Bangunan Merah Bersejarah

DSC_0019Bangunan Merah Bersejarah 

Ervina Cecilia

11140110227

Menuju ke tempat bangunan merah terang yang besar dan melebar itu harus berjalan kaki terlebih dahulu sekitar 100 meter melewati pasar tradisional yang menjual berbagai aneka macam barang dan makanan khas jajanan pasar yang barangkali keberadaan barang-barang tersebut tidak akan kita temukan di pasar modern.

Setelah sampai pada tempat yang dituju semua akan kaget, karena diantara kepadatan rumah penduduk dan para pedagang pasar terdapat sebuah bangunan megah dengan warna khasnya, yaitu merah. Dihiasi oleh ornament – ornament yang mewakili negeri jiran itu, artifak nan indah dan terpajang rapih di hiasi oleh dupa sembahyang, sekumpulan orang yang sedang memanjatkan doa sesuai dengan keyakinan nya masing – masing.

Ruang – ruang yang berhiaskan berwarna merah, Patung – patung dewa dan dewi yang dianggap suci oleh agama Buddha. Jatuh dan bangun semuanya di tanggung bersama – sama. Sampai beberapa bulan kemarin saat Boen Tek Bio menyelenggarakan suata acara Arak – Arakan patung dewa dan dewi yang dalam skala besar.

Memasuki klenteng, dua buah patung singa akan langsung menyapa kita di halaman depan. Masuk lebih dalam lagi ke Kelenteng, kita langsung berhadapan dengan Altar Utama. Di dalam altar utama, terdapat beberapa altar dewa, seperti altar penguasa langit, bumi dan air, altar Sang Buddha, altar Tuhan dan terutama altar dewi Kwan In, yang menjadi tuan rumah di kelenteng ini. Selain di altar utama, juga terdapat patung dewa-dewi lainnya yang disembah oleh umat Buddha, Kong Hu Cu dan Tao, seperti dewa pelindung Kelenteng, raja neraka, dewa imigran, dewa peperangan,dan dewa-dewi lainnya. Semua patung dewa ini tidak terletak di altar utama, melainkan di altar terpisah yang letaknya berjejer disisi altar utama.

Nah, Segala hal yang bernilai historis akan menyambut Anda saat menjejakan kaki di Klenteng Boen Tek Bio . Mulai dari kayu-kayu di langit-langir klenteng yang diperkiran dibuat pada awal tahun 1800-an yang masih kokoh melekat sampai sekarang. Belum lagi dengan lonceng tua yang ada di halaman Klenteng Boen Tek Bio yang konon katanya berasal dari negeri Cina dan dibuat tahun 1835. Tempat pembakaran Klenteng Boen Tek Bio yang dibuat pada abad ke-19.Kemudian yang altar Tuhan yang disebutnya Tien si Lo yang ada dari tahun 1839, kemudian juga Ciok Sai Singa Batu tahun 1827.

Selain barang-barang antik, di Klenteng Boen Tek Bio ini Anda juga akan menemukan patung-patung dewa yang menjadi ciri khas dari sebuah klenteng. Sebut saja Patung Hok Tek Tjeng Sien (Dewa Bumi) di ruang utama Kelenteng Boen Tek Bio, dengan patung Bie Lek Hud di bagian depan. Bi Lek Hud, atau Mi Le Fo dan dalam bahasa sanskerta disebut Maitreya yang berarti “Yang Maha Pengasih dan Penolong”, adalah salah satu dewa yang sangat dihormati. Umumnya orang memuja Bie Lek Hud untuk memperoleh kekayaan dan kebahagiaan. Sebuah hiasan gantung bergambar naga yang indah.

Di klenteng ini juga sering mengadakan upacara besar yang banyak dikunjungi orang di Kelenteng Boen Tek Bio adalah Upacara Gotong Toapekong yang diarak mengelilingi daerah Pasar Lama dan dihadiri oleh perwakilan dari seluruh kelenteng di Indonesia. Saat itu juga ada pertunjukan Wayang Potehi yang langka. Upacara ini kali pertama berlangsung di Tangerang pada tahun 1856 ini dilakukan setiap 12 tahun sekali, bertepatan dengan Tahun Naga. Arak-arakan joli Ka Lam Ya, Kwan Tek Kun dan terakhir Joli Ema Kwan Im. Pesta tahun Naga ini dimeriahkan oleh pertunjukan Barongsai dan Wayang Potehi yang berhasi menyedot ribuan pengunjung.

Kelenteng Boen Tek Bio dikenal sebagai kelenteng tertua di Tangerang yang telah berumur lebih dari 3 abad. Kelenteng Boen Tek Bio berdiri sekitar tahun 1684. Di masa itu, para penghuni perkampungan Petak Sembilan secara gotong-royong mengumpulkan dana untuk mendirikan sebuah kelenteng yang diberi nama Boen Tek Bio (Boen=Sastra Tek=Kebajikan Bio=Tempat Ibadah). Bio yang pertama berdiri diperkirakan masih sederhana sekali yaitu berupa tiang bambu dan beratap rumbia.

Klenteng Boen Tek Bio atau kelenteng Kebajikan Benteng atau Wihara Padumattara ini tadinya hanya berupa bangunan sederhana yang terbuat dari tiang bambu dan atap rumbia. Namun dalam perkembangan dan bertambahnya umat Boen Tek Bio, kelenteng ini kemudian dapat diperbaiki dan direnovasi sebanyak dua kali sehingga terciptalah bangunan yang ada seperti sekarang ini.

Pada tahun 1844 kelenteng ini mengalami renovasi dengan mendatangkan ahlinya dari negeri Cina. Kelenteng Boen Tek Bio merupakan salah satu dari tiga kelenteng yang besar dan berpengaruh serta berusia tua di daerah Tangerang. Dua kelenteng lainnya adalah Kelenteng Boen Hay Bio (berdiri 1694) dan Kelenteng Boen San Bio (1689). Sebagai tuan rumah kelenteng ini adalah Dewi Kwan Im. Selain Dewi Kwan Im di sebelah kiri dan kanan kelenteng ini juga dibangun tempat untuk Dewa-Dewa lain.

Awal abad 19 setelah perdagangan di Tangerang meningkat, dan umat Boen Tek Bio semakin banyak, kelenteng ini lalu mengalami perubahan bentuk seperti yang bisa dilihat sekarang. Bangunan itu kokoh berdiri tegak dan menyimpan banyak kenangan di dalamnya. Barulah menjadi kelenteng seperti sekarang ini.

Disamping acara gotong Toapekong, Boen Tek Bio menyelenggarakan pesta Petjun yang diadakan di Kali Cisadane, yaitu perlombaan balap perahu naga yang diadakan di Sungai Cisadane. Perlombaan ini berlangsung sekitar bulan Mei-Juni saat musim kemarau dimana air sungai jernih dan tenang. Setelah peristiwa G-30 S/PKI, acara Petjun dilarang pemerintah. Dengan sejarah panjang yang dimiliki, klenteng Boen Tek Bio bisa menjadi salah satu target wisata anda di Kota Tangerang.

Ya,,, kenangan – kenangan berharga yang tidak bisa di dapatkan dengan mudah dan harus membayar kenangan itu sendiri dengan memakan waktu yang tidak sebentar tetapi telah menghabiskan berpuluh – puluh tahunan lamanya. Ada harga yang harus dibayar mahal dibalik sejarah klenteng boen tek bio.

Keberadaan Kelenteng Boen Tek Bio ini tidak lepas dari sejarah kedatangan orang Tionghoa di kota Tangerang yang terjadi pada abad ke-15. Pada tahun 1407, Rombongan Tjen Tjie Lung (Halung) yang membawa tujuh kepala keluarga dengan sembilan orang gadis, terdampar di daerah yang sekarang dikenal dengan sebutan Kampung Teluk Naga. Tujuan mereka semula adalah untuk pergi ke Jayakarta.

Mengenai kedatangan orang Tionghoa pertama kali ke Tangerang belum diketahui secara pasti. Dalam kitab sejarah Sunda yang berjudul? “Tina Layang Parahyang”? (Catatan dari Parahyangan) disebut tentang kedatangan orang Tionghoa ke daerah Tangerang. Kitab tersebut menceritakan tentang mendaratnya rombongan Tjen Tjie Lung (Halung) di muara sungai Cisadane yang sekarang diberi nama Teluk Naga pada tahun 1407.

Pada waktu itu pusat pemerintahan ada di sekitar pusat kota sekarang, yang diperintah oleh Sanghyang Anggalarang selaku wakil dari Sanghyang Banyak Citra dari Kerajaan Parahyangan. Perahu rombongan Halung terdampat dan mengalami kerusakan juga kehabisan perbekalan. Daerah tujuan yang semula ingin dikunjungi adalah Jayakarta.

Rombongan Halung ini membawa tujuh kepala keluarga dan diantaranya terdapat sembilan orang gadis dan anak-anak kecil. Mereka kemudian menghadap Sanghyang Anggalarang untuk minta pertolongan. karena gadis-gadis yang ikut dalam rombongan itu cantik-cantik, para pegawai Anggalarang jatuh cinta dan akhirnya kesembilan gadis itu dipersuntingnya. Sebagai kompensasinya, rombongan Halung diberi sebidang tanah pantai utara Jawa di sebelah timur sungai Cisadane, yang sekarang disebut Kampung Teluk Naga.

Gelombang kedua kedatangan orang Tionghoa ke Tangerang diperkirakan terjadi setelah peristiwa pembantaian orang Tionghoa di Batavia tahun 1740. VOC yang berhasil memadamkan pemberontakan tersebut mengirimkan orang-orang Tionghoa ke daerah Tangerang untuk bertani. Belanda mendirikan pemukiman bagi orang Tionghoa berupa pondok – pondok yang sampai sekarang masih dikenal dengan nama: Pondok Cabe, Pondok Jagung, Pondok Aren dsb. Disekitar Tegal Pasir (Kali Pasir) Belanda mendirikan perkampungan Tionghoa yang dikenal dengan nama Petak Sembilan.

Perkampungan ini kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan dan telah menjadi bagian dari Kota Tangerang. Daerah ini terletak di sebelah timur sungai Cisadane, daerah Pasar Lama sekarang.

“Versi lain dari kitab Sejarah Sunda, Tina Layang Parahyang, yang artinya Catatan dari Parahyangan, yang sudah menyebut daerah muara Sungai Cisadane yang sekarang diberi nama Teluk Naga. Kitab itu menceritakan tentang mendaratnya rombongan Tjen Tjie Lung (Halung) di muara Sungai Cisadane pada tahun 1407. Tujuan awalnya Jayakarta,” lanjut Rinus salah satu pengurus klenteng boen tek bio, saat itu mereka menyebut wilayah Tangerang dengan nama “Boen-Teng”.

Lalu asal mula nama Benteng sendiri, yaitu sewaktu mereka masih hidup di daerah Tangerang dan masih di bawah penjajahan Belanda, tempat tinggal mereka di kelilingi oleh benteng dan tembok guna menghindari tembakan dari para penjajah. Semua hal ini dijelaskan oleh narasumber kita. Narasumber juga bercerita awalnya orang-orang China Benteng ini tidak terlalu diterima oleh masyarakat pribumi sebab mereka berbeda. Namun, seiring waktu mereka diterima juga oleh orang pribumi. Orang-orang China Benteng ini merupakan keturunan campuran tentu saja ada proses asimilasi dalam budayanya. Seperti ada beberapa macam kesenian yg merupakan campuran antara budaya mereka dengan budaya asli orang pribumi contohnya adalah reog ponorogo dan orkes keroncong.

Berawal dari sebutan itulah mereka kemudian dijuluki Cina Boen Teng. Julukan itu lama-kelamaan berubah menjadi Cina Benteng yang mayoritas warganya menjalani kehidupan sebagai pedagang kecil, petani, buruh informal, atau pencari ikan di pinggir kali.

Warga Cina Benteng sempat bersitegang dengan penduduk pribumi setelah Proklamasi Kemerdekaan. Pada 23 Juni 1946, rumah-rumah etnis Tionghoa di Tangerang diobrak-abrik. Penduduk yang didukung oleh kaum Republik menjarah rumah-rumah warga China Benteng. Bahkan meja abu, yang merupakan bagian dari ritual penghormatan leluhur tionghoa, ikut dicuri. Kemarahan penduduk pribumi dipicu seorang tentara NICA dari etnis Tionghoa menurunkan bendera Merah Putih dan menggantinya dengan bendera Belanda.

Rosihan Anwar dalam harian Merdeka 13 Juni 1946 menulis pada saat itu hubungan warga China Benteng dan pribumi mengalami kemunduran paling ekstrem. Terlebih setelah Poh An Tuy, kelompok pemuda China Benteng pro-NICA, mengirim pasukan bersenjata dan mengungsikan masyarakat China Benteng yang selamat ke Batavia. Namun akhirnya kerusuhan pro-kemerdekaan itu berhasil diredam oleh koalisi antara tentara Poh An Thuy and tentara Kolonial Belanda.

Saat itu, semua etnis China Benteng nyaris terusir, dan ketika kembali, mereka tidak lagi mendapatkan tanah mereka dalam keadaan utuh. Tanah-tanah para tuan tanah diserobot pribumi. Atau mereka mendapati rumah-rumah yang mereka tinggalkan telah rata dengan tanah. Kini mereka kembali terancam kehilangan rumah mereka karena ambisi pemerintah kota. Kampung itu terletak di DAS Ciliwung, dan memang melanggar peraturan daerah. Namun, mereka telah ada di situ sebelum peraturan daerah itu dibuat.

Di Tangerang, masyarakat Tionghoa telah menyatu dengan penduduk setempat dan mengalami pembauran lewat perkawinan sehingga warna kulit mereka terkadang lebih gelap dari Tionghoa yang lain. Istilah buat mereka tak lain adalah “Cina Benteng”. Keseniannya yang masih ada sampai sekarang disebut Cokek, sebuah tarian dengan iringan paduan musik campuran Cina, Jawa, Sunda, dan Melayu.

Tata cara mereka yang berdoa di Klenteng ini merupakan penganut keyakinan Konghucu. Dalam keyakinan Konghucu ini Dewi terbesar mereka adalah Dewi Kwan Im yg menguasai Ilmu Pengetahuan. Keyakinan ini mempunyai hari raya besar yaitu Tahun Baru Imlek. Tiap perayaan hari besar keagamaan atau ada event-event tertentu biasanya ditampilkan sesosok Naga. Naga dijadikan sebuah simbol yaitu kekuasaan dan keberanian serta sebagai tolak bala untuk mengusir hal-hal negatif bersemayam di dalam diri manusia.

Keyakinan Konghucu ini memiliki konsep kelahiran dan kematian yg sama dengan keyakinan lainnya yaitu semua dilahirkan atas kehendak Tuhan dan mati pun atas kehendak Tuhan yg tidak diketahui  kapan kejadiannya. Prosesi kematian mereka ialah mereka harus mengkremasikan mayat dan memakaikan baju kemudian dimasukkan ke dalam peti mati dan di dalam peti matinya tersebut dimasukkan beberapa barang berharga milik mayat semasa hidupnya.

Dahulu orang Tionghoa berkontribusi besar dengan kolonialisme belanda terhadap kelangsungan kekuasaan kolinal Belanda di Tangerang, banyak dari mereka yang diangkat menjadi kapitein Tionghoa pada era feodalisme tuan tanah di Tangerang, dan mereka sangat loyal terhadap Belanda. Pada saat Jepang menduduki Indonesia, mereka melawan Jepang dengan gagah berani walaupun akhirnya kalah. Tangerang merupakan daerah terakhir yang dikuasai Belanda di pulau Jawa, daerah ini baru diserahkan kepada Republik pada tahun 50-an.

Pada tahun 1946 terjadi kerusuhan etnis di Tangerang, Pribumi menuduh China berpihak ke Belanda. Terlebih setelah Poh An Tuy, tentara China Benteng pro-NICA, mengirim tentara dan mengungsikan masyarakat China Benteng yang selamat ke Batavia. Etnis pribumi pendatang (kebanyakan Jawa dan Madura) beserta beberapa kelompok religius Sunda dan Betawi melakukan peyerangan terhadap orang China Benteng karena dianggap terlalu loyal terhadap NICA, akhirnya kerusuhan ini berhasil diredam oleh tentara gabungan NICA dan Poh An Tuy yang membela orang China Benteng.

Orang-orang China Benteng merasa sangat kehilangan ketika Belanda meninggalkan Tangerang pada tahun 50-an dan menyerahkan kota itu kepada Republik, karena mereka kehilangan pelindung mereka, maka terjadilah penyerangan dan perampasan terhadap orang-orang China benteng, banyak di antara mereka yang dulunya kaya sekarang menjadi miskin karena harta leluhur mereka dirampas orang China benteng hidup lebih sejahtera selama pada zaman kolonial belanda daripada setelah Tangerang masuk ke-dalam Republik Indonesia.

Di Belanda pun orang China Benteng mudah ditemui di antara komunitas tionghoa disana, karena kebanyakan orang tionghoa yg ada di Belanda adalah orang China Benteng yang melarikan diri setelah Tentara Poh An Tuy mengalami kekalahan melawan tentara republik.

Jika dibandingkan dengan sekarang, hal menarik dari China Benteng adalah biarpun mereka sudah tidak berbahasa China lagi, mereka tetap melestarikan budaya leluhur dan tradisi Tiongkok, ini bisa dilihat dari tradisi pernikahan mereka yang menggunakan upacara pernikahan gaya Dinasti Manchu (Qing), mereka juga mengenakan pakaian gaya Dinasti Manchu seperti Manchu robe dan Manchu hat pada saat menikah. Orang China Benteng adalah satu-satu nya komunitas Tionghoa di Indonesia yang memiliki darah orang Manchu, karena hanya orang China Benteng yang masih tetap menggunakan upacara nikah gaya Dinasti Manchu setelah Dinasti Qing runtuh pada tahun 1912, di tiongkok sendiri, upacara nikah gaya Dinasti Qing itu sudah hampir hilang dan sangat jarang ditemukan.

Selain itu, banyak orang china benteng yang sebenarnya adalah keturunan dari keluarga kekaisaran Dinasti Qing (clan Manchu Aisin-Giorio atau Aixinjueluo dalam bahasa mandarin). Mereka adalah keturunan dari anak haram hasil hubungan gelap antara Kaisar Qianlong dengan seorang gadis cantik bermarga Wang di provinsi Fujian.

Karena sang Kaisar tidak mau hubungan gelapnya diketahui publik, maka untuk menyembunyikan fakta tersebut, anak hasil hubungan haram tersebut dipaksa memakai nama marga ibunya, yaitu “Wang” dalam mandarin atau “Ong” dalam Hokkien. Mereka adalah orang-orang China Benteng yang bermarga “Ong” dalam dialek Hokkien atau “Wang” dalam dialek Mandarin. Namun tidak semua orang China Benteng bermarga Ong adalah keturunan Aixinjueluo. Mereka yang merupakan keturunan sang Kaisar Qianlong kini mengggunakan nama Indonesia Wangsa Mulya /Wangsa Mulia.

Nama Wangsa Mulia sendiri berasal dari bahasa sanskerta, Wangsa (dinasti), dan Mulia (murni) apabila diterjemahkan ke bahasa inggris menjadi “Pure Dynasty”. Sedangkan kata “Qing” sendiri berarti “pure”. Sehingga secara harafiah Wangsa Mulia berarti “Qing Dynasty”. Kebanyakan orang dari keluarga Wangsa Mulya dan keluarga marga Ong lainnya tidak menyadari kalau mereka adalah keturunan kekaisaran, namun bagimanapun juga darah dan napas Kekaisaran Qing Raya tetap mengalir pada diri mereka. Mereka hidup modern namun memegang teguh sifat ultra-konservatif seperti feodalisme dan anti feminisme.

Salah satu hari besar agama Buddha adalah hari Trisuci Waisak yang merupakan hari Raya paling besar dan paling bermakna bagi umat Buddha. Kata “Waisak” sendiri berasal dari bahasa Pali “Vesakha” atau di dalam bahasa Sansekerta disebut “Vaisakha”. Nama “Vesakha” sendiri diambil dari bulan dalam kalender buddhis yang biasanya jatuh pada bulan Mei kalender Masehi. Namun, terkadang hari Waisak jatuh pada akhir bulan April atau awal bulan Juni. Hari Raya Waisak sendiri dikalangan umat Buddha sering disebut dengan hari raya Trisuci Waisak. Disebut demikian karena Waisak memperingati tiga peristiwa penting yang semuanya terjadi di bulan Vesakha dan pada waktu yang sama yaitu tepat saat bulan purnama. Tiga peristiwa penting itu adalah

1. Kelahiran Pangeran Sidharta

Pangeran Sidharta adalah Putra seorang Raja yang bernama Raja Sudodhana dan seorang Permaisuri yang bernama Ratu Mahamaya. Pangeran Sidharta lahir kedunia sebagai seorang Bodhisatva ( Calon Buddha, Calon Seseorang yang akan mencapai Kebahagiaan Tertingggi ). Beliau Lahir di taman Lumbini pada tahun  623 SM.

2. Pencapaian Penerangan Sempurna

Pangeran Sidharta tidak pernah keluar dari istana, pada usia 29 tahun beliau pergi meninggalkan Istana dan pergi menuju Hutan untuk mencari Kebebasan dari USIA TUA, SAKIT, dan MATI. Kemudian Pada saat Purnama Sidhi di bulan Waisak Pertapa Sidharta mencapai Penerangan Sempurna dan mendapat gelar SANG BUDDHA.

3. Pencaian Parinibbana

Ketika usia 80 tahun Sang Buddha Wafat atau PARINIBBANA di Kusinara. Semua mahkluk memberikan penghormatan kepada Sang Buddha dan begitu juga Para anggota Sanggha , mereka bersujud sebagai tanda penghormatan terakhirnya kepada Sang Buddha. Sang Buddha lahir, pencapaian dan meninggal di tanggal, bulan dan tahun yang sama.

Biasanya pada hari waisak, umat Buddha merayakannya dengan pergi ke vihara dan melakukan ritual puja-bhakti. Harus dimengerti bahwa umat Buddha melaksanakan ritual puja-bhakti adalah bertujuan untuk mengingat kembali ajaran sang Buddha dan melaksanakan ajaran yang telah diajarkan oleh Sang Buddha.

Waisak sebagai sebuah hari raya agama Buddha bisa memberikan contoh yang positif kepada setiap orang. Contoh positif yang dapat diteladani adalah pengembangan cinta-kasih kepada setiap makhluk hidup. Wujudnya bisa berupa berdana membantu mereka yang membutuhkan, mendonorkan darah, menjaga lingkungan sekitar dengan hidup sederhana atau perbuatan-perbuatan baik lainnya. Akhirnya satu harapan besar dari hari Waisak tersebut adalah bahwa setiap manusia diharapkan dapat merenungi segala perbuatannya dan setiap saat selalu hidup dengan rasa cinta-kasih tanpa kebencian, seperti yang tertulis di dalam Dhammapada, “Kebencian tidak akan selesai jika dibalas dengan kebencian, tetapi hanya dengan memaafkan dan cinta-kasihlah maka kebencian akan lenyap.

Bagi umat Buddha, hal tersebut berarti menaati peraturan moral, seperti menghindari pembunuhan makhluk hidup, mencuri, berbuat asusila, berbohong dan mabuk-mabukkan. yang kita kenal dengan Pancasila Buddhis. Selain kelima larangan tersebut, umat Buddha ketika hari Waisak biasanya mengembangkan cinta-kasih dengan cara membantu fakir-miskin atau mereka yang membutuhkan, melepas hewan (biasanya burung) sebagai simbol cinta-kasih dan penghargaan terhadap lingkungan, serta merenungkan segala perbuatan yang telah dilakukan apakah baik atau buruk sehingga diharapkan di masa mendatangkan tidak mengulangi perbuatan yang buruk yang dapat merugikan.

Begitulah sebagian kecil dari rahasia sejarahnya klenteng Boen Tek Bio, sejarah masuknya budaya China Benteng ke Tangerang. Dengan Muka yang kusam, lunglai, letih, lemas dan lesu saya beranjak pergi melalui pintu gerbang si bangunan merah itu. Klenteng tertua di kota Tangerang ini adalah Boen Tek Bio yang sampai sekarang masih berdiri.

This entry was posted in Peristiwa, Perjalanan, UAS and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s