After 30 Days

Rheta Dwi Lestari/ 11140110083

Tatapannya kosong, gerakan tubuhnya kaku dan tidak terkontrol. Kadang diam, kadang ia berkata-kata kasar, tidak mampu mengingat apapun tentang dirinya dan orang-orang di sekitarnya. Tubuhnya terlihat masih lemas dengan beberapa memar yg masih belum hilang. Kondisi tersebut yang nampak sekitar 3 tahun yang lalu ketika saya menjenguk salah seorang teman saya yang selamat dari kecelakaan maut yang menimpa dirinya.

Tidak ada yang menyangka, Yeye, nama kecil Yehezkiel Vincent yang saat itu masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas dapat pulih kembali setelah memori di otaknya sempat terkuras oleh dahsyatnya kecelakaan yang membuat tubuhnya kritis terutama bagian saraf otaknya. Saat itu ia harus dilarikan ke rumah sakit karena pendarahan hebat yang menyerang bagian otaknya. Bermaksud untuk menghindari angkutan umum yang berhenti mendadak, Yeye kehilangan keseimbangan dan membuat dirinya terjatuh dari motor yang dinaikkinya. Ia sempat terseret di aspal dan akhirnya nasib buruk harus menimpanya, kepalanya terlindas oleh mobil.

“Otaknya mengeluarkan cairan yang cukup banyak. Yeye juga mengalami pecahnya pembuluh darah dan menyebabkan beberapa sel otaknya menjadi mati.” Ujar Roslan, dokter yang menangani Yeye sewaktu di rumah sakit.

Perjalanannya melewati masa-masa kritis dipenuhi dengan air mata yg bukan saja dirasakan oleh keluarganya, namun juga teman-temannya. Masih terekam di otak saya saat kerabat Yeye sangat terpukul mendengar diagnosa dokter yang mengatakan bahwa Yeye hanya memunyai kemungkinan yang sangat kecil untuk dapat normal kembali. Lumpuh atau cacat yang akan menimpa Yeye  menjadi bayang-bayang yang seolah menghantui orang-orang terdekatnya.

Selama 30 hari kerabat Yeye silih berganti, datang dengan mengirimkan doa di sebelah ranjang Yeye di ruangan ICU Rumah Sakit Mayapada, tempatnya memperjuangkan hidupnya. Selama itu matanya tidak pernah terbuka, namun sempat mengeluarkan air mata. Dengan selang-selang yang terhubung ke ususnya lewat mulut dan hidungnya, tim rumah sakit senantiasa mengalirkan makanan dan obat untuk membuat nafas Yeye tetap ada.

“Selama sebulan itu gue ngerasa mati, karna nggak bisa ngerasa apa-apa. Sempat di operasi dua kali buat pengambilan cairan di otak, tapi gue belum juga sadar.” Ujarnya saat ditemui di kediamannya di Karawaci, Tangerang.

Yeye didiagnosa mengalami memar di bagian frontal lopus atau otak bagian depan. Ia pun mengalami cedera otak berupa pendarahan dan keluarnya cairan di bagian saraf otaknya. Dokter Roslan beberapa kali menangani kasus tersebut dan kebanyakan dari mereka mentalnya tidak dapat pulih secara normal setelah sembuh dari luka. Namun, orang tua terlebih ibunya, Yety, tetap menaruh harapan yang besar agar buah hatinya kembali sehat tanpa cacat mental yang harus dideritanya.

“Saat itu saya sudah ngga mau dengar lagi apa kata dokter. Saya yakin Tuhan pasti memulihkan Yeye, saya berdoa setiap saat supaya Yeye dikasih kekuatan. Saya tau dia orang yang kuat.” Ujar Yety dengan air mata yang berksaca-kaca.

Ibunya menopang kasih yang begitu besar untuk Yeye. Ia senantiasa menanti putra keduanya itu, bersahabat dengan keheningan malam 30 hari lamanya dengan harapan dan doa yang selalu melekat padanya.

Akhirnya secercah harapan muncul di hari ke-31 setelah Yeye tidak sadarkan diri. Tiba-tiba tangannya dikepal dengan kuat, tubuhnya sedikit menggigil dan mengeram. Lalu matanya sedikit demi sedikit terbuka, melihat dengan tatapan yang kosong bayangan ibunda dan keluarganya yang saat itu menemani nya di dalam kamar rumah sakit.

“Puji Tuhan.” Kalimat itu yang pertama kali keluar dari mulut sang ibu.

Keluarganya menyambut Yeye, mengajaknya berbincang walaupun tidak ada umpan balik yang diberikan oleh Yeye. Hanya tatapan kosong nan sayu. Namun satu hal yang membangkitkan semangat keluarganya adalah, Yeye bangun dari koma.

Hari-hari setelah Yeye membuka matanya dilalui dengan penuh harapan oleh keluarganya. Ia seringkali kejang-kejang hingga tubuhnya harus diikat. Ia tidak mampu mencerna kata-katanya, hanya angka-angka dan ucapan kasar seperti kata-kata binatang yang keluar dari mulutnya. Rasa khawatir seringkali datang dengan perubahan mental Yeye yang tidak terkontrol itu. Namun, keluarga Yeye tetap sabar, menanti sosok yang dikenal sering membantu sanak saudaranya itu pulih kembali.

Dua minggu setelah Yeye bangun dari koma, Ia masih terbaring di ranjang rumah sakit. Namun keadaannya terus membaik, keluarga dan kerabatnya senantiasa mengajak Yeye untuk berbincang, sekaligus berharap Ia mampu mengumpulkan memori yang sempat hilang di otaknya. Tim dokter bahkan tidak menyangka bahwa kondisi Yeye terus membaik, sedikit demi sedikit Yeye pulih, Ia mulai mengenali orang-orang disekitarnya.

“Ini di luar dugaan.” Kata Dokter Roslan.

Waktu terus berjalan, hari ke-31 itu ternyata menjadi gerbang bagi Yeye untuk kembali mengejar segala harapannya, termasuk untuk membahagiakan keluarga yang tanpa lelah menanti keceriaan Yeye hadir kembali di tengah-tengah mereka. Yeye pun semakin pulih dan mampu mengingat segala hal tentang dirinya, kembali bersekolah dan berkumpul kembali dengan sahabatnya. Tidak ada bekas dalam segi mental yang merusak sifat atau pikirannya. Semua berjalan seperti biasa, Yeye sudah kembali.

“Satu hal yang gue yakinin, Mujizat Tuhan selalu nyata bagi umatNya yang percaya.” Ujar Yeye

Misteri hidup yang tidak dapat dibaca oleh manusia mampu menyelamatkan nafas Yeye yang sempat hampir terampas itu.

***

This entry was posted in Profil, UAS, Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s