Jagoan Gasing

Oleh: Dita Anugrah

Gaya membungkuk melempar gasing ke tengah lapangan buatan berukuran 3 x 6 yang dicat warna-warni dengan menggunakan tali tambang berukuran sesuai besar gasing yang telah disulam sebagai pelempar. Pengunjung Jakarta Festival Museum 2013 berkeliling di sekitar lapangan tersebut sambil melihat putaran gasing yang berukuran sebesar piring, hampir seberat sebuah batu bata. Putaran gasing yang cepat, searah, dan melenggak-lenggok kecil menjadi pusat perhatian di festival itu.

Di pinggir arena Jakarta Festival Museum 2013 yang pagi itu belum terlalu ramai dipadati pengunjung, sebuah arena kecil di depan museum fatahilah sudah dikerumuni oleh beberapa pengunjung yang sudah datang. Di sana ada dua orang berpakaian seperti pitung, memakai peci, baju koko, dan celana kain, sedang beraksi mengadu gasing. Baru kali itu saya melihat gasing dengan ukuran yang mungkin bagi orang awam tidak wajar, tetapi begitu sudah berputar, putarannya terlihat seperti balerina sedang menari. Tubuh gasing yang dicat warna-warni ketika berputar memberi warna yang indah.

Pertunjukan gasing itu merupakan penampilan dari dua atlet gasing andalan komunitas gasing Jakarta yang kala itu ikut memeriahkan acara Jakarta Festival Museum 2013 di Kota Tua, Jakarta. Dayat Bokir, salah satu dari dua atlet gasing itu adalah pria keturunan Betawi asli yang ikut memeragakan kemampuannya bermain gasing di depan puluhan pengunjung yang datang ke Jakarta Museum Festival. Ia sudah empat tahun ikut bergabung dalam komunitas gasing.

Berlatar belakang keluarga yang kental dengan darah seni betawi, Dayat, begitulah pria ini akrab disapa, selain menjadi atlet gasing juga mahir memainkan alat musik Betawi. Ia biasa menampilkan  pertunjukan orkes khas betawi yaitu gambang kromong. Kakeknya, Haji Bokir, merupakan orang ternama di kalangan masyarakat Betawi. Ayahnya membuat gasing untuk dijual, Dayat turut membantu dalam merancang bentuk gasing yang akan dibuat. Kakak Dayat pun seorang seniman tari topeng, sedangkan Ibunya adalah ibu rumah tangga biasa.

Kehidupan sederhana keluarga Dayat membuat pria yang mengaku masih memiliki hubungan darah dengan Mandra, pemain sinetron asli Betawi yang terkenal dalam sinetron Si Doel Anak Betawi, tidak pernah putus asa menjalani kehidupannya. Dayat kerap berusaha melakukan apapun yang bisa ia lakukan dengan baik untuk menghasilkan uang. Kebetulan, bidang kesenian merupakan keahlian utamanya.

Ketertarikan Dayat pada permainan gasing sudah dimulai sejak umurnya 8 tahun. Kala itu bersama teman-teman di lingkungan rumahnya, Dayat sering bermain menggunakan gasing tradisional yang terbuat dari kayu. Ukurannya tentu berbeda dengan yang dimainkan saat ini, hanya gasing kecil seukuran genggaman tangan. Hampir setiap hari sepulang sekolah bersama teman-temannya, Dayat bertanding gasing. Tidak ada yang mengajarinya bagaimana bermain gasing dengan benar, dulu yang penting ia merasa senang bertanding dengan kawan-kawannya. Tak pernah terpikir bahwa hobinya bermain gasing dulu, membawanya menjadi seorang atlet gasing seperti sekarang.

Kenangan bermain gasing di masa kecil merupakan kenangan yang menyenangkan bagi Dayat. Dari kebasaannya bermain sejak kecil itulah, akhirnya Dayat belajar menaklukan gasing dengan kemampuannya sendiri. Keluarganya tidak ada yang memiliki keahlian bermain gasing seperti Dayat.

“Cita-cita sih pengen jadi polisi waktu kecil, tapi gak kesampaian. Ujung-ujungnya malah main gasing sampe gede,”ujar Dayat sambil tersenyum malu.

Meski impiannya menjadi polisi tak sampai, pria yang masih lajang ini sempat mencoba melamar menjadi pegawai di kantor kelurahan. Dengan bermodalkan ijazah SMK saja, ternyata Dayat tidak memenuhi persyaratan masuk menjadi pegawai. Sejak itu, Dayat tidak lagi mencoba melamar kerja di tempat lain. Ternyata hasrat untuk memulai usaha sendiri justru lebih besar, Dayat dan ayahnya akhirnya membuka usaha pembuatan gasing. Gasing yang dibuat oleh Dayat dan Ayahnya terbuat dari kayu. Gasing-gasing tersebut dijual dengan harga yang tak terlalu mahal, tergantung ukuran gasing. Dayat juga kerap mengikuti beberapa pertunjukan seni betawi bersama sang kakak pada beberapa kesempatan, seperti upacara perkawinan maupun acara lain di lingkungannya.

Menjadi atlet gasing memang tidak dipandang oleh banyak masyarakat, berbeda dengan gelar atlet sepak bola, bulu tangkis, atau basket. Gasing sendiri hanyalah permainan tradisional yang asal-usulnya tidak jelas darimana, menurut Dayat, hampir di setiap daerah di Indonesia memiliki gasing khas. Dayat sendiri tidak tahu-menahu mengenai asal permainan tradisional kesukaannya itu. Dayat kerap memainkan gasing asal Jakarta dan Batam. Bahan untuk membuat gasing pun berbeda di beberapa daerah, selain itu bentuknya juga beragam.

Sejak sekitar empat tahun lalu, Dayat memutuskan untuk bergabung dalam komunitas gasing yang dibentuk oleh Endi Aras, seorang kolektor gasing terkenal di Indonesia. Karena lokasi perkumpulan komunitas yang cukup jauh dari rumahnya, Dayat tidak terlalu sering datang ke rumah Endi Aras yang dijadikan tempat berkumpulnya para anggota komunitas gasing, yang terletak di Sarua Indah, Pamulang. Hanya sekitar dua kali dalam sebulan Dayat mampir ke rumah Endi untuk beramah-tamah dengan sang kolektor sekaligus menjalin kerja sama untuk menjual gasing buatannya.

“Sekarang saya lagi buat gasing monas buat dikirim ke Jepang, pesanan dari Menteri Kebudayaan. Ada sekitar 200 gasing yang mau dikirim,”ujar Dayat.

Penghasilan yang ia dapatkan dari menjual gasing dan menjadi atlet gasing memang tidak seberapa, tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Setelah memutuskan bergabung dalam komunitas gasing, Dayat ternyata memperoleh banyak kesempatan untuk mengembangkan bakatnya bermain gasing. Dayat telah beberapa kali mewakili komunitasnya bermain gasing ke beberapa daerah di Indonesia. Selain bisa mengembangkan bakat, ternyata Dayat juga mendapat pengetahuan lebih banyak mengenai gasing. Menteri Kebudayaan pun pernah mengundangnya untuk memperkenalkan permainan tradisional ini di kancah internasional. Jepang dan Korea adalah negara yang pernah ia kunjungi untuk menampilkan permainan gasing ala Indonesia.

Dari dua negara tetangga yang pernah Dayat kunjungi, Jepang adalah yang paling mengesankan. Di hadapan warga Jepang yang ternyata memiliki antusias pada permainan gasing, Dayat menunjukan keahliannya memutar gasing di tangannya, melempar gasing dengan gaya gleser yaitu membungkukan badan dan melempar gasing ke area permainan.

Di Jepang sendiri, permainan gasing ternyata sangat diminati, sebutan gasing di sana adalah koma. Berbeda dengan gasing Indonesia yang terbuat dari besi, kayu, atau buah, gasing di Jepang terbuat dari bahan plastik. Ketika Dayat bermain gasing, warga Jepang ternyata begitu terpukau dengan penampilannya. Banyak yang menonton ia memutar gasing di tangan dan memindahkannya ke paha yang diangkat sejajar perut. Menurut Dayat, warga Jepang justru memiliki ketertarikan pada permainan gasing lebih besar daripada warga Indonesia saat ini.

“Saya pernah tanding sama master gasing di Jepang. Gaya dia bermain lebih jago, tapi begitu main gasing buatan Indonesia dan mencoba memutarnya di tangan, dia gagal,”cerita Dayat begitu ditanya mengenai pengalaman berkesannya selama menjadi atlet.

Hampir setiap tahun, Dayat bepergian ke luar kota untuk mengikuti pertunjukan gasing dan menghadiri perlombaan gasing nasional. Di beberapa daerah di Indonesia khususnya Batam, gasing sangat digemari. Teman baik Dayat juga ada yang merupakan atlet gasing nasional dari Batam. Dayat juga beberapa kali dijadikan juri perlombaan gasing di beberapa daerah di Indonesia. Beberapa bulan ke depan, rencananya Dayat akan dikirim lagi oleh Menteri Kebudayaan untuk tampil di Malaysia.

Gelar atlet gasing yang Dayat miliki, selain dimanfaatkan untuk memproduksi gasing bersama sang ayah, juga ia manfaatkan untuk membuka tempat pelatihan gasing bagi anak-anak di daerah tempat tinggalnya. Dayat ingin mengajari cara bermain gasing dengan benar kepada anak-anak tersebut sekaligus mengembangkan permainan tradisional yang saat ini telah lenyap karena kemajuan teknologi. Beruntung, beberapa anak di sekitar rumahnya menyambut inisiatif Dayat dengan antusias.

“Kadang-kadang kalau tidak ada panggilan kerja, latihannya sore-sore di deket rumah. Anak-anak yang main sekitar 6 – 10 orang, saya ajarinnya gantian.”

Dayat tidak mengambil untung dari inisiatifnya mengajari anak-anak bermain gasing itu. Niatnya murni hanya untuk mengembangkan bakatnya sekaligus melestarikan permainan gasing bagi generasi mendatang. Baginya, meskipun sudah kalah dengan kemajuan teknologi, gasing tetap permainan yang mengasyikan dan patut dikenal oleh masyarakat.

“Sayang banget anak-anak zaman sekarang mainnya teknologi terus. Padahal banyak permainan tradisional yang nggak kalah seru.”

Semakin siang, arena komunitas gasing semakin ramai dikunjungi oleh wisatawan kota tua dalam Jakarta Festival Museum. Saya penasaran ingin memeragakan cara bermain gasing dengan benar. Dayat membantu saya mempraktekan bagaimana tahap awal menggulung gasing dengan tali, kemudian cara memegangnya, lalu gaya melemparnya. Ternyata tidak sembarangan melempar gasing supaya bisa berputar dengan indah dan lama.

Lama berbincang dengan Dayat, wajahnya yang mulai muncul kerutan di sekitar mata ketika ia tersenyum, tetap ramah menemani saya mempelajari gasing. Satu persatu gasing yang dipajang di atas meja ,ia jelaskan darimana asalnya dan terbuat dari apa. Dayat sudah sangat mengenal karakter tiap gasing yang ada di sana. Kata Dayat, semua gasing itu adalah milik Endi Aras.

Di umurnya yang sudah kepala tiga, Dayat mengaku belum tahu apa harapannya di masa depan. Yang menjadi fokusnya saat ini adalah mengembangkan usaha ia dan ayahnya, syukur-syukur kalau bisa mengimpor gasing buatannya hingga ke luar negeri. Selain itu tentu tetap aktif dalam komunitas gasing dan menekuni kesenian betawi seperti kakeknya. Dayat merasa beruntung, meski profesi yang dijalani tidak menghasilkan upah yang besar, keluarga tetap mendukungnya sebagai atlet.

Berputar seimbang, hidup seimbang. Demikian motto dari komunitas gasing. Meski terlihat sangat sederhana, tetapi bermain gasing mengajarkan beberapa hal penting dalam kehidupan. Dayat, meski tak sampai meraih cita-citanya, tetapi menjadi atlet gasing dan melestarikan budaya Indonesia menjadi kebanggaan baginya.

“Hidup yang penting dijalani, selama melakukan hal yang baik, lanjutkan saja yang penting senang,” ungkap Dayat dengan senyum kecil menghiasi wajahnya.

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s