Menelusuri Serunya Permainan di Tahun 90an

“Ayo-ayo dek… Abangnya mau pulang, abangnya mau pulang”, hal itulah yang terlintas di pikiran seorang anak sekolah dasar saat bermain game bot aki setelah pulang sekolah. Dengan hanya bermodalkan 100 rupiah mereka bisa bermain game yang bernama tetris selama 5 menit, sebelum harus pulang kerumah naik antar jemput. Banyak yang mengatakan bahwa permainan di jaman 90an merupakan jaman keemasan dalam bermain dan puncaknya kebahagiaan bagi seorang anak kecil, maka banyak yang rindu dan ingin kembali ke masa-masa itu.

Generasi yang lahir pada tahun 90an lah yang mengenal baik mengenai adegan di atas, bagaimana pola hidup dan kebiasaan mereka sehari-hari, tentu saja saat ini rata-rata mereka sudah duduk di bangku kuliah maupun sudah bekerja. Keadaan yang mendukung, disusul dengan banyaknya tingkat usaha di sektor informal terkait dengan kerajinan tangan, mainan dan sebagainya membuat kita mudah untuk mencari sebuah mainan yang unik, selain itu tingkat kreatifitas dan kemandirian anak di era 90an lebih maju dibandingkan dengan anak-anak jaman sekarang. Bayangkan saja, jaman dahulu kita dituntut untuk bisa menawar harga sebuah mainan, meskipun hanya seorang bocah SD. Oleh sebab itu, untuk mengobati rasa penasaran dan mereview sejenak masa kecil kita, saya mencoba untuk mewawancarai mahasiswa, khususnya mahasiswa yang berkuliah di Universitas Multimedia Nusantara.

Adapun Muhammad Nauval, 20 tahun. Saat ditanya mengenai kebiasaan di tahun 90an hal yang terlintas di pikirannya adalah mengenai adu ikan cupang, dahulu ada beragam jenis ikan yang dijajakan oleh pedagang ikan cupang di dekat sekolahnya. Harganya pun beragam, mulai dari 500 rupiah per ekor hingga 6500 rupiah, tergantung dari kualitas dan bandelnya ikan tersebut paparnya. Setelah membeli ikan cupang di depan sekolahnya, Nauval yang kerap dipanggil Bopeng ini langsung mengunjungi rumah teman sebayanya untuk mengadu ikannya. “Biar cupangnya lebih berani, kalengnya dimasukin ke plastik hitam terus ditaruh di ruangan yang gelap, jangan lupa cupangnya jangan dikasi makan sehari sebelum pertandingan biar makin ganas”, tegasnya.

Memang unsur sosialisasi sangat kental di era 90an ini, anak-anak dituntut untuk mencari teman sehingga dapat melakukan permainan permainan tertentu, dan keadaan sangat berbeda dengan era saat ini dimana kemajuan teknologi dan informasi berkembang sangan pesat, sehingga mendorong anak anak generasi jaman sekarang yaitu generasi 2000an, untuk memiliki sikap individualis dan cenderung untuk berteman di dunia maya, lewat game online biasanya.

Tidak afdol rasanya bila kita tidak membahas mengenai apa permainan yang dilakukan oleh wanita di era 90an, Dina Sagita, 20 tahun misalnya. Mengaku bahwa menghabiskan masa kecilnya di pulau dewata yaitu Bali. Semasa kecilnya, ia menghabiskan waktu dengan bermain kelereng dan bekel bersama teman-temannya dan yang paling membedakan adalah permainan meong-meongan. Sejenak saya berpikir, “Apa itu meong-meongan?”. Lalu dengan raut muka yang gembira karena teringat masa kecilnya, Dina menjelaskan bahwa meong-meongan mengharuskan setiap pesertanya untuk membuat lingkaran, pesertanya terdiri dari 5 sampai 10 orang kemudian di tengah lingkaran itu ada 2 peserta lainnya yang menjadi kucing dan tikus sehingga mereka melakukan adegan kejar-kejaran di dalam lingkaran tersebut. Tidak lupa, peserta yang membuat lingkaran itu diharuskan untuk menyanyikan lagu meong-meong.

Setelah selesai bermain, ia menghabisan waktu untuk jajan di tukang jajanan sekitar. Bukan digunakan untuk makan ataupun membeli segelas minuman, ia malah menghabiskan uang jajanan untuk membeli balon tiup satu renceng. Cara menggunakannya adalah dengan menggunakan sedotan kecil, biasanya sedotan itu berwarna kuning, lalu cairan lengket yang menjadi bahan baku untuk membuat balon itu ditempelkan ke ujung sedotan kecil itu dan ditiup hingga menjadi balon yang besar. Tidak tahu apa kegunaan semestinya, Dina hanya memaparkan bahwa balon itu setelah jadi langsung ditempelkan ke muka temannya sebagai bahan bercandaan karena balon tersebut lengket.

Keadaan tidak jauh berbeda di Singkawang, Kalimantan Barat. Ronny Andika, yang menghabiskan masa kecilnya hingga SMA mengaku bahwa keadaan tidak berbeda jauh dengan di Jakarta maupun Tangerang. Semasa kecilnya ia menghabiskan waktu dengan bermain layangan, “Dulu gue main layangan sama temen-temen di atas genteng, terus ngadu layangan sampe benangnya putus, kalo putus tinggal gue ambil lagi paling nyangkut di pohon tetangga”, ujarnya. Selain itu ia juga bermain robot-robotan dengan temannya, robot yang dimaksud adalah robot yang mengeluarkan suara “Fire-fire”, yaitu robot yang beredar luas di pasaran pada tahun 90an.

Menjelang sore, ia mengajak teman temannya untuk bermain sepeda di komplek rumahnya, untuk mencari teman ia harus memanggil teman dari depan pagar rumahnya sampai temannya keluar. Kemudian mereka berjalan-jalan menggunakan sepeda, tidak kalah penting, dalam suasana sore itu mereka pasti balapan sepeda sampai kepada titik finish yang ditentukan, dalam sore hari itu ia mengaku bahwa dapat balapan berkali-kali tanpa mengenal lelah. “Dulu mah kuat mau 5 lap 10 lap gue jabanin, sekarang satu lap aja udah engap !!”, paparnya.

Tidak hanya mainan lokal saja yang mempengaruhi trend permainan pada tahun itu, melainkan ada pengaruh mainan dari Jepang yang marak di tahun 90an. Yandra Krisna misalnya, seorang mahasiswa yang merangkap profesi menjadi pesulap, ia mengaku saat kecil ia biasa bermain beyblade yang berbentuk seperti gasing namun berasal dari Jepang. Iapun banyak mengoleksi permainan yang berasal dari Jepang pada jaman itu, dimana permainan dari Jepang merupakan sebuah kebanggaan apabila dimiliki oleh seorang anak kecil.

“Gue dulu punya konsol sega, tiap hari gue mainin itu sampe sampe ngebawa pengaruh ke hasil belajar gue, tapi yaudalah. Yang mesti lo inget, kaset sega lumayan mahal tapi seandainya rusak kasetnya tinggal lo cabut dari konsolnya terus lo tiup deh sampe nyala, percaya ga percaya tiupan itu ngaruh hahahahaha”, ujar Yandra. Game-game yang dulu biasa ia mainkan adalah super mario bros, tetris dan sebagainya.

Selain sega dan beyblade, Yandra yang kerap dipanggil Aceng ini juga suka bertaruh menggunakan tazos. Tazos adalah sebuah kepingan bergambar yang terbuat dari plastik, dan gambarnya terdiri dari berbagai macam karakter animasi Jepang yaitu Pokemon, cara bermainnya adalah dengan menepuk kedua tangan yang sudah diselipkan tazos, kemudian dilihat hasilnya. Apabila kepingan gambar menghadap ke atas berarti tazos sang pemilik menang, kemudian bila gambar menghadap ke bawah maka tazosnya kalah, seandainya hasil imbang permainan diteruskan dengan menepuk kedua tangan pemain sampai mendapatkan hasil. Tetapi apabila kalah jangan lupa untuk memberikan satu keping tazos kepada lawan, istilahnya sebagai bayaran. Lalu darimanakah mendapatkan tazos? Tentu saja dapat diperoleh dari membeli sebungkus chiki, cheetos dan sebagainya.

Lupakan soal permainan lokal maupun yang berasal dari Jepang. Saat ini beralih kepada permainan yang berasal dari Eropa lebih tepatnya Denmark, yang sangat terkenal hingga sekarang yaitu LEGO. Anastasia Hilda, 21 tahun, Mahasiswi UMN, mengaku bahwa menghabiskan waktunya dengan bermain LEGO, “Selain buat ngisi waktu luang, LEGO ini juga bisa buat bikin kita jadi kreatif, gimana engga orang baloknya banyak banget sampe pusing ngeliatnya”, ujar Tasya. Namun dirinya lebih suka bermain permainan lokal, misalnya gasing, bekel, serta congklak. Dirinya juga memaparkan bahwa ia sempat menyukai permainan yang rata-rata disukai anak laki-laki pada jaman itu, yaitu kapal congklak yang menggunakan sumbu serta berbahan bakar minyak goreng. “Bunyinya emang berisik banget tapi seru haha”, ujarnya.

Tasya yang bersekolah di salah satu sekolah dasar di Jakarta Selatan ini juga gemar bermain bekel. Bagaimana dengan bekel? “Cara mainnya itu harus nyiapin bola karet sama biji-bijiannya, waktu bolanya dipantulin ke tanah, biji yang terbuat dari besi besi lunak itu diambilin pertama satu-satu terus dua-dua terus tiga-tiga deh, sampe akhirnya sekali lempar bola bijinya harus keambil semua”, jelasnya. Tidak berhenti disitu saja, keseruan dalam bermain seakan-akan membuat kita lupa akan waktu, Ia juga menjelaskan bahwa jangan lupa kalo maghrib pasti harus segera pulang, kalau tidak nanti tahu sendiri akibatnya, pasti dimarahi orang tuanya.

Adapun Rizal Divari, seorang mahasiswa UMN jurusan Public Relation, dirinya sering bermain permainan tradisional semasa kecilnya. Dirinya kurang menyukai permainan-permainan yang hanya bisa dimainkan oleh segelintir orang, melainkan suka dengan permainan yang melibatkan banyak orang, contohnya benteng dan gobak sodor atau yang biasa disebut galaksin. “Lebih enak rame rame, kalo orangnya dikit ga seru”, tegasnya. Rizal sering bermain benteng seusai sekolah, bahkan dirinya sering bermain dengan teman temannya hingga menjelang maghrib sampai dicari orang tuanya.

Cara bermain benteng ini sangat mudah, yaitu sampai melibatkan minimal 10 orang. Lalu kemudian dibagi menjadi dua grup, masing-masing terdiri dari lima orang bahkan lebih, cara menentukan pemain harus ke grup mana ditentukan melalui hompimpa ataupun dengan suit sehingga pembagian kelompok dapat dibagi seadil-adilnya. Setelah kedua tim dibagi, masing-masing memiliki tujuan utama yaitu dengan merebut benteng musuh, biasanya benteng ini berbentuk tiang ataupun tembok lancip yang sudah ditentukan dan disepakati bersama sebelumnya. Untuk merebut benteng musuh, kita harus menyentuhnya tetapi dengan ekstra hati-hati, apabila tersentuh oleh pihak lawan maka kita bisa tertawan dan ditahan di benteng musuh.

Tidak lupa kita harus meneriakkan kata “Benteng” ketika berhasil menyentuh benteng musuh, tawanan juga dapat dibebaskan ketika kita berhasil menyelinap ke benteng musuh kemudian menyentuh teman kita. Tentu saja permainan ini tidak terlepas dari teknik, strategi dan kecepatan berlari masing-masing peserta.

Kemudian mengenai gobak sodor, dengan nada yang terbata-bata karena sedikit lupa, Rizalpun akhirnya mulai menjelaskan mengenai permainan ini. “Kalo gue bilang nama gobak sodor itu galaksin, cara mainnya ya lumayan susah. Kita mesti lari kegaris paling belakang terus balik lagi ke garis awal ngelewatin petak-petak, tapi awas!! Jangan sampe kena sama yang lagi jaga misalkan kena yaudah tim yang jaga dapet poin, 1-0 deh. Pokoknya terus gitu, kena jaga kena jaga terus aja ampe maghrib…”, paparnya. Selain bermain gobak sodor dan benteng, Rizal juga gemar bermain bola dengan teman sebaya di komplek rumahnya, sampai sekarang walaupun tidak sesering dulu bermain bolanya, Rizal yang selalu memegang posisi sebagai penjaga gawang ini masih gemar bermain bola atau dalam istilah saat ini sepakbola ruangan yaitu futsal, bersama dengan teman temannya baik itu teman kampus maupun teman mainnya semasa SMA dulu.

Ada juga sebuah permainan tradisional yang menggunakan alat yang terbuat dari karet, Villy, 21 tahun, gemar bermain karet semasa kecilnya. Karet yang dirangkai menjadi sebuah tali tebal ini merupakan mainan yang digemari oleh anak perempuan di jaman itu, bahkan sampai ditaruh kedalam tas untuk dimainkan di sekolah selama jam istirahat. “Tali karet dipegang dua orang terus ada dua orang lagi yang ngeloncat-loncatin, tapi tinggi rendahnya karet itu bertahap, mulai dari kaki, naik lagi ke dengkul, pinggang sampe akhirnya karet harus diloncatin setinggi kepala, itu harus bisa diloncatin semua. Kalo ga bisa ngeloncatin karet itu nanti harus jaga megangin karetnya”, ujarnya. Permainan ini hanya dapat dimainkan minimal satu kelompok yaitu dua orang.

Saat ini teknologi sudah berkembang pesat, permainan-permainan yang merajalela seakan-akan menjadi angin lalu sekaligus menjadi obat rindu hanya sebagian kalangan yaitu yang lahir di tahun 90an. Kita dapat menemukan permainan-permainan ini di sekolah-sekolah dasar tertentu, karena tidak semua sekolah dasar memiliki permainan bahkan jajanan yang sama dengan yang terdapat di generasi 90, karena pada saat ini anak anak kecil sudah dimanjakan dengan teknologi dan bahkan cenderung individualis karena hanya membutuhkan sebuah konsol, bukan teman teman untuk bermain. Oleh sebab itu janganlah melupakan permainan-permainan yang terdapat di tahun 90an karena secara tidak langsung hal itulah yang membentuk pribadi kita saat ini sebagai generasi 90 lewat proses sosialisasi yang kaya melalui permainan-permainan yang kita mainkan saat itu.

Nama       : Aloysius Primasyah Kristanto Putra

NIM         : 11140110170

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s