Kebenaran yang Hilang

Image

Oleh : Serenata Rosalia Leony – 11140110042

 Di dalam rumah yang hanya berubin semen dan berukuran 6×6 itu, seorang Ibu dengan rambut memutihnya tengah menunjukkan foto-foto masa mudanya dulu, masa di mana ia masih memiliki tenaga 100% untuk mencari kebenaran. Ia menjelaskan satu per satu foto tersebut sambil tersenyum kecil, mungkin mengingat bagaimana perjuangan yang terabadikan dalam foto itu.

Rumah tempatnya berlindung dari panas dan hujan itu amat kecil, hanya berbentuk kotak dan lemari yang menjulang tinggi di tengah, memecahnya seakan menjadi dua ruangan. Ruang tamu dan ruang tidur bergabung menjadi satu, sementara ruang lainnya difungsikan untuk dapur. Kamar mandi terpisah dari ruangan kotak itu, bergabung dengan rumah sang empunya kontrakan yang berada di sebelah ruangan.

Jam dinding dengan bahasa Arab berlafalkan “Allah” berdetak, jarum panjang menunjukkan pukul 14.30. Poster-poster berbahasa Arab pun banyak memenuhi punggung lemari yang menjadi pemisah ruangan.

Siang itu, saya datang ke rumah Ruyati Darwin, yang terletak di belahan Jakarta Timur, untuk lebih mengenal bagaimana salah satu sosok dari para pencari kebenaran Mei 1998 itu. Di ruang tamu sekaligus ruang tidur itulah Ruyati juga menunjukkan foto-foto almarhum anak sulungnya, Eten Karyana, yang menjadi salah satu korban tragedi Mei 1998.

Siapa yang menyangka anak sulungnya akan menambah panjang daftar nama korban  Mei 1998 dan kematiannya masih menjadi misteri hingga 2013 ini. Namun, sudah tidak ada kesedihan yang terpampang di wajahnya ketika menunjukkan foto Eten. Mungkin, kesedihan Ruyati sudah lenyap, hilang bersama tanggung jawab Pemerintah Indonesia atas kebenaran kejadian 15 tahun silam itu.

***

Rabu, 13 Mei 1998, Eten Karyana memulai hari-harinya seperti biasa. Pagi-pagi ia sudah mandi, walau awalnya harus berebutan dahulu dengan sang Ibu. Setelah itu, Eten pergi ke sekolah untuk mengajar bahasa Inggris. Siang hari, sekitar jam 12 Eten sudah pulang ke rumah adiknya.

“Sehabis mengganti pakaiannya, Eten pergi ke Jogja Plaza, sekarang mah namanya Mall Citra Klender. Dia nongkrong. Katanya ngeliatin kebakaran,” cerita sang Ibu, Ruyati.

Di depan mal, Eten pun sempat bertemu Cucu, adiknya yang paling kecil dan mereka melakukan sedikit perbincangan sebelum akhirnya berpisah. Sore menjelang, Eten tak kunjung pulang. Awalnya Ruyati tak menaruh perasaan khawatir. Ia berpendapat bahwa tak lama lagi Eten akan pulang. Namun, berita yang disiarkan di salah satu stasiun televisi sore itu memberi kenyataan pahit bagi keluarga Ruyati.

KTP Eten terpampang jelas di layar televisi sebagai salah satu korban yang hangus terbakar di Mall Citra Klender. Sang Bapak pun mendadak histeris. “Eten, Eten..!” seru Darwin tak percaya ketika melihat KTP sang anak di layar televisi.

Eten Karyana dinyatakan meninggal hari itu. Ia berpulang kepada Yang Kuasa karena menjadi salah satu korban tragedi Mei 1998 dari sekian ratus lainnya.

***

“Yang paling saya ingat dari Eten ya dia ajarin saya bahasa Perancis, bahasa Inggris. Hubungan kita juga harmonis sebagai kakak adik,” kata Cucu ketika ditanya bagaimana Eten sehari-hari.

Pertemuan terakhirnya dengan Eten terjadi di depan Mall Citra Klender pada Rabu, 13 Mei 1998. Saat itu ia melihat almarhum Eten tengah berdiri di tengah kerumunan sambil merokok. Mereka sempat berpapasan dan saling sapa.

“Pembicaraan terakhir itu dia tanya kamu ngapain di sini? Aku bilang cuma lihat aja. Terus dia bilang ya udah kamu jangan ikut-ikutan. Setelah itu aku ke belakang, berdiri di trotoar,” kenang Cucu.

Menurut Cucu, sebagai seorang kakak, Eten adalah orang yang supel dan perhatian dengan adik-adiknya.

“Sebagai kakak dia supel, perhatian sama adik-adiknya. Kita punya kesamaan. Dia mengajarkan aku tentang musik, kita sering ngebahas bersama tentang musik,” ucap Cucu.

***

“Suasananya sangat mencekam,” ujar Yoseph, saksi lain dari tragedi kerusuhan Mei 15 tahun silam. Lelaki berumur 70-an itu menerawang, mengingat kembali masa lalunya saat huru-hara itu berlangsung.

14 Mei 1998, siang hari, Yoseph yang kala itu menjabat sebagai wakil ketua salah satu yayasan pendidikan masih masuk kantor seperti biasa di daerah Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Dari dalam ruangannya, ia melihat orang-orang kampung menjarah toko meubel milik etnis Tionghoa yang terletak tepat di depan kantor.

“Mereka bawa keluar organ beramai-ramai. Saya pikir brengsek sekali orang-orang ini, barang orang lain kok diambil,” ujarnya marah. Rasa kesal masih terdengar jelas dari suaranya.

Kerusuhan Mei 1998 memang menjadi satu guratan tinta hitam bagi sejarah bangsa Indonesia. Saat itu masyarakat dilanda krisis moneter. Harga rupiah turun, membuat barang-barang pokok menjadi mahal sementara uang yang dimiliki tidak sebanding dengan harga barang.

Akibatnya, salah satu etnis yang merupakan bagian dari bangsa ini menjadi incaran amukan massa. Saat itu etnis Tionghoa dianggap sebagai masyakarat yang berkecukupan dibandingkan etnis pribumi. Orang-orang yang saat itu dengan amat mudah diprovokasi menjadi sasaran empuk untuk dipengaruhi oknum-oknum tidak bertanggung jawab.

Namun tidak hanya etnis tertentu saja yang terkena amukan massa. Masyarakat miskin pun menjadi incaran. Mereka yang hidupnya kurang berkecukupan dengan mudahnya dipengaruhi untuk menjarah di mall, salah satunya Mall Citra Klender.

Menurut TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta), melalui keterangan saksi, ada kelompok tertentu yang memengaruhi masyarakat sekitar Mall Citra Klender untuk masuk ke dalam. Setelah ratusan orang terkumpul di dalam, mall ditutup dan dikunci dari luar. Beberapa orang itu membawa jirigen berisi minyak tanah dan membakar mall berisikan orang-orang tersebut.

Kejadian pembakaran mall tidak hanya terjadi di Mall Citra Klender saja, tetapi  terjadi juga di Mall Slipi Jaya.

“Saya lihat awal mula gedung itu terbakar (gedung Slipi Jaya) karena siang hari itu saya jalan kaki lewat situ untuk jemput anak saya yang sekolah di Tarsisius I. Banyak sekali orang di gedung itu. Mereka menjarah juga. Tapi yang paling banyak anak-anak kecil, anak kampung. Tapi yaa… Mereka akhirnya terbakar,” kisah Yoseph yang melihat langsung ketika mall Slipi Jaya terbakar.

***

Kepala Divisi Pemantauan Impunitas Kontras (Komisi Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan), Putri Kanesia mengatakan gejolak reformasi sebenarnya sudah dimulai sejak 1997. Gejolak reformasi itu ditandai dengan penghilangan secara paksa aktivis-aktivis.

Selama 1997-1998 sebanyak 23 aktivis diculik dan hanya sembilan orang yang kembali sedangkan satu orang meninggal, dan 13 lainnya masih belum kembali hingga saat ini.

Sebenarnya kerusuhan pada Mei 1998 saat itu tidak hanya terjadi di Jakarta saja, tetapi juga serentak di kota-kota besar lainnya seperti Palembang dan Surabaya. Mall Citra Klender atau dulunya disebut Jogja Plaza menjadi salah satu konsentrasi pembakaran di Jakarta.

“Pelakunya siapa? Jadi menurut TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta), hasil laporan mengatakan bahwa pelaku diduga tidak berseragam, tapi berbadan tegap, rambut cepak, dan memakai sepatu seperti sepatu lars,” kata Putri.

Jumlah korban saat itu tidak bisa ditentukan secara pasti dengan angka, yang pasti mencapai ratusan.

Pasca kejadian Mei 1998, Kontras segera mengambil tindakan. Mereka terus mendorong TGPF untuk bekerja dan mendorong Komnas HAM untuk melakukan penyelidikan.

“Untuk masalah pelecehan perempuan, ditangani oleh Komnas Perempuan. Kontras sendiri menangani kasus ini dalam skala umum. Artinya kita tidak spesifik untuk kasus perkosaannya saja, tetapi secara keseluruhan,” ujar Putri.

Sampai saat ini, hal yang sudah dilakukan Kontas di antaranya adalah meminta Komnas HAM untuk membuat sertifikat pernyataan orang hilang. Sebab, keluarga amat susah ketika harus mengurus data keperdataan karena tidak adanya data keluarga yang hilang ini.

“Misalnya seperti istri Wiji Thukul, waktu itu mau pinjam uang ke bank, kemudian pihak bank tidak kasih karena tidak ada nama suaminya dan dia tidak tahu keberadaan suaminya. Kalau sudah meninggal kan ada surat kematian, tapi kalau orang hilang tidak ada yang membuktikan dia hilang,” kata Putri.

Sipon, istri Wiji Thukul kala itu sampai harus membawa artikel mengenai suaminya yang hilang kemana-mana agar mudah jika ingin melakukan perdataan. Untuk itulah, Kontras dan korban berinisiatif untuk ke Komnas HAM dan mendesak agar korban dibuatkan sertifikat pernyataan orang hilang.

Selain membuatkan kelurga korban sertifikat orang hilang, Kontras juga bekerja sama dengan Ikohi (Ikatan Orang Hilang) untuk beberapa saat sekali mengadakan temu korban. Acara ini hanya lintas korban saja untuk mengajak mereka berbagi, saling tahu bahwa mereka bukan satu-satunya korban dari tragedi Mei 1998 itu.

Dan yang sampai sekarang masih rutin dijalankan adalah aksi tahunan yaitu berupa penebaran bunga di Mall Citra Klender tiap 12 Mei dan aksi kamisan di depan Istana Negara yang dilakukan setiap minggunya.

***

Kerusuhan Mei 1998 merupakan salah satu peristiwa bersejarah yang paling mendominasi perkembangan masyarakat Indonesia hingga saat ini. Lima belas tahun terlewati bukan berarti masyarakat bisa melupakan kejadian tersebut begitu saja. Terlebih lagi masih banyak misteri yang belum bisa dipecahkan hingga detik ini.

Menurut Iding R. Hasan, Dosen Sosiologi Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara, kemarahan massa saat itu sebenarnya bukanlah pada etnis tertentu. Massa yang baru saja merasakan kebebasan, bisa diumpamakan seperti keran air yang baru saja dibuka.

“Ketika itu pintu demokrasi baru dibuka. Jadi, tadinya kan kebebasan itu sangat susah, tertutup, lalu dibuka secara mendadak. Seperti air yang di keran, tiba-tiba dibuka, langsung tumpah keluar,” ujar Iding.

Masyarakat Indonesia yang sudah dikekang selama 32 tahun tiba-tiba memiliki kebebasan hingga menimbulkan euforia dadakan. Sayangnya, euforia dadakan itu tidak berangsur menjadi sesuatu yang positif melainkan sesuatu yang negatif yaitu aksi anarkis.

Kebencian masyarakat terhadap rezim Orba pun sudah tak bisa dibendung lagi. Etnis Tionghoa yang saat itu dianggap mendapat keistimewaan menjadi sasaran empuk. Padahal, menurut Iding, tidak semua etnis Tionghoa saat itu diberikan keistimewaan. Hal itu hanya berlaku untuk beberapa orang dan kaum konglomerat saja. Namun, emosi menutup mata manusia.

“Kalau misalnya ada, ya katakanlah etnis Tionghoa yang jadi korban, itu sebetulnya juga efek dari kebencian masyarakat pada rezim Orde Baru, yang menurut mereka seolah-olah etnis Tionghoa itu mendapatkan semacam keistimewaan. Meskipun hanya beberapa orang dan konglomerat. Tapi pokok kebenciannya ya pada Orde Baru,” lanjut Iding.

Dibandingkan dengan masyarakat tahun 1998, masyarakat pasca reformasi kini sudah tidak seperti dulu lagi. Jika merasa dikekang, masyarakat sudah bisa melawan. New media menjadi pengaruh paling besar dalam perubahan masyarakat kini. Terbukanya jendela dunia seperti membuka pikiran masyarakat bahwa kepemimpinan yang otoriter sudah bukan zamannya lagi. Sekarang adalah zaman demokrasi.

Namun, dalam setiap kebebasan yang ada tentulah akan ada gesekan satu sama lain. Tidak semua orang menerima adanya perbedaan dan demokrasi. Menurut Iding, hal inilah yang bisa memicu konflik dan aksi anarkis di masa depan.

“Kalau sekarang memang terjadi juga beberapa aksi kekerasan dan sebagainya, tapi itu lebih karena memang belum tercipta budaya demokrasi yang benar di kalangan masyarakat. Jadi, bukan karena efek kebencian seperti yang dulu itu,” ujar Dosen Soskom UMN itu.

Menurut Beliau, budaya demokratis adalah budaya yang siap menang dan siap kalah. Namun, saat ini masyarakat Indonesia belum bisa menerima kekalahan. Untuk menumbuhkan rasa solidaritas yang tinggi seperti itu, tidak hanya usaha Pemerintah saja yang diperlukan, kesadaran masyarakat pun sangat dibutuhkan.

***

Kamis, 16 Mei 2013, udara sore itu terasa amat terik, tetapi tidak mematikan semangat para peserta aksi kamisan. Beramai-ramai mereka memakai kaos dan payung hitam dalam diam. Puluhan polisi berdiri di hadapan mereka, berjaga-jaga, sementara ratusan lainnya duduk di taman Monas. Puluhan wartawan pun tak ketinggalan, mereka sibuk memotret dengan kameranya baik dari depan maupun dari belakang.

Ibu-ibu, bapak-bapak, maupun anak muda itu berdiri dengan spanduk yang diletakkan di jalan. Spanduk itu berisi foto dan nama-nama korban yang meninggal, di antaranya korban yang meninggal di Mall Citra Klender. Di spanduk itu terdapat pula foto anak sulung Ruyati, Eten Karyana.

Seperti namanya, kamisan dilakukan setiap hari Kamis. Aksi diam ini dilakukan di depan Istana Negara untuk memeringati Pemerintah bahwa masalah ini masih belum tuntas. Dalam kamisan itu, mereka berharap dapat dipertemukan dengan kebenaran dan keadilan.

Ruyati adalah salah satu Ibu korban yang masih memiliki semangat tinggi sampai saat ini walau umurnya sudah mencapai kepala enam. Ia masih rutin mengikuti aksi penebaran bunga setiap tahun, aksi kamisan setiap minggu, dan ia pun tergabung dalam beberapa organisasi untuk korban Mei 1998.

“Keinginan saya supaya masalah ini bisa dituntaskan, bisa ketahuan gitu ya, siapa pembunuhnya,” ujar Ruyati dengan logat Sunda-nya yang masih kental.

Kerusuhan kala itu pertama kali dipicu oleh penembakan empat mahasiswa Trisakti, Elang, Hafidhin, Hendrawan, dan Heri. Mereka ditembak aparat pada 12 Mei 1998.

Sejarah kelam Indonesia di 1998 tidak hanya berhenti di bulan Mei. Mahasiswa terus melakukan aksi perlawanan walau Presiden Soeharto sudah turun pada 20 Mei 1998. Tragedi penembakan massa oleh aparat seolah bersambung di bulan Mei dan lanjut pada Tragedi Semanggi I pada November 1998 dan Tragedi Semanggi II pada September 1999.

Eten Karyana merupakan satu dari ratusan orang tak bersalah yang meninggal pada Mei 1998, menambah panjang daftar korban. Sampai detik ini, setelah 15 tahun kejadian, keluarga belum menerima kejelasan apa-apa tentang siapa nama yang bertanggung jawab atas kebakaran itu. Beberapa bahkan sudah kehilangan semangat dan memilih untuk mengikhlaskan saja kepergian sanak saudaranya.

Namun, beberapa masih terus bertahan, di antaranya Ruyati Darwin. Mereka masih hidup dalam ketidakpastian hingga detik ini, tetapi tetap menjadi pejuang atas nama keadilan dan tak pernah lelah mencari kebenaran.

***

This entry was posted in Sejarah, UAS. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s