Kembar Tapi Beda di Satu ‘Curug’

“Eh ada uang ni” kata ku meninggi. “Kakaaakkkk!!! Ada uang ni seribuuu!!” lanjutku berteriak, tapi tidak ada yang mendengarku. Aku ‘galau’ antara membawanya atau tidak. Sejenak aku tinggalkan ia. Aku pun berjalan perlahan meninggalkannya di atas bebatuan besar. Kita harus pelan-pelan dan teliti saat berjalan di air terjun pertama yang terkenal dengan nama ‘Sawer’ ini. Kenapa? Karena kolamnya tidak dalam dan banyak bebatuan tajam dan licin. Air terjun pertama ini memiliki tebing yang berwarna kehitaman dan memiliki aliran air yang tidak begitu deras. Selain itu, air di bawahnya pun tidak dalam kurang lebih 1 meter dari telapak kaki kita.

“Ayo kita berenang” sekumpulan pria loncat dan terjun air terjun satunya. “Eh dalam.. Dalam banget ni!” teriak Henoch. “Sedalamnya hatiku Kau pun tahu..” Ocha malah nyanyi. “Weh diem lu nyanyi aja! Bener tahu ni dalam! Nyanyi lagi gue dorong lu ya” kata Rocky sinis. Air Terjun kedua ini berada di celah tebing dan memiliki ketinggian sekitar 50 meter yang aliran airnya lebih deras dibandingkan air terjun pertama. Terlihat dari bawah, air terjun inilah yang paling terlihat indah, dari tebingnya yang besar, luas, dan berwarna kecoklatan, hingga airnya yang berwarna biru – kehijauan, dan tumbuh-tumbuhan yang mengelilinginya.

Air terjun ini kembar tapi beda?!? Dimaksudkan kembar karena air terjun ini berdekatan hanya sekitar 30 meter dan hanya dibatasi dengan bebatuan saja mereka terpisahkan, tapi kalau soal bentuk sangat berbeda. Di mana air terjun pertama lebih dangkal daripada air terjun kedua. Oleh karena itu, para wisatawan tidak dapat berenang di air terjun pertama, tapi bisa untuk bermain air di bawah aliran air dari atas. Guyuran airnya tidak terlalu keras dan bahkan bisa membuat tubuh kita enakan lho, yang tadinya bisa pegal – pegal jadi lebih segar. Kebanyakan para keluarga lebih memilih air terjun pertama untuk diinjaki.

Sedangkan di air terjun kedua, selain panorama yang terlihat indah, air terjun ini cenderung lebih dalam semakin kita masuk ke bawah air terjun, semakin dalam bahkan apabila kita tidak hati – hati apalagi tidak bisa berenang, saya sarankan jangan coba-coba masuk, takut tenggelam, karena semakin dalam masuk, kedalamannya bisa lebih dari 2 meter.

Menurut bapak – bapak penjaga di atas air terjun Cigampea ini banyak sekali monyet-monyet yang terkadang suka mengganggu para wisatawan. Oleh karena itu, para wisatawan dilarang membawa kantong, atau makanan saat turun ke air terjun. Karena dianggap para binatang yang terkenal dengan mistiknya ini kantong-kantong bawaan wisatawan adalah makanan. Saat perjalanan turun ke bawah juga ada tempat refleksi ikan, di mana kita menyelupkan kaki kita di kolam yang memiliki banyak ikan. Terkadang banyak pemilik usaha refleksi ikan ini berlaku curang, dengan hanya mengganti ikan saja atau mengurang air saja dan

Untungnya matahari sedang bahagia dan suka berkedip, waktu baru menunjukkan pukul 08.30 wib, tidak terlalu terik bermain di air terjun ini. Maklum kalau datang agak siangan air terjun ini akan penuh dengan orang-orang. Apalagi di saat hari libur, air terjun Cigampea ini akan penuh dengan wisatawan, baik dalam negeri maupun luar negeri.

“Woy!” teriak lelaki tinggi sekitar 180 cm (Rocky). Kami berempat pun spontan kaget dan menyusulnya ke air terjun yang dapat kami injak dengan kaki telanjang ini. Sesampainya tepat di bawah air terjun tersebut lagi-lagi kita menemukan uang seribuan. Entah dari mana uang itu berasal hingga kami mendapatkan 4 lembar. Kami mengira-ngira uang itu adalah uang para wisatawan yang datang, karena ada satu kelompok dengan 5 orang, selain kelompok kami yang berkunjung ke tempat wisata Curug Ciampea yang terletak di kaki bukit Gunung Salak ini.

“Permisi bu mau tanya, toilet di mana ya?” tanyaku kepada pemilik warung yang satu-satunya terbuka di pinggir air terjun itu. “Oh pada tutup neng, belum buka, palingan entar siangan jam 11-an, orangnya lagi pergi soalnya,” jawab Ibu pemilik warung. “Oalah baiklah, terima kasih ya bu.” Dalam kelompokku ada dua orang perempuan dan tiga laki-laki, yang laki-laki sih bisa ganti baju tanpa harus di kamar mandi, nah kalau perempuan gimana? Mana baju udah basah semua pula. “Udah ganti di mobil saja” sahut Hendri salah satu rombongan. “Ya kali, di mobil malulah koh” tanggapku kepada kakak sepupuku itu. Aku dan Juliana mencoba meneliti seluk beluk di sekitar dan akhirnya kami menemukan satu kamar mandi yang tidak terkunci.

Sambil menunggu aku dan Juliana berganti pakaian, para laki-laki sibuk makan pop mie dan beristirahat di warung sambil ngobrol-ngobrol dengan pemilik warung yang merupakan masyarakat asli di sana. “Oh iya bu, ini kenapa air terjunnya ada dua ya?” tanya Henoch, salah satu rombongan kami juga. “Iya mas, yang satu itu namanya Air Terjun Ciampea, nah satu lagi itu Air Terjun Sawer,” “Lhoh kenapa dinamainnya beda bu? Kan satu tempat. Terus kenapa yang satunya itu dinamain Air Terjun Sawer?” “Karena banyak orang-orang yang suka sawer dari atas mas.” Pembicaraan pun terpotong karena aku dan Juliana telah selesai berganti pakaian.

Kami pun kembali ke villa yang kebetulan dipinjamkan oleh tanteku di sekitar kawasan wisata Gunung Salak Endah ini, yang berlokasi di Desa Gunungsari, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Di mana memiliki enam air terjun (Curug Nangka, Cihurang, Luhur, Ngumpet,  Cigamea dan Seribu), satu pemandian air panas (Gunung Picung) dan satu wisata kawah (Kawah Ratu).

Saat naik ke atas, ada kejadian konyol yang mungkin tidak penting, tetapi kadang kala orang – orang suka melakukannya, saya coba menghitung anak tangganya, “1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12,13,14 huhft, 15,16,17 huhft, 18,19,20, kak cape kak bentar kak (sambil pegangan tembok bebatuan di pinggir tangga), tadi sampai berapa ya kak?” “20”jawab Juliana (kebetulan aku paling muda diantara mereka).”oke lanjut deh ya, 21, 22,23,24,25,26,27,28 (mulai lelah) 29,30 ayo kak istirahat, ini sesuatu lho pegel aku.” “Hem mangkannya udah gak usah diitung, ribet deh kamu.” “Penasaran kak ini anak tangganya ada berapa? Kalau yang di Jawa itu kan 1.250 tuh, apa ya itu namanya lupa aku kak,” “Yang di Jawa mana? Kan ini juga Jawa de”. “Aduh Jawa mana ya, aku ke sananya pas perpisahan SMK kak, pas mau ke Jogja, Jawa Tengah berarti,” “Oh Tawamangu bukan?”. “Iya anda benar, anda mendapatkan uang Rp 100.000,00 dipotong pajak 100% yak, hahaha” semua tertawa konyol. “Ayo kak jalan lagi, tadi sampe mana ya? Hehee” “Waduh kakak juga lupa de, hahaha, udahlah lanjut aja, gak usah diitung, kamu tuh ngitung malah tambah pegel tahu, kan nafasnya gak diatur”.

Mang Amang, begitu sapaannya, beliau adalah salah satu warga desa di sekitar taman wisata yang terkenal dengan Gunung Salak Endah ini. Menurut beliau, taman wisata ini memiliki curug (air terjun yang berbeda-beda) hanya saja yang paling sering didatangi pengunjung adalah Curug Cigampea dan Curug Seribu. Curug Cigampea biasa dikunjungi keluarga yang sedang berlibur dan refreshing, sedangkan Curug Seribu biasa dikunjungi para wisatawan yang suka berkelana atau mencari hal-hal yang baru.

kebanyakan masyarakat di sekitar kawasan wisata Gunung Salak Endah ini berprofesi sebagai penjaga villa dan juga petani. Selain itu, ada hal yang unik juga kebanyakan masyarakat setempat menikah di usia muda, dari duduk di bangku SMA dan bahkan SMP. Saat saya tanyakan pada istri Mang Amang, “Mengapa pada cepat menikah di usia muda ya bu?”, “yah emang mau ngapain lagi dek, toh hidupnya begitu saja, sebagai wanita kan tugasnya di rumah, jadi suami kan yang nyari uang. ngapain sekolah panjang – panjang kalau ujung – ujungnya juga kawin” jawab istri mang Amang. itulah sedikit perkenalan saya dengan salah satu keluarga yang memang asli sana.

Sesampainya di villa, kami merasa lapar dan bingung mau makan di mana, boro-boro makanan fast food seperti KFC, McD atau apa pun itu, pertamina aja jauh, akhirnya kami keluar dan berjalan-jalan sambil mencoba mencari warung sunda, atau apalah, yang jual makanan. Di sana masih sangat asri, pedesaan, banyak sawah, dan pepohonan. Setelah berjalan kurang lebih 1 km, kami menemukan ada warung dan akhirnya kami menanyakan apakah bisa minta tolong dimasakin makanan apa saja, saking laparnya. Kami menunggu kurang lebih 45 menit dan makanan pun tersedia, ada nasi putih, sambal, tempe-tahu goreng, dan sayur sup plus minumanya (teh tawar hangat). Kami bersyukur seenggaknya bisa mengganjal perut, harganya pun terjangkau sekitar seratus ribuan.

Setelah makan kami pun kembali ke rumah, kami melewati jalanan yang berliku-liku dan pastinya banyak “Pak Ogah” sebutan orang-orang yang membantu kendaraan lalu lalang di pertigaan, hingga akhirnya kami kehabisan uang receh. Tiba-tiba Rocky menyeletuk “Eh ini ni uang yang tadi aja buat bayar.” Kami tersentak kaget dan melihat satu sama lain, “Aih tadi uangnya kamu ambil Rock?” tanya Henoch yang sedang menyetir mobil. “Iya hahaha, tadi katanya ko Hendri gak apa-apa buat parkiran, ya udah aku ambil.” Hening sejenak. Benar-benar perjalanan yang santai, kami mengikuti arus saja dan bermodalkan komunikasi dengan masyarakat sekitar ke mana arah menuju Tangerang. Pergi bisa walaupun sedikit nyasar, tapi pas pulang bener-bener nyasar.

Matahari pun terbenam, kami melewati ‘jalan pintas’ menuju Tangerang, di sana kami sempat disesatkan ‘makhluk halus’. “Kak ini seriusan jalannya? Kok berbukit gini sih?” tanyaku mulai sedikit ‘takut’ karena hari sudah menunjukkan pukul 18.00 WIB. “Iya kok kita kan ngikutin arah yang orang-orang kasih tahu aja de” jawab Hendri yang menanyakan jalan ke orang. “Iya ni kok jalanannya aneh ya, kayak galian pasir gini, mana gelap, sepi banget gak ada orang yang lewat” lanjut Henoch. Saat itulah kami mulai melantunkan lagu-lagu rohani sambil berdoa. Hingga akhirnya kami melihat sebuah telaga dan tidak ada jalan lagi. Di tengah telaga terlihat sebuah rumah kosong, gelap, dan tidak ada tanda-tanda kehidupan. Kami langsung memutuskan untuk putar balik dengan kecepatan 50-60 km/jam di tempat yang berliku dan bergelombang itu.

Beruntungnya, kami berhasil lolos dari tempat antah berantah itu dan saat keluar kami sudah ditunggu masyarakat setempat, “Kami kira kalian itu mau kemana kok malam-malam begini ke sana,” “Kami mau ke Tangerang pak, tapi pas masuk ke sana kok gak ada jalan, mentok-mentok ada telaga, mangkannya kami kembali lagi” jawab Henoch. “Untung deh ade-ade ini tidak kenpa-kenapa, baru kami semua mau nyusul kalian, takutnya kalian dimakan binatang”. ”Iya pak terima kasih bapak-bapak, ibu-ibu”. Kami pun pergi meninggalkan tempat tersebut.

Dalam perjalanan kami heboh di dalam mobil, “Ih tadi kaget lho aku, kok tiba-tiba banyak orang di depan itu” tanya Hendri, ”Iya kirain kita mau di marah-marahi karena lewat tempat mereka” lanjut Juliana. “Iya dari awal juga aku udah ngerasa gak enak” kata Henoch. Rocky selama perjalanan tadi hanya diam saja duduk di belakang. “Ini ni kayaknya gara-gara bawa uang saweran kali, jadi apes gini, terus juga pas pulang lupa berdoa kan, pas nyasar baru berdoa. Lain kali kalau mau pergi atau pulang kita berdoa dulu, minta perlindungan Tuhan, dan jangan mengambil apa yang bukan milik kita,” komentarku.

Nama    : Oriza Cintya Sagita

NIM       : 11140110045

Kelas     : A1

Image

This entry was posted in Perjalanan, UAS. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s