Kartini-ku Seorang Tukang Jamu Super :)

NAMA           :           APRILDA KUSHARTANTI

NIM                :           11140110186

TUGAS UAS PENULISAN FEATURE PROFIL

 

“Jamu… Jamuuuuuu…. Mbaaa jamu nggak??”

Itu adalah kalimat yang setiap sore keluar dari mulutnya ketika sampai di depan rumahku. Dengan menggunakan pakaian sederhana dia mendorong gerobaknya yang berisikan botol-botol jamu dan beberapa jenis makanan ringan seperti bakwan, pisang molen, tempe goreng tepung dan juga donat yang dibalut dengan gula halus itu mengelilingi perumahanku, dari satu gang ke gang yang lain.

Mbak Sonny itu adalah panggilan yang sudah hampir 17 tahun aku sebutkan ketika akan meminum jamunya. Dengan suara dan senyuman yang khas dia selalu bisa membuatku tertawa dengan segala canda tawa yang keluar dari mulutnya.

Mbak Sonny seorang wanita yang berumur 48 tahun adalah seorang tukang jamu keliling di daerah perumahanku. Jamu-jamu yang ia jajakan merupakan racikan tangannya sendiri jadi untuk jaminan kebersihannya insyaallah bisa terjaga. Ia sudah menjajakan jamunya mulai dari 20 tahun yang lalu tapi aku mulai bertemu dengannya itu baru sekitar 17 tahun yang lalu.

Mba Sonny merupakan anak pertama dari delapan bersaudara dari pasangan Alm. Ngatijo dan Sukarti yang lahir pada tanggal 24 Juli 1965, ketika bapaknya meninggal ia baru berusia sekitar 10 tahun tapi dengan keuletan serta kegigihannya ia bisa membantu mbok nya untuk mencari nafkah untuk membiayai kehidupan mereka ke depan.

Mba Sonny adalah ibu dari dua orang anak laki-laki yang saat ini telah bekerja semua, yang satu bekerja pada sebuah perusahaan pembuat ban dari Jepang dan yang satu lagi bekerja pada sebuah perusahan sepeda motor ternama di Indonesia.

Perjuangan hidup yang dia lewati tidak lah mudah, mulai dari suaminya yang pengangguran yang kerjanya hanya bisa meminta penghasilannya untuk berjudi, membeli minuman keras hingga memancing berjam-jam tanpa pernah berpikir akan makan apa mereka hari ini? bagaimana anak-anaknya bisa membayar sekolah? Atau bagaimana membayar tagihan listrik bulan ini, tidak ada sama sekali!!

Untung saja Mba Sonny merupakan wanita kuat yang mau berjuang, bekerja keras membanting tulang untuk bisa memenuhi semua kebutuhan rumah tangganya yang seharusnya dilakukan oleh suaminya ini.

Ia juga merupakan tulang punggung dari keluarga besarnya karena saat ini dia juga harus membagi pendapatannya untuk bisa mengurusi dan membiayai mbok nya di kampung karena bapaknya telah tiada ketika Mbak Sonny kecil.

Dengan tubuhnya yang kecil wanita asal kota Solo ini dahulu memulai perjuangannya berjualan jamu dengan menggunakan bakul yang gendong menggunakan kain jarik atau kain gendong batik yang ia gunakan sebagai alat untuk mempermudah membawa botol-botol jamunya. Pekerjaan sebagai tukang jamu ini dia kerjakan dengan penuh ikhlas dan semangat untuk bisa mensekolahkan anak-anaknya untuk kedepannya agar bisa menjadi lebih baik dari pada dirinya yang hanya lulusan SMP.

Dalam menjalani profesinya sebagai tukang jamu keliling tidak lah selalu mudah dan segampang kita lihat. Karena dia harus mendorong gerobaknya mulai dari rumahnya menuju perumahan-perumahan para langganannya yang letaknya saling berjauhan.

Sebelum menggunakan gerobak hijaunya yang sekarang ini, wanita berambut keriting dan berkulit coklat ini dahulu sempat menggunakan gerobak berwarna merah tapi nasib dari gerobak itu tidak lah lama, karena gerobak itu dihancurkan oleh suaminya ketika suaminya mau meminta uang untuk berjudi tapi ia tidak berikan, maka gerobak itu lah yang menjadi sasaran kemarahannya.

Tapi Mbak Sonny tetap memaafkan suaminya tersebut dan dengan bersusah payah mengumpulkan uang kembali dari hasil berdagangnya kemarin dan uang dari pemberian kedua anaknya untuk bisa membuat gerobak baru yang bisa dia pakai untuk berdagang dan jadilah gerobakan yang sekarang dia pakai. Sifat pantang menyerah dan rasa persahabatan yang dia keluarkan kepada pelanggan itu membuat dia memiliki banyak sahabat, salah satunya keluargaku.

Menurut Anto, anak tertua Mbak Sonny, Mbak Sonny merupakan sosok ibu yang tidak akan ada tandingannya di dunia ini,

emak tuh segala bisa mbak, masak enak, ngurut enak. Pokoknya emak tuh sing ono dua ne mbak hehehe, aku beruntung banget punya ibu kaya emak, selalu memberikan yang terbaik buat aku sama adekku mbak, banting tulang dorong-dorong gerobak keliling-keliling jualan jamu biar aku sama Andi bisa sekolah sampe lulus SMK. Mangkanya sekarang waktunya aku sama Andi gantian buat beriin segala yang terbaik buat emak, walaupun emak gak pernah minta dan pemberian kita tuh nggak akan ada harganya klo dibandingin perjuangan emak buat kita.”

Banyak hal yang selalu Mbak Sonny lakukan untuk keluargaku jika keluargaku sedang mengadakan suatu acara ataupun sedang kesusahan. Ia selalu berusaha menjadi dan memberikan yang terbaik untuk keluargaku, bahkan sampai nenek, tante-tanteku, om-omku dan pakde bude ku kenal dengan dia dan juga senang dengan keramahannya.

Tak pernah ada rasa lelah untuk bisa membuat orang lain senang, karena menurut dia membuat orang senang adalah sesuatu yang menyenangkan dan merupakan pahala untuknya. Mba Sonny selalu bisa membangkitkan suasana jika sedang membosankan, dan selalu bisa menjadi tempat curahan hati untukku dan mamaku, selain selalu memberikan masukan yang menyenangkan dan juga memberikan pendapat yang menenangkan hati.

Selain berhasil membuat anak-anaknya untuk sekolah paling tidak sampai tingkat SMK dan bisa membantu kehidupan keluarganya dikampung, Mbak Sonny juga merupakan salah satu pemilik panti asuhan di salah satu daerah kecil di Solo yang tidak mau dia sebutkan kepadaku.

 

 

takut dibilang sombong mbak, lagian kalo diomongin nanti riya jadinuya. Aku ora gelem.”

Ia membangun panti asuhan ini dengan tujuan agar tidak lagi anak-anak yang merasa kurang kasih sayang karena orang tua yang tidak bertanggung jawab ataupun melengkapi kasih sayang orang tua mereka yang telah tiada.

Selain diisi oleh 25 anak yang terdiri dari lima orang yang bersekolah pada tingkat SMA, tujuh orang anak bersekolah tingkat SMP, sembilan orang anak yang bersekolah tingkat SD dan sisanya adalah anak-anak balita, panti asuhan ini juga menampung para nenek-nenenk dan kakek-kakek yang sudah tidak memiliki kerabat ataupun yang sengaja dititipkan ditempat tersebut. Ada 5 orang tua yang ada di panti asuhan ini.

Aku kasian sama ibu-ibu bapak-bapak itu, gak tega ngeliat hidupnya terlantar jadi inget alhamarhum bapakku sama inget si mbok.”

Selain dari hasil dagang dan tambahan dari sumbangan dari gaji-gaji anaknya, panti asuhan tersebut juga menerima sumbangan suka rela dari masyarakat sekitar dan juga dari para anak-anak yang orang tuanya dititipkan disitu. Tapi dia tidak pernah mematok berapa sumbangan atau berapa dana yang harus anak-anaknya keluar jika orang tuanya ingin dirawat disana.

Mbak Sonny mengharuskan dirinya untuk pulang ke kampung tiap bulan minimal 1 kali, karena dia merasa memiliki tanggung jawab yang besar dikampungnya. Selain dia harus menengok kondisi ibunya, dia juga harus mengontrol dan menengok “anak-anak” dan “ibu bapaknya” di panti tersebut.

Walaupun di sini Mbak Sonny harus bersusah payah mendorong gerobaknya dan menjajakan jamu serta gorengan yang dia bawa keliling menuju rumah-rumah para pelanggannya yang harus menggunakan banyak tenaga tapi semua ini dia jalani dengan rasa sabar serta ikhlas yang sangat besar.

Karena dia merasa dipundaknya ia memikul tanggung jawab yang sangat besar karena nasib para penghunti panti asuhan yang ia miliki dan juga nasib ibu dan keluarganya dikampung bergantung pada seberapa besar penghasilannya di sini.

Selain sebagai tukang jamu dan gorengan, Mbak Sonny juga melayani panggilan dari orang-orang untuk melakukan urut dan lulur tradisional. Dan perlu aku akui bahwa urutan dan luluran yang dilakukan Mbak Sonny itu sangat enak dan bersih.

Karena minyak urut dan lulur yang dia gunakan merupakan racikannya sendiri. Selain menghemat biaya untuk membeli, Mbak Sonny juga yakin, jika ia beli sendiri ia tau apa saja bahan yang dia pakai dan ada atau tidak efek samping untuk kulit pelanggannya. Karena untuk setiap jenis kulit ia bedakan minyak urut serta lulurnya.

Walaupun peluh berjatuhan dan rasa lelah menerpa badannya tapi dengan begitu telaten dia mengerjakan semua pekerjaan ini, dan hasil dari pekerjaan selalu bisa memuaskan para pelanggannya.

Ora nopo-nopo mbak aku capek tapi bikin pelanggan seneng, dari pada aku seneng tapi pelanggan gak puas, nanti kabur meneh pelangganku hehehehe.”

Mbak Sonny selalu menerapkan dalam dirinya dan anak-anaknya selagi masih bisa kita berjalan maka berjalanlah dan berikan yang terbaik untuk semua orang, jika sudah tak mampu berjalan maka duduklah dan buatlah orang lain tersenyum, dan jika sudah tak mampu duduk, maka berbaringlah dan buatlah orang lain tersenyum dan jika kamu sudah tidak bisa lagi melakukan hal apapun, biarkan orang lain melakukan semuanya dan kamu hanya perlu memandangi mereka semua sambil tersenyum manis di surga inilah jerih payahku.

Mbak Sonny itu merupakan sosok ibu, sahabat dan seorang tukang jamu yang tidak pantang menyerah, dia merupakan Kartini 2013 menurutku karena perjuangannya untuk keluarga dan untuk orang-orang yang ada disekitarnya.

Dalam hidupnya dia selalu menggunakan prinsip bahwa dia akan rela menjadi seorang pembantu sekalipun demi memberikan yang terbaik untuk anak dan orang-orang yang dia sayangi disekitarnya.

Karena sifat dan prinsip hidupnya itu lah ia bisa jadi seperti sekarang ini, dia memiliki anak-anak yang selalu patuh, sayang dan juga menghormatinya, dia memiliki ibu dan keluarga di kampung yang sehat, dan selalu mendoakannya dan juga ia memiliki “anak-anak” serta “orang tua” yang selalu bisa membuatnya tersenyum dan melupakan segala rasa lelah dan perjuangannya yang menguras tenaga di Bekasi dengan melihat tingkah laku dan juga senyuman mereka penghuni panti.

Untuk menjadi seorang Kartini itu tidak harus berjuang seperti sosok Kartini dahulu tapi dengan berjuang untuk keluarganya sendiri menurut saya itu sudah bisa dikatakan sebagai seorang kartini.

Dan sosok Kartini modern yang ada didekat saya adalah Mbak Sonny, karena ia rela melakukan apapun demi kebahagiaan orang lain yang ia sayangi.

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s