Jakarta Malam

Jakarta Malam

Meta Stefany-11140110113-A1

“Parah, itu om malah struk pas lagi main. Mau ga mau berhenti deh mainnya terus gue bawa dia ke rumah sakit,” jelas salah satu wanita muda kepada temannya sepulang kerja. Wanita muda itu ingin kembali ke rumah, tetapi dia berhenti sejenak dan duduk di kursi depan rumah temannya. Kebetulan temannya memang sedang melamun di bawah gelapnya langit.

“Jadi gimana ceritanya itu om bisa struk?” tanya temannya penasaran. “Dia tuh tadi emang pake obat kuat. Nah mungkin jantungnya udah ga kuat kali kalo main terlalu bersemangat, jadi tiba-tiba dia struk sebelah gitu,” kata wanita cantik berkulit putih ini. Dia mengaku baru sebentar main, dan setelah kejadian itu dia langsung berpakaian dan sempat memakaikan pakaian pada si om walaupun seadanya. Wanita ini panik, takut gara-gara dialah si om menjadi terkena serangan struk. “Sialnya lagi, bukannya gue yang dapet duit eh malah gue yang harus ngeluarin duit buat bayarin biaya rumah sakitnya si om,” ucap wanita ini dengan bibir yang sidikit manyun. “Setidaknya hari ini lu ngebuktiin ke Tuhan kalau lu juga bisa berbuat baik, ga bikin dosa mulu,” jawab temannya sambil menghisap rokok.

Pemandangan seperti itulah yang didapat saat berkunjung ke suatu daerah di Jakarta, tepatnya sekitar Gajah Mada dan Kebon Nanas. Banyak wanita cantik yang kerjanya hanya di malam hari. Usia pun beragam, dari mulai remaja hingga dewasa. Postur tubuh dan warna kulit mereka bak model covergirl. Namun, tidak sedikit dari mereka yang memiliki fisik biasa saja dan berumur diatas 30 tahun. Mereka saling mengenal satu sama lain, bahkan rumah mereka berdempetan. Pekerjaan yang mereka geluti memang menghasilkan cukup banyak uang, tetapi hal tersebut tak nampak pada kediaman mereka. Rumah mereka kebanyakan berjejer di gang mungil, bisa jadi hanya 30 cm×30 cm. Uang yang mereka dapatkan sebagian besar untuk dikirim ke kampung dan menjaga penampilan mereka.

Takjub melihat malam yang terasa seperti bukan malam, terlebih di daerah Gajah Mada. Pada hakikatnya, malam adalah saat dimana kaum kami (manusia) beristirahat dengan diselimuti kesunyian. Namun, malam itu terasa seperti malam yang lain, malam yang penuh dengan kesibukan dan keramaian. Mereka berdiri berderetan menanti ada yang menghampiri bak para pekerja yang sedang menunggu angkutan umum lewat.

Para pria datang dan pergi, begitu juga para wanita. Ada juga pria mendatangi wanita lalu pergi berdua entah kemana.

Para wanita ini menekuni pekerjaan yang tidak biasa, tetapi menghasilkan uang yang cukup luar biasa. Ya, mereka adalah para pekerja seks komersial (PSK). Malam adalah waktu yang tepat untuk mereka berburu pria hidung belang. Penampilan yang seksi cukup untuk mencuri pandangan para jantan. “Modalnya cuma seksi sama ngangkang,” ujar Dian, salah satu pekerja seks komersial.

Para wanita molek ini mengaku mereka bisa memiliki apa yang mereka inginkan dengan mudah, maka banyak dari mereka yang cukup menikmati pekerjaan ini.

Awalnya, beberapa dari mereka adalah gadis desa biasa yang kemudian ditawarkan untuk bekerja di kota Jakarta dengan iming-iming upah yang besar. Mereka diberitahu akan bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Lalu mereka pun setuju untuk diboyong ke Jakarta dengan tanpa rasa curiga. Sesampainya di sana, mereka dilayani dengan baik oleh pihak yang membawa mereka. Mereka diberi makan, di make over, dan diberi tempat tidur yang layak. Namun, semua berubah saat malam hadir menggantikan sore. Mereka diajak untuk menemui para pria dan berkenalan. Lalu satu per satu pria tersebut membawa wanita desa pilihannya ke tempat yang lebih pribadi. Di saat itulah para wanita sadar bahwa mereka bukan dijadikan pembantu rumah tangga, melainkan pemuas nafsu lelaki hidung belang.

Keperawanan mereka pun musnah dalam semalam. Namun, malam itu mereka meraih upah yang fantastis. “Ya jutaan lah,” ucap Dian.

Salah seorang yang pernah berkecimpung dalam organisasi pelindung dan pemerhati PSK bernama Bandungwangi (Bantuan Dukungan Perkawanan dan Saling Melindungi) juga menuturkan bahwa mereka dibayar mahal saat masih perawan. Kabarnya bisa sampai belasan juta. Namun, setelah mereka melepas keperawanannya, harga mereka turun drastis. Jika service dan penampilan memuaskan, harga mereka masih berlabel jutaan, tetapi jika tidak, harga mereka bisa hanya ratusan ribu atau bahkan puluhan ribu.

“Kalau jam terbangnya udah tinggi bisa lebih dari lima juta satu pelanggan, tapi ada juga yang cuma 50 ribu satu pelanggan,” jelas Stella, salah satu orang yang pernah berperan dalam organisasi Bandungwangi.

Banyak dari mereka yang terkena penyakit kelamin, terutama AIDS. Bandungwangi menyediakan klinik bagi mereka, maka mereka pun terbiasa memeriksa keadaan tubuh mereka beberapa bulan sekali ke klinik tersebut. Setiap resep obat yang diberikan pasti mereka minum agar bisa kembali normal dan bekerja.

“Pernah waktu itu ada yang minta ditemenin ke klinik, pas gue tanya kenapa eh kata dia bibir bawahnya (kelamin bawah wanita) mencong sebelah. Gila banget, pasti mainnya kasar,” kata Stella sambil tersenyum lebar.

Lain halnya dengan wilayah Kebon Nanas. Malam itu penuh kunjungan. Di sekitarnya terdapat beberapa lapak yang beralaskan terpal. Lapak tersebut berukuran sepetak dan dilengkapi dengan keran air. Mereka menggunakannya untuk bermain singkat. Di setiap lapak terdapat satu wanita yang sudah standby dengan tanpa busana. Wanita tersebut hanya bemodalkan gayung dan ember berukuran sedang. Di luar beberapa pria mengantri untuk masuk. Mereka masuk secara bergantian. Tidak sampai setengah jam, pria yang berada di dalam keluar dengan berlumur keringat di tubuhnya. “Jadi sistemnya pria masuk, main bentar terus keluar, nah si cewek bersihin dulu tubuhnya baru deh pria selanjutnya masuk. Itu biasanya dapet 50 sampai 100 ribu,” ujar Dian.

Aneh rasanya mendengar penjelasan Stella. Dengan mudahnya para wanita tersebut melayani lelaki hidung belang demi kelangsungan hidup dan kenikmatan semata.

“Ga semua dari mereka terpaksa bekerja sebagai PSK demi menghidupi keluarga. Ada beberapa dari mereka yang memang ingin mendapat uang dan barang mewah secara instan. Ada juga yang udah ketagihan jadi melakukan pekerjaan itu terus,” tutur Stella. Memang tidak bisa dipungkiri lagi bahwa moral bangsa kini semakin rusak, ditambah lagi dengan faktor ekonomi dan pendidikan masyarakat Indonesia yang masih rendah membuat pekerjaan ini kian marak digeluti para wanita dan pria.

“Lima tahun yang lalu, masih banyak wanita malam yang tidak tahu kegunaan dari karet pengaman kelamin bahkan mereka sama sekali tidak mengenal benda tersebut. Miris sebenernya, makanya waktu itu kami dari Bandungwangi memperkenalkan benda tersebut kepada mereka untuk mengurangi penyebaran penyakit kelamin,” jelas Stella. Walaupun pengenalan tesebut dilakukan, masih ada saja yang tidak menggunakannya dengan alasan tidak enak. Dengan adanya hal ini terbukti bahwa pengetahuan mereka mengenai dampak free sex sungguh kurang. Mereka lebih mengutamakan uang yang diperoleh daripada akibat yang nantinya dirasakan.

Malam itu terasa begitu panjang, tak henti-hentinya pria datang dan pergi, wanita pergi dan pulang. Ada wanita yang tak kembali malam ini, dia baru kembali pagi-pagi benar. Beberapa lampu menyinari sekitar kami dengan diiringi hembusan angin yang cukup membuat bulu kuduk saya berdiri. Suasana dingin, tetapi apa yang saya lihat di sekitar membuat panas hati. Tidak cukupkah para pria tersebut mendapat kasih sayang dari pasangannya masing-masing? Haruskah mereka memuaskan nafsunya dengan wanita malam, kenapa tidak dengan pasangan masing-masing saja? Pertanyaan emosional itu terus muncul di pikiran saya. Cahaya sekitar cukup terang, tetapi apa yang terjadi di dalamnya sungguh terasa gelap. Saya berusaha menetralisir kembali pikiran saya dan fokus pada apa yang terjadi selanjutnya.

Saya pun melanjutkan pembicaraan dengan Stella. “Beda halnya kalau yang dibawa ke hotel. Kan mereka semalaman tuh, jadi bayarannya lebih gede karena full service. Apalagi kalau pelanggannya bule atau turis, lebih gede lagi bisa belasan juta,” ujar wanita bertubuh mungil ini.

Para wanita malam tetap santai menjalani pekerjaannya walaupun ditentang oleh banyak hal. “Mereka tuh kebanyakan sadar kalau pekerjaan ini dosa, tetapi mereka udah keburu jatuh ke dalam dosa itu jadi dilanjutin aja, nanggung katanya,” jelas Stella dengan mimik wajah serius. Jadi pada dasarnya mereka tahu apa yang diperbuat adalah dosa, mereka sadar benar bahwa mereka pendosa. Namun, keperawanan mereka sudah terlanjur direngut pria nakal. Tidak ada yang bisa mengembalikan keperawanan tersebut, maka hal itulah yang membuat mereka berpikir untuk tetap melakukan pekerjaan yang bisa dibilang “hina”. Dan tak hanya itu saja yang membuat mereka bertahan. Uang dengan jumlah banyak di depan mata pun membutakan akal sehat mereka. “Cari duit yang gampang ya begini, gue udah bisa beli barang-barang yang gue mau,” kata Dian kepada Stella dengan santai. Dian memang cukup dekat dengan Stella, pantaslah dia banyak cerita mengenai pekerjaannya kepada Stella.

“Sekarang sih ada organisasi juga yang menjadi pemerhati PSK,” jelas Stella lagi. Organisasi tersebut dibentuk oleh para mantan PSK yang sudah bertobat dan berkeluarga. Mereka mengajukan maksud dan tujuan organisasi ini kepada negara luar, seperti Amerika. Dan setelah disetujui oleh pihak negara luar, mereka pun membiayai sepenuhnya pengeluaran organisasi tersebut. Organisasi tersebut berjuang bersama Bandungwangi untuk merangkul para wanita malam ini agar mereka bisa kembali ke jalan yang benar, atau minimal mereka bisa menjaga dan peduli pada tubuh mereka sendiri.

Setelah mendapat berbagai informasi mengenai kehidupan malam dan maraknya pekerjaan sebagai PSK ini, mata batin saya pun terbuka. Sesuatu yang biasanya dipandang sebelah mata ini oleh kebanyakan orang seketika berubah menjadi sebuah keprihatinan yang memang perlu penanganan serius baik dari pihak mereka, pemerintah, maupun kita sebagai orang sekitar. Sudah seharusnya peristiwa ini ditelaah lebih dalam, kenapa semakin banyak kasus prostitusi dan pergaulan bebas di bangsa yang berasaskan Pancasila ini. Bahkan ada suami yang tega menjual istrinya demi kelangsungan hidup.

Jakarta malam, penuh kebebasan, penuh hura-hura, penuh topeng. Di saat pagi menyapa, pria dan wanita terlihat sama, biasa saja, tak ada yang mencurigai. Namun, saat malam menghampiri, mereka tak lagi sama. Mereka tak sepenuhnya putih. Memang manusia itu abu-abu. Ada yang terlihat rapi, setia, sopan, religius, tetapi saat berada dalam kenikmatan Jakarta Malam, moral mereka diuji. Jika larut dalam gemerlapnya kebebasan Jakarta, mereka menjadi berbeda, lupa dengan pasangan, agama, etika, dan sebagainya. Ini adalah peristiwa yang entah kapan berubahnya, berubah ke arah yang lebih baik dan lebih bermoral. Semoga segera. Dan kita sebagai orang di sekitar mereka, patut melihat peristiwa ini dari sisi lain. Sisi dimana mereka berjuang menghidupi keluarga, meraih hubungan pertemanan yang tulus, dan menikmati kehidupan yang ada.

“Ini udah jadi pilihan gue. Abisnya nyari kerjaan halal susah banyak syaratnya, penghasilannya juga gak gede-gede banget,” ungkap Dian, wanita asal Indramayu ini.

This entry was posted in Peristiwa, Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s