Cuma Bisa Pasrah

Wenny Lovenza Anastacia – 11140110128

            Pagi itu benar-benar pagi yang kurang menyenangkan bagi Ami. “Mi.. ayo bangun, nanti kamu terlambat ke kampus..” panggil ayah Ami sambil menggoyang-goyangkan badan Ami. Sekitar pukul setengah enam dia baru bangun dan menyadari bahwa dia sudah terlambat dan akan ketinggalan kereta kalau tidak buru-buru. Soalnya, biasanya Ami menghabiskan waktu 30 menit untuk mandi saja, dan belum ditambah mengenakan baju dan sarapan. Gadis yang umurnya menjelang 20 tahun ini biasanya menggunakan KRL Ekonomi pukul 6.10 pagi sebagai sarana transportasi untuk pergi ke kampusnya, di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Trisakti.

Sepanjang pagi itu Ami buru-buru mengerjakan segala sesuatunya. Mandi, memakai pakaian, sampai sarapan pun dia harus buru-buru. Kalau tidak, dia bisa ketinggalan kereta dan kereta selanjutnya baru ada sekitar setengah jam kemudian. Tentu saja dia tidak mau naik kereta selanjutnya karena kelas akan dimulai jam delapan. Kalau terlambat masuk, Ami akan ketinggalan materi yang penting menurutnya. Akhirnya, terkejarlah waktu untuk sampai ke Stasiun Rawa Buntu yang beralamat di  Jl. Raya Rawabuntu Serpong itu. Ketika sampai di stasiun, dengan nafas masih memburu setelah berlari-lari kecil, Ami terheran-heran karena melihat beberapa pria berseragam hijau yang bertubuh tinggi dan tegap sedang berjaga-jaga di sekitar peron. Selagi terheran-heran, telinganya menangkap suara pengumuman yang sedang disampaikan oleh pihak staf dari pengeras suara. Dia lupa bagaimana pesan itu disampaikan. Tetapi perihal yang disampaikan masih diingatnya. Poin utama dari pengumuman yang disampaikan staf itu adalah bahwa mulai Selasa, 7 Mei 2013 besok, KRL Ekonomi akan di non-aktifkan. Pengumuman melalui pengeras suara itu juga didukung oleh pernyataan resmi dari PT. Kereta Api Indonesia (Persero) yang dipasang di papan pengumuman stasiun.

Di tengah-tengah kehidupan yang serba pas, pemilihan sarana transportasi untuk pergi ke kampus tentu harus berhati-hati. Jika sembarang pilih, salah-salah malah menambah pengeluaran yang sia-sia. Karena itulah Ami dan keluarganya memilih KRL Ekonomi sebagai sarana untuk pulang pergi ke Jakarta. Meskipun fasilitasnya tidak terbilang bagus, tetapi tarif 1.500 rupiah yang ditawarkan bisa dibilang sangat ekonomis, apalagi bagi para siswa, mahasiswa, dan pekerja kantor. Makanya, saat pengumuman tersebut dikumandangkan di kawasan stasiun, Ami geram. Dia sebal, karena menurut berita yang dia tonton di sebuah stasiun TV, penon-aktivan KRL Ekonomi itu baru akan dilakukan Juni atau Juli 2013. Jadi dia tidak bisa terima keputusan ini. “Ya kesel lah ya, soalnya ongkos biasa untuk ke kampus aja udh besar. Apalagi ini 1.500 rupiah sama 8.000 rupiah itu bedanya jauh banget,” katanya. “Yang anehnya kenapa dia (PT. KAI) mendadak banget bilangnya. Senen itu dia umumin langsung bahwa Selasa (KRL Ekonomi) nggak ada (non-aktif). Nggak kayak pengumuman yang sebelumnya,” tambahnya lagi dengan nada bicara yang sedih dan kecewa terhadap     PT. KAI yang dianggapnya kurang konsisten.

Memang, sejak sekitar bulan Maret kemarin, PT. KAI sudah memutuskan bahwa Kereta Api Listrik (KRL) Ekonomi akan dihapus atau di non-aktifkan. Tetapi, sebagaimana yang tertulis dalam Kompas.com, bahwa penghapusan KRL Ekonomi itu baru akan dilakukan bulan Juli 2013.

Sumber:(http://megapolitan.kompas.com/read/2013/03/22/10515381/Mulai.Juli.KRL.Ekonomi.Dihapus)

Dalam artikel tersebut, Kepala Humas Daerah Operasi 1 Jakarta, Agus Sutijono, mengatakan bahwa semua rangkaian KRL Ekonomi yang beroperasi akan dihapus paling lambat pada Juli mendatang. Dan salah satu alasan dihapusnya KRL Ekonomi ini adalah karena kereta ini sudah terlalu tua (rata-rata dibuat pada tahun 1974), sehingga ketika ada kerusakan, sudah sangat sulit untuk mencari spare part-nya. Pernyataan ini sangat sinkron dengan pernyataan dari Pamortir, petugas keamanan yang sudah setengah tahun lebih bekerja di Stasiun Rawa Buntu ini. Dalam perbincangan penulis dengan Pamortir, dia menyebutkan bahwa memang KRL Ekonomi ini di non-aktifkan karena masalah usia. Namun, alasan penon-aktifan ini ternyata belum bisa memuaskan hati Ami sebagai salah satu penumpang setia. “Sebenernya kereta yang satu lagi, itu yang Langsam yang warna kuning, yang dipake buat barang itu masih dipake sampe sekarang. Nah, itu kan pasti lebih “jadul” dong daripada yang ekonomi. Tapi nyatanya, kok bisa yang itu masih jalan?” katanya, dengan nada suara yang agak meninggi.

Satu lagi alasan yang disampaikan oleh Agus, adalah karena KRL Ekonomi sering mogok dan mengganggu jadwal kereta lain. Hal ini pun diiyakan oleh Ami, “Katanya karena yang ekonomi itu suka mogok. Makanya nanti dia jadi ngeganggu perjalanan kereta lain. Kalo itu sih alesannya logis,” katanya. Menurut Kompas.com, Dari catatan sepanjang tahun 2012, ada 1.228 perjalanan KRL ekonomi yang mengalami gangguan. Hal itu menyebabkan 4.217 perjalanan KRL AC ataupun KRL commuterline menjadi terganggu hingga akhir tahun 2012.

Memang, “hilang”nya KRL Ekonomi ini seharusnya tidak terlalu “menyedihkan”, karena langsung diganti dengan KRL commuterline yang malah seharusnya lebih enak dan nyaman karena kereta ini dilengkapi dengan AC dan gerbong khusus wanita yang tentunya memberikan rasa aman dan nyaman tersendiri bagi para kaum hawa ini. Selain itu, justru dengan menaiki KRL commuterline, para penumpang tidak perlu “diganggu” dengan keberadaan pengamen atau penjual-penjual yang dulu suka berkeliaran di dalam KRL Ekonomi.

Namun, bagi beberapa penumpang, keberadaan para penjual itu justru bisa menghilangkan kepenatan. Salah satunya adalah Ami yang sering membeli barang dari penjual-penjual di dalam kereta. “Kalau makanan sih ya nggak lah ya. Cuma suka beli tisunya yang 5000 rupiah dapet tiga. Ada juga jepitan rambut yang satunya 1.000 rupiah. “Justru gue suka naik yang ekonomi soalnya banyak yang jualannya,” kata Ami dengan semangat. Clerica, penumpang setia KRL Ekonomi juga mengatakan hal yang serupa dengan Ami. Dia juga senang naik yang ekonomi karena selain murah, barang-barang yang dijual oleh pedagang kereta juga memiliki harga yang sangat terjangkau. Hal inilah yang menjadi alasan lain mengapa KRL Ekonomi memiliki kelebihannya sendiri.

Saya pun pernah beberapa kali menumpang di KRL Ekonomi. Penduduk di sekitar Rawa Buntu yang menggunakan KRL Ekonomi ternyata sangat banyak, apalagi di pagi hari ketika jam masuk kerja. Saya tidak pernah mendapat tempat duduk dan hanya berdiri bersama sejumlah penumpang lain yang juga tidak mendapatkan tempat duduk. Sebagian penumpang turun di stasiun Kebayoran, dan selalu hampir semua penumpang pasti turun di stasiun Tanah Abang. Tapi, meskipun sering tidak mendapatkan tempat duduk dan merasa pengap karena ramainya kereta, saya tidak pernah merasa dirugikan. Menurut saya, uang yang dikeluarkan dengan apa yang didapat bisa dibilang seimbang. Saya hanya perlu mengeluarkan 1.500 rupiah dan saya bisa sampai di Tanah Abang tanpa perlu bermacet-macet ria di sepanjang jalan.

Sebenarnya, langkah yang diambil PT. KAI dalam menonaktifkan KRL Ekonomi di daerah Jabodetabek, khususnya daerah Serpong ini dinilai melanggar pasal 1 ayat 2 Peraturan Presiden Nomor 53 Tahun 2012. Pada pasal itu dituliskan bahwa kewajiban pelayanan publik (public service obligation) adalah kewajiban pemerintah untuk memberikan pelayanan angkutan kereta api kepada masyarakat dengan tarif yang terjangkau. Apabila ekonomi dihapus, seluruh masyarakat yang sering naik kereta dari stasiun Serpong-Tanah Abang tentu harus membayar 8.000 rupiah untuk menaiki kereta commuterline dari yang pertamanya 1.500 rupiah. Tetapi sebagaimana yang tertulis dalam UU No.23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian pasal 151 ayat 3, bahwa pedoman penetapan tarif kereta api berdasarkan perhitungan modal, biaya operasi, biaya perawatan, dan keuntungan, tentu saja hal ini berarti dari pihak perusahaan (PT. KAI) tidak menetapkan tarif seenaknya saja. Pasti sudah dengan perhitungan yang matang. Sepertinya PT. KAI harus melakukan penghitungan kembali, karena penghitungan yang sekarang kurang bisa memuaskan masyarakat pengguna kereta api.

Namun, ternyata penghapusan KRL Ekonomi ini mendapat dukungan dari pengamat transportasi dari UI, Ellen Tangkudung. Ellen menjelaskan dalam Sindonews.com, penarikan kereta ekonomi yang dilakukan cukup masuk akal, namun mahalnya biaya operasional seharusnya tidak dibebankan kepada pengguna. Sebab ini kewajiban pemerintah sebagai pihak yang harus menyediakan transportasi yang dioperasikan oleh PT KAI. “Bagaimanapun keberhasilan PT KAI akan membawa dampak bagi pemerintah, untuk itu pengadaan tarif yang terjangkau harus bisa direalisasikan,” katanya.

Sumber:(http://metro.sindonews.com/read/2013/05/06/31/745868/penarikan-kereta-uzur-mendapat-dukungan-pengamat-transportasi)

Janny, ibu dari Clerica yang bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta ternyata tidak terlalu pilih-pilih dalam hal transportasi yang satu ini. Katanya, kereta yang sampai duluanlah yang akan dia naiki. “Tapi kalau pagi, sih, lebih suka naik yang ekonomi, supaya lebih irit,” katanya. Setali tiga uang, Janny dan Clerica sama-sama berpendapat bahwa hilangnya KRL Ekonomi memang disayangkan, tetapi bagi mereka tidak sampai yang nyesek banget. “Ga nyesek banget sih, gue nggak merasa dirugikan soalnya,” ujarnya sambil tertawa kecil. “Tarif KRL commuter mahal! Kalau 5000 (rupiah) lah baru lumayan,” tambahnya.

Sambil berbincang-bincang di dalam mobil, Ami yang terus bersemangat memberikan tanggapannya tentang penghapusan KRL Ekonomi ini sempat mengatakan kalau jelas saja dia marah atas penghapusan tersebut. “Cuma percuma juga kan kalau pun marah. Soalnya, lu marah emang ada yang mau dengerin? Kalau pun ada yang dengerin, emang ada yang bisa dilakukan gitu?” katanya pasrah, sambil tertawa kecil.

Pada 1 Juni lalu, setelah melewati satu hari di kampus yang melelahkan, di tengah-tengah perjalanannya menuju gereja, lagi-lagi Ami dikecewakan dengan pelayanan kereta yang menurutnya buruk. Saat itu dia tengah menaiki commuterline jurusan Tanah Abang ke Rawa Buntu, tiba-tiba keretanya harus tertahan di Stasiun Kebayoran, karena kereta api Langsam yang khusus barang itu mogok di Stasiun Pondok Ranji. Kereta itu tertahan mulai dari pukul lima sore. Selama hampir satu jam, Ami berada di kereta. Padahal, kalau perjalanan lancar, dari Tanah Abang sampai ke Rawa Buntu hanya perlu sekitar 25 menit. Seminggu kemudian, kereta commuterline yang ditumpangi Ami yang mogok ketika hampir masuk ke Kebayoran. “Masa kereta AC pas mogok lebih menyiksa daripada ekonomi. Jendela ketutup semua, AC mati, napas pake apa?” katanya ketika men-chat saya di Blackberry Messenger. “Pasti alesannya ujan,” tambahnya lagi. Sekitar satu jam Ami harus bertahan di dalam kereta AC yang AC-nya mati dan jendela ditutup semua, ditambah dengan padatnya penumpang dari Tanah Abang, dengan pasrah Ami duduk di lantai kereta karena sudah tidak ada tempat duduk. Tangannya terus mengipas-ngipas wajahnya yang putih bening, namun sudah tampak kusam karena kelelahan. Kecewa? Ya, pasti. Tapi mau bagaimana lagi? Melapor di twitter @commuterline? “Ah, yang di twitter Cuma bisa minta maap,” kata Ami. Sebenarnya, tidak ada yang menjamin jika KRL Ekonomi ditiadakan maka jadwal kereta yang lain bisa menjadi lebih efektif. Nyatanya, mogok bisa dialami oleh kereta mana saja.

Pagi itu seakan kembali terulang terus tanpa berhenti. Lagi-lagi Ami telat bangun. Lagi-lagi dia terburu-buru mandi, mengenakan pakaian, dan sarapan. Lagi-lagi dia terpaksa harus menumpang ojek daripada angkot untuk sampai ke Stasiun Rawa Buntu. Pagi itu seakan terus berulang lagi dan lagi setiap hari. Tapi pagi itu ada yang berbeda. Ya. Beda. Sampai di stasiun, ada beberapa aparat keamanan yang berjaga-jaga di sekitar peron. Untuk mengantisipasi katanya.  Mengantisipasi apa? Entahlah. Mungkin tiba-tiba saja masyarakat Rawa Buntu lepas kendali dan berdemo di stasiun. Entah duduk di rel untuk menghalangi jalannya kereta, atau melempari petugas dengan batu. Tapi tidak. Tidak ada yang “seliar” itu.

Mereka hanya pasrah. Ya. Para penduduk pengguna setia kereta api ini hanya pasrah. Seperti yang Ami katakan. Kalau marah memang ada yang mendengarkan? Kalau pun ada yang mendengarkan, memang ada yang bisa dilakukan? Karena itu, semuanya hanya diam. Diam membisu sambil berdiri di peron 1 dan 2, menunggu kedatangan kereta api yang mengarah ke Tanah Abang. Seperti pagi-pagi yang lain, hari itu pun stasiun ramai. Ramai dengan siswa, mahasiswa, karyawan, dan para pedagang yang hendak berjualan. Di tengah-tengah keramaian itu, Ami, Janny, dan Clerica tengah berdiri bersama. Menanti commuter katanya. Pagi itu ada yang berbeda. Ya. Beda. Rasanya pagi itu lebih dingin dari biasanya. Mungkin karena pendingin ruangan di dalam kereta. Tapi tidak ada yang mengeluh. Setidaknya tidak secara terucap. Lagi-lagi, mereka cuma bisa pasrah.

This entry was posted in Peristiwa. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s