Asep Irawan: Merangkai Hidup Bersama Layangan

Image

Ignasia Findha Rizka

11140110115

Bandung, 1994…

Seorang pria masih terpaku melihat kiriman surat dari Jakarta yang baru saja diterimanya. Ternyata pembicaraan via telepon tempo hari tidak main-main. Wanita dari Jakarta yang hampir seusia orangtuanya itu mengiriminya sejumlah uang. Wanita yang hanya pernah ditemuinya sekali dalam festival layang-layang beberapa tahun lalu. Saat dirinya masih bujang, belum berkeluarga seperti sekarang. Wanita itu meminta dirinya datang ke rumahnya di kawasan Jakarta Selatan. Keahliannya dibutuhkan di sana.

*

Jarum mesin jahit manual merk Butterfly sedang merapatkan barisan benang di atas kain parasut polos. Jemari seorang pria berkulit putih tengah asyik menarik dan memutar kain berpola itu, agar jahitan benangnya tidak menumpuk.

“Kalo Pak Asep mah serba bisa. Bikin layangan tradisional, iyaaa… nerbangin layangan iya,” celetuk seorang ibu yang berseragam sama dengan pria tadi.

Asep Irawan memulai debut pertamanya membuat layang-layang saat duduk di bangku kelas 2 SD. Kala itu usianya baru menginjak kurang lebih tujuh tahun. Namun siapa sangka, di usia semuda itu ia mampu memenuhi pesanan layang-layang dari orang-orang yang lebih tua.

Bakat dan keahlian sejak kecil ini bukan tanpa asal. Almarhum ayah Asep memang seorang seniman layang-layang. Beliau pandai melukis di atas layang-layang, suatu keahlian yang sempat tidak dimiliki oleh Asep selama bertahun-tahun. Jika menerima pesanan yang cukup rumit, kemampuan Asep hanya sampai pada membuat rangka atau tubuh layangan dan menempel kain. Bagian gambar diserahkan pada ayahnya.

“Abis bikin rangka, nempel kain, bingung gitu apa yang mau dilukis. Jadi bapak saya yang lukisin. Saya gak bisa lukis sama sekali tadinya juga,” ceritanya di tengah-tengah tur kecil kami di dalam Museum Layang-Layang Indonesia.

Namun pada akhirnya ketiadaan sang ayah memaksa dirinya untuk bisa melukis di atas layang-layang. Tahun 1995 hingga kini ia mulai bisa melukis sendiri. Tidak dapat dipungkiri, darah seniman dari almarhum memang mengalir deras dalam tubuh Asep. Siapa pun pasti akan bereaksi spontan seperti saya, setelah melihat beberapa hasil kreasi Asep yang terpajang di museum.

“Apanya yang gak bisa ngelukis, Pak?!?”

Reaksi yang hanya ditanggapinya dengan cengiran malu-malu dan lagi-lagi komentar ketidakmampuannya.

Selain Asep, semua saudara kandungnya juga bisa membuat layang-layang. Laki-laki maupun perempuan sama-sama mahir. Namun, hanya anak kelima dari delapan bersaudara ini sajalah yang meneruskan hingga detik ini.

Semasa sekolah hingga sekarang, hobi dan keahliannya itu ia manfaatkan untuk mencari uang. Tidak hanya untuk keperluan sekolahnya di masa lalu, biaya pendidikan ketiga anaknya pun dari layang-layang.

“Kadang kan pengen gitu yah beli baju, alat-alat sekolah sendiri, jajanlah. Ya dapetnya dari hasil jual layangan. Gak nyangka, eee…sampe tua bikin layangan terus…,” kisahnya.

Memasuki tingkat SMP, Asep sempat berhenti membuat layangan. Saat itu ia duduk di kelas 2. Terlalu takut kegiatan sampingannya itu akan mengganggu aktivitas belajar. Hal ini berlangsung selama beberapa tahun. Hingga akhirnya, kurang lebih dua tahun setelah lulus STM Teknik (sekarang SMK), pria asal Bandung ini kembali berkutat dengan layang-layang.

Sekembalinya ke dunia layangan, Asep semakin aktif memenuhi pesanan. Di samping itu, ia juga mulai sering ikut festival di berbagai tempat. Kadang ia pergi bersama rombongan dari Bandung atau sendiri. Kala itu ia masih bujang dan bebas dari tanggung jawab untuk berpenghasilan tetap.

Pertemuan pertamanya dengan Endang W. Puspoyo, pendiri Museum Layang-Layang Indonesia, pun berlangsung dalam festival layangan di kawasan BSD. Wanita yang menekuni layang-layang sejak tahun 1985 itu adalah penyelenggaranya.

“Itu sekitar tahun ’89 pertama kali saya dikenalin sama Ibu sebagai peserta dari Bandung,” kenang pria kelahiran Bandung, 21 Agustus 1967 ini.

Dan ternyata itu bukanlah pertemuan terakhir mereka. Beberapa tahun setelahnya, ia pun sudah menikah, Endang menelepon dari Jakarta. Meminta dirinya datang ke Jakarta untuk bekerja di tempatnya. Saat itu rumah wanita yang dipanggilnya ‘Bu Endang’ itu belum menjadi museum seperti sekarang. Masih berupa galeri bernama Merindo Kites and Gallery.

Berbekal uang kiriman dari Jakarta, Asep bersama istri, anak pertamanya, dan adik laki-lakinya berangkat. Seorang Padang, teman layang-layangnya yang tinggal di Jakarta, mengantarnya ke rumah Endang yang sekarang menjadi tempat pemutaran film layangan di bagian depan museum.

Asep dan keluarganya diberi satu kamar untuk tinggal. Namun, ia merasa tidak enak hingga memutuskan untuk pindah ke kontrakan di sekitar situ. Kondisi ini pun tak bertahan lama. Mereka hanya bertahan setahun di Jakarta dan kembali ke Bandung.

“Ga betah, anak saya yang pertama nangis-nangis terus. Kepanasan kali di sini,” jawab pria itu saat saya menanyakan alasannya.

Pulang ke Bandung bukan berarti menjadi tidak produktif. Ia kembali menjadi Asep yang berdiri sendiri. Mengikuti berbagai macam perlombaan layang-layang atas nama sendiri lagi. Seperti biasanya, ia sering mendapat juara dalam festival nasional maupun internasional di Indonesia.

Piala yang pernah didapatnya cukup banyak. Pernah pula ia mendapat juara satu untuk layang-layang kendali dan membawa pulang piala bergilir dari Gubernur DKI Jakarta tahun 1999. Sayangnya kebanyakan piala di rumahnya tidak  bertahan lama. Ia terpaksa menjualnya untuk biaya kebutuhan keluarga. Terutama sekolah anak-anaknya. Ada juga yang sudah rusak karena patah.

“Tau istri saya, kesenggol kali hahaha…,” ujarnya santai.

*

Tahun demi tahun berlalu. Menjelang 2005, ia mulai jarang ikut lomba. Penasaran, saya tanya kenapa. “Udah keseringan menang, malu….,” katanya diikuti derai tawa kami.

Lagi-lagi telepon dari Jakarta memintanya untuk datang. Kali ini ia diminta untuk membuat lampion yang bisa terbang. Proyek tersebut membuatnya harus menginap di Jakarta. Inilah awal di mana ia memilih untuk bekerja kembali di tempat yang sama, yang sudah menjadi Museum Layang-Layang Indonesia sejak 2003. Keputusan ini membuat ia tinggal terpisah dengan sang istri, Eti, dan ketiga anaknya di Bandung.

“Biarinlah, anak udah pada gede-gede ini…udah bisa ditinggal.”

Anak laki-lakinya yang tertua bahkan sudah bekerja. Usianya 22 tahun. Sementara anak laki-laki keduanya juga sudah berusia 17 tahun. Putri kecilnya pun sudah duduk di bangku kelas 4 SD. Ia sendiri tiap dua atau empat minggu sekali pulang ke Bandung. Tergantung kesibukannya di museum.

Selain mahir membuat dan menerbangkan layang-layang, Asep juga dituntut untuk bisa memandu tur dalam museum. Ini merupakan bagian dari pekerjaannya. Oleh karena itu ia harus mampu menguasai berbagai pengetahuan tentang layang-layang. Mulai dari sejarah, jenis-jenis, bahkan perbedaan, dan kegunaannya.

Pengalamannya yang sudah mencapai puluhan tahun di dunia layangan ini menambah cerita tersendiri ketika ia menjelaskan. Belum lagi ketika bertemu dengan karya buatannya di setiap sudut. Kadang saya sendiri gemas karena kerap kali ia tidak mengatakan lebih dulu kalau saya sedang mengagumi kreasinya. Dan selama tur berlangsung, tak sedikitpun gurat kelelahan atau bosan terlihat. Saya bisa melihat dengan jelas kecintaannya terhadap layang-layang.  

*

Menurut buku Making Kites karya Rhoda Baker dan Miles Denyer, layang-layang diyakini berasal dari Asia, sejak 3000 tahun yang lalu. Sejarah mengatakan Cina sebagai tempat pertama kali ditemukannya layang-layang. Namun, Asep menambahkan bahwa ada kemungkinan pula berawal dari buatan nenek moyang bangsa Indonesia. Ia pun menunjukkan sebuah foto yang diperbesar seukuran kanvas, tergantung sejajar dengan layang-layang dari daun pisang dan gadung.

Foto itu memperlihatkan sebuah latar berwarna biru muda keabu-abuan, dengan bercak-bercak cokelat. Di atasnya terlukis bentuk layang-layang sederhana (intan/belah ketupat) yang sedang diterbangkan oleh sesosok manusia menggunakan tali.

“Ini lukisnya pake darah binatang sama getah pohon,” ujar Asep sembari telunjuknya mengikuti alur gambar yang ada di foto tersebut.

Lukisan layang-layang di dalam Goa Muna-Sulawesi Tenggara.

Kalimat tersebut tertulis samar-samar pada salinan foto seukuran kertas A4 di pojok kanan bawah.

Sementara itu, di kawasan Eropa tidak begitu jelas kapan kemunculan layang-layang pertama kali. Akan tetapi, layang-layang sudah dikenali oleh bangsa Yunani kuno. Pada perang Hastings tahun 1066, benang layang-layang diterbangkan sebagai tanda peperangan.

Istilah bahasa inggris layang-layang, kite, diambil dari nama burung pemangsa yang memiliki sayap anggun dan luwes saat terbang.

Tidak ada rumusan pasti mengenai jenis-jenis layangan. Dalam festival, biasanya layangan terbagi menjadi tiga kategori yaitu tradisional, olahraga, dan kreasi.

Layangan tradisional berarti layang-layang dengan gaya atau bentuk dari masing-masing daerah atau negara. Sebutannya pun berbeda-beda. Di Indonesia sendiri memiliki sebutan yang beragam sesuai asalnya. Berikut ini beberapa nama layangan tiap daerah di Indonesia yang menjadi koleksi Museum Layang-layang.

Daerah

Sebutan/Nama Layangan

Jambi

Kajang Lako

Angso Duo

Sumatera Barat (Padang)

Lang Lang Machou

Lang-Lang Patah Siku

Sumatera Utara (Medan)

Kuala

Dengung

Nangroe Aceh Darussalam

Kleung (Burung Elang)

Jawa Barat (Bandung)

Tari  Merak

Kalimantan Selatan

Dandang Bini

Dandang Laki

Kalimantan Barat

Burung Enggang

Kalimantan Timur

Layang Perisai

Lembu Suwana

Sulawesi Selatan

Kapal Pinisi

Sulawesi Utara

Bulia

Sulawesi Tenggara

Khagati

Jawa Tengah

 

Daplangan Tanggalan (Cilacap)

Sumbulan (Jepara)

Tulung Agung

Badholan

Babon Angrem

Tanggalan

Pulau Sumbawa

Goang

Jawa Timur (Banyuwangi)

Layang Sowangan

Bali

Bebean

Pecukan

Janggan

Daun Lontar

Lampung

Daun Loko-loko

Siger

Bengkulu

Telong-telong

Asep juga sempat menunjukkan Stunt Kite, layangan yang dipakai untuk bertanding dalam kategori olahraga. Lagi-lagi salah satu hasil buatan tangannya. Layangan ini memiliki dua tali untuk mengendalikannya. Adu kecepatan dan gerakan dalam membuat bentuk-bentuk tertentu menjadi aspek penilaiannya. Misalnya, pemain diminta membuat angka-angka.

Ia mengaku tidak terlalu sulit membuatnya. Keterampilan membuat layang-layang berbentuk segitiga ini ia pelajari dari seorang berkebangsaan Australia.

Masih segar dalam ingatan Asep, waktu itu perwakilan tiap daerah diminta menghadiri semacam workshop di Lampung. Waktu itu ia masih mandiri, belum bekerja untuk Bu Endang. Di sanalah untuk pertama kalinya ia membuat Stunt Kite. Berbekal pengalamannya menjahit layang-layang, ia selesai lebih dahulu dibanding peserta lain.

“Bulenya nyuruh saya bantuin peserta lain deh yang belum selesai, hahaha…”

Sementara itu, layangan kreasi bisa juga disebut layangan hias. Seperti kategori lainnya, layangan hias juga memiliki dua macam bentuk yaitu dua dan tiga dimensi.

“Di sini kebetulan cuma saya doang yang bisa bikin tiga dimensi,” ungkap Asep sambil tersenyum malu-malu saat ditanya.

Salah satu kreasi tangan Asep bernama Tari Merak. Layangan tiga dimensi ini berbentuk penari wanita dengan kostum tari Merak, lengkap dengan aksesoris sayapnya. Ia membuatnya pada tahun 90-an di Bandung. Bambu menjadi bahan utama untuk membuat rangka ‘Tari Merak’

“Ini juga dari bambu mukanya…Cuma dipakein kertas, terus ditutupin gitu pake semen putih.”

Layangan ‘Tari Merak’ sudah empat kali meraih juara internasional. Dua kali di Pangandaran, sekali di Yogyakarta, dan sekali di Jakarta. Setelahnya sekitar tahun 2007 atau 2008, ia merelakan layangan ini dijual ke museum. Kala itu kebutuhan finansial sangat mendesak.

“Buat berobat ibu, yaudah saya jual ke sini. Pas dapet uangnya, pas ibu saya meninggal,” kenangnya sambil mengelus sayap si penari.

*

Banyak suka dan duka yang dialami seorang Asep Irawan dalam bidang yang dipilihnya ini. Dukanya lebih mengarah pada kejenuhan. Bagaimana tidak, hampir seumur hidupnya dihabiskan untuk layang-layang.

“Sebenernya udah gak mau bikin layangan, jenuh. Sempet saya jualan bakso, batagor…tapi ya malamnya tetep aja layangan gak ditinggalin. Soalnya banyak pesenan, kalo gak dikerjain sayang…”

Namun, pria ini mengakui bahwa hal positfnya tetap jauh lebih banyak. Ia bangga bisa membiayai uang sekolah dirinya sendiri di masa lalu hingga untuk sekolah anak-anaknya sekarang. Belum lagi rumah tinggal bagi istri dan anak-anaknya. Semua itu dari hasil keringatnya yang bersentuhan dengan layang-layang.

Ia pun mendapat kesenangan pribadi dari keliling Indonesia hingga ke luar negeri. Mulai dari diajak ke Malaysia pada tahun 2002 hingga yang terbaru ke Perancis pada 2011 lalu. Ajakan ke luar negeri selalu mengejutkan dirinya.

“Kayak mimpi, gak nyangka bikin layangan bisa ke sana gitu,” komentarnya polos sambil menggerakan mesin jahitan.

Waktu ke Malaysia, ia diajak oleh sebuah organisasi layang-layang di Jakarta. Sementara saat ke Perancis, ia diajak Endang yang mendapat undangan langsung dari sana. Tidak sepeser uang pun ia keluarkan untuk kepergiannya.

Keberangkatannya ke Malaysia justru memberinya pemasukkan karena ia masih berdiri sendiri. Kala itu sebanyak 100 layangan dibawanya dari tanah air untuk dijual. Semuanya habis terjual dengan harga 25 ringgit satunya. Sementara saat berangkat ke Perancis, ia yang mewakili museum bersama Endang dan seorang temannya, lebih banyak mengurus workshop pembuatan layang-layang.

*

Roda silver di samping mesin jahit hitam itu masih terus berputar. Asep masih melanjutkan pekerjaan menjahitnya, setelah mengantar saya berkeliling museum. Namun tak berapa lama, ia meninggalkan jahitannya dan masuk ke dalam ruang penyimpanan. Seorang wanita ingin membeli layang-layang untuk anak laki-lakinya.

Sosok pria yang rambutnya mulai memutih ini keluar sambil membawa tiga layangan berbeda. Ketiganya masih terlipat. Naluri pemandu museumnya muncul, menjelaskan tentang cara melipat, membuka, dan fungsinya.

Ia pun menunggu bocah laki-laki di hadapannya memilih bentuk yang disukainya. Yellow dragon, green butterfly, atau blue bird. Saat si bocah menentukan pilihan, ia pun bergegas masuk ke ruang penyimpanan lagi.

“Sebentar, Bu, saya ambilkan yang lebih baru…”

Sepertinya Asep Irawan tidak pernah mengenal lelah untuk urusan layang-layang. Mungkin hampir 40 tahun bergelut di dalamnya belumlah cukup. Mungkin, koleksi layang-layang buatannya masih akan terus bertambah. Meski tak satupun dimilikinya…

**

This entry was posted in Profil and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s