Kampung Unik, Kampung Naga

Niza Sari Pratiwi / 11140110147

SEMUA yang di dalam mobil hitam dan berdebu terkaget,  ternyata salah satu spion bagian kiri oglek dan lepas. Jalanan yang bergerunjal membuat kaca spion mobil itu longgar. Melihat keadaan nya tambah parah, kendaraan roda empat itu berhenti dan saya mencoba memperbaiki nya.

Dari Tangerang menuju Tasikmalaya membutuhkan waktu yang sangat panjang. Saya memutuskan untuk berangkat jam tiga pagi. Saya ingin sampai di tujuan siang hari, sehingga dapat melihat sekaligus merasakan kegiatan dari warga Kampung Naga.

“Jalanan nya sangat tidak layak, banyak jebakan di sini. Spion mobil aja sampai copot,” kata salah satu teman saya, Albert.

Saya pun mencoba peruntungan, berangkat dini hari agar terhindar dari macet yang melanda nanti nya. Banyak truk besar melintasi jalanan ini, motor yang seenak nya, dan mobil lain yang mencoba untuk menyalip kendaraan saya. Seperti jalanan menuju kampung Nenek saya di Cirebon, menuju Tasikmalaya pun juga seperti ini ada nya.

Empat jam sudah saya di dalam mobil, suara bising sering terdengar dari klakson bus yang berderu dan truk yang melintas, jalanan menuju Kampung Naga juga berbelok, dan tidak mulus, hawa yang panas mulai menusuk kendaraan saya.

Sekitar tujuh jam berada di jalan, akhirnya saya sampai di tempat tujuan saya, ya, Kampung Naga. Saya langsung melompat dari mobil dan terkejut melihat suasana di kampung ini.

Baru sampai di tempat parkiran mobil, saya disajikan sebuah gapura berbentuk keris raksasa. Di bawah nya terdapat tulisan “Tugu Kujang Pusaka”. Yang konon katanya, replika keris itu milik salah satu sesepuh kampung Naga pada zaman dahulu kala. Di dalam nya juga tersimpan keris yang asli, namun saya tidak dapat melihat nya. Pintu itu ternyata di gembok.

Asik melihat gapura, saya pun disambut dengan salah seorang tour guide kampung sini. Laki-laki yang berumur kisaran 36 tahun, memakai topi berbentuk serban bewarna coklat tua dengan lukisan batik, panggil saja Mang Nok. Ia adalah salah satu warga kampung Naga sekaligus sebagai tour guide saya dan teman saya nanti nya.

“Selamat datang neng di kampung Naga, beginilah keadaan disini, mari silahkeun,” ujar lelaki itu kepada saya.

Mang Nok kemudian membawa saya dan teman saya ke tempat tujuan yang sesungguh nya. Melihat jalanan menuju kampung Naga itu ke bawah lalu terdapat  banyak anak tangga, saya harus melewati kurang lebih 450 anak tangga yang wajib saya injak.

Sebelum menuju ratusan anak tangga itu, kembali saya di sambut oleh papan hijau yang bertuliskan “Wilujeng Sumping Di Kampung Naga” mungkin arti nya selamat datang di Kampung Naga.

Jalanan menuju ke bawah tidak hanya pepohonan dan rumah yang ada, di sana juga terdapat aksesoris hasil kerajinan tangan warga kampung Naga. Udara yang segar nan sejuk membuat saya lupa akan kota Tangerang yang panas dan berdebu, namun disini, semua seakan terbalik.

300 lebih anak tangga sudah saya arungi, saya mulai melihat sawah hijau yang membentang lebar, bunyi air sungai yang mengalir deras, kicauan burung yang seolah menyambut saya, air terjun yang konon katanya angker, serta bangunan rumah kampung Naga yang semua nya seragam bewarna putih dengan atap yang terbuat dari daun nipah, namun berdiri dengan kokoh.

“Sebentar lagi kita akan menginjak kampung Naga yang sesungguhnya neng,” kata Mang Nok sambil menunjuk perkampungan yang masih sangat asri itu.

Hah….. akhirnya setelah menuruni sekitar 400 lebih anak tangga menuju kampung ini, saya sampai juga di perkampungan yang saya tuju. Benar saja, disini sangat sejuk, jalanan nya penuh dengan bebatuan, tidak ada mobil atau motor yang melintas, di samping nya terdapat sungai mengalir deras yang disebut Ci Wulan.

Saya langsung dibawa ke salah satu rumah serba guna, disana sudah menunggu salah seorang sesepuh kampung ini.

“Selamat datang di kampung naga ini ya, beginilah suasana disini, pasti berbeda dengan rumah kalian kan?” ujar kakek Punduh.

Kakek yang berumur kisaran 70 tahun itu sudah mengeriput, berpakaian hitam, serta tak lupa akan topi yang sama seperti Mang Nok yang menghiasi kepala nya, hanya beda nya, Mang Nok memakai baju bewarna putih, namun Kek Punduh memakai hitam. Tentu nya hal itu sudah menjadi turun termurun warga sini dan memiliki arti tersendiri.

Saya paham, mengapa istilah nama kampung ini disebut kampung Naga? Ya, karena jika ada turis atau masyarakat yang berkunjung dapat dengan mudah mengenali kalau ini merupakan Kampung Naga.

Selain itu nama Naga juga diambil dari kata Nagawir, Wir nya dihilangkan sehingga menjadi Naga saja,  ini juga karena kampung naga berada di bawah lembah gunung  dan tebing, faktor itu juga lah mengapa disebut dengan kampung Naga. 

Kampung tanpa listrik ini berada di desa Neglasari, kecamatan Salawu, dan kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Disini terdapat hutan terlarang yang diyakini warga sebagai hutan kramat dan tidak boleh ada yang menginjak hutan tersebut kecuali pada perayaan-perayaan dan keturunan dari leluhurnya, karena di dalam hutan tersebut terdapat pemakaman leluhur warga Kampung Naga.

Ini adalah desa kecil, hanya terdapat 113 bangunan kokoh yang berdiri disini. Jumlah warga nya juga sekitar 314 orang. Ada dua pimpinan dikampung Naga ini, yaitu formal dan non-formal, formal itu dipimpin oleh kepala dusun yaitu RT yang sistem nya demokrasi, dipilih oleh warga kampung Naga,  jabatannya lima atau enam tahun.

Kalau yang non formal, ada yang namanya Kuncen yang bertugas memimpin ziarah ke pemakaman, selain itu ada yang bertugas untuk mengayomi warga sini juga, dan ada juga yang bertugas untuk mengawas dan mengurusi jenazah jika ada warga yang meninggal dunia, ia yang mengurusi nya dari awal hingga proses penguburan. 

Rumah kampung Naga atap nya terbuat dari daun nipah, namun bukan sembarang nipah yang di ambil. Sedangkan tembok nya, bukan dari beton seperti tembok di rumah saya. Tembok disini terbuat dari bambu dan tidak boleh di cat, hanya boleh menggunakan kapur.

Semua rumah disini seragam, tembok yang menghiasi bewarna putih yang menandakan hati mereka yang suci, dan atap bewarna hitam berlapis coklat di setiap list nya, pintu serta jendela bewarna coklat. Atap rumah juga harus berasal dari ijuk, nipah atau alang-alang, lantai rumah terbuat dari papan kayu atau bambu.

Rumah juga harus menghadap ke utara atau selatan, tidak boleh menghadap ke Barat. Karena itu mengarah kepada kiblat, dan sangat dilarang, kiblat dipakai untuk arahan warga kampung Naga untuk shalat.

“Semua nya seragam karena ini menandakan warna tanah, masyarakart kampung Naga masih  sangat mencintai bumi dan alam, jadi mereka pun memberi warna rumah mereka seperti itu”, ujar Mang Nok sambil menemani saya mengitari perkampungan.

Hari pertama saya pakai untuk melihat keadaan di kampung Naga. Saya juga turut membantu membuat kerajinan tangan warga sana yang nanti nya akan dijual kembali kepada mereka. Warga disini sangat kreatif, mereka memiliki kemampuan untuk membuat aksesoris seperti tas, dompet, topi, serta alat kesenian mereka sendiri. Semuanya di buat oleh mereka.

Sungguh berbeda dengan Jakarta, warga kampung Naga berkomunikasi dengan bahasa Sunda yang halus dan lembut. Budaya sunda disini memang sangat kental. Udara yang saya hirup berbeda jauh dengan di Jakarta ataupun tempat saya tinggal. Sawah yang membentang, sungai yang deras serta bangunan kayu yang di dalam nya berisi kambing dan hewan ternak lainnya jarang saya temukan di tempat tinggal saya.

Saya sering melihat warga kampung Naga untuk menebang kayu, yang nanti nya akan diperdagangkan lagi oleh mereka. Pekerjaan yang sederhana, namun berdasarkan olahan tangan mereka sendiri.

Tasikmalaya sangat beruntung, masih memiliki perkampungan yang asri dan khas seperti kampung Naga ini. Banyak keunikan yang saya dapat kan.

Semalam disini membut saya tidak bisa tidur dengan terlelap, saya harus tidur tanpa kasur, kipas atau AC, dan tentu nya tidak ada listrik di kampung ini. Pada malam hari, kampung ini seperti kampung mati. Tidak ada listrik, gelap gulita, hanya lampu senter yang saya bawa teman saya untuk ke kamar kecil. Benar-benar gelap gulita. Kamar kecil pun berada di luar rumah.

Kampung Naga tidak menggunakan listrik, mereka masih sangat cinta dengan alam, kebudayaan mereka masih sangat berpegang teguh oleh alam sekitar mereka, jika memakai listrik pun tidak akan kuat.

Bangunan rumah kampung Naga mudah untuk konslet dan memicu kebakaran. Ternyata selain itu, untuk menjaga kesenjangan sosial. Jika terdapat televisi atau radio, warga disini takut terpengaruh oleh kebudayaan luar dan mereka takut kehilangan kebudayaan asli mereka. 

Sangat unik, di dalam rumah saya menginap, rumah nya tidak ada kursi dan kasur, agar jika ada tamu yang datang tidak berpencar duduk nya (diatas atau dibawah) makanya tidak ada kursi atau kasur supaya semua sama, duduk dibawah atau tidur pun dibawah. Di tempat itu lah lah saya baru menemukan kampung seperti ini.

“Disini mah atuh emang henteu aya listrik neng, ibu mah udah terbiasa seperti ini, bukti nya anak-anak ibu masih bisa hidup nih tanpa listrik,” sahut Mak Asih, salah seorang pemilik rumah yang saya inap.

Rumah disini semua nya tidak berpagar, hanya rumah milik sesepuh mereka saja lah yang boleh menggunakan pagar. Saya juga tidak boleh memotret rumah tersebut. Dilarang oleh warga sana.

Disini juga terdapat perayaan yang rutin diantaranya upacara. Upacara yang dilakukan juga ada aturannya seperti pada bulan Muharam (merupakan tahun baru islam), kedua bulan Maulud ( kelahiran Nabi Muhammad SAW).

Ketiga pada bulan Jumadil Akhir (pertengahan tahun), keempat bulan Sya’ban (menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan), kelima pada bulan Idul Fitri (sudah melaksanakan puasa) dan keenam pada idul Adha juga dikatakan bulan Haji.

Namun perayaan dan upacara yang dilakukan berbeda dengan Islam pada umumnya, mereka melakukan upacara adat terlebih dahulu, kemudian mereka pergi ke masjid atau mushola yang ada di kampung naga, setelah itu meraka bersih-bersih semua pekarangan dan halaman mereka, lalu mereka bersama mengunjungi makam para leluhur yang sudah tiada di hutan.

Sayang sekali, saat saya kesana tidak ada perayaan apa pun. Hanya kegiatan rutin mereka saja yang saya lihat.

Beberapa larangan di kampung  diantaranya jangan menggunakan listrik, jangan menghadap ke Barat (kiblat) jika tiduran ataupun selonjoran, jangan keluar rumah lebih dari jam 9 malam. Semua warga kampung ini jam 9 harus sudah tidur. Dan jangan coba berani untuk ke hutan terlarang, ataupun air terjun yang ada disini, kecuali dengan para kuncen atau sesepuh sana.

Hari kedua, ya ini merupakan hari terakhir. Karena saya harus bersiap kembali ke tempat tinggal asli saya. Saya tidak ingin menyiakan waktu selama disini. Saya pergi melihat kegiatan mereka, saya melihat cara membuat Karinding (salah satu kesenian asli sini). Dan saya diajari bagaimana cara memainkan nya.

Saya dan teman saya diajak oleh Mang Nok ke salah satu rumah yang ada pagar nya, itu merupakan rumah sesepuh atasan mereka. Tidak boleh foto dan berbicara kasar di depan rumah ini. Pamali.. orang sana menyebut nya demikian.

Waktu menunjukan pukul 12 siang, saya bergegas pulang ke rumah Mak Asih kemudian membereskan semua pakaian saya dan pulang.

Sedih tentu nya meninggalkan kampung Naga ini, saya banyak tahu mengenai kampung ini, orang nya ramah-ramah, sangat sederhana dan pemandangan yang masih sangat damai, sejuk, selalu melintasi mata saya selama saya berada disini.

Jarang terjadi konflik disini. Jika ada konflik pun cara mereka menyelesaikan konfliknya selalu menerapkan kata istilah di benak mereka masing-masing yang sudah ada di hati mereka yaitu: Sili Asah (Menyayangi), Sili Asih (Memberi),  Sili Asuh (Menghargai), dan Sili Payungan (Merangkul sesama).

Sebab itu lah mereka tidak pernah terjadi  konflik. Dan satu lagi, mereka harus menaati semua peraturan yang ada di dalam budaya mereka karena ini semua menyangkut Amanat, Wasiat dan Akibat.

Sungguh sebuah pengalaman bagi saya. Jarang saya temukan kampung seperti ini jika sudah ada di Jakarta. Tradisional, damai dan sederhana.

Perjalanan pulang saya lanjutkan dengan menggunakan mobil hitam yang berdebu itu dengan teman saya. Kembali melewati jalanan yang berliku, dan tepat jam satu siang saya meninggalkan kampung Naga.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s