Idealisme Sang Komedian

Image

“Gua gak pengen malu-maluin nama Warkop. Warkop dari dulu aktivis, dan kita gak pernah ketangkep karena kita punya alesan yang jelas dan kuat. Dan gua harus punya alesan yang kuat buat ngelawan.”

Oleh : FELICIA MONICA-11140110046

Berbekal appointment yang telah saya buat, hari itu tanggal 6 Juni 2013, tepat pukul 15.00 WIB, saya hadir di pelataran ruang tamu milik salah satu komedian ternama yang ada di Indonesia ini, berencana untuk berbincang tentang kisah hidupnya.

“Silahkan diminum dulu mbak. Mas Indro-nya sedang siap-siap,” ujar lelaki berkulit hitam itu sambil meletakkan segelas minuman berwarna oranye di depan saya.

Saya tersenyum membalasnya. Kesempatan ini saya gunakan untuk melihat sekeliling ruang tamunya. Di sana terdapat penghargaan Life Time Achievement yang diberikan oleh Opera Van Java Awards baru baru ini terpampang di samping sofa yang saya duduki, membuat saya semakin yakin bahwa saya tidak salah memilih narasumber. Acara komedi dengan rating nomer satu di Indonesia ini bahkan memberikan penghargaan kepada sosok bapak tiga anak ini. Hal itu membuktikan bahwa sampai detik ini beliau masih dianggap sebagai seorang pelopor komedian nomer satu di Indonesia.

INDROJOJO Kusumonegoro. Lelaki kelahiran Purbalingga, 8 Mei 1958 ini, mengawali kegiatan berorganisasinya semenjak tinggal di sebuah Rukun Tetangga (RT) bernama Prambors, nama Prambors sendiri diambil dari singkatan beberapa nama jalan yang ada di sekitar wilayah Menteng itu.

Semenjak tahun 50-an, RT Prambors sendiri telah memiliki berbagai kegiatan yang memfasilitasi anak mudanya untuk berkarya di bidang yang mereka minati. Salah satunya adalah kegiatan radio yang kebetulan pertama kali muncul di rumah Indro sendiri. Ia pun menjadi sangat terbiasa dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh  ”anak muda radio” di RT-nya tersebut.

Sebelum akhirnya secara total terjun ke kegiatan radio, Indro pernah aktif menjadi pemuda Pencinta Alam. Hal ini yang membuat Indro sering sekali bertemu dengan anak radio yang notabene juga merupakan anak Pecinta Alam. Bermula dari keakraban inilah maka muncul lelucon-lelucon yang akhirnya mereka pakai untuk mengisi siaran radio.

Indro yang kerap kali membantu siaran di Radio Prambors secara serabutan, akhirnya pada tahun 1976  diminta oleh Kasino untuk secara permanen mengisi siaran “Obrolan Warung Kopi” bersama Dono, Nanu, dan Rudy Badil. Namun Rudy yang semula ikut Warkop saat masih siaran radio, tidak berani ikut tampil di atas panggung karena demam panggung yang dialaminya.

Warkop pertama kali mendapat tawaran untuk naik ke pentas panggung dengan personil tambahan Indro adalah untuk mengisi acara Prom Night SMP Negeri 1 Jakarta. Pada saat itu nama “Warkop” sendiri sudah cukup dikenal oleh masyarakat di sekitaran Jakarta. Hal ini dikarenakan siaran radionya yang bermula dari  radio siaran amatir berubah menjadi Radio Siaran Sosial Niaga (RASISONIA).

Setelah mengembangkan sayapnya di dunia hiburan Jakarta, kemudian Warkop mulai merambah ke lingkup nasional. Debut Warkop pertama kalinya dimulai saat mereka mendapatkan tawaran dari Mus Mualim, suami dari Titik Puspa, untuk membantunya mengisi acara Terminal Musikal Anak Muda Mangkal yang digarap pada tahun 1976.

Tepat saat Warkop mulai dikenal secara nasional pada tahun 1976, pada saat itu pula Indro lulus dari SMA Negeri 4 Jakarta dan memutuskan untuk mengambil jurusan Ekonomi di Universitas Pancasila.

“Tadinya aku mau masuk AKABRI karena aku kan dari keluarga militer, tapi sama orang tua gak boleh. Sama papa, almarhum, gak boleh. Sampai-sampai ditulis di surat wasiat bahwa jangan sampai Indro masuk ke dunia hukum. Akhirnya, aku dijemput gak jadi masuk AKABRI terus kata papa, yaudah sekarang kamu masuk universitas, yaudah seenak-enak jidat itu aku daftarnya. Yaudah daftar aja akhirnya masuk,” tutur Indro mengenang.

Indro berhasil menyeimbangkan antara pendidikan dan dunia hiburan yang Ia geluti. Terbukti dari kaset rekaman lawak Warkop yang mencapai penjualan tertinggi di masanya mengalahkan kaset rekaman Rhoma Irama, yang notabene pada saat itu raja dangdut ini sedang mengalami masa keemasannya. Keberhasilannya Ia raih tanpa harus memperpanjang masa kuliahnya di bidang Ekonomi tersebut.

Sukses di kaset rekaman lawak membuat Warkop banyak mendapatkan tawaran bermain film. Untuk tawaran pertamanya ini, mereka melakukan survey kecil-kecilan mengenai siapa yang nantinya akan menonton filmnya. Bukan hanya itu, mereka juga mensurvey di mana nantinya film tersebut layak untuk ditampilkan, serta segmen apa yang ingin mereka jadikan target. Akhirnya  pada tahun 1979, Warkop memutuskan untuk bermain film dengan judul “Mana Tahan” besutan sutradara Ali Shahab.

PADA tahun 1983, Warkop berduka karena kehilangan salah satu personilnya, Nanu Mulyono. Beliau meninggal pada usia tiga puluh tahun dikarenakan sakit pada saringan ginjalnya. Setelah kehilangan Nanu, Warkop mulai dikenal dengan tambahan nama DKI (Dono-Kasino-Indro) yang merupakan plesetan dari Daerah Khusus Ibukota (DKI).

Terhitung dari tahun 1979 hingga 1994, sudah 34 judul film berhasil dimainkan oleh Warkop. Dari sekian banyak judul film yang telah Ia bintangi, “Mana Tahan” merupakan film yang paling berkesan bagi Indro.

“Film pertamalah yang paling berkesan, pertama kali aku syuting dan boleh percaya boleh engga aku pertama take, pertama kali syuting itu one take. Sampe disayang banget karena Mas Dono empat belas take, Mas Kasino sama Mas Nanu dua puluh delapan take. Adegan pertama itu, aku masih inget banget jadi supir taksi nyari penumpang,” tuturnya sambil mengenang.

Beberapa penghargaan pun berhasil Warkop DKI raih, dari penghargaan yang biasa saja sampai penghargaan tertinggi yang ada di dunia perfilman pada saat itu. Film Festival Indonesia memberikan Piala Antemas kepada Warkop DKI untuk kategori penonton terbanyak dan berhasil mengalahkan film G30S/PKI yang menjadi tontonan wajib pada masa pemerintahan Soeharto tersebut.

Setelah masa keeamasan yang mereka alami di dunia perfilman, Warkop DKI mulai merambah dunia sinetron. Salah satu Production House terkenal, mengajak Warkop DKI untuk bermain di layar televisi. Namun, Warkop DKI kembali kehilangan personilnya. Kasino Hadiwibowo meninggal pada 16 Desember 1997 di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta setelah beberapa tahun menghadapi tumor otak yang diidapnya. Kasino wafat pada usia 47 tahun, meninggalkan satu istri dan satu anak.

“Kiamat kecil ya buat aku. Untuk urusan entertainment kami bertiga tidak bisa dipisahkan dan terus terang aku belum pernah lihat ada grup sesolid itu selain Warkop dan kita kan cuma dipisah oleh umur, tidak akan bisa dipisahkan oleh, mohon maaf, hal-hal yang bersifat duniawi seperti uang. Dan setelah Mas Kasino gak ada, menurutku itu adalah the end of  Warkop DKI gitu, tapi ternyata engga kita masih dibutuhin. Akhirnya aku jalan berdua.”

Berselang empat tahun kemudian, ternyata Tuhan tidak ingin membiarkan Dosen Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial & Politik Universitas Indonesia ini, mengalami penderitaan yang lebih parah. Wahyu Sardono atau yang lebih dikenal dengan Dono ini meninggal pada tanggal 30 Desember 2001 karena kanker paru-paru yang sedang dia alami. Hal ini, membuat Indro sempat berhenti mewarnai dunia hiburan di Indonesia selama satu tahun.

“Aku gamang. Selama setahun aku gak punya kegiatan, aku bingung mau ngapain itu. Biasanya bertiga sekarang kalo sendirian bingung juga mau ngapain gue. Salah satunya orang yang bisa membuat aku bangkit kembali itu rajanya infotaiment yang punya cek&ricek, Ilham Bintang. Dia bilang iman aku masih ada, masih kuat justru. Makanya setelah itu aku manggung lagi. Pertama kali aku manggung lagi itu, MC, di sebuah acaranya bank,” ujarnya tulus.

Rasa kekeluargaan yang dimiliki oleh Warkop DKI sungguh besar sekali. Setiap anggotanya adalah bukan rekan kerja, bukan hanya sahabat biasa. Mereka adalah keluarga. Ini yang membuat mereka terus berkarya, menyenangkan hati masyarakat dan mengkritik isu-isu sosial dan politik yang ada. Warkop DKI tidak akan pernah mati. Karyanya akan terus dikenang.

SETELAH Ia mengalami berbagai kejutan di dalam kurun waktu 4 tahun itu, Indro kembali mengalami kejutan pada tahun 2005. Para komedian lainnya mempercayai Indro untuk mengetuai sebuah organisasi yang bernama Persatuan Seniman Komedi Indonesia (PaSKI). Menurut beberapa temannya, organisasi ini membutuhkan sosok seseorang independen yang tidak terpengaruh oleh unsur-unsur politik dan hukum yang ada di negeri ini dan Indro adalah orang yang tepat. Indro menjabat sebagai ketua pada tahun 2005 – 2010.

“Jangan biarkan kita, yang bukan politik apalagi kemudian mengkultuskan seseorang. Aku ternyata engga bisa mimpin mereka. Kenapa? Karena kemudian aku terlalu kepengen steril, aku engga kepengen punya uang karna takut diorganisasi ini ada korupsi, aku juga gak kepengen ada kekuatan tertentu yang memback-up. Bahkan aku alergi terhadap pejabat dan penasehat. Banyak ide-ide yang menurutku ideal, tapi engga bisa jalan di organisasi ini,” tuturnya bercerita

DITENGAH jam terbangnya yang tinggi, Indro mengatakan bahwa anak-anaknyalah yang menjadi kekuatan yang paling utama. Indro menikahi istrinya, Nita Octobijanthy pada saat mereka masih sama-sama duduk di bangku perkuliahan. Awal kisah cinta mereka adalah pada saat Sekolah Menengah Atas. Mereka saling jatuh cinta dan memutuskan untuk berpacaran. Hal itu terus berlangsung sampai saat mereka duduk di Perguruan Tinggi yang sama. Akhirnya pun mereka memutuskan untuk menikah.

Dari hasil buah cintanya tersebut, mereka memiliki tiga orang anak. Handika Indrajanthy Putri, Satya Paramita Dwinita, dan Harleyano Triandro Kusumonegoro. Dalam mendidik anak-anaknya Indro memiliki prinsipnya sendiri.

“Konsepku gini, mungkin aku bukan orang yang bisa mengajar dalam arti bisa membilangi gini gini gini. Tapi buat aku, aku kepengen anakku melihat perjuanganku untuk mereka. Aku gak akan pernah memerintah anakku kalo aku sendiri belum pernah melakukan hal itu. Aku ingin jadi contoh buat mereka. Anak-anak itu merupakan kekayaan buat aku, dan segalanya aku curahkan kesana dengan harapan akan menghasilkan sesuatu yang baik untuk mereka,” ucapnya tegas.

Menurut Indro ada tiga hal di dalam dunia ini yang sangat mempengaruhi hidupnya. Pertama adalah orang tuanya, bagaimana cara beliau mendidiknya dan menjadikan Indro menjadi pribadi yang seperti ini. Kedua adalah pramuka, saat Indro bukan hanya membuat prestasi di kancah nasional melainkan di kancah Internasional dan yang ketiga adalah Warkop DKI, sebagai anak tunggal Warkop DKI membuat Indro mengerti apa arti saudara.***

This entry was posted in Profil. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s