Mereka yang Menjarah, Membakar, dan Menolak Lupa

Mereka yang Menjarah, Membakar, dan Menolak Lupa
Sebuah Kisah Kelam dari Karawaci

Oleh Nicko Purnomo

“Tragedi waktu itu namanya pembakaran, bukan kebakaran,” ungkap Silvia Margaretha.

Wanita berusia 43 tahun itu masih ingat betul mengenai tragedi penjarahan serta pembakaran Mega Mall Lippo Karawaci. Saat itu, ia masih bekerja sebagai sekretaris di perusahaan outsourcing yang berlokasi di Jakarta. Ia sendiri tinggal di Palem Semi, sebuah kompleks perumahan yang jaraknya tidak jauh dari kawasan Mega Mall Lippo Karawaci, tempat kejadian perkara.

Mega Mall Lippo, begitulah para warga sekitar Tangerang menyebut mall ini. Berdiri sejak 1992, Mega Mall Lippo sudah menjadi tempat idola bagi warga Tangerang sebagai sarana untuk mencari hiburan. Jelas saja, Mega Mall Lippo merupakan mall pertama yang berdiri di kawasan Tangerang.

“Jika diingat-ingat lagi, dulu itu Mega Mall Lippo merupakan tempat untuk mencari hiburan serta kebutuhan pokok,” tambah Silvia.

Awalnya, luas wilayah Mega Mall Lippo hanya sekitar 32.000 m2. Namun, akibat tingginya antusiasme warga Tangerang terhadap mall ini membuat pihak pemilik menambah luas wilayahnya. Sekitar 40.000 m2 ditambahkan sehingga Mega Mall Lippo memiliki luas total 72.000m2.

Peristiwa penjarahan dan pembakaran tempo lalu akhirnya mengubah nama mall ini. Lippo Supermall, mungkin nama ini yang acap kali terdengar di telinga kita pada masa sekarang. Namun, tahukah anda bahwa ada misteri yang lama tersimpan dalam sebuah nama “Mega Mall Lippo”. Sebuah misteri yang tidak mungkin dilupakan oleh warga Tangerang.

***

Dalam sebuah artikel di internet, dijelaskan secara rinci tentang bagaimana kronologi kejadian. Ada berbagai versi cerita beredar mengenai tragedi pembakaran Mega Mall Lippo. Hari itu, 12 Mei 1998. Pukul 14.00, para penjarah sudah bersiap mengitari sekitar kawasan Mega Mall. Teriakan demi teriakan diiringi dengan lemparan batu seolah menjadi pertanda awal dari serangkaian peristiwa kelam. Para penjarah tampak sudah haus akan barang-barang yang berlimpah di dalam mall. Mereka tampak seperti kerasukan.

Penjarahan pun akhirnya dilakukan. Hampir setiap sudut Mega Mall ludes dijarah.

“Mungkin saat itu daerah yang kini menjadi E-Center mengalami dampak terparah,” ucap Silvia.

 Para penjarah nampak seperti kesetanan dalam menjarah. Ada yang menggunakan troli untuk mengangkut barang, ada juga yang menggunakan becak. Bahkan ada juga yang mampu membawa kasur ukuran 1,8 meter secara sendirian. Terlihat pula seorang ibu yang mampu mengangkut kulkas dua pintu seorang diri. Suatu hal yang tidak bisa diterima oleh akal sehat dan logika, tetapi inilah kenyataannya. Para penjarah menjadi kalap akan berlimpahnya barang-barang yang ada di sekitar mereka.

***

Tahun 1998 merupakan tahun kelam bagi bangsa Indonesia. Protes mahasiswa yang merasa kecewa dengan pihak pemerintah tak bisa dibendung lagi. Demonstrasi terjadi di mana-mana, bahkan terjadi hampir di seluruh daerah di Indonesia. Daerah yang menjadi sorotan adalah Jakarta, ibukota negara, pusat perekonomian Indonesia yang sedang berkembang.

Bulan Mei tahun 1998 merupakan puncaknya. Massa semakin liar dan tidak terkendali. Amarah dan kekesalan seolah membutakan mata mereka. Selain Jakarta, Tangerang  merupakan salah satu kota yang juga terkena dampaknya. Kota yang tidak jauh dari Jakarta ini pun mengalami dampak kerusuhan yang sangat besar. Beberapa pasar dan toko di Tangerang dibakar dan dijarah. Dapat dikatakan, Mega Mall Lippo adalah salah satu contoh nyatanya.

Jika kita putar ulang kembali ingatan ke masa-masa sebelum tahun 1998, Mega Mall Karawaci merupakan sarana hiburan utama bagi warga Tangerang. Hampir seluruh penduduk di wilayah Tangerang menjadikan Mega Mall Karawaci sebagai destinasi liburan. Selain itu, pengunjung Mega Mall Karawaci merupakan kalangan menengah ke atas pada masa itu.

***

Salah satu versi di internet mengatakan bahwa penjarahan dan pembakaran tersebut merupakan hal yang sudah diatur. Dua bulan sebelum peristiwa pembakaran dan penjarahan ini atau lebih tepatnya pada 1 Maret 1998, terjadi pertemuan di tubuh KOPASSUS. Konon, aksi kerusuhan yang terjadi pada Mei 1998 tidak lepas dari peranan Komandan Jenderal KOPASSUS dan Panglima Kodam pada saat itu. Dukungan dari sang empunya negara saat itu pun disinyalir menjadi penyebab tragedi penembakan, penjarahan, dan pembakaran.

“Kalau menurut saya, pasti ada kaitannya. Cuma untuk lebih pastinya, saya tidak berani asal bicara. Hal ini masih menjadi misteri negara,” ujar Frans yang pada kala itu bersembunyi di salah satu wilayah di Tangerang.

Frans harus bersembunyi lantaran ia merupakan salah satu keturunan etnis Tionghoa. Seperti yang kita ketahui, etnis Tionghoa menjadi sasaran utama pada Kerusuhan Mei 1998. Penjarahan, pembakaran, dan pemerkosaan terhadap etnis Tionghoa sangat marak dilakukan pada masa-masa kritis itu. Frans bahkan harus mengecat pintu depan tokonya yang berada di Balaraja dengan tulisan ‘Milik Pribumi’ dan meminta bantuan salah satu tukang becak yang berada di tokonya untuk mengakui bahwa toko itu dimiliki oleh si tukang becak.

***

13 Mei 1998. Pukul 06.00, Silvia berangkat menuju kantornya dengan diantar oleh suami. Terekam sangat jelas dalam ingatan Silvia, begitu banyak mayat yang hangus terpanggang di dalam Mega Mall, tergeletak di sekeliling kawasan mall.

“Jadi dulu itu, mayat yang terpanggang di Mega Mall itu ditaruh di luar dulu, dan kalo diliat, semuanya hangus terbakar,” ucap Silvia.

“Para korban beneran hangus. Hitam semuanya. Seluruh tubuh dari ujung kepala sampe kaki semuanya hangus. Benar-benar hangus. Bahkan dalam tubuhnya masih mengeluarkan asap ,” tambah Silvia.

Pada malam harinya, Silvia pun kembali ke rumahnya di Palem Semi. Beberapa jenazah yang sudah hangus terbakar itu sudah tidak ada di lokasi seperti tadi pagi.

“Saya kira pada siang hari semua jenazah sudah dipindahkan, karena tadi pagi suasana di sekitar mall memang cukup mencekam,” tutur Silvia.

Belum ada kepastian berapa jumlah mayat yang tergeletak di sekeliling mall. Namun, diperkirakan kurang lebih ratusan mayat dibiarkan tergeletak dengan kondisi hangus terbakar. Ironis. Satu demi satu pertanyaan pun muncul. Bagaimana bisa mereka bisa terbakar hangus hingga seperti itu? Apakah tidak ada usaha dari mereka untuk keluar dari gedung mall pada saat kebakaran? Apakah pembakaran ini memang disengaja?

Kuat dugaan bahwa penjarahan itu sendiri dikomandoi oleh regu yang dibentuk di dalam tubuh militer atau tentara. Bahkan, menurut Siar News Service melalui sebuah tajuknya, dijelaskan bahwa pasukan tentara membagi dirinya menjadi beberapa regu. Ada yang memimpin penjarahan dan melakukan aksi pembakaran, ada pula yang bertugas menyelinap di antara mahasiswa untuk menciptakan keributan. Bagi mereka yang menyelinap di antara mahasiswa, tugas dari regu tersebut adalah menciptakan kerusuhan di dalam kumpulan massa. Setelah kerusuhan terjadi, regu ini kemudian menghilang dan kabur. Keributan dalam massa mahasiswa inilah yang akhirnya menjadi alasan kuat bagi anggota militer atau kepolisian untuk menyerang mahasiswa atas tuduhan kericuhan atau keributan.

Selain itu ada pula regu yang bertugas menyamar menjadi bagian dari kepolisian. Pada saat penyamaran berlangsung, para regu yang merupakan anggota tentara menyembunyikan senjata mereka dan ikut berbaur bersama kerumunan polisi yang menjaga massa mahasiswa. Ketika polisi menembakkan peluru kosong ke arah massa, regu ini ikut menembak. Setelah menembak, para anggota regu langsung kabur dengan menggunakan motor dan menghilang. Adapun tujuan penembakkan mahasiswa oleh regu ini adalah untuk memancing amarah dari massa.

Dalam tajuk tersebut juga dijelaskan bahwa yang terlibat dalam kejadian ini tidak sepenuhnya tentara. Ada juga beberapa orang dari Timur (Timor Timur dan Irian Jaya) yang menjadi bagian dari kelompok bentukan militer ini. Mereka dididik dan dibina sehingga dapat bergabung dalam satuan kelompok ini. Bahkan preman-preman se-Jabodetabek juga dikumpulkan di Komando Pendidikan dan Pelatihan, seminggu sebelum terjadinya kerusuhan. Preman-preman inilah yang diyakini sebagai pemerkosa kaum etnis Tionghoa. Korban tidak akan mengenali para pemerkosa karena mereka berasal dari luar daerah.

***

Beberapa rombongan orang ini pun dibagi-bagi menuju daerah tertentu. Pada kasus Mega Mall Lippo, para penjarah merupakan campuran dari semuanya. Ada yang dari daerah Timur, ada juga yang berasal dari preman-preman yang sudah dikumpulkan terlebih dahulu. Aksi penjarahan pun berlangsung dengan dimotori oleh para preman dan orang didikan militer itu sendiri. Pukul 18.00, para preman yang melakukan penjarahan di Mega Mall Lippo ditarik mundur dan dikembalikan ke wilayah mereka masing-masing.

Rombongan atau regu preman-preman itu akhirnya digantikan dengan regu lain yang bertugas untuk melakukan eksekusi pembakaran. Total semuanya, ada empat truk lengkap dengan beberapa tabung elpiji. Berdasarkan tajuk yang dimuat dan beberapa warga yang berdomisili di daerah Karawaci, korban yang meninggal di dalam kawasan Mega Mall tidak sepenuhnya tewas karena terpanggang. Ada yang terlebih dahulu ditembak, ada pula yang disabet dengan menggunakan senjata tajam hingga tewas. Para korban kekerasan itu dibawa masuk ke dalam mall untuk ikut dibakar sehingga tidak meninggalkan jejak.

Dalam tajuk tersebut juga dijelaskan bahwa beberapa massa sengaja dijebak di dalam mall. Massa digiring untuk masuk karena diancam akan ditembak dengan senjata api jika tidak menurut. Mau tidak mau, akhirnya massa masuk ke dalam mall atas desakan oknum. Mereka terkunci bersama dengan beberapa tabung gas yang dimasukkan dan ditembak hingga meledak. Setelah api berkobar cukup besar, barulah seluruh pintu dalam mall dikunci sehingga beberapa korban hangus terbakar karena tidak bisa melarikan diri.

“Kalau yang saya lihat sih, kondisi luar mall masih tampak masih bagus, seperti nggak keliatan ada kebakaran. Cuma di beberapa bagian gedung aja yang keliatan gosong,” ujar Silvia yang melihat mall itu sehari setelah pembakaran.

Ada pula sumber lain yang mengatakan bahwa para tahanan Lapas di Nusa Kambangan sengaja ‘dilepas’ oleh oknum ABRI untuk mengalihkan krisis kepercayaan rakyat terhadap Soeharto.

“Saya pernah meneliti kasus ini untuk tugas saya sewaktu SMA. Menurut artikel yang saya baca, ada indikasi bahwa para tahanan Lapas yang berada di Nusa Kambangan sengaja dilepas oleh oknum,” ujar Selvi.

Disinyalir pula bahwa para pelaku yang melakukan penjarahan di Mega Mall Lippo adalah para tahanan yang memang sengaja ‘dilepas’.

Setelah kejadian pembakaran Mega Mall Lippo, kondisi perekonomian di Tangerang, kawasan Karawaci khususnya, sangat memprihatinkan. Selama kurang lebih 5 bulan, aliran listrik di kawasan Mega Mall harus padam.

“Listrik di sekitar mall saat itu harus padam sekitar 5 sampai 6 bulan, kondisinya sungguh memprihatikann. Malah bisa dikatakan seperti kota mati,” gumam Silvia.

***

Pasca pembakaran Mega Mall Lippo, mall itu akhirnya berhenti beroperasi selama beberapa bulan. Mega Mall Lippo yang dulu berpredikat sebagai mall supermegah se-Asia Tenggara pun harus menanggalkan predikat tersebut. Peritel-peritel besar dari luar negeri seperti Wall-Mart yang pada saat itu membuka cabangnya di Mega Mall Lippo, terpaksa harus ‘angkat kaki’ dan bahkan tidak berani lagi untuk berinvestasi di Indonesia akibat peristiwa ini.

“Saya tinggal kira-kira 3 km dari Lippo Karawaci. Yang saya ingat adalah tempat yang kini menjadi E-Center merupakan pusat kebakaran yang paling parah,” ujar Fakhriy Dinansyah.

Fakhriy juga menambahkan bahwa ia cukup sering mendengar cerita dari rekan-rekannya yang bekerja di kawasan E-Center mengenai hal-hal yang berbau mistik.

“Dulu isunya itu adalah tempat angker. Banyak kejadian mistik,” tambah Fakhriy.

Peristiwa tahun 1998 yang terjadi di Indonesia mungkin saja merupakan kisah yang sangat kelam bagi bangsa ini. Massa, pada saat itu, seolah telah dikontruksi pikirannya. Kuatnya provokasi mengenai economy-gap (kesenjangan ekonomi) yang tinggi di antara kaum pribumi dan nonpribumi adalah sebuah bukti ketidakadilan sosial sehingga mereka yang nonpribumi harus ‘diusir’ di Indonesia. Provokasi inilah yang akhirnya menimbulkan kerusuhan.

Kini, Mega Mall Lippo sudah bertransformasi menjadi Supermall Lippo Karawaci. Tampak setiap sudut mall sudah tidak menyisakan tanda-tanda atau bekas kejadian pembakaran beberapa tahun silam. Meski tak berjejak, peristiwa kelam itu tidak akan pernah lekang dari ingatan. Para warga Tangerang atau Karawaci khususnya, masih mengingat betul tragedi itu. Mungkin, gedung yang telah berubah wajah itu menjadi saksi bisu akan revolusi di tahun 1998.

Di samping kawasan mall telah berdiri Komando Resort Militer atau Korem. “Setau saya, Korem tersebut dibangun bersamaan dengan renovasi Mega Mall pada saat itu. Kurang lebih di tahun 1999. Mungkin itu merupakan salah satu bentuk pengamanan terhadap mall agar tidak terjadi peristiwa kelam seperti masa lalu,” ucap Silvia mengakhiri wawancara kami.

This entry was posted in Peristiwa and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s