Ketergantungan dengan “Nasib”

 Ketergantungan dengan “Nasib”

Vira Mareta (11140110058)

 

 

“crek… crekk..”

“Jrengg… Jrengg..”

Suara petikan korek dan petikan gitar pun terdengar di teras ruangan. Tinggi, gondrong, dan bertato. Seperti preman pasar yang di takuti oleh orang – orang. Tetapi setelah bertanya, apa maksud dan tujuan, dia seperti ingin memberitahukan dengan bijkasana. Renno seoramg pecandu narkoba yang menyadari kalau dirinya adalah seorang yang sangat menyukai obat – obatan terlarang.

Dia bercerita mengapa dia sangat tidak bisa meninggalkan barang haram itu, seperti sayur tanpa garam, yang di umurnya sudah kepala tiga ini dia sangat ingin menjadi manusia yang normal kembali, dia berusaha agar orang – orang dapat mempercayainya lagi, tidak takut kepada dirinya lagi.

“saya gak pernah mengerti kenapa saya gak bisa lepas dari narkoba”

Awalnya bermula dari coba – coba dan kemudian, menjadi ketergantungan dan ketagihan. Dirinya sendiri pun tidak menyangkan dengan apa yang ia lakukan. Apakah terjadi kesalahan di dalam diri keluarganya atau hanya keingin tahuan dari seorang anak yang baru berusia belia.

Di umurnya yang masih 22 tahun, yang baru saja dua tahun lalu lulus dari sekolah menengah atas, Renno sebut saja seperti itu. Renno adalah seorang yang berasal dari keluarga yang baik – baik sebenarnya. Dia adalah sosok orang yang tampan, hidungnya mancung, bijaksana dan tubuhnya yang tinggi besar. 

Siang itu dia pergi ke tempat temannya, hanya dengan tujuan ingin berkunjung dan bercengkrama bersama teman – temannya, ia di tawarkan langsung untuk memakai obat – obatan terlarang yang di tawarkan teman – temannya. Awalnya ia pun tak mau, sehari dua hari setelah setiap hari berkunjung karena ia pun tak tahu apa yang harus ia lakukan karena ia tak melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi. Renno mencoba dengan merokok yang menjadi aktif, terus – menerus tanpa henti. Dan sampai akhirnya pun dia terjerus dengan obat – obatan terlarang tersebut, selain haram dikomsumsi di dalam agama, juga obat – obatan terlarang tersebut dilarang oleh negara untuk dikomsumsi.

Namun, setelah dia mengenal obat – obatan terlarang dia pun menjadi berubah seperti macan yang lapar dan tak tahu arah. Dengan diam – diam dia memakai obat tersebut, awalnya hanya segelintir ganja. Tetapi lama kelamaan banyak zat adiktif lainnya yang dia komsumsi. Hari pun berganti hari tidak dapat dipungkiri Renno menjadi ketergantungan dengan obat – obatan terlarang tersebut. Badannya semakin kurus, wajahnya terlihat kusam, matanya semakin merah dan tubuhnya yang mulai lemah dan menjadi malas, serta emosinya yang menggebu – gebu dan tidak terkontrol.

Tepat pada sore itu ibunya telah membereskan kamar renno, dan ibunya menemukan segelintir daun ganja di tempat tidur renno. Sempat ibunya menanyakan tetapi renno menyangkal

Amarah dan emosi yang tidak terkontrol, semakin nakal dan bengal lelaki ini, pergi pagi dan pulang subuh. Obat haram itu telah merasuki dirinya hingga ke tulang rusuk, gambaran – gambaran dari cat pun terpampang di tubuhnya.

Umurnya pun semakin bertambah tidak ada yang mengetahui bahwa dirinya memakai barang haram tersebut. Ibunya pun kebinggungan karena sifat reno yang semakin berubah dan emosinya yang tidak terkontrol itu, sempat terfikir di benak ibunya apakah karena reno telah memiliki pacar yang dia pacarinya sekarang atau adakah faktor lainnya, tetapi sifat bijak dari seorang anaknya masih tersisa sedikit walaupun emosinya yang sangat tidak bisa terkontrol lagi.

Kemudian setelah dipaksa dan diancam, akhirnya pun renno mengaku bahwa dia mamakai obat – obatan terlarang tersebut dan sudah lama dia memakai obat tersebut.

Selang berganti hari, reno yang memiliki pacar lebih muda dibanding dirinya. Kini reno telah berumur 25 tahun, sedangkan pacarnya baru saja berumur 16 tahun dan masih bersekolah di bangku sekolah menengah atas.  Awalnya ibunya pun terkejut mendengar bahwa dia memiliki pacar yang jauh lebih muda dari dirinya.

“yaudah, kamu kan sudah besar gapapa pacara, asal tahu batasanya. Kamu laki – laki.”

“iyah mah, tenang aja. Renno ngerti kok!.”

Ibunya sempat tidak yakin dengan renno, ayah reno pun yang berasal dari suku padang ini pun sempat tidak setuju karena pacar renno yang bernama Lina ini masih terlalu kecil. Renno sering membawa lina ke rumahnya, baru saja hubungan mereka berjalan satu bulan tetapi parahnya ayah renno menyukai lina, pacar dari renno.

Renno sempat marah dengan perlakuan ayahnya yang sempat merayu lina, tetapi itu terjadi hanya sebentar dan tidak terulang lagi. Satu setengah bulan pun berlalu, renno ingin menikahi lina.

Renno yang berbicara kepada ayah dan ibunya, soal ia ingin menikahi lina. Renno sadar dengan umur lina yang terpaut cukup jauh dan masih muda tersebut. Tetapi takdir dan cinta berkata lain renno ingin cepat – cepat menikah dengan lina.

Ibunya sangat terkejut ayahnya pun juga seperti itu. Tetapi renoo dan lina pun seperti sudah matang untuk ingin segera cepat – cepat menikahi lina, begitu juga lina.

“mah.. pah.. renno mau menikah dengan lina.”

“ah?! Yang benar saja kamu! Liat lina masih kecil!.”

“iya bener mah!! Lina juga mau kok!”

“ngakk!! Mama ngak mau kamu salah jalan”

“ngak mah!”

“mana lina? Kita ngomong sama orang tuanya saja sama linanya juga”

“iya besok lina ke sini pa.”

Ayah dan ibu renno sangat terkejut, tetapi bisa berbicara apa. Namun, renno dam keluarganya pun mendatangi kediaman lina. Dengan wajah penuh pasti tetapi tak dapat dipungkuri jika jantung pun berdetak lebih cepat.

Keluarga renno dan keluarga lina pun bertemu, mereka pun saling berbicara dengan keputusan yang dibuat oleh anak – anak mereka. Waktu pun terus berjalan, keluarga lina pun tak ambil pusing dan tak pikir panjang karean telah menyetujui jikalau anak mereka diminta oleh keluarga renno, dalam arti dipersunting oleh renno.

Renno bertemu dengan lina di sebuah rumah temannya dibilangan tangerang, yang sedang berkumpul. Tetapi awalnya lina bukanlah pemakai, karena renno terus menerus menyuruh lina dan akhirnya dia pun tidak bisa menolak, kemudian lina pun jug menjadi nakal dan susah diatur.

Tak lama kemudian, mereka pun menikah. Pernikahan yang terbilang cukup singkat. Pada tahun 1996 ini, Renno nekat dan dia pun tidak memilki pekerjaan. Selang hari pun dia dikaruniai seorang puteri cantik, dengan keterbatsan renno, istrinya hanya melahirkan di sebuah puskesmas terdekat tepat pukul sebelas malam.

Hari pun berganti hari, Renno yang penggangguran tidak memilki usahanya untuk segera memilki pekerjaan, tetapi istrinya yang bekerja. Renno tidak henti untuk meminum obat – obatan terlarang yang dia beli dengan memakai uang dari orantuanya. Hidupnya semakin hancur tetapi dia tidak menyadari itu. Jangankan rumah, untuk sesuap nasi demi keluarganya saja dia pun tidak sanggup. Tetapi tak lama kemudian renno dan istrinya dikaruniai lagi seorang anak laki – laki.

Walaupun begitu, setiap hari dia mencari barang haram tersebut, dan tatkala dia pun sakauw, dan membuat panik seisi rumah, karena renno dan istrinya yang baru saja dipersunting tersebut masih tinggal serumah dengan orangtua renno.

Di suatu malam, renno mencuri barang – barang berharga milik orangtuanya, dia mencuru televisi dan mesin cuci untuk dijual, karena tidak tahan dengan ketergantungan obat yang telah membuat dirinya sakit dan merasa ada yang kurang. Dia menjual barang – barang tersebut dan hasil dari uang tersebut dibelikannya obat haram itu untuk dia komsumsi sendiri.

Ibu dan ayahnya terkerjut, anaknya terlalu parah dengan sakitnya. Ibunya pun membawa renno ke psikiater dan dokter ahli syaraf yang terkenal di salah satu kawasan ibukota. Awalnya renno tidak mau, tetapi hal tersebut harus dilakukan. Setelah diperiksa terjadi kerusakan dan kelainan syaraf pada diri renno karena, terlalu banyak dan terlalu sering mengkomsumsi obat – obatan terlarang. Dokter ahli syaraf memberikan obat yang harus dibeli dan harus dengan resep dokter.

Setelah mengkomsumsi obat – obatan yang diberikan dokter tersebut renno pun tak kunjung sembuh, hanya tertidur tetapi tidak sembuh juga, sampai – sampai uang orangtua renno pun habis hanya untuk membeli obat tersebut.

Anak renno pun bertambah besar, istri renno tidak tahan dengan perlakuan reno dan ingin meminta cerai. Terjadi perkelahian antara suami istri tersebut, renno yang tidak dapat menahan kontrol emosi tersebut sangat marah dan mnampar istrinya. Istrinya sangat tidak senang atas perlakuan renno tersebut, hingga ibunya renno pun turut campur dalam pertengkaran tersebut, istrinya pun kabur dari rumah dan keluarlah kata – kata yang tidak enak untuk di dengar, ibu renno pun menasehati anaknya, renno tidak terima atas apa yang diucapkan oleh ibunya, dia oun lagsung meninjok ibunya hingga pingsan. Karena rumahnya tertutp tidak ada yang dapat menolong ibunya, renno pun pergi daru rumah mencari istrinya.

Ibunya yang tergeletak, segera ditolong oleh pembantu rumahnya yang sedang bermain bersama anak renno. Tiba – tiba dia melihat majikannya tergeletak dan terdapat memar di bagian kepalanya.

Tindakan renno pun sangat keterlaluan , renno dibawa ke pesantren oleh om nya untuk direhab. Selang beberapa bulan tindakan itu pun hanya sia – sia dan buang waktu. Renno pun tak kunjung sembuh. Malah dia kabur dari pesantren dan kembali ke rumah. Ibunya kaget dan binggung kenapa anakanya sulit untuk disembuhkan.

Renno pun berpisah dengan istrinya, anaknya pun ikut dengan neneknya yaitu ibu renno. Anak renno yang telah bertambah remaja pun mulai mengetahui semuanya. Perlakuan ayahnya dan perlakuan ibunya. Pernah sewaktu renno sedang kumat seperti orang yang kehabisan akal, anak perempuannya pun di maki – maki hanya karena hal kecil saja yang tidak harus terlalu di besar – besarkan, hanya karena makanan ayahnya yang di makan oleh anaknya saja, renno langsug memaki dan memarahi anaknya.

Beberapa tahun kemudian, semuanya pun berubah anak renno yang sudah hampir memasuki sekolah menengah atas pun, memaklumi ayahnya. Tetapi sayang sekali anak renno tidak menyukai ayahnya, karena renno tidak dapat menghasilkan uang. Karena keterbatasan yang dimiliki renno, tetapi sekarang renno pun sangat bijaksana dalam mengambil keputusan walaupun terkadang di dalam dirinya sering memberontak dan terkadang syaraf di dalam dirinya tidak sama apa yang ingin dikatakannya.

Sampai – sampai saudara kandungnya sendiri sangat tidak menyukai dirinya, karena renno tidak dapat berbuat apa – apa yang kerjanya hanya merokok dan meninta uang kepada orang tuanya.

“lo itu kerja! Minta uang mulu sama mama!”

“gak usah ikut campur, bukan urusan lo!”

“idih dikasih tahu juga.”

Orang tuanya dan saudara – saudaranya pun pasrah dan entah harus bagaimana lagi menghadapi renno yang terkadang dia tidak dapat dibetahu dan seenaknya.

“saya sebagai orang tuanya sudah melakukan sebaik mungkin. Kalau anaknya gak ada usahanya juga untuk lepas, tapi dia adalah orang bijak sih. Saya pasrah aja.”

Renno pun sekarang menyadari apa yang dilakukan dirinya, namun terkadang dia lupa tetapi perkembangan dan kemjuannya selama bertahun – tahun bukanlah sia – sia, dia ingin lepas dari jeratan ini, jeratan yang membuat dirinya tidak tentu arah, dan dikucilkan oleh semua orang karena kebanyakan orang takut dengan dirinya, tetapi sosok renno yang disegani membawa berkah kepada orang yang membutuhkan karena sifatnya yang suka menolong dan pemberani.

“saya sadar akan perbuatan saya, tapi itu gak akan buat hidup saya berhenti, dan saya pikir itu takdir nasib saya.”

Namun, sekarang pun renno sedikit – sedikit  dapat bebas dari jeratan yang selama ini menghantuinya walaupun tidak sepenuhnya karena syaraf otaknya yang susah untuk disembuhkan, tetapi dengan tekad dan kuat dia dapat melawan dan mengatasi hal tersebut.

 

 

 

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s