Ketika Negara Lain Lebih Menggiurkan


Image

Oleh Yolanda Tanu Wandira – 11140110052

IBU kalo liat rambut warna merah masih trauma.”

Suara Aminah terdegar disela perbincangan kami. Diiringi suara lalu lalang kendaraan, malam itu Aminah menceritakan kisahnya saat masih bekerja di Arab Saudi. Kisahnya tidak selalu dengan kegembiraan ketika bekerja dengan orang lain.

Aminah adalah TKW asal Garut yang mencoba mengadu nasibnya di negeri orang. Dubai, Arab menjadi negara yang dia sambangi untuk bekerja. Di negara inilah, dia merasakan trauma yang mendalam untuk beberapa bulan. Dirinya hanya bertahan seminggu, sebelum akhirnya dipulangkan ke Indonesia.

“Dulu tidurnya di balkon, bareng sama pembantu lain. Kalo tidur muka saya ketemu kaki dia, muka dia ketemu kaki saya,” ujar ibu asal Garut ini.

Saat itu, Aminah bekerja di rumah Rasyid Alasenip. Majikan perempuannya sempat menjambak Aminah karena makanan yang belum tersaji.

“Dia jambak rambut saya, waktu rambut saya masih panjang cuma gara-gara makanan belum selesai,” jelas Aminah. “Gara-gara rambut majikan saya warna merah, dari situ saya mikir orang yang rambut merah jahat,” tambahnya.

Setelah dipulangkan ke Indonesia, niat Aminah untuk bekerja di luar negeri ternyata tidak pudar. Setelah menetap tiga bulan di Indonesia. Aminah kembali ke Arab Saudi untuk menjadi pembantu rumah tangga melalui PT Ngurapalah. Dua tahun bekerja disana, Aminah menikah dengan Hasan, orang Arab Saudi yang kini statusnya sudah bercerai dengannya.

“Satu bulan ibu pulang ke Indonesia, Hasan bikin visa terus nikahnya disini (Garut). Udah gitu menetap di Arab,” tutur Aminah.

Selama menjadi istri Hasan dari 1990-2008, Aminah sering menemukan TKW asal Indonesia yang kabur maupun disiksa oleh majikan. Salah satunya adalah Amriah, TKW asal Madura ini sempat mengalami penyiksaan fisik. Beberapa bagian tubuhnya disundut rokok dan rambutnya tergunting tidak karuan.

“Dia pake abaya item, kabur dari majikannya. Katanya sih dia pinter Bahasa Inggris terus ngobrol sama calon menantu majikannya, makanya majikannya gak suka, dianggap senang,” cerita Aminah.

Lain halnya dengan Enung, TKW asal Cianjur. Enung bekerja di tetangganya Aminah, beberapa kali Enung mengeluh ingin pulang ke Indonesia.

“Dia mau pulang, terus saya nasehatin. Saya tanya memangnya disiksa? Gaji gak dibayar? Dia jawab enggak semua, saya suruh tahan aja,” tutur Aminah.

Nasehat itu nyatanya tidak mumpan. Pagi harinya sekitar pukul 09.00, Enung sudah mencoba kabur dari jendela lantai dua. “Saya teriak-teriak ketakutan, gak lama tiga mobil polisi datang untuk nurunin Enung,” kenangnya.

Pahlawan devisa yang bekerja di negeri orang lain nyatanya tidak selalu berujung dengan penyiksaan. Beberapa TKI lain justu mendapatkan perlakuan manusiawi dari negara tempat mereka bekerja. Salah satunya Jhony Oktavianus, TKI asal Lampung yang mengadu nasibnya di Taiwan.

ANAK ketiga dari empat bersaudara ini sudah terlalu lama berdiam diri di rumah sejak berhenti bekerja di Lubuk Linggau. Selama hampir satu tahun dia menjadi pekerja di toko sparepart mobil dan motor, namun berhenti bekerja karena merasa tidak cocok dengan keluarga toko tersebut.

Jhony Oktavianus tinggal di Kota Metro. Kota ini berjarak 45km dari Ibukota Provinsi Lampung. Dulu namanya adalah Desa Trimurjo, namun berubah pada Juni 1937. Sebagian masyarakatnya aktif dalam berternak dan membudidayakan ikan. Meskipun Metro terbilang kecil, namun kota ini dikenal sebagai Kota Pendidikan.

Pria kelahiran Lubuk Linggau ini memiliki prestasi semasa SMA. Dia juga terlibat aktif dalam kegiatan OSIS yang diselenggarakan sekolahnya dulu. Voli dan bulutangkis, hobby yang mengantarkannya menjadi seksi olahraga dalam kepengurusan OSIS.

“Dari pada nganggur di rumah mending kerja ke luar negeri aja,” ujar wanita paruh baya itu. Wanita itu adalah ibunya. Namanya Ernawati. Hampir setiap hari wanita berambut sebahu ini berjualan daging di pasar untuk menopang ekonomi keluarga.

“Disana penghasilan lebih besar, gajinya bisa buat masa depan, dapat pengalaman juga,” tambah wanita kelahiran 1965 itu.

Terlintas nikmatnya mendapat gaji lebih besar di luar negeri ketimbang dia harus bekerja di negeri sendiri. Tanpa pengalaman dan pengetahuan apa-apa hanya keinginan merantau dan gaji besar yang terpikir saat itu.

“Ya udah,ok,” ucapnya.

Beberapa hari setelah itu, Jhony bertemu dengan Atun, penyalur tenaga kerja asing yang juga teman senam ibunya. Biasanya Atun menyalurkan tenaga kerja wanita ke luar negeri. Tapi, kali ini berbeda, Jhony menjadi tenaga kerja pria pertama yang berhasil dibantu oleh Atun. Banyak hal yang mereka bicarakan, mulai dari data keberangkatan hingga perusahaan yang akan dipilih.

Beberapa perusahaan penyalur tenaga kerja, biasanya juga mengkhususkan dirinya pada sektor negara tertentu untuk menjadi tujuan keberangkatan TKI. Salah satunya PT Pademangan Semesta Lestari, desa Tejo Agung- Kota Metro. PT ini, khusus memberangkatkan TKI ke Taiwan. Diiringi suara adzan siang. Kantor berukuran 7×9 itu terlihat lengang, hanya terdengar obrolan dua laki-laki yang menunggu di ruang tamu disela perbincangan saya dengan Ngadio, kepala cabang PT tersebut.

“Kita khusus Taiwan, karena kita di Taiwan itu, bos saya orang Taiwan. Anak yang kita kirimkan, setiap hal kejadian apa kita bisa langsung dan lebih tahu majikan mana yang kurang cocok buat anak kita. Anak kita terjamin,” jelas Ngadio.

Ternyata, Jhony juga menjatuhkan pilihannya ke negara Taiwan. Disana dia bekerja di pabrik Horiozon Yacth. Biaya yang dikucurkan untuk keberangkatan kerjanya kali ini terbilang besar. Ibunya harus mengeluarkan tabungannya untuk membiayai keberangkatan Jhony. Setiap tenaga yang dikirim kesini harus mengeluarkan ongkos Rp39 juta. “Kalo biaya saya abis Rp39 juta. Tapi, karena saya pake orang ketiga atau sponsor jadi biayanya tergantung kesepakatan dengan agency Taiwan sama PJTKI di Indonesia,” jelas Jhony.

Namun, pendapat berbeda didapat dari Ngadio. Selisih harga yang terpaut jauh menjadi perbandingan tersendiri dari masalah keuangan yang selama ini dialami TKI. Uang menjadi hal yang sensitive berkaitan dengan keberlangsungan suatu perusahaan.

“Biaya pekerja pabrik, paket Rp23 juta. Kalo lewat sponsor kesempatan buat ambil bisa 25,28,30. Itu kalo orang itu tahu undang-undang, lapor Desnaker mungkin sponsor bisa kena, Rp23  juta itu sesuai UU udah tetap,” terangnya.

BERKAT tabungan ibunya, kini masalah biaya dapat terselesaikan, meskipun terdapat perbedaan harga yang jauh dengan PT Pademangan Semesta Lestari. Pembekalan akhir pemberangkatan (PAP) pun disiapkan. Ruang tempat pembekalan berlangsung terlihat seperti kelas di kampus. Terdapat puluhan kursi kuliahan yang disusun memanjang ke belakang. Ruangan ini cukup menampung sekitar 50 orang tenaga kerja asing.

Di sudut ruangan terdapat proyektor yang memudahkan pekerja yang duduk di belakang untuk melihat gambar yang tengah ditampilkan. Disini, mereka dijelaskan mengenai hak dan peraturan tenaga kerja sekaligus pemahaman tentang perusahaan yang mereka pilih.

“Kayak orang sekolah lagi, dijelasin tentang peraturan dan hak tenaga kerja. Setelah itu, akan ada tanda tangan kontrak kerja dan kembali dijelaskan mengenai perusahaan yang akan menjadi tempat mereka bekerja,” tutur Jhony.

Pembekalan tersebut juga menjelaskan cara penerimaan gaji, penghitungan uang lembur, potongan gaji, pajak, asuransi, biaya tempat makan dan tempat tinggal (sesuai kebijakan perusahaan) serta biaya agency. Semua dijelaskan secara lengkap saat penandatangan kontrak kerja.

11 Juli 2010, pukul 15.00, tepatnya tiga minggu setelah pemilihan pabrik itu. Johny dan tenaga kerja lainnya berangkat menuju Taiwan. “Dulu berangkat satu rombongan ke Taiwan tapi beda perusahaan. Cuma saya sama dua teman saya yang daftar di pabrik Horizon Yacht. Dwi Oktaviansyah dari Lampung, satu lagi Suyitno dari Purwodadi, Jawa Tengah,” ujarnya.

Waktu menunjukkan pukul 08.30 waktu setempat. Bandara Internasional Taipe terlihat begitu hiruk pikuk. Jhony dan rombongan harus kembali menaiki pesawat tujuan Kaohsiung. Kaohsiung merupakan salah satu kota terbesar di Taiwan dan menjadi pusat industri yang maju di Taiwan. Di provinsi ini terdapat China Steel Coorporation, pabrik raksasa yang dikuasai oleh negara dan menguasai hampir sebagian lahan industri di Siaogang. Kaohsiung juga terbilang maju karena terdapat bandara internasional sekaligus layanan angkutan masal MRT yang terbentang sepanjang kota Kaouhsiung melalui jalur bawah tanah.

Setibanya di Kaohsiung, Jhony dan pekerja lainnya dijemput oleh agency Taiwan untuk dibawa ke penampungan.

“Penampungan itu isinya tenaga kerja yang baru datang dan tenaga kerja bermasalah yang gak punya tempat tinggal. Kita nginep disana semalem terus besok paginya berangkat periksa kesehatan,” kenang pria lulusan SMA Kristen Metro ini.

Tenaga kerja bermasalah ini biasanya melakukan kesalahan karena ulahnya sendiri. Beberapa diantaranya ada yang terlibat perkelahian, hamil, atau melarikan diri dari perusahaan. Hal ini membuat mereka harus mendekam di penampungan.

TAIWAN adalah negara yang memiliki kinerja lebih baik dalam membangun hubungan dengan Tenaga Kerja Indonesia dibandingkan dengan negara asia lainnya, seperti Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam, dan Mongolia. Tidak mengherankan jika jumlah TKI yang bekerja di Taiwan lebih banyak dibandingkan keenam negara asia lainnya. Beberapa TKI bekerja di bagian rumah tangga, anak buah kapal, dan manufaktur.

Pabrik Horizon Yacht banyak memperkerjakan tenaga asing dari Indonesia dan Vietnam. 16 diantaranya adalah warga Indonesia dari berbagai daerah dan 9 lainnya adalah warga Vietnam. Sebulan kemudian, pabrik ini memberhentikan 4 pekerjanya karena telah habis masa kontrak dan kemudian mendatangkan lagi tiga pekerja dari Indonesia.

“TKI dikontrak 3 tahun. Kalo 3 tahun tidak betah karena kemauan dia, ya dipulangin. Anak yang rugi karena anak itu udah potongan 1 tahun, semua tergantung anak. Sampai tempat penempatan pun kita tidak boleh memaksakan anak, kamu harus begini, tidak bisa karena anak disana juga terlindung,” jelas Ngadio.

Kendati memiliki kontrak perjanjian dengan perusahaan, tapi perusahaan dapat memberikan perpanjangan masa kontrak bagi pekerja. Beruntung Jhony dipertemukan dengan perusahaan yang memiliki tanggung jawab besar untuk para pekerjanya. Beberapa perusahaan yang tidak bertanggung jawab juga menambah deretan kelam bagi tenaga asing.

Pada 2010, tercatat sekitar 5.495 TKI yang mengalami tindak kekerasan di tempat mereka bekerja. Sekitar 1.097 orang mengalami penganiayaan, 3.500 sakit akibat kondisi kerja yang tak layak, dan 898 mengalami kekerasan seksual dan tidak digaji. Padahal, berdasarkan UU no 3, tahun 2003 mengenai tenaga kerja di luar negeri, disebutkan terdapat upaya untuk melindungi kepentingan calon TKI dalam mewujudkan terjaminnya pemenuhan hak-haknya sesuai dengan peraturan perundang-undangan, baik sebelum, selama, maupun sesudah bekerja.

Mengenai tindak kekerasan yang sering dialami TKI. Kepala cabang PT Pademangan Semesta Lestari, Ngadio mengatakan PT yang bertanggung jawab harus mengambil tindakan berkelanjutan dan bekerjasama dengan pihak pemerintah.

“Kita tentu serahkan ke pemerintahan untuk mengatasi. Kita tidak mungkin tanpa pemerintahan. Ilegal itu yang disiksa karena tidak diakui, dia disana bisa buat onar. Jadi pemerintahan tidak memperhatikan,” ungkapnya.

Dalam kontrak kerja yang disepakati kedua pihak, jelas tertera bahwa jam kerja untuk tenaga asing adalah 40 jam dalam seminggu. Jika di luar itu dinyatakan lembur. Namun, banyak perusahaan “nakal” justru memberlakukan hari kerja mulai dari Senin hingga Minggu tanpa menghitungnya sebagai kerja lembur.

BEKERJA sebagai tenaga kerja asing di pabrik besar menutut Jhony harus mengeluarkan tenaga lebih untuk pekerjaannya itu apalagi dia ditugaskan pada pekerjaan lapangan. ”Nimbang, ngirim, sama markirin kapal udah jadi pekerjaan sehari-hari,” tuturnya.

Pabrik pembuat kapal milik Michael Schumacker dan Lady Gaga ini melakukan tahapan pembuatan secara manual menggunakan tenaga manusia. Hal ini tentu membawa risiko tersendiri bagi Jhony dan pekerja lainnya.

“Yang paling berisiko itu mendongkrak kapal. Kalo kayu pengganjalnya pecah maka kapal bisa jatuh dan hancur karena beratnya mencapai ratusan ton,” ucapnya.

Meskipun pekerjaan yang dijalaninya berisiko, tapi perusahaan ini memberikan fasilitas yang menunjang kehidupan para pekerjanya. Mereka tinggal di kamar berukuran 6×4 meter yang dihuni oleh tiga orang dengan ranjang susun. Kulkas, AC, dan TV berada di ruangan ini.

Biaya mahal yang sudah terkucurkan seakan menuntut Jhony untuk mengembalikan uang milik ibunya.  Gaji bersih Rp5 juta perbulan digunakannya untuk menutupi modal yang telah ibunya keluarkan. Hampir tiga tahun bekerja di negeri orang, kini gaji yang dia peroleh dapat diberikan kepada ibunya dalam waktu satu tahun.

Jika ditanya tentang prinsip yang dia pegang selama bekerja mungkin tidak akan terdeskripsikan secara khusus. Dia datang hanya untuk tujuan awal.

“Saya datang kesini memang untuk bekerja. Jadi, gak peduli apapun pekerjaannya yah harus dilakukan,” ucapnya.

This entry was posted in Profil, UAS and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s