Mata yang Hilang, Semangat yang Bertahan

Eisha Arifah Widyapuspita / 11140110133

Dalam sebuah ruang sederhana yang berukuran 3 x 3 meter persegi itu terdapat komputer tua yang terlihat tidak menyala, kursi kayu yang berserakan, serta meja tua yang terlihat sudah rapuh namun masih kokoh menjadi beban untuk beberapa cangkir-cangkir kopi.

Niko dan Senna masih asyik mengoceh di depan komputer, sedangkan dua kerabatnya, Aris dan Mariana duduk tenang mendengarkan ocehan tersebut tanpa meresponnya sedikit pun.

Tidak ada yang menyadari kehadiran perempuan itu, langkah kakinya pun seolah bagai angin lalu yang memasuki ruangan.

Berdiam diri, itulah yang dilakukan perempuan asing tersebut. Tidak ada satu pun diantara mereka yang mempersilahkan perempuan itu untuk duduk. Canggung menyelimuti dirinya, merasa berada di tempat yang salah.

“Duduk aja mbak, anggap rumah sendiri. Ambil kursinya disana” ucap wanita tua yang datang dari balik pintu dengan membawa secangkir teh hangat seolah dapat membaca gerak gerik perempuan asing.

Tidak ada pilihan lain. Perempuan berbadan kurus dan mungil itu terpaksa mengangkat sebuah kursi kayu yang terlihat berat, dan tidak ada satu pun orang yang membantunya.

“Ya beginilah kalau melihat Tuna Netra sedang siaran” ucap Mariana, seorang perempuan berusia 32 tahun yang tidak bisa melihat sejak lahir.

Ya. Ini adalah salah satu tempat radio streaming berada. It Center For The Blind atau yang biasa disebut dengan ITCFB. It Center For The Blind ini merupakan sebuah radio streaming yang dibentuk pada 19 Juni 2012 dan fokus pada bidang teknologi informasi tuna netra. Tujuan dengan adanya It Center For The Blind ini yaitu ingin memajukan teknologi informasi untuk tuna netra di Indonesia, karena tuna netra di Indonesia sudah tertinggal jauh dengan tuna netra di Negara lain, seperti Malaysia.

Senna Rusli dan Yudi Hermawan

Senna Rusli dan Yudi Hermawan

“Jadi beginilah suasana tempat radio streaming yang juga kita jadikan kantor, studio siaran, dan tempat tidur. Jadi kalau ada rapat sampai larut malam, mereka bisa nginep disini” ucap Senna Rusli (19), penyiar lelaki yang memiliki badan tinggi, kurus, dan juga merupakan kepala radio penyiaran yang sedari tadi tidak berhenti berbicara

Perempuan yang merasa tidak di pedulikan itu pun berpikir. Sebuah ruang kecil, sempit, kotor, dan berantakan ini dijadikan sebuah kantor sekaligus kamar tidur untuk lebih dari lima orang atau bahkan sepuluh orang lebih. Belum lagi untuk menuju ruang tersebut sangatlah susah untuk dirinya, terlebih bagi mereka yang tidak bisa melihat. Tangga besi yang melingkar serta menjulang tinggi, sempit dan kecil harus dilewati bersamaan dengan empat ekor anjing yang terus menggong-gong.

“guk… guk… guk”

Mengapa mereka bisa nyaman berada disini? Berada di tempat yang seharusnya tidak mereka tempati.

“Itu apa? Komputer?” Tanya perempuan tersebut dengan heran.

“Yang mana? Kita kan enggak bisa liat haha” canda Aris Yohanes, seorang tuna netra yang berusia 28 tahun, yang membentuk kantor sekaligus komunitas ini.

“Iya itu komputer, jangan heran, komputer tuna netra kan emang mati, enggak nyala kayak komputer biasanya. Percuma juga kan kalau komputernya hidup, tetep aja kita enggak bisa lihat” sambung mariana.

Dalam seminggu, It Center For The Blind hanya dapat siaran sebanyak dua kali, itu pun dalam waktu-waktu tertentu, tidak seperti radio streaming umumnya. Mereka tidak memiliki uang yang cukup banyak untuk membiayai itu semua, tidak ada satu pun sponsor yang datang. Hanya dengan menjual software khusus tuna netra, jam tangan berbicara, pembersih virus, cd, dan lain sebagainya cara yang mereka lakukan untuk dapat menghasilkan uang. Penghasilan dari penjualan itu pun juga tidak seberapa, tidak cukup untuk memberi makan, uang transportasi atau bahkan memberi upah para penyiar dan anggota lainnya.

Memang hampir semua anggota It Center For The Blind berjenis kelamin laki-laki, tidak sebanding dengan jumlah perempuannya, tetapi disini tidak pernah ada perbedaan jenis kelamin, semua menyatu, selayaknya keluarga.

Yudi Hermawan dan Senna Rusli sedang bermain

Yudi Hermawan dan Senna Rusli sedang bermain

It Center For The Blind ini awalnya hanyalah sebuah grup diskusi yang memang membahas teknologi informasi dengan menggunakan jejaring sosial, Facebook, karena sampai saat ini ternyata banyak sekali tuna netra yang mempunyai account Facebook dan aktif disana.

Sebenarnya, It Center For The Blind tidak hanya untuk tuna netra saja, tetapi juga untuk masyarakat luas yang mungkin ingin mengetahui dan mempelajari lebih jauh mengenai teknologi informasi di Indonesia, karena dengan banyaknya orang yang bergabung dan memberikan beberapa informasi mengenai teknologi maka semakin banyak pula ilmu yang diterima oleh para tuna netra.

Mungkin tidak banyak orang yang mendengar radio streaming It Center For The Blind ini, tetapi jangan salah karena ITCFB sudah di jangkau di luar kota, seperti Kalimantan. Beberapa dari mereka para pendengar radio streaming ini adalah tuna netra dan masyarakat pada umumnya.

“Walaupun identitas kita adalah tuna netra, tetapi kita juga berusaha mengedukasi teman-teman yang non-tuna netra. Kita tetap bersosialisasi kepada masyarakat, contohnya kita pernah mengundang komunitas kopaja dan sahabat 5 cm untuk jadi bintang tamu” ucap niko hermawan, penyiar yang berbadan besar.

“Kamu juga harus tau untuk menjadi tuna netra sejati itu ada dua, kalau enggak nyasar ya jatuh. Kalau tuna netra belum pernah nyasar dan jatuh, ya itu sih enggak bisa dibilang tuna netra” canda Senna Rusli.

Niko Hermawan yang memiliki nama asli Yudi Hermawan atau yang akrab disapa dengan wawan ini adalah orang yang bekerja di bagian marketing It Center For The Blind. Apa yang salah dengan nama Yudi Hermawan? Nama tersebut tidak buruk atau terdengar aneh sama sekali.

“Niko Hermawan?” ucap perempuan asing itu.

“Oh iya, kamu belum tau ya, Niko Hermawan ini nama samaran Yudi kalau lagi siaran. Gaya banget dia” celetuk Senna Rusli yang merupakan partner Yudi saat siaran radio streaming.

Nama Niko berasal dari teman-teman tuna netranya. Yudi sendiri pun mengaku tidak pernah tahu kenapa nama yang ia gunakan adalah Niko, bukan yang lainnya, karena nama Yudi sendiri pun tidak pasaran atau bahkan jelek. Dengan adanya nama samaran tersebut ia merasa bersyukur, karena jika terdapat kesalahan pada saat siaran, yang pendengar tahu adalah Niko, bukan Yudi.

“Ada untungnya juga sih aku punya nama samaran, karena kalau aku ada salah ngomong atau nyebelin pasti yang diingat namanya Niko, bukan namaku” ucap Yudi, tuna netra yang berumur 20 tahun.

Yudi Hermawan hanya mempunyai seorang kakak laki-laki yang bernasib sama dengan dirinya, tuna netra. Orangtua Yudi adalah orangtua pada umumnya, bekerja untuk menafkahkan anaknya. Ayah Yudi memiliki bengkel percetakan di Kota Bumi, Tangerang, sedangkan Ibu Yudi adalah seorang ibu rumah tangga yang juga mempunyai bisnis jahit.

“Aku bersyukur karena aku enggak bisa lihat dari kecil, bukan dari umur-umur sekarang ini, karena kalau enggak bisa lihat saat umur sekarang ini ya susah untuk terimanya” ucapnya sambil mengunyah pisang goreng.

Siapa sangka tuna netra yang berbadan besar ini mempunyai keberuntungan yang cukup besar. Yudi ingin seperti remaja biasanya, yang bisa menempuh kuliah. Ia memang tuna netra yang berpendidikan, tidak sekolah di sekolah luar biasa selayaknya tuna netra pada umumnya, ia berasal dari SMP dan SMA Negeri di Cilandak, Jakarta Selatan.

Tekadnya untuk melanjutkan pendidikan ke perkuliahan sangatlah besar, namun hal itu hanyalah angin lalu yang tidak bisa di raihnya sampai saat ini, karena ia tidak diterima di jalur SNMPTN. Tentu saja ia tidak berasal dari keluarga kaya atau miskin, ia hanya berasal dari sebuah keluarga sederhana yang berkecukupan, tidak kekurangan ataupun kelebihan.

Setiap waktu selalu di manfaatkan oleh Yudi dengan sebaik-baiknya. Sembari menunggu pengumuman SNMPT, ia menyempatkan diri melamar pekerjaan di Bank Permata. Namun, siapa sangka keberuntungan yang ia miliki benar-benar terjadi, ia mendapatkan pekerjaan di Bank Permata.

Tiba di titik jenuh terhadap pekerjaan yang ditekuninya, akhirnya ia memutuskan untuk mencoba peruntungan di PT. Pelni dan PT. Astra, selain itu Yudi juga seseorang yang menyukai hal-hal baru.

“Apa salahnya mencoba. Walaupun aku enggak bisa liat tetapi aku selalu optimis sama apa yang mau aku jalanin” tegas Yudi.

Keberuntungan itu memang benar adanya dan memang benar berpihak kepada dirinya. Ia diterima oleh dua perusahaan sekaligus, bukan perusahaan kecil. Sempat banyak pertimbangan, namun atas dukungan keluarganya itulah ia dapat memutuskan apa yang harus ia terima. Keputusan itu jatuh pada PT. Astra, kantor yang berada di belakang Istana Negara. Dua jam adalah waktu yang ia tempuh untuk menuju kantor barunya, tidak ada antar jemput, hanya kendaraan umum dan sebuah tongkat yang dapat ia andalkan.

Di tempat barunya, tidak ada satu pun orang yang membeda-bedakan dirinya. Hanya saja, beberapa penggunaan sarana dan prasana disana di bataskan. Dilema pun berdatangan silih berganti selama dia bekerja dua bulan di PT. Astra.

“Walaupun aku udah ngerasa nyaman ada disini, tetapi ada aja masalahnya. Ada ancaman kontrakku enggak di perpanjang” ucapnya dengan suara mengecil.

Pada tahun 2011 lalu, Yudi Hermawan pernah berada di salah satu stasiun televisi lokal, yaitu Trans TV dalam program World Record. Meski ia tidak bisa melihat, terdapat banyak sekali kegiatan atau komunitas yang ia ikuti, salah satunya adalah komunitas rubiks. Yudi berada di World Record bersama teman-temannya yang normal lagi-lagi hanya untuk mencoba peruntungan dan pengalaman.

Pada saat di World Record, terdapat tiga orang normal yang diharuskan melawan Yudi dalam penyelesaian rubiks tercepat. Ya, lagi-lagi Yudi yang telah berhasil memenangkannya, sebuah kebanggaan tentunya sebagai seorang tuna netra yang dapat dengan mudah mengalahkan tiga lelaki normal.

Seiring jalannya waktu, Yudi pun sempat mempertanyakan masalah hadiah yang harus diterimanya, karena beberapa pemenang lainnya sudah mendapatkan konfirmasi dari pihak World Record, Trans TV, hanya ia satu-satunya yang tidak mengetahui perihal hadiah tersebut.

Geram. Itulah yang dirasakan Yudi Hermawan pada program televisi tersebut. Ia pun mendatangin gedung trans tv, bukan untuk menuntut hadiahnya tetapi menuntut keadilan terhadap dirinya terutama tuna netra. Namun, hal tersebut seperti percuma karena tidak ada tanggapan baik dari pihak televisi tersebut. Berbagai hal sudah dilakukan oleh tuna netra itu, surat demi surat sudah diberikan namun tidak ada balasan.

“Program World Record sudah gulung tikar mas jadi percuma” hanya perkataan itu yang datang dari mulut pegawai televisi tersebut.

Ikhlas. Hanya itu yang harus ia lakukan saat ini. Menurutnya, itulah resiko dalam hidup. Sama dengan resiko dalam pekerjaan, apapun resiko yang akan ia alami nantinya harus di terima dengan ikhlas karena itu semua adalah pemberian dari Tuhan.

Berbagai macam rintangan sudah ia lewati selama 20 tahun. Namun, menurutnya semua hal baik atau buruk dalam hidupnya adalah pengalaman yang menarik, tidak ada yang tidak menarik, karena dalam pengalaman buruk sekali pun ada sesuatu yang menarik dibalik itu.

Yudi Hermawan adalah seorang tuna netra yang sangat optimis dan mempunyai kepercayaan diri yang sangat tinggi. Oleh karena itu ia mempunyai cita-cita untuk menjadi orang sukses.

“Wawan itu mandiri, jadi selama dia masih bisa lakuin ya dia lakuin sendiri. Selain itu, dia juga percaya diri, kekurangan yang ada di dirinya enggak pernah jadi penghalang” ucap Reza Agustiyadi, sahabat Yudi Hermawan sejak SMA.

“Aku ingin menunjukkan kepada masyarakat di luar sana bahwa dengan kondisi aku yang seperti ini, enggak bisa lihat, aku masih bisa hidup dan masih bisa bertahan sampai sekarang” ucap Yudi yang sedang sibuk dengan komputernya.

Yudi bisa berada sampai pada saat ini tentunya atas dukungan keluarganya. Motivasi keluarga yang diberikana kepada Yudi sangatlah berarti. Semua yang Yudi lakukan atau yang ingin ia lakukan selalu di dukung penuh oleh keluarga, tidak ada larangan.

Sampai saat ini Yudi Hermawan, Aris Yohanes, Senna Rusli, dan Mariana Mesah tidak pernah menyesali mengapa dirinya dilahirkan sebagai tuna netra. Mereka cukup bangga, karena mereka merasa tetap seperti orang pada umumnya, yang mempunyai banyak teman, kesana kemari meski adanya hambatan, selain itu mereka juga telah menjadi tuna netra yang mengerti berbagai hal seperti teknologi infomasi. Mereka telah berhasil merubah pola pikir masyarakat di luar sana terhadap tuna netra.

“Jangan pernah memandang para tuna netra dengan sebelah mata, karena mereka juga mengetahui berbagai teknologi, “melek teknologi atau media” seperti masyarakat pada umumnya”

This entry was posted in Profil, UAS. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s