hanyalah tempat kosong berupa tumbuhan ilalang, sekarang merupakan tempat wisata yang ramai dikujungi banyak orang. Tidak hanya dalam segi ekonomi, namun hal ini juga membawa dampak positif dalam dunia pendidikan. Dahulu beliau mengajar masyarakat seorang diri, kini dengan adanya program dari Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu, anak-anak dapat mengenyam pedidikan dengan baik.

Sekilas saya melihat beberapa orang bermain pasir, sehingga pasir itu beterbangan entah kemana. Warga di sini seperti pasir itu, terbang terbawa angin, namun bisa kembali lagi bersatu dengan pasir yang lain. Supri berharap apa yang ada sekarang tidak perlu dirubah. Apa pun itu baik berupa rencana dari pemerintah atau pun ada pemodal asing yang turut ingin merubah tempat wisata ini menjadi lebih modern.

Menurutnya, dengan berkembang lebih modern, ia tahu, warga sekitar akan kehilangan mata pencahariannya dan Supri tidak mau itu terjadi. Ia yakin, sebagai penerus ayahnya yang telah meninggal, dapat selalu menyatukan warga disini walau banyak halangan yang akan datang di kemudian hari.

Pasir akan terbang dan kembali lagi oleh angin. Supri seperti angin, yang dapat kembali menyatukan warga Desa Tanjung Pasir.

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, waktu di ponsel saya menunjukkan pukul setengan empat sore. Setelah saya berbincang cukup banyak, saya memutuskan untuk kembali berjalan, menyurusi garis pantai.

Dengan menikmati sebotol air mineral yang telah saya beli, saya duduk di pinggir pantai di atas pasir sambil melihat beberapa anak kecil yang senang bermain air di pinggir pantai. Saya pun berpikir, apakah yang terjadi apa bila tidak ada Suharsono di sini?

Posted in Perjalanan | Leave a comment

MENJAGA EKSISTENSI BUDAYA SENDIRI

FADHLILLAH ANINDITO – 11140110218
“ Selama kita masih awas dengan budaya sendiri, budaya ini engga bakalan ilang” ujar bang Indra salah satu tokoh masyarakat di kampung betawi, setu babakan, jagakarsa, jakarta selatan.

Betawi merupakan budaya asli ibukota kita, jakarta. Namun lambat laun kehadirannya tersingkirkan oleh para pendatang yang ingin mengarung nasib di ibukota. Ironis memang keberadaan kampung betawi semakin lama semakin tersingkir ke pinggiran kota, tergusur oleh kepentingan kepentingan bisnis karena Jakarta merupakan ibukota. Oleh karena itu jakarta menjadi pusat bisnis yang menyebabkan penduduk asli tesingkir karena tidak punya kemampuan untuk bertahan di pusat kota.

IMG_0759

Karena fenomena ini membuat saya tertarik untuk mengunjungi kampung betawi setu babakan bertempat di jalan Moh. Kahfi II, srengseng sawah, jagakarsa, jakarta selatan. Tempatnya sangat di pinggir kota jakarta berbatasan dengan kota depok seolah olah memang kebudayaan ini sangat di pinggirkan akibat modernisasi industri di pusat kota.

Setu Babakan atau Danau Babakan  sendiri adalah sebuah danau buatan yang dalamnya sekitar kurang lebih 5 meter, dan luasnya kurang lebih sekitar 30 hektar. Setu Babakan ini jadi pusat dari pada Perkampungan Budaya Betawi itu sendiri, yang sengaja dijaga sama warga sekitar demi mewarisi kebudayaan asli Jakarta. Sampai akhirnya Setu Babakan diresmikan sebagai  Cagar Pelestarian Budaya Betawi pada tahun 2004 oleh pemerintah DKI Jakarta di era Gubernur Sutiyoso.

Setu babakan sebenarnya mempunyai banyak pintu namun pintu utamanya ada gapura bertuliskan “Pintu Masuk 1 Bang Pitung. Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan.”. Bang Pitung adalah salah satu tokoh dalam dongeng betawi yang melambangkan kepahlawanan. Pitung merupakan sosok Superman-nya orang betawi dalam menumpas penjajahan kaum belanda jaman dulu. Pitung diceritakan mempunyai ilmu Silat yang sakti dan kebal terhadap senjata apapun kecuali peluru perak dalam dongengnya.
IMG_1293
Setu babakan sekarang menjadi sebuah tempat wisata untuk bermain. Ada wisata air dan kuliner di dalamnya. Uniknya walaupun tempat wisata tempat ini juga merupakan kegiatan kehidupan warga sehari hari disana seperti tempat tinggal dan lain lain. Banyak sekali pengunjung yang datang kesini ada yang untuk bersantai menikmati sore maupun yang ingin belajar lebih lanjut tentang budaya betawi termasuk saya sendiri. bahkan ada yang berkunjung kesini dari luar negeri maupun luar kota. Ini menunjukan cagar alam situ babakan layak untuk dikunjungi. Setu Babakan ini telah memfasilitasi para pengunjung yang ingin melakukan home stay di perkampungan tersebut dengan rumah adat sebanyak 67 unit yang telah siap untuk ditinggali.Image

IMG_1281
Pakaian Betawi

Adat betawi merupakan adopsi dari beberapa negara, sebut saja Arab dan China. Pakaian adat pengantin betawi sendiri misalnya, pakaian pria diadopsi dari busana arab, sementara pakaian wanitanya diadopsi dari busana China, namun ketika mereka bersanding di pelaminan maka jadilah busana betawi. Tidak hanya pakaian pengantinnya tetapi juga pakaian keseharian masyarakat betawi, dalam pakaian adat betawi, terdapat makna dan arti tersendiri. Kita mulai dari pakaian adat pria, dimana biasanya mereka mengenakan peci berwarna hitam polos dengan ketinggian antara 8-12cm, peci ini sudah menunjukkan dari betawi, karena kata Bang Indra, peci betawi sarat dengan hitam polos dan tidak bermotif dengan ketinggian 8-12cm. kemudian jas yang dikenakan biasa disebut “jas demang” atau “jas tutup hidung serong”, jas ini memiliki simbol kewibawahan atau biasanya yang mengenakan jas ini adalah orang kaya. Terdapat rantai kuku macan yang dikenakan bersama dengan jas ini, rantai kuku macan ini memiliki arti kekuatan, artinya orang betawi harus memiliki kekuatan dan kewibawahan, kain yang dikenakan bernama kain motif tumbak, tumbak artinya tajam, hal ini mengisyaratkan bahwa orang betawi harus memiliki mata yang tajam dalam melihat kehidupan, selain motif tumbak, ada juga motif tutup rebung, motif ini berarti menjadi tunas, orang betawi harus menjadi tunas dalam menyongsong kehidupan.

Cara melipat kainnya juga memiliki arti khusus, dalam mengenakan pakaian adat pria, kain yang dikenakan harus dilipat dari kiri ke kanan, hal ini mengartikan bahwa kejahatan harus ditutup dengan kebaikan, sementara kancing jas yang terdapat dalam jas demang tersebut biasanya berjumlah antara 5-6 kancing yang menandakan rukun sholat, artinya orang betawi harus selalu ingat kepada agama.

Untuk pakaian wanitanya, baju yang dikenakan disebut “kebaya encim” atau bisa disebut juga “kebaya keroncong” yang memiliki motif bordiran bolong-bolong. Konde yang dikenakan diatas kepala wanita terdapat burung Hong, burung Hong ini sebenarnya adalah burung khayalan yang diadopsi dari negara China, menyimbolkan keberuntungan.

*****

Pernikahan Budaya Betawi

Dalam ada betawi. Pernikahan memiliki tradisi sendiri. ada proses lamaran dimana ada seserahan yang isinya berbagai macam konten yang memiliki arti sendiri sendiri. Adat  seserahan atau dalam kebudayaan betawi bisa disebut juga dengan kenang-kenangan. Dalam seserahan ada iring iringan orang yang bermain silat yang melambangkan si pengantin pria sudah siap melindungi calon wanita secara lahir dan batin dan biasanya para jawara tersebut akan membawa umbul-umbul kembang kelapa, kelapa diartikan sebagai buah yang bermanfaat, karena setiap bagian dari kelapa dapat digunakan, mulai dari pohon, buah, bahkan buah kelapa yang sudah tua dapat menjadi tunas baru, pohon kelapa juga bersifat fleksibel karena dapat hidup dimanapun, di dataran rendah, dataran tinggi, pantai, maupun gunung maksudnya adalah keluarga dapat bermanfaat di keluarga itu sendir maupun di lingkungannya. Dalam nampan seserahan terdapat roti buaya, kenapa buaya karena buaya adalah binatang paling setia, mereka hanya punya 1 pasangan selama hidupnya oleh karena itu di harapkan pengantin tetap setia satu sama lain dan panjang umur sehingga pernikahan bisa abadi. Terdapat juga miniatur masjid, yang menyimbolkan bahwa kedua calon pengantin nantinya harus selalu ingat terhadap agama.

Biasanya dalam beberapa kasus ada yang sedikit berbeda seperti miniatur sumur, sebenarnya seserahan semacam ini memiliki arti tersendiri dari si calon mempelai wanita, konon ceritanya jika membawa miniatur sumur, mempelai wanita waktu masih kecilnya itu cengeng atau suka sekali menangis sehingga terkadang untuk membuat anaknya berhenti menangis, orang tua dari si mempelai wanita akan mengeluarkan janji, seperti akan memberikan kerupuk satu kaleng saat anaknya menikah atau janji apapun, bisa juga berjanji membelikan pakaian gaun, sepatu, atau perhiasan, sehingga saat acara lamaran yang membayar janji ini adalah pihak dari mempelai pria, maka tidak heran jika seserahan yang dibawa biasanya ada sedikit berbeda dari biasanya. Dalam seserahan gotong-gotongan, biasanya terdapat sayur-sayuran, roti, pisang raja, daun sirih, dan bunga mawar yang mekarnya kedepan, semua gotong-gotongan ini juga memiliki arti sendiri-sendiri. sayur dan roti menandakan bahwa calon mempelai pria sudah siap mencukupi kebutuhan pokok keluarga, pisang raja menandakan bahwa calon mempelai pria sudah siap memberikan yang paling istimewah untuk keluarganya kelak karena pisang raja bagi masyarakat betawi merupakan pisang yang paling istimewah dari pisang-pisang lainnya. Daun sirih menandakan agar keluarga ini senantiasa sehat, karena daun sirih identik dengan kebersihan, tertutama bagi calon mempelai wanita nantinya, daun sirih ini biasanya dilipat menjadi enam bagian, menandakan rukun iman, dan di dalam daun sirih tersebut biasanya di selipkan uang dengan pecahan terbesar, biasanya uang seratus ribu, karena pecahan terbesar dari mata uang rupiah adalah seratus ribu, sehingga ini mengartikan bahwa calon mempelai pria sudah siap bekerja keras untuk menghasilkan uang yang banyak bagi keberlangsungan kehidupan keluarganya kelak. Yang terakhir adalah bunga mawar yang arah mekarnya keluar, mengartikan bahwa apapun masalah yang terjadi didalam keluarga nantinya harus terdengar yang baik-baik, yang manis-manis dari mulut tetangga, jangan sampai ada berita-berita yang buruk terus yang terdengar di telinga tetangga, sehingga mekarnya harus keluar, tidak boleh ke dalam. Ada juga yang khas pada lamaran maupun akad nikah yang menjadi ciri khas yaitu adanya berbalas pantun antar calon besan yang intinya ingin mengawinkan anak laki lakinya dengan anak perempuan calon besan lalu menanyakan apa kemampuan anak laki laki itu hingga merasa mampu untuk menikahi sang anak perempuan. Namun tentu saja kalo di sekarang ini berbalas pantun ini hanya sekedar formalitas dalam adat pernikahan betawi.

Ada juga mengenai budaya petasan. Ini sebenarnya sepele dimana di jaman dulu tidak ada alat komunikasi yang canggih. Sehingga di pasanglah petasan yang berisik yang menandakan pengantin pria sudah datang dan acara hajatan siap dilaksanakan dan dimulai.

*****

Kuliner Khas betawi

IMG_0761

Setelah saya mengobrol dengan bang Indra, saya memcicipi kuliner yang ada sini terapar sepanjang pinggir danau. Ada mulai dari laksa, soto betawi, toge goreng, dodol, hingga makanan tradisional seperti cimol ada disini termasuk yang akan saya beli yaitu kerak telor.

Kerak telor merupakan telor yang di panggang bersama dengan ketan putih seperti nasi di goreg hingga kering. Bentuknya seperti telor dadar namun lebih kasar. Teksturnya kasar karena tidak menggunakan minyak goreng sehingga menjadi seperti kerak makanya dinamakan kerak telor. Dan salah satu teknik pembuatannya yang luar biasa adalah panggangan di balik menghadap api ajaibnya adonan kerak telor tidak jatuh ke api tersebut.

Minuman khas betawi yaitu bir pletok. Saya kaget karena nama bir mengidentikan dengan minuman alkohol. Namun ternyata tidak mengandung alkohol sama sekali. Dinamakan bir pletok karena pada masa belanda sering sekali orang belanda minum bir. Namun masyarakat betawi yang umumnya muslim tidak boleh minum bir. Jadi mereka membuat bir sendiri dari jahe, daun pandan, dan serai. Untuk kata pletok karena dulu diminum dengan gelas bambu dan es batu kalo di kocok mengeluarkan busa dan bunyi “pletak-pletok”. Tentu khasiatnya menyerupai bir yaitu dapat menghangatkan badan. Ada juga minuman bernama es selndang mayang yang wujud nya seperti cendol namun isinya warna warni.

*****

Kesenian Betawi

IMG_0738

Di panggung berisi hiasan khas betawi. Juga terdapat boneka ondel ondel. Ondel ondel adalah maskot betawi yang paling terkenal. Jaman dahulu digunakan untuk mengusir bala. Namun sekarang biasanya untuk acara khusus atau penyambutan dan lain lain.

Betawi juga terkenal dengan jago ber pantun. Ada beberapa jenis kesenian tradisi betawi di antara nya adalah Tanjidor, Gambang Kromong, Rebana biang, Samrah, Lenong, dan Topeng. Lenong adalah pertunjukan komedi khas betawi yang diselingi oleh pantun pantun yang nyeleneh.

Semua warga boleh terlibat di dalam acara pertunjukkan-pertunjukkan tersebut namun mereka harus mendaftarkan diri mereka dalam Sudin Kebudayaan Kota Administrasi Jakarta Selatan, dan setelah mereka mendaftarkan diri mereka harus dengan rajin datang ke setiap waktu latihan yang telah ditentukan.

Sayang, akibat globalisasi yang tinggi serta keminatan masyarakat yang condong pada perubahan kebudayaan membuat kesenian kesenian ini kekurangan peminat. Dimana anak muda lebih suka dengan kebudayaan luar seperti di jepang dan korea. Namun kalau bisa membuat anak muda lebih suka dengan budaya sendiri tentu lebih baik demi eksistensi kesenian ini.

****

Dalam perjalanan singkat ini saya menyadari bahwa memang Indonesia sungguh luar biasa. Memiliki banyak sekali kemisteriusan budaya di dalamnya. Contohnya budaya betawi ini sendiri.

Rumor bahwa orang betawi itu galak saya bisa yakinkan sendiri tidak semuanya seperti itu. Mereka sangat ramah apalagi setelah tempat ini resmi menjadi tempat wisata umum yang dibiayai oleh pemerintah Jakarta

Dari sini saya mempelajari bahwa kita mempunyai budaya yang luar biasa sendiri. Untuk apa kita menggumi budaya orang lain yang jelas beda dengan kita dan tidak ada hubungannya dengan kita selama kita masih punya budaya yang luar biasa indahnya di Indonesia ini.

Namun dari semua ini Bang Indra sangat menyayangkan kalo generasi muda sekarang lebih suka kepada budaya pendatang. Beliau mengatakan bahwa selama kita masih ingat dan meneruskan budaya yang kita punya disitu kita tidak akan menghianati budaya kita sendiri.Kemajuan jakarta sebagai ibukota dan banyaknya budaya yang masuk jelas membuat budaya betawi kesulitan untuk berdiri. Beruntung bahwa jakarta masih punya acara seperti Pesta Rakyat Jakarta tempat untuk mengumpulkan budaya budaya ini di satu tempat dan memperlihatkannya kepada semua orang.

Kita boleh berpikir global dan memang tidak salah globalisasi yang semakin dinamis. Namun kita tidak boleh melupakan budaya sendiri. Budaya ini tidak akan hilang jika kita masih sadar akan budaya ini.Oleh karena itu kita harus mulai awas terhadap budaya kita. Boleh kita untuk mempelajari budaya lain asal jangan meninggalkan budaya sendiri.

Pada akhirnya generasi mudalah penentu eksistensi dari budaya yang sudah ada namun seharusnya tetap dipertahankan sebagai identitas kita sebagai masyarakat. Bila tidak kita sendiri yang bangga dan menjaga budaya ini siapa lagi?

Posted in Perjalanan, UAS, Uncategorized | Leave a comment

Mata yang Hilang, Semangat yang Bertahan

Eisha Arifah Widyapuspita / 11140110133

Dalam sebuah ruang sederhana yang berukuran 3 x 3 meter persegi itu terdapat komputer tua yang terlihat tidak menyala, kursi kayu yang berserakan, serta meja tua yang terlihat sudah rapuh namun masih kokoh menjadi beban untuk beberapa cangkir-cangkir kopi.

Niko dan Senna masih asyik mengoceh di depan komputer, sedangkan dua kerabatnya, Aris dan Mariana duduk tenang mendengarkan ocehan tersebut tanpa meresponnya sedikit pun.

Tidak ada yang menyadari kehadiran perempuan itu, langkah kakinya pun seolah bagai angin lalu yang memasuki ruangan.

Berdiam diri, itulah yang dilakukan perempuan asing tersebut. Tidak ada satu pun diantara mereka yang mempersilahkan perempuan itu untuk duduk. Canggung menyelimuti dirinya, merasa berada di tempat yang salah.

“Duduk aja mbak, anggap rumah sendiri. Ambil kursinya disana” ucap wanita tua yang datang dari balik pintu dengan membawa secangkir teh hangat seolah dapat membaca gerak gerik perempuan asing.

Tidak ada pilihan lain. Perempuan berbadan kurus dan mungil itu terpaksa mengangkat sebuah kursi kayu yang terlihat berat, dan tidak ada satu pun orang yang membantunya.

“Ya beginilah kalau melihat Tuna Netra sedang siaran” ucap Mariana, seorang perempuan berusia 32 tahun yang tidak bisa melihat sejak lahir.

Ya. Ini adalah salah satu tempat radio streaming berada. It Center For The Blind atau yang biasa disebut dengan ITCFB. It Center For The Blind ini merupakan sebuah radio streaming yang dibentuk pada 19 Juni 2012 dan fokus pada bidang teknologi informasi tuna netra. Tujuan dengan adanya It Center For The Blind ini yaitu ingin memajukan teknologi informasi untuk tuna netra di Indonesia, karena tuna netra di Indonesia sudah tertinggal jauh dengan tuna netra di Negara lain, seperti Malaysia.

Senna Rusli dan Yudi Hermawan

Senna Rusli dan Yudi Hermawan

“Jadi beginilah suasana tempat radio streaming yang juga kita jadikan kantor, studio siaran, dan tempat tidur. Jadi kalau ada rapat sampai larut malam, mereka bisa nginep disini” ucap Senna Rusli (19), penyiar lelaki yang memiliki badan tinggi, kurus, dan juga merupakan kepala radio penyiaran yang sedari tadi tidak berhenti berbicara

Perempuan yang merasa tidak di pedulikan itu pun berpikir. Sebuah ruang kecil, sempit, kotor, dan berantakan ini dijadikan sebuah kantor sekaligus kamar tidur untuk lebih dari lima orang atau bahkan sepuluh orang lebih. Belum lagi untuk menuju ruang tersebut sangatlah susah untuk dirinya, terlebih bagi mereka yang tidak bisa melihat. Tangga besi yang melingkar serta menjulang tinggi, sempit dan kecil harus dilewati bersamaan dengan empat ekor anjing yang terus menggong-gong.

“guk… guk… guk”

Mengapa mereka bisa nyaman berada disini? Berada di tempat yang seharusnya tidak mereka tempati.

“Itu apa? Komputer?” Tanya perempuan tersebut dengan heran.

“Yang mana? Kita kan enggak bisa liat haha” canda Aris Yohanes, seorang tuna netra yang berusia 28 tahun, yang membentuk kantor sekaligus komunitas ini.

“Iya itu komputer, jangan heran, komputer tuna netra kan emang mati, enggak nyala kayak komputer biasanya. Percuma juga kan kalau komputernya hidup, tetep aja kita enggak bisa lihat” sambung mariana.

Dalam seminggu, It Center For The Blind hanya dapat siaran sebanyak dua kali, itu pun dalam waktu-waktu tertentu, tidak seperti radio streaming umumnya. Mereka tidak memiliki uang yang cukup banyak untuk membiayai itu semua, tidak ada satu pun sponsor yang datang. Hanya dengan menjual software khusus tuna netra, jam tangan berbicara, pembersih virus, cd, dan lain sebagainya cara yang mereka lakukan untuk dapat menghasilkan uang. Penghasilan dari penjualan itu pun juga tidak seberapa, tidak cukup untuk memberi makan, uang transportasi atau bahkan memberi upah para penyiar dan anggota lainnya.

Memang hampir semua anggota It Center For The Blind berjenis kelamin laki-laki, tidak sebanding dengan jumlah perempuannya, tetapi disini tidak pernah ada perbedaan jenis kelamin, semua menyatu, selayaknya keluarga.

Yudi Hermawan dan Senna Rusli sedang bermain

Yudi Hermawan dan Senna Rusli sedang bermain

It Center For The Blind ini awalnya hanyalah sebuah grup diskusi yang memang membahas teknologi informasi dengan menggunakan jejaring sosial, Facebook, karena sampai saat ini ternyata banyak sekali tuna netra yang mempunyai account Facebook dan aktif disana.

Sebenarnya, It Center For The Blind tidak hanya untuk tuna netra saja, tetapi juga untuk masyarakat luas yang mungkin ingin mengetahui dan mempelajari lebih jauh mengenai teknologi informasi di Indonesia, karena dengan banyaknya orang yang bergabung dan memberikan beberapa informasi mengenai teknologi maka semakin banyak pula ilmu yang diterima oleh para tuna netra.

Mungkin tidak banyak orang yang mendengar radio streaming It Center For The Blind ini, tetapi jangan salah karena ITCFB sudah di jangkau di luar kota, seperti Kalimantan. Beberapa dari mereka para pendengar radio streaming ini adalah tuna netra dan masyarakat pada umumnya.

“Walaupun identitas kita adalah tuna netra, tetapi kita juga berusaha mengedukasi teman-teman yang non-tuna netra. Kita tetap bersosialisasi kepada masyarakat, contohnya kita pernah mengundang komunitas kopaja dan sahabat 5 cm untuk jadi bintang tamu” ucap niko hermawan, penyiar yang berbadan besar.

“Kamu juga harus tau untuk menjadi tuna netra sejati itu ada dua, kalau enggak nyasar ya jatuh. Kalau tuna netra belum pernah nyasar dan jatuh, ya itu sih enggak bisa dibilang tuna netra” canda Senna Rusli.

Niko Hermawan yang memiliki nama asli Yudi Hermawan atau yang akrab disapa dengan wawan ini adalah orang yang bekerja di bagian marketing It Center For The Blind. Apa yang salah dengan nama Yudi Hermawan? Nama tersebut tidak buruk atau terdengar aneh sama sekali.

“Niko Hermawan?” ucap perempuan asing itu.

“Oh iya, kamu belum tau ya, Niko Hermawan ini nama samaran Yudi kalau lagi siaran. Gaya banget dia” celetuk Senna Rusli yang merupakan partner Yudi saat siaran radio streaming.

Nama Niko berasal dari teman-teman tuna netranya. Yudi sendiri pun mengaku tidak pernah tahu kenapa nama yang ia gunakan adalah Niko, bukan yang lainnya, karena nama Yudi sendiri pun tidak pasaran atau bahkan jelek. Dengan adanya nama samaran tersebut ia merasa bersyukur, karena jika terdapat kesalahan pada saat siaran, yang pendengar tahu adalah Niko, bukan Yudi.

“Ada untungnya juga sih aku punya nama samaran, karena kalau aku ada salah ngomong atau nyebelin pasti yang diingat namanya Niko, bukan namaku” ucap Yudi, tuna netra yang berumur 20 tahun.

Yudi Hermawan hanya mempunyai seorang kakak laki-laki yang bernasib sama dengan dirinya, tuna netra. Orangtua Yudi adalah orangtua pada umumnya, bekerja untuk menafkahkan anaknya. Ayah Yudi memiliki bengkel percetakan di Kota Bumi, Tangerang, sedangkan Ibu Yudi adalah seorang ibu rumah tangga yang juga mempunyai bisnis jahit.

“Aku bersyukur karena aku enggak bisa lihat dari kecil, bukan dari umur-umur sekarang ini, karena kalau enggak bisa lihat saat umur sekarang ini ya susah untuk terimanya” ucapnya sambil mengunyah pisang goreng.

Siapa sangka tuna netra yang berbadan besar ini mempunyai keberuntungan yang cukup besar. Yudi ingin seperti remaja biasanya, yang bisa menempuh kuliah. Ia memang tuna netra yang berpendidikan, tidak sekolah di sekolah luar biasa selayaknya tuna netra pada umumnya, ia berasal dari SMP dan SMA Negeri di Cilandak, Jakarta Selatan.

Tekadnya untuk melanjutkan pendidikan ke perkuliahan sangatlah besar, namun hal itu hanyalah angin lalu yang tidak bisa di raihnya sampai saat ini, karena ia tidak diterima di jalur SNMPTN. Tentu saja ia tidak berasal dari keluarga kaya atau miskin, ia hanya berasal dari sebuah keluarga sederhana yang berkecukupan, tidak kekurangan ataupun kelebihan.

Setiap waktu selalu di manfaatkan oleh Yudi dengan sebaik-baiknya. Sembari menunggu pengumuman SNMPT, ia menyempatkan diri melamar pekerjaan di Bank Permata. Namun, siapa sangka keberuntungan yang ia miliki benar-benar terjadi, ia mendapatkan pekerjaan di Bank Permata.

Tiba di titik jenuh terhadap pekerjaan yang ditekuninya, akhirnya ia memutuskan untuk mencoba peruntungan di PT. Pelni dan PT. Astra, selain itu Yudi juga seseorang yang menyukai hal-hal baru.

“Apa salahnya mencoba. Walaupun aku enggak bisa liat tetapi aku selalu optimis sama apa yang mau aku jalanin” tegas Yudi.

Keberuntungan itu memang benar adanya dan memang benar berpihak kepada dirinya. Ia diterima oleh dua perusahaan sekaligus, bukan perusahaan kecil. Sempat banyak pertimbangan, namun atas dukungan keluarganya itulah ia dapat memutuskan apa yang harus ia terima. Keputusan itu jatuh pada PT. Astra, kantor yang berada di belakang Istana Negara. Dua jam adalah waktu yang ia tempuh untuk menuju kantor barunya, tidak ada antar jemput, hanya kendaraan umum dan sebuah tongkat yang dapat ia andalkan.

Di tempat barunya, tidak ada satu pun orang yang membeda-bedakan dirinya. Hanya saja, beberapa penggunaan sarana dan prasana disana di bataskan. Dilema pun berdatangan silih berganti selama dia bekerja dua bulan di PT. Astra.

“Walaupun aku udah ngerasa nyaman ada disini, tetapi ada aja masalahnya. Ada ancaman kontrakku enggak di perpanjang” ucapnya dengan suara mengecil.

Pada tahun 2011 lalu, Yudi Hermawan pernah berada di salah satu stasiun televisi lokal, yaitu Trans TV dalam program World Record. Meski ia tidak bisa melihat, terdapat banyak sekali kegiatan atau komunitas yang ia ikuti, salah satunya adalah komunitas rubiks. Yudi berada di World Record bersama teman-temannya yang normal lagi-lagi hanya untuk mencoba peruntungan dan pengalaman.

Pada saat di World Record, terdapat tiga orang normal yang diharuskan melawan Yudi dalam penyelesaian rubiks tercepat. Ya, lagi-lagi Yudi yang telah berhasil memenangkannya, sebuah kebanggaan tentunya sebagai seorang tuna netra yang dapat dengan mudah mengalahkan tiga lelaki normal.

Seiring jalannya waktu, Yudi pun sempat mempertanyakan masalah hadiah yang harus diterimanya, karena beberapa pemenang lainnya sudah mendapatkan konfirmasi dari pihak World Record, Trans TV, hanya ia satu-satunya yang tidak mengetahui perihal hadiah tersebut.

Geram. Itulah yang dirasakan Yudi Hermawan pada program televisi tersebut. Ia pun mendatangin gedung trans tv, bukan untuk menuntut hadiahnya tetapi menuntut keadilan terhadap dirinya terutama tuna netra. Namun, hal tersebut seperti percuma karena tidak ada tanggapan baik dari pihak televisi tersebut. Berbagai hal sudah dilakukan oleh tuna netra itu, surat demi surat sudah diberikan namun tidak ada balasan.

“Program World Record sudah gulung tikar mas jadi percuma” hanya perkataan itu yang datang dari mulut pegawai televisi tersebut.

Ikhlas. Hanya itu yang harus ia lakukan saat ini. Menurutnya, itulah resiko dalam hidup. Sama dengan resiko dalam pekerjaan, apapun resiko yang akan ia alami nantinya harus di terima dengan ikhlas karena itu semua adalah pemberian dari Tuhan.

Berbagai macam rintangan sudah ia lewati selama 20 tahun. Namun, menurutnya semua hal baik atau buruk dalam hidupnya adalah pengalaman yang menarik, tidak ada yang tidak menarik, karena dalam pengalaman buruk sekali pun ada sesuatu yang menarik dibalik itu.

Yudi Hermawan adalah seorang tuna netra yang sangat optimis dan mempunyai kepercayaan diri yang sangat tinggi. Oleh karena itu ia mempunyai cita-cita untuk menjadi orang sukses.

“Wawan itu mandiri, jadi selama dia masih bisa lakuin ya dia lakuin sendiri. Selain itu, dia juga percaya diri, kekurangan yang ada di dirinya enggak pernah jadi penghalang” ucap Reza Agustiyadi, sahabat Yudi Hermawan sejak SMA.

“Aku ingin menunjukkan kepada masyarakat di luar sana bahwa dengan kondisi aku yang seperti ini, enggak bisa lihat, aku masih bisa hidup dan masih bisa bertahan sampai sekarang” ucap Yudi yang sedang sibuk dengan komputernya.

Yudi bisa berada sampai pada saat ini tentunya atas dukungan keluarganya. Motivasi keluarga yang diberikana kepada Yudi sangatlah berarti. Semua yang Yudi lakukan atau yang ingin ia lakukan selalu di dukung penuh oleh keluarga, tidak ada larangan.

Sampai saat ini Yudi Hermawan, Aris Yohanes, Senna Rusli, dan Mariana Mesah tidak pernah menyesali mengapa dirinya dilahirkan sebagai tuna netra. Mereka cukup bangga, karena mereka merasa tetap seperti orang pada umumnya, yang mempunyai banyak teman, kesana kemari meski adanya hambatan, selain itu mereka juga telah menjadi tuna netra yang mengerti berbagai hal seperti teknologi infomasi. Mereka telah berhasil merubah pola pikir masyarakat di luar sana terhadap tuna netra.

“Jangan pernah memandang para tuna netra dengan sebelah mata, karena mereka juga mengetahui berbagai teknologi, “melek teknologi atau media” seperti masyarakat pada umumnya”

Posted in Profil, UAS | Leave a comment

Asep Irawan: Merangkai Hidup Bersama Layangan

Image

Ignasia Findha Rizka

11140110115

Bandung, 1994…

Seorang pria masih terpaku melihat kiriman surat dari Jakarta yang baru saja diterimanya. Ternyata pembicaraan via telepon tempo hari tidak main-main. Wanita dari Jakarta yang hampir seusia orangtuanya itu mengiriminya sejumlah uang. Wanita yang hanya pernah ditemuinya sekali dalam festival layang-layang beberapa tahun lalu. Saat dirinya masih bujang, belum berkeluarga seperti sekarang. Wanita itu meminta dirinya datang ke rumahnya di kawasan Jakarta Selatan. Keahliannya dibutuhkan di sana.

*

Jarum mesin jahit manual merk Butterfly sedang merapatkan barisan benang di atas kain parasut polos. Jemari seorang pria berkulit putih tengah asyik menarik dan memutar kain berpola itu, agar jahitan benangnya tidak menumpuk.

“Kalo Pak Asep mah serba bisa. Bikin layangan tradisional, iyaaa… nerbangin layangan iya,” celetuk seorang ibu yang berseragam sama dengan pria tadi.

Asep Irawan memulai debut pertamanya membuat layang-layang saat duduk di bangku kelas 2 SD. Kala itu usianya baru menginjak kurang lebih tujuh tahun. Namun siapa sangka, di usia semuda itu ia mampu memenuhi pesanan layang-layang dari orang-orang yang lebih tua.

Bakat dan keahlian sejak kecil ini bukan tanpa asal. Almarhum ayah Asep memang seorang seniman layang-layang. Beliau pandai melukis di atas layang-layang, suatu keahlian yang sempat tidak dimiliki oleh Asep selama bertahun-tahun. Jika menerima pesanan yang cukup rumit, kemampuan Asep hanya sampai pada membuat rangka atau tubuh layangan dan menempel kain. Bagian gambar diserahkan pada ayahnya.

“Abis bikin rangka, nempel kain, bingung gitu apa yang mau dilukis. Jadi bapak saya yang lukisin. Saya gak bisa lukis sama sekali tadinya juga,” ceritanya di tengah-tengah tur kecil kami di dalam Museum Layang-Layang Indonesia.

Namun pada akhirnya ketiadaan sang ayah memaksa dirinya untuk bisa melukis di atas layang-layang. Tahun 1995 hingga kini ia mulai bisa melukis sendiri. Tidak dapat dipungkiri, darah seniman dari almarhum memang mengalir deras dalam tubuh Asep. Siapa pun pasti akan bereaksi spontan seperti saya, setelah melihat beberapa hasil kreasi Asep yang terpajang di museum.

“Apanya yang gak bisa ngelukis, Pak?!?”

Reaksi yang hanya ditanggapinya dengan cengiran malu-malu dan lagi-lagi komentar ketidakmampuannya.

Selain Asep, semua saudara kandungnya juga bisa membuat layang-layang. Laki-laki maupun perempuan sama-sama mahir. Namun, hanya anak kelima dari delapan bersaudara ini sajalah yang meneruskan hingga detik ini.

Semasa sekolah hingga sekarang, hobi dan keahliannya itu ia manfaatkan untuk mencari uang. Tidak hanya untuk keperluan sekolahnya di masa lalu, biaya pendidikan ketiga anaknya pun dari layang-layang.

“Kadang kan pengen gitu yah beli baju, alat-alat sekolah sendiri, jajanlah. Ya dapetnya dari hasil jual layangan. Gak nyangka, eee…sampe tua bikin layangan terus…,” kisahnya.

Memasuki tingkat SMP, Asep sempat berhenti membuat layangan. Saat itu ia duduk di kelas 2. Terlalu takut kegiatan sampingannya itu akan mengganggu aktivitas belajar. Hal ini berlangsung selama beberapa tahun. Hingga akhirnya, kurang lebih dua tahun setelah lulus STM Teknik (sekarang SMK), pria asal Bandung ini kembali berkutat dengan layang-layang.

Sekembalinya ke dunia layangan, Asep semakin aktif memenuhi pesanan. Di samping itu, ia juga mulai sering ikut festival di berbagai tempat. Kadang ia pergi bersama rombongan dari Bandung atau sendiri. Kala itu ia masih bujang dan bebas dari tanggung jawab untuk berpenghasilan tetap.

Pertemuan pertamanya dengan Endang W. Puspoyo, pendiri Museum Layang-Layang Indonesia, pun berlangsung dalam festival layangan di kawasan BSD. Wanita yang menekuni layang-layang sejak tahun 1985 itu adalah penyelenggaranya.

“Itu sekitar tahun ’89 pertama kali saya dikenalin sama Ibu sebagai peserta dari Bandung,” kenang pria kelahiran Bandung, 21 Agustus 1967 ini.

Dan ternyata itu bukanlah pertemuan terakhir mereka. Beberapa tahun setelahnya, ia pun sudah menikah, Endang menelepon dari Jakarta. Meminta dirinya datang ke Jakarta untuk bekerja di tempatnya. Saat itu rumah wanita yang dipanggilnya ‘Bu Endang’ itu belum menjadi museum seperti sekarang. Masih berupa galeri bernama Merindo Kites and Gallery.

Berbekal uang kiriman dari Jakarta, Asep bersama istri, anak pertamanya, dan adik laki-lakinya berangkat. Seorang Padang, teman layang-layangnya yang tinggal di Jakarta, mengantarnya ke rumah Endang yang sekarang menjadi tempat pemutaran film layangan di bagian depan museum.

Asep dan keluarganya diberi satu kamar untuk tinggal. Namun, ia merasa tidak enak hingga memutuskan untuk pindah ke kontrakan di sekitar situ. Kondisi ini pun tak bertahan lama. Mereka hanya bertahan setahun di Jakarta dan kembali ke Bandung.

“Ga betah, anak saya yang pertama nangis-nangis terus. Kepanasan kali di sini,” jawab pria itu saat saya menanyakan alasannya.

Pulang ke Bandung bukan berarti menjadi tidak produktif. Ia kembali menjadi Asep yang berdiri sendiri. Mengikuti berbagai macam perlombaan layang-layang atas nama sendiri lagi. Seperti biasanya, ia sering mendapat juara dalam festival nasional maupun internasional di Indonesia.

Piala yang pernah didapatnya cukup banyak. Pernah pula ia mendapat juara satu untuk layang-layang kendali dan membawa pulang piala bergilir dari Gubernur DKI Jakarta tahun 1999. Sayangnya kebanyakan piala di rumahnya tidak  bertahan lama. Ia terpaksa menjualnya untuk biaya kebutuhan keluarga. Terutama sekolah anak-anaknya. Ada juga yang sudah rusak karena patah.

“Tau istri saya, kesenggol kali hahaha…,” ujarnya santai.

*

Tahun demi tahun berlalu. Menjelang 2005, ia mulai jarang ikut lomba. Penasaran, saya tanya kenapa. “Udah keseringan menang, malu….,” katanya diikuti derai tawa kami.

Lagi-lagi telepon dari Jakarta memintanya untuk datang. Kali ini ia diminta untuk membuat lampion yang bisa terbang. Proyek tersebut membuatnya harus menginap di Jakarta. Inilah awal di mana ia memilih untuk bekerja kembali di tempat yang sama, yang sudah menjadi Museum Layang-Layang Indonesia sejak 2003. Keputusan ini membuat ia tinggal terpisah dengan sang istri, Eti, dan ketiga anaknya di Bandung.

“Biarinlah, anak udah pada gede-gede ini…udah bisa ditinggal.”

Anak laki-lakinya yang tertua bahkan sudah bekerja. Usianya 22 tahun. Sementara anak laki-laki keduanya juga sudah berusia 17 tahun. Putri kecilnya pun sudah duduk di bangku kelas 4 SD. Ia sendiri tiap dua atau empat minggu sekali pulang ke Bandung. Tergantung kesibukannya di museum.

Selain mahir membuat dan menerbangkan layang-layang, Asep juga dituntut untuk bisa memandu tur dalam museum. Ini merupakan bagian dari pekerjaannya. Oleh karena itu ia harus mampu menguasai berbagai pengetahuan tentang layang-layang. Mulai dari sejarah, jenis-jenis, bahkan perbedaan, dan kegunaannya.

Pengalamannya yang sudah mencapai puluhan tahun di dunia layangan ini menambah cerita tersendiri ketika ia menjelaskan. Belum lagi ketika bertemu dengan karya buatannya di setiap sudut. Kadang saya sendiri gemas karena kerap kali ia tidak mengatakan lebih dulu kalau saya sedang mengagumi kreasinya. Dan selama tur berlangsung, tak sedikitpun gurat kelelahan atau bosan terlihat. Saya bisa melihat dengan jelas kecintaannya terhadap layang-layang.  

*

Menurut buku Making Kites karya Rhoda Baker dan Miles Denyer, layang-layang diyakini berasal dari Asia, sejak 3000 tahun yang lalu. Sejarah mengatakan Cina sebagai tempat pertama kali ditemukannya layang-layang. Namun, Asep menambahkan bahwa ada kemungkinan pula berawal dari buatan nenek moyang bangsa Indonesia. Ia pun menunjukkan sebuah foto yang diperbesar seukuran kanvas, tergantung sejajar dengan layang-layang dari daun pisang dan gadung.

Foto itu memperlihatkan sebuah latar berwarna biru muda keabu-abuan, dengan bercak-bercak cokelat. Di atasnya terlukis bentuk layang-layang sederhana (intan/belah ketupat) yang sedang diterbangkan oleh sesosok manusia menggunakan tali.

“Ini lukisnya pake darah binatang sama getah pohon,” ujar Asep sembari telunjuknya mengikuti alur gambar yang ada di foto tersebut.

Lukisan layang-layang di dalam Goa Muna-Sulawesi Tenggara.

Kalimat tersebut tertulis samar-samar pada salinan foto seukuran kertas A4 di pojok kanan bawah.

Sementara itu, di kawasan Eropa tidak begitu jelas kapan kemunculan layang-layang pertama kali. Akan tetapi, layang-layang sudah dikenali oleh bangsa Yunani kuno. Pada perang Hastings tahun 1066, benang layang-layang diterbangkan sebagai tanda peperangan.

Istilah bahasa inggris layang-layang, kite, diambil dari nama burung pemangsa yang memiliki sayap anggun dan luwes saat terbang.

Tidak ada rumusan pasti mengenai jenis-jenis layangan. Dalam festival, biasanya layangan terbagi menjadi tiga kategori yaitu tradisional, olahraga, dan kreasi.

Layangan tradisional berarti layang-layang dengan gaya atau bentuk dari masing-masing daerah atau negara. Sebutannya pun berbeda-beda. Di Indonesia sendiri memiliki sebutan yang beragam sesuai asalnya. Berikut ini beberapa nama layangan tiap daerah di Indonesia yang menjadi koleksi Museum Layang-layang.

Daerah

Sebutan/Nama Layangan

Jambi

Kajang Lako

Angso Duo

Sumatera Barat (Padang)

Lang Lang Machou

Lang-Lang Patah Siku

Sumatera Utara (Medan)

Kuala

Dengung

Nangroe Aceh Darussalam

Kleung (Burung Elang)

Jawa Barat (Bandung)

Tari  Merak

Kalimantan Selatan

Dandang Bini

Dandang Laki

Kalimantan Barat

Burung Enggang

Kalimantan Timur

Layang Perisai

Lembu Suwana

Sulawesi Selatan

Kapal Pinisi

Sulawesi Utara

Bulia

Sulawesi Tenggara

Khagati

Jawa Tengah

 

Daplangan Tanggalan (Cilacap)

Sumbulan (Jepara)

Tulung Agung

Badholan

Babon Angrem

Tanggalan

Pulau Sumbawa

Goang

Jawa Timur (Banyuwangi)

Layang Sowangan

Bali

Bebean

Pecukan

Janggan

Daun Lontar

Lampung

Daun Loko-loko

Siger

Bengkulu

Telong-telong

Asep juga sempat menunjukkan Stunt Kite, layangan yang dipakai untuk bertanding dalam kategori olahraga. Lagi-lagi salah satu hasil buatan tangannya. Layangan ini memiliki dua tali untuk mengendalikannya. Adu kecepatan dan gerakan dalam membuat bentuk-bentuk tertentu menjadi aspek penilaiannya. Misalnya, pemain diminta membuat angka-angka.

Ia mengaku tidak terlalu sulit membuatnya. Keterampilan membuat layang-layang berbentuk segitiga ini ia pelajari dari seorang berkebangsaan Australia.

Masih segar dalam ingatan Asep, waktu itu perwakilan tiap daerah diminta menghadiri semacam workshop di Lampung. Waktu itu ia masih mandiri, belum bekerja untuk Bu Endang. Di sanalah untuk pertama kalinya ia membuat Stunt Kite. Berbekal pengalamannya menjahit layang-layang, ia selesai lebih dahulu dibanding peserta lain.

“Bulenya nyuruh saya bantuin peserta lain deh yang belum selesai, hahaha…”

Sementara itu, layangan kreasi bisa juga disebut layangan hias. Seperti kategori lainnya, layangan hias juga memiliki dua macam bentuk yaitu dua dan tiga dimensi.

“Di sini kebetulan cuma saya doang yang bisa bikin tiga dimensi,” ungkap Asep sambil tersenyum malu-malu saat ditanya.

Salah satu kreasi tangan Asep bernama Tari Merak. Layangan tiga dimensi ini berbentuk penari wanita dengan kostum tari Merak, lengkap dengan aksesoris sayapnya. Ia membuatnya pada tahun 90-an di Bandung. Bambu menjadi bahan utama untuk membuat rangka ‘Tari Merak’

“Ini juga dari bambu mukanya…Cuma dipakein kertas, terus ditutupin gitu pake semen putih.”

Layangan ‘Tari Merak’ sudah empat kali meraih juara internasional. Dua kali di Pangandaran, sekali di Yogyakarta, dan sekali di Jakarta. Setelahnya sekitar tahun 2007 atau 2008, ia merelakan layangan ini dijual ke museum. Kala itu kebutuhan finansial sangat mendesak.

“Buat berobat ibu, yaudah saya jual ke sini. Pas dapet uangnya, pas ibu saya meninggal,” kenangnya sambil mengelus sayap si penari.

*

Banyak suka dan duka yang dialami seorang Asep Irawan dalam bidang yang dipilihnya ini. Dukanya lebih mengarah pada kejenuhan. Bagaimana tidak, hampir seumur hidupnya dihabiskan untuk layang-layang.

“Sebenernya udah gak mau bikin layangan, jenuh. Sempet saya jualan bakso, batagor…tapi ya malamnya tetep aja layangan gak ditinggalin. Soalnya banyak pesenan, kalo gak dikerjain sayang…”

Namun, pria ini mengakui bahwa hal positfnya tetap jauh lebih banyak. Ia bangga bisa membiayai uang sekolah dirinya sendiri di masa lalu hingga untuk sekolah anak-anaknya sekarang. Belum lagi rumah tinggal bagi istri dan anak-anaknya. Semua itu dari hasil keringatnya yang bersentuhan dengan layang-layang.

Ia pun mendapat kesenangan pribadi dari keliling Indonesia hingga ke luar negeri. Mulai dari diajak ke Malaysia pada tahun 2002 hingga yang terbaru ke Perancis pada 2011 lalu. Ajakan ke luar negeri selalu mengejutkan dirinya.

“Kayak mimpi, gak nyangka bikin layangan bisa ke sana gitu,” komentarnya polos sambil menggerakan mesin jahitan.

Waktu ke Malaysia, ia diajak oleh sebuah organisasi layang-layang di Jakarta. Sementara saat ke Perancis, ia diajak Endang yang mendapat undangan langsung dari sana. Tidak sepeser uang pun ia keluarkan untuk kepergiannya.

Keberangkatannya ke Malaysia justru memberinya pemasukkan karena ia masih berdiri sendiri. Kala itu sebanyak 100 layangan dibawanya dari tanah air untuk dijual. Semuanya habis terjual dengan harga 25 ringgit satunya. Sementara saat berangkat ke Perancis, ia yang mewakili museum bersama Endang dan seorang temannya, lebih banyak mengurus workshop pembuatan layang-layang.

*

Roda silver di samping mesin jahit hitam itu masih terus berputar. Asep masih melanjutkan pekerjaan menjahitnya, setelah mengantar saya berkeliling museum. Namun tak berapa lama, ia meninggalkan jahitannya dan masuk ke dalam ruang penyimpanan. Seorang wanita ingin membeli layang-layang untuk anak laki-lakinya.

Sosok pria yang rambutnya mulai memutih ini keluar sambil membawa tiga layangan berbeda. Ketiganya masih terlipat. Naluri pemandu museumnya muncul, menjelaskan tentang cara melipat, membuka, dan fungsinya.

Ia pun menunggu bocah laki-laki di hadapannya memilih bentuk yang disukainya. Yellow dragon, green butterfly, atau blue bird. Saat si bocah menentukan pilihan, ia pun bergegas masuk ke ruang penyimpanan lagi.

“Sebentar, Bu, saya ambilkan yang lebih baru…”

Sepertinya Asep Irawan tidak pernah mengenal lelah untuk urusan layang-layang. Mungkin hampir 40 tahun bergelut di dalamnya belumlah cukup. Mungkin, koleksi layang-layang buatannya masih akan terus bertambah. Meski tak satupun dimilikinya…

**

Posted in Profil | Tagged , | Leave a comment

Just Enjoy SITBACK and Relax…

 

 

Image

 

Nadine Arinindya / 11140110121

 

 “Nama SITBACK sendiri di ambil dari sebuah kekonyolan drummer kami (Dega) yang kemampuan berbicara bahasa Inggrisnya kurang baik. Haha… Kita anak2 yang nongkrong di kantin belakang di kampus.  Dia pikir arti SITBACK itu adalah duduk di belakang…”

Berikut adalah petikan dari wawancara yang saya lakukan terhadap salah satu anggota band SITBACK, Louis Maramis. Mungkin belum banyak yang mengetahui siapa mereka. Tetapi setidaknya, sebagian besar mahasiswa kampus Universitas Multimedia Nusantara pernah mendengar nama tersebut.

SITBACK dibentuk pada Oktober 2012. Terdiri dari lima mahasiswa UMN. Satu orang sudah lulus, dan empat lainnya masih berkuliah di kampus kita ini. Sang personil yang sudah menyelesaikan pendidikannya adalah, Andronikus Glen, mahasiswa program studi Animasi 2008. Keempat personil lainnya yang tersisa, adalah Antonio Sompotan (Desain Grafis, 2008), Rahadian Pandega (Manajemen, 2010), Louis Maramis (Sinematografi, 2010), dan Fabian Christian (Sinematografi, 2010).

Di samping kecelakaan kecil yang berbuahkan nama SITBACK, sebenarnya nama tersebut memiliki filosofi sendiri. Sitback, yang berarti duduk bersandar, dimaksudkan agar teman-teman dapat mendengarkan karya-karya SITBACK, dengan sitback and relax. (duduk bersandar dan santai.) Mereka menyatakan bahwa aliran musik mereka adalah Alternative Rock, dan mereka siap bersaing di tengah-tengah musik Pop yang kian berjaya akhir-akhir ini.

“Selain itu, karena aliran musik kami tidak dapat diterima baik di sekitar (kampus), kami juga berharap orang-orang tetep bisa sitback and relax dengerin lagu kami…” – Antonio Sompotan (11 Juni 2013, @ Ruang Musik Vol. 3, Swiss-Bel Hotel, Kemang.)

Dan saat ditanya kenapa akhirnya memutuskan membentuk SITBACK, inilah jawaban mereka,

“Awalnya iseng-iseng saja.”

Kata-kata seperti itu sudah sering kita dengar dimana-mana. Bahkan, tak jarang bintang-bintang film besar dari Hollywood memulai karir berakting tanpa disengaja. Begitu juga beberapa musisi ternama dunia. Sebut saja, nama-nama besar seperti  Nirvana, yang diawali dengan pertemanan sejak SMA dan kemudian iseng-iseng mencoba membentuk band, dan namanya mendunia. Walaupun, yang mendongkraknya adalah ketika sang vokalis, Kurt Cobain, meninggal karena overdosis pada tahun 1994. Bahkan The Beatles, sekedar iseng-iseng memulai main di klub-klub kecil di daerah Liverpool hingga Hamburg, dan menjadi salah sayu band legendaris sepanjang masa. Semoga band ini dapat menjadi salah satu yang sukses, mungkin hingga seperti mereka. Amen…

Saya sendiri kebetulan memang sudah mengenal orang-orang ini sebelum adanya SITBACK.  Seperti apa yang mereka ceritakan saat wawancara tentang latar belakang mereka ini dilakukan.

“Pertama kali hanya Lui (Louis), Biman (Antonio), dan Dega, merasa kurang personil akhirnya kita ajak Fabian dan Glen untuk mengisi posisi yg kosong yaitu gitar dan bass.”

Itu mereka lakukan saat mau mengikuti audisi pertama kali sebagai sebuah band. Audisi tersebut diadakan untuk acara kampus UMN, yaitu UMN Night. Tanpa mereka sangka, mereka lolos tahap audisi, dan mendapat spot pada acara UMN Night, 10 November 2012 yang lalu.

“Akhirnya (setelah diterima audisi), kita adakan rapat untuk membicarakan soal visi misi, dan sebagainya. Kami semua mempunyai visi misi yang sama untuk memajukan band ini menjadi band yang profesional dan siap terjun ke dalam industri musik.”

Selama kurang dari sebulan kelima orang ini, benar-benar mempersiapkan agar mereka dapat memberikan yang terbaik untuk tampil di UMN Night. Mereka bahkan berhasil menciptakan sebuah lagu yang berjudul Life Won’t Wait. Mereka bahkan menggandeng beberapa mahasiswa UMN untuk membuat video gabungan, untuk diputar pada UMN Night. Salah satu yang berhasil mereka ajak bergabung adalah, Gamaliel, salah satu mahasiwa UMN yang sudah lebih dulu terjun ke industri Musik Indonesia. Belakangan ini, Gamaliel (Gamal), mulai populer dengan lagu hitsnya bersama Cantika dan Audrey, yang berjudul Bilang Cinta. Lagu tersebut cukup populer dan sering diputar di berbagai radio lokal, seperti Prambors, Gen FM, Trax, dan lain-lain.

Kembali ke soal SITBACK. Penampilan perdana mereka di UMN Night dapat dibilang cukup sukses. Terlihat dari penontonnya saat itu yang memenuhi kursi-kursi yang tersedia di depan panggung Unity, Summarecon Mall Serpong. Biman dan kawan-kawan berhasil memukai penonton yang datang saat itu, dan mulai mendapatkan tawaran manggung di sekitar Serpong.

“Feedbacknya pun sangat baik buat kami. Mulai ada tawaran untuk manggung lagi dan seterusnya banyak tawaran . merasa punya kecocokan antara kita ber-5. Dan udah ga bisa main-main lagi.”

Mungkin dikarenakan mereka sudah berusia rata-rata di atas 20 tahun. Jadi, mereka mulai menjadikan band ini sebagai pilihan untuk karir di masa depan. Kemungkinan berhasil dengan bermusik memang tidak mudah, tetapi anak-anak SITBACK tidak menyerah begitu saja. Mereka mulai menerima tawaran-tawaran yang datang dari dalam kampus. Tidak selalu mulus seperti apa yang mereka harpkan. Ya… Namanya juga hidup, pasti ada saat-saat dimana tidak semua berjalan sesuai dengan harapan.

Ngomong-ngomong soal yang tidak sesuai harapan. Tiga dari lima anggota SITBACK tadinya emmiliki band masing-masing, yang dapat dikatakan gagal di tengah jalan. Tetapi, ketiga personil tersebut, Biman, Dega, dan Louis, tidak patah semangat danmenaruh harapan-harapan mereka di SITBACK ini. Mungkin beberapa yang kandas di haluan ang dahulu, bisa diwujudkan di band yang sekarang. Semoga… *finger crossed*

“Manggung awalnya ya di acara-acara kampus dulu…”

Seperti DKV UMN Halloween Night,

 

 

Fikom Night UMN Broadway. Di acara inilah mereka mendapatkan masalah pertama saat sedang tampil di panggung. Tim panitia acara tersebut sepertinya kurang mengetahui aliran msuik apa yang akan dibawa oleh band yang mereka undang. Sehingga, di tengah-tengah penampilan, hampir terjadi pemberhentian, dengan cara dimatikannya sound system panggung. Dega, sang drummer, tidak bisa menerima hal ini. Lalu, terjadi beberapa ketegangan di luar function hall, UMN. Beberapa argumen mencuat dengan beberapa orang yang berasal dari pihak paniti Fikom Night.

 

Juga beberapa panggung di luar kampus, seperti acara Star Radio di Living World, Parade Musik Kebangsaan di Monumen Nasional, hingga yang terakhir Ruang Musik di Basement Cafe, Swiss-Bel Hotel, Kemang.

 

 

Di samping tawaran manggung yang sudah bolak-balik, sana-sini, sekitar Tangerang dan Jakarta. SITBACK juga tadinya berencana melakukan tour Jawa-Sumatera pada bulan Mei lalu. Tapi, karena beberapa kendala seperti ketersediaan absen para personil yang terbatas, maka tour tersebut dibatalkan. Karena apabila dilanjutkan, beberapa dari mereka akan mengalami kegagalan dalam beberapa mata kuliah masing-masing. Anak band ‘kan tetep harus sukses kuliahnya… Makanya, buat para mahasiswa UMN diharapkan, gunakanlah jatah absen kalian sebaik-baiknya.

Urusan ngeband mereka tidak berhenti dari sekedar manggung ke panggung satu ke panggung yang lain. Mereka berniat untuk memiliki album sendiri dari hasil jerih payah mereka. Sejauh ini sudah ada sekitar enam lagu yang siap mereka luncurkan dalam bentuk sebuah mini album. Album ini rencananya akan rampung bulan September mendatang. Lagu-lagu tersebut merupakan ciptaan mereka sendiri, loh… Kalau soal lirik lagu-lagu yang menyentuh, sang vokalis Antonio Sompotan/Biman yang banyak ambil alih.

Mungkin bisa dilihat dari umur, pengalaman Biman bisa dibilang paling banyak. Baik itu soal hidup, maupun soal percintaan. Lagu-lagu SITBACK yang diciptakannya juga tidak jauh dari tema cinta dan pertemanan. Hal seperti barusan,sudah biasa menjadi bercandaan mereka. Maklum, pada tanggal 2 Agustus tahun ini sang vokalis akan genap berusia 27 tahun.

Soal album, SITBACK yang berusaha keras menjadi sebuah band indie ini, melakukan segala hal semampu mereka untuk membuat segalanya berjalan lancar. Beberapa personilnya bahkan mengorbankan beberapa barang mereka untuk dijual. Salah satunya adalah sang gitaris, Louis Maramis. Dia punya cerita menarik dalam mencari tambahan untuk bikin album.

“Gw jual laptop. Jauh-jauh, sampe nyasar ke Pantai Indah Kapuk, ujung-ujungnya, laptop gw dihargain Rp 250.000. Emang sih udah banyak bagiannya yang rusak…”

Begitulah pahit-pahit mereka memperjuangkan band ini. Selain, kesulitan mencari dana, belakangan ini SITBACK mulai menerima tawaran panggung di beberapa daerah di Jakarta. Tetapi, karena salah satu personil mereka, Glen, sudah memiliki pekerjaan tetap sebagai Designer Graphic Animation di MNC, maka mereka agak kewalahan mengatur jadwal. Tidak jarang hal ini menyebabkan sedikit perselisihan di antara personil.

Seperti contohnya saat manggung di Kemang 11 Juni lalu, penampilan mereka agak drop, karena kurangnya latihan. Seusai perform, seluruh personil hanya bisa diam, merenungi apa saja yang salah dari penampilannya barusan. Hal-hal seperti ini, cukup sering terjadi, dan tidak jarang menjadi bumerang dalam meneruskan karir atau tidak. Tetapi SITBACK tetap bertahan di jalan mereka. Mereka tetap akan memperjuangkan segalanya bersama-sama.

Selain itu, ada kabar berhembus bahwa SITBACK di-banned untuk beberapa acara kampus. Kabarnya, hal ini terjadi karena kejadian mereka membawakan lagu yang cukup keras ketika Fikom Night 2012 lalu. Semoga kabar ini tidak benar, ya…

Sesi terakhir dalam interview yang kami lakukan, tentunya adalah menanyakan, hal apa yang mereka pentingkan dalam menjalani nge-band yang serius ini. Inilah jawaban mereka.

Chemistry,kejujuran dan kekeluargaan lah yang kita utamakan. Karena suasana harmonis akan membuat kami lebih enjoy dalam pekerjaan ini. Keseriusan setiap personil juga sangat dibutuhkan untuk melancarkan perjalanan menuju kesuksesan kami yang masih sangat panjang. Motivasi kami adalah ingin selalu menjadi band yang mempunyai karya yang baik, kita juga pengen eksis hahaha… Kita ingin dan harus bisa go international ga hanya nasional saja, dan bisa jadi orang kaya dengan kesuksesan bermusik ini. Hahaha…”

Baiklah… Semoga harapan-harapan tersebut dapat tercapai. Saya doakan mereka dapat menempuh kesuksesan dan tidak lupa akan siapa-siapa yang sudah membantu mereka, jika mereka sukses nanti. Jangan sampai menjadi pepatah, bagai kacang yang lupa pada kulitnya. Selain itu, diharapkan semoha kuliah semua juga tetap lancar. Rencananya Biman dan Fabian akanmenjalani Tugas Akhir untuk merampungkan studi mereka tahun depan. Semoga sisa yang masih berkuliah bisa cepat menyusul ya… Sukses selalu untuk SITBACK!

Jika ingin mengetahui lebih lanjut tentang mereka dapat difollow account Twitternya di @sitback_id atau Facebook Page http://www.facebook.com/sitbackmusic. Barusan adalah titipan para personil, sekalian promosi J

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Jurnalis Dalam Raksasa Media

Oleh: Maria Advenita Gita Elmada*)

“Hidup buruh! Hidup jurnalis! Kita bentuk serikat pekerja! Kita tuntut semua jurnalis di medianya bebas untuk bersuara, bebas untuk berkumpul, bebas untuk berserikat!”

Seruan tersebut disambut dengan teriakan tanda setuju oleh para demonstran lain.

Siang itu, Hari Perempuan Internasional, Kamis, 8 Maret 2012.  Tanggal bersejarah bagi Luviana. Ini pertama kalinya ia berorasi. Berdemonstrasi. Hari itu ia masih menggunakan seragam Metro TV berwarna biru. Meskipun sejak tanggal 1 Februari 2012 dirinya bukan lagi bagian dari redaksi televisi milik Surya Paloh itu. Ia di non-job-kan.

Istana negara menjadi saksi bagaimana jurnalis yang seharusnya bebas bersuara dan menyampaikan informasi justru dibungkam oleh kekuatan yang jauh lebih besar lagi, kekuatan sang pemilik modal. Terlebih serikat pekerja yang seharusnya bisa jadi kekuatan bagi mereka yang ada di kelas pekerja -kalau tak mau dibilang buruh- media ini juga seolah tak diinginkan keberadaannya oleh pihak manajemen.

“Ketika saya memperjuangkan teman-teman, memperjuangkan kesejahteraan teman-teman, memperjuangkan soal perekonomian kawan-kawan di Metro TV, tiba-tiba saya disuruh mundur,” kisah Luviana masih di depan para demonstran.

Tertarik dengan masalah ini, aku pun memutuskan untuk menemui Luviana. Di rumahnya di bilangan Ciledug, aku yang datang malam hari itu disambut oleh Luviana dan Candid, putrinya. Sederhana, ramah, itulah kesan pertama yang aku dapatkan dari sosok yang kunilai berani ini.

Luviana mulai bekerja di Metro TV sejak tanggal 1 Oktober 2002. Ia tertarik dengan pendapat orang tentang bekerja di televisi yang katanya penuh tantangan. Apalagi saat itu televisi berita ini baru berumur hampir dua tahun.

Banyak hal yang mengganggu dirinya selama bekerja di sana. Masalah independensi dan keharusan menyiarkan berita-berita tentang pemiliknya yang juga pemain di dunia politik Indonesia, masalah penampilan yang jadi tuntutan utama jurnalis bukannya isi atau kualitas berita, hingga ke masalah kesejahteraan karyawan. Tak jarang kritik keluar dari mulutnya. Menurut Luvi, banyak kritik ini merupakan salah satu rapot merahnya di Metro TV yang juga jadi alasan posisinya sebagai asisten produser tak kunjung berubah.

“Berkali-kali tuh aku ingin keluar, berkali-kali ingin keluar, karena, aduh, ini benar-benar bukan Luvi banget,karena aku harus berkompromi pada banyak hal, ” katanya.

Sebelum di Metro TV, Luviana pernah bekerja di media lain. Di Jakarta ia pernah menjadi bagian dari Jurnal Perempuan dan Kantor Berita Radio 68 H. Luvi menyadari, dari awal ia memang terbiasa bekerja di tempat yang menjunjung tinggi idealisme. Terutama idealisme yang kurang lebih sama dengan dirinya.

Akhirnya tahun 2008 Luviana mulai bergerak di Metro TV, berusaha memperjuangkan kesejahteraan dan membentuk serikat pekerja. Ia mengumpulkan teman-temannya. Sempat tertunda karena kehamilannya tahun 2008 dan juga Pemilu tahun 2009, perjuangan itu menggugurkan banyak orang. Tahun 2011-2012 sekitar 60 temannya mundur dari perusahaan itu. Ketika membuat mosi tidak percaya, gugatan lain, dan pengumpulan tanda tangan untuk membuat serikat pekerja, banyak juga temannya yang menolak tanda tangan. Bukan karena tak ingin, tapi karena takut pada kekuasaan. Belum lagi ancaman blacklist dari HRD apabila ada yang berani membangkang. Padahal menurut Luvi, ini adalah cara mereka menghimpun kekuatan dan memperjuangkan banyak hal termasuk independensi dan kesejahteraan. Dan perjuangan Luvi dan teman-temannya di kemudian hari memang berbuah manis, meskipun ini terwujud setelah Luviana akhirnya di-PHK oleh Metro TV. Reformasi manajemen, pengangkatan pekerja outsource, dan sedikit perbaikan pada kesejahteraan terjadi di Metro TV, walaupun soal organisasi ditumbangkan oleh ketidakinginan sang pemilik tak mau ada serikat pekerja di medianya.

Ketika termenung aku menyadari, ini ironis. Media menjadi tempat masyarakat menyampaikan aspirasi. Kita lihat, di Hari Buruh misalnya, media ikut memberitakan dan menyuarakan tuntutan para buruh, termasuk masalah kesejahteraan dan adanya serikat pekerja untuk melindungi hak mereka. Namun, media sendiri tak banyak yang punya serikat pekerja dan kesejahteraan pekerjanya pun ternyata masih belum baik.

Aku penasaran, bagaimana sebenarnya kondisi riil masalah ini. Orang pertama yang aku hubungi tentang masalah ini adalah Ignatius Haryanto, Direktur Lembaga Studi Pers dan Pembangunan. Lelaki yang berambut panjang dan senantiasa mengikat rambutnya yang panjangnya lebih dari sebahu ini juga mengajar beberapa mata kuliah di Universitas Multimedia Nusantara.

“Industri media berkembang pesat, tetapi kesejahteraan wartawan tidak membaik,” katanya.

Menurutnya, sekarang media sudah betul-betul dilihat sebagai entitas bisnis. Artinya penghematan dilakukan pebisnis, investasi juga diperhatikan betul bagaimana akan break event point. Jadi pemilik media pun melupakan kesejahteraan karyawan.

Soal serikat pekerja, dari ribuan perusahaan pers, hanya puluhan saja yang punya serikat pekerja. Padahal, harusnya organisasi ini lah yang akan mewakili pekerja ketika berhadapan dengan pengusaha media tersebut.

“Pengusaha banyak curiga dengan serikat kerja,” ujarnya ketika ditanya mengapa tak banyak organisasi ini di media. Selain itu, kesadaran berserikat dari wartawan juga dianggapnya masih kecil.

Mengenai kesejahteraan, ada standard yang sudah ditetapkan Aliansi Jurnalis Independen, salah satu organisasi jurnalis yang ada di Indonesia. Tahun ini angkanya sebesar 5,4 juta rupiah. Jauh lebih besar memang dari upah minimum regional memang. Dan tak banyak juga perusahaan media yang bisa memenuhi angka tersebut.

Mendengar kata AJI disebut, aku jadi ingin tahu langsung dari organisasi ini. Terlebih organisasi yang berdiri tahun 1994 ini special di mataku. Pernyataan-pernyataannya, komitmen anti-amplopnya, idealismenya, semua menarik perhatianku yang baru mulai mengenal dunia jurnalistik ini. Tanpa ada kenalan, tanpa ada koneksi, hanya berbekal alamat yang ku dapat lewat internet, aku pun nekat menyambangi Kantor AJI yang ada di bilangan Menteng tersebut.

Tak seperti kantor, hanya lambang AJI yang khas dengan burung merpati dan warna ungunya saja yang terpampang kecil di depan yang jadi penanda. Aku disambut oleh sekertaris kantor, Minda Mora Simanjuntak. Ingin minta data kataku. Dan aku akhirnya diberikan tiga buku yang rasanya sesuai dengan apa yang aku butuhkan.

Di dalam ruang tamu AJI yang ditempeli banyak poster menarik, beberapa di antaranya mengatakan soal anti-amplop, kami mengobrol dan Minda mengarahkan aku untuk datang lagi nanti, bertemu dengan anggota AJI yang sekiranya bisa berbicara tentang masalah ini.

Akhirnya, aku pun pergi dengan janji akan kembali sore harinya, kebetulan akan ada rapat pengurus malam itu, hari Rabu. Sambil mengisi waktu, aku pun membaca buku yang baru saja diberikan. Ada yang judulnya Masih Bertumpu Pada Sang Pelopor:Survei Serikat Pekerja di Perusahaan Media. Buku bersampul merah terbitan tahun 2010 tersebut berisi penelitian di tahun itu.

Ada data yang menurutku menarik. Tahun itu tercatat 2.314 media di Indonesia dengan rincian 1.008 media cetak, 1.297 radio, 79 stasiun televisi, dan belum lagi media online yang terus bertumbuh jumlahnya. Yang punya serikat pekerja dari ribuan media tersebut hanyalah 27 media. Hanya sekitar 1,16%. Padahal serikat pekerja penting posisinya, terutama bila terjadi kasus seperti yang dialami Luviana. Dan tak Cuma Luviana, kasus serupa sebenarnya pernah terjadi sebelumnya, seperti Budi Laksono, jurnalis Suara Pembaruan yang di-PHK, juga 200 karyawan Indosiar yang juga kena pemecatan sepihak, PHK 13 jurnalis Indonesia Finance Today, yang semua terjadi karena menuntut kesejahteraan, yang memang kurang terperhatikan itu.

Sore hari, kira-kira pukul 6, aku kembali ke kantor AJI. Hujan mulai turun, di Menteng tak terlalu deras, tapi kabarnya di Jakarta bagian lainnya cukup deras. Orang yang kutunggu belum juga datang. Aku lanjutkan saja membaca buku yang tadi baru kudapatkan. Salah satunya ternyata ditulis oleh Luviana dan penelitiannya didesain oleh Luviana sendiri dan Ignatius Haryanto. Judul bukunya Jejak Jurnalis Perempuan. Lagi-lagi masalah kesejahteraan, tapi yang ini memang lebih terfokus pada perempuan.

Sesekali pintu ruang tamu terbuka, pengurus AJI mulai berdatangan, dan terkadang mereka bertanya siapa aku dan apa tujuanku disana. Setelah menjelaskan sekilas, mereka pun mengangguk dan kembali ke obrolan bersama teman-temannya di ruang tengah.

Pukul 8, sosok yang menurutku khas wartawan, rambut gondrong diikat, wajah sedikit berewokan, kurus, pakaian santai dibalut jaket karena baru turun dari motor, membawa tas ransel hitam besar menyapaku.

“Maaf ya lama, tadi hujan, aku gak bawa jas hujan,” katanya.

Ini dia orang yang kutunggu, Alwan Ridha, anggota Divisi Serikat Pekerja di AJI. Aku pun langsung memulai wawancara singkat ini.

Dirinya langsung menyebutkan serikat-serikat pekerja yang ada. Tak banyak memang, tahun ini menyentuh angka sekitar 30, itu pun yang aktif juga tak semuanya. Dan tentu ada alasan mengapa serikat pekerja begitu minim di media.

“Ada dua kemungkinan, pertama bahwa kebanyakan jurnalis merasa dirinya bukan sebagai buruh biasanya, mereka mau membuat serikat pekerja tapi agak ogah-ogahan. Yang kedua  ada ketakutan dari jurnalisnya sendiri untuk membuat serikat pekerja,” tutur Alwan.

Padahal, serikat pekerja ada di suatu perusahaan demi membangun perusahaan secara bersama-sama, bukan untuk menghancurkan. Kebanyakan serikat pekerja baru muncul ketika ada masalah antar pekerja dan manajemen.

Melompat sedikit ke hari Sabtu, di mana aku bertemu dengan Ariyo Ardi, jurnalis yang kini juga menjadi pembaca berita di acara Seputar Indonesia. Di RCTI, sebuah televisi nasional yang cukup besar ini, tidak ada serikat pekerja.

“Karena sejauh ini kita bisa berkomunikasi dengan baik dengan pemimpin redaksi, dengan direktur, dengan pemilik, selalu terbuka komunikasi itu,” ungkapnya ketika ditanya mengapa tak ada serikat pekerja di sana. Ditambah dengan adanya kebebasan bagi para jurnalis di RCTI, khususnya Seputar Indonesia, untuk bergabung dalam organisasi kewartawanan apa pun.

Jadi senada dengan yang Alwan katakan, ketika perusahaan adem ayem saja, pekerjanya jadi tidak merasa perlu untuk membentuk serikat pekerja itu.

Kembali ke hari Rabu, kembali ke ruang tamu AJI, kembali melanjutkan perbincangan dengan Alwan tadi.

Aku beralih ke masalah kesejahteraan yang menjadi tuntutan utama hampir semua orang, termasuk para jurnalis, termasuk juga Luviana dan mereka yang kena PHK lantaran mencoba memperjuangkan hal ini.

Mengenai kondisi riil kesejahteraan jurnalis, jurnalis di media online Merdeka.com ini mengatakan, di Jakarta saja banyak jurnalis yang digaji dibawah standard provinsi yakni 2,2 juta rupiah. Begitu juga di daerah lain. Ini belum upah layak yang ditentukan AJI. Kalau merunut pada hal itu, akan menjadi sangat sedikit bahkan hampir tidak ada media yang mampu memenuhi standard upah layak dari AJI.

Sebenarnya hal itu sudah aku baca sebelumnya di buku yang diberikan tadi siang, kali ini yang judulnya Upah Layak Jurnalis. Hanya saja ini edisi tahun 2011 lalu, jadi mungkin sudah agak ketinggalan jaman, tapi menurutku cukup menggambarkan kondisinya.

Di buku ini dijabarkan upah layak untuk tahun 2010, memang setiap kota berbeda, tergantung pada kondisi masing-masing tempat, tapi untuk Jakarta angkanya berkisar di 4,6 juta rupiah. Dan hanya tiga media yang mampu memenuhi standard ini, yakni Kompas, Bisnis Indonesia, dan Jakarta Globe. Sisanya memang kebanyakan sudah di atas UMP tahun itu, yakni 1,2 juta rupiah.

Profesi jurnalis adalah profesi penting yang punya tanggung jawab langsung kepada masyarakat. Mungkin muncul pertanyaan mengapa serikat pekerja dan kesejahteraan yang daritadi dibahas ini menjadi masalah penting. Bila ingin disederhanakan, menurutku akan menjadi seperti ini; kesejahteraan dibutuhkan oleh para jurnalis untuk dapat bekerja dengan baik dan sesuai kode etik, serikat pekerja ini jadi saran bagi para jurnalis untuk bisa mewujudkan kesejahteraannya.

Akibat dari kurangnya kesejahteraan jurnalis ini tentu dapat berdampak pada kerja mereka. Tak akan maksimal tentunya. Ditambah beban kerja jurnalis yang berat dan penuh dengan risiko.

Kurangnya pihak media memperhatikan kesejahteraan jurnalis membuat tak sedikit jurnalis yang cari penghasilan tambahan, baik dengan cara yang benar ataupun salah. Yang salah ini yang perlu dikritisi, seperti misalnya masalah amplop yang sudah menjadi rahasia umum.

Aku menanyakan hal ini ke Ignatius Haryanto, karena kebetulan ia juga mengajar masalah etika di media massa. Begini kira-kira pendapatnya.

“Sebagian besar wartawan tahu bahwa amplop itu salah, tetapi karena kondisi kantor yang tak memenuhi kebutuhan itu – karena perusahaannya tak cukup sehat secara ekonomi, maka mereka terima amplop,” katanya.

Banyak yang berdalih, mereka terima amplop, tapi independensi mereka tetap terjaga. Kalau dipikir secara logis, bagaimana mungkin kita berkata jahat terhadap seseorang yang sudah memberikan sesuatu kepada kita?

Masalah amplop ini juga jadi satu hal menarik bagiku. Sayangnya susah menemukan orang yang mau berbicara tentang hal ini. Aku sendiri pun belum pernah mengalami langsung. Namun tak disangka aku bertemu kakak kelasku yang punya pengalaman ini.

Siang itu aku lupa tepatnya kapan, aku sedang santai di ruang majalah kampus, ada Benediktus Krisna di sana, dia kakak kelas dan mantan pemred majalah itu.

“Amplop itu salah, jangan diterima, itu harga mati,” katanya ketika aku tanya soal ini.

Ia pun melanjutkan ceritanya dengan pengalaman disodori amplop. Saat itu Bene, panggilannya, masih kerja magang di Harian Kompas. Hari itu tanggal 30 Maret 2013, masih jelas dalam ingatannya. Ia meliput ke salah satu lembaga negara yang ada di kawasan Kebon Sirih Jakarta Pusat.

Selesai acara, ibu yang nampaknya bagian Humas ini memanggil para wartawan untuk menandatangani buku absen. Bene ikut berbaris di sana. Ketika tiba gilirannya, ia harus tandatangan dan sudah disodori amplop, isinya uang, tak banyak memang, Rp 110.000,00, katanya uang transport.

“Wah, maaf, Bu, saya ga main gituan. Transport kan? Saya bawa motor kok. Terima kasih,” ujar Bene saat itu.

Si ibu terlihat panik, wartawan-wartawan lainnya sudah terima, hanya pria berkacamata ini saja yang menolak.

Udah, ga apa-apa, Bu. Kompas memang ga ambil itu,” timpal salah satu wartawan lain.

Setelah itu Bene langsung pergi dari tempat itu.

Pendapat pribadinya memang menganggap amplop tak baik, berbahaya bagi independensi dan profesionalitas wartawan. Tapi di satu sisi, wartawan yang bekerja di media yang kurang memperhatikan kesejahteraan, akan sangat mudah untuk tergoda, sungguh dilematis.

Masalah amplop, sebenarnya banyak media yang sudah berusaha menetapkan regulasi hal itu. Kompas menurut cerita Bene, RCTI menurut cerita Ariyo Ardi, semuanya melarang jurnalisnya menerima amplop.

Di AJI pun ada peraturan di mana anggotanya tak boleh terima amplop. Jika ketahuan, mereka akan dikeluarkan. Tapi anggota AJI sekarang hanyalah 1900-an, padahal jumlah jurnalis di Indonesia mencapai 4000-an. Bagaimana dengan sisanya? Apakah mereka memiliki komitmen yang sama?

Pertanyaan selanjutnya adalah berapa banyak media yang cukup sehat ekonominya untuk mampu memfasilitasi kesejahteraan wartawannya sehingga mereka mampu menolak amplop? Selain itu kembali lagi ke pribadi masing-masing, apakah setiap jurnalis memegang teguh prinsip-prinsip jurnalistik yang anti amplop? Tentu hal ini jadi susah untuk diprediksi.

Selain tanggung jawab setiap pribadi, masalah ini juga harus menjadi perhatian perusahaan media. Regulasi yang tegas diperlukan, diiringi oleh fasilitas dan kesejahteraan yang memadai. Para pengusaha jangan hanya memperhatikan peluang emas di bisnis media saja, tapi juga konsekuensi untuk memperhatikan kesejahteraan dan menerapkan prinsip jurnalistik.

Ada satu kutipan di buku Upah Layak Jurnalis, yang menarik, dan merupakan motto dari International Federation of Journalist (IFJ) yang punya anggota lebih dari 600 ribu di 131 negara. There can be no press freedom if journalists exist in conditions of corruption, poverty, or fear (Tidak akan ada kebebasan pers jika jurnalis ada di situasi korupsi, kemiskinan, ataupun ketakutan).

Pernyataan di atas bisa menjadi pertanyaan refleksi bagi jurnalisme di Indonesia. Sudahkah pers kita bebas dari korupsi, termasuk di dalamnya masalah amplop dan suap menyuap? Sudahkah pers kita bebas dari kemiskinan? Dan sudahkah pers kita bebas dari ketakutan, baik kepada pemerintah, penguasa, maupun pemilik modal?

Kembali mengutip dari buku Upah Layak Jurnalis, “Kita merasa besar di luar, tapi sebenarnya kecil di perusahaan,” kata seorang redaktur sebuah harian di Medan. Ya, itulah posisi jurnalis, disegani di luar, tapi di perusahaan tak lebih dari sekedar buruh yang butuh memperjuangkan kesejahteraan. Bagaimana buruh ini bisa jadi kuat? Serikat pekerja menjadi salah satu jawabannya.

Melihat ini semua, jika kembali ke permasalahan Luviana, rasanya apa yang diperjuangkan dirinya bukan hal muluk. Justru menjadi hal dasar yang penting bagi para pekerja media, bagi para buruh media.

Perjuangan sesungguhnya barulah dimulai. “Hidup Buruh! Hidup Jurnalis!”

Maria Advenita Gita Elmada-11140110126

Posted in Peristiwa | Leave a comment