Nacita dan Jurnalisme

Mayang Sekar Arum – 11140110137

Perempuan mungil berambut pendek bondol berwarna coklat kemerahan itu baru saja  datang dan berjalan agak cepat menuju lobby kantor Liputan 6. Ia mengenakan kaus santai lengan panjang berwarna abu-abu muda dan celana legging hitam. Ia berjalan kesana kemari di lobby kantor. Sesekali ia menyapa orang-orang yang berpapasan dengannya, menebar senyum, dan melontarkan berbagai cerita yang sepertinya menarik. Terlihat dari cara ia mengucapkan setiap kalimat di ceritanya dengan ekspresif.

Sore itu saya dan kedua teman saya menunggu di sebuah sofa hitam panjang yang ada di dekat pintu masuk kantor liputan 6 yang berada di lantai 8 SCTV Tower, Senayan City. Ketegangan mulai muncul ketika perempuan yang ditunggu-tunggu sudah datang. Saya berkali-kali memainkan kamera SLR untuk mengurangi rasa deg-degan yang luar biasa. Belum lagi mengatasi rasa grogi karena beberapa pasang mata yang selalu menatap aneh ke arah kami.

“Eh halo halo, udah lama nunggu? Kita keatas aja yuk, lebih enak di sana..” ujar perempuan yang sedaritadi sibuk mondar-mandir di sekitar kami. Ternyata ia tahu kalau saya dan kedua teman saya adalah orang yang sudah membuat janji wawancara dengannya.

Perempuan riang itu adalah Senandung Nacita. Nacita, begitu ia biasa dipanggil, sudah sekitar tiga tahun bekerja sebagai news anchor di Liputan 6 SCTV. Sebuah program berita yang sudah ada di pertelevisian Indonesia sejak 17 tahun silam.

Nacita berada di desk news anchor untuk Liputan 6 Siang. Di bagian Liputan 6 Siang, dia tidak seorang diri. Biasanya ia selalu bergantian setiap hari-nya dengan rekan sesama pembawa berita yakni Juanita. Jika hari Selasa Juanita membawakan berita, maka keesokan harinya merupakan giliran Nacita yang bertugas membawa berita.

Tepat seminggu sebelum hari di mana saya bertemu dengan dirinya, Nacita pergi ke luar kota untuk menghadiri event yang selalu diadakan oleh SCTV untuk mencari bakat-bakat baru dalam merekrut mahasiswa maupun mahasiswi yang berbakat di dunia pertelevisian, khususnya bidang jurnalistik melalui melalui SCTV Goes To Campus. Di acara itu, ia mengisi workshop dalam hal membawakan berita.

Nacita lahir dari pasangan Deddy Mizwar dan R. Giselawati Wiranegara 26 tahun silam. Ya, orang tua Nacita adalah salah satu aktor senior ternama Indonesia, Deddy Mizwar, yang sudah terkenal sejak tahun 80an. Memang belum banyak yang menyadari kalau Nacita merupakan putri dari Deddy Mizwar, karena memang selama ia berkarir, ia jarang sekali menggunakan nama Mizwar di akhir namanya.

Pada tahun 2009, Nacita yang saat itu masih menjadi mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Atma Jaya jurusan Akuntansi mencoba untuk mengikuti ajang bergengsi di Ibukota yaitu pemilihan Abang None Jakarta. Karena memiliki pemikiran yang cerdas serta berparas cantik, Nacita berhasil menjadi Wakil II None Jakarta di tahun 2009.

Siapa sangka, berkat mengikuti ajang Abang None Jakarta pada tahun 2009, ia mendapatkan tawaran karier yang cukup menjanjikan. Dikarenakan sering diberi penugasan ke luar kota bahkan tidak jarang bertugas ke luar negeri. Nacita sering sekali bertemu dan berkenalan dengan orang-orang baru.  Dan suatu saat ia mendapatkan tawaran untuk mengikuti audisi sebagai news anchor di Liputan 6.

Pada tahun 2009, ketika itu ia sedang bertugas ke Cina. Di sana ia bertemu dengan salah seorang kru SCTV dan seperti biasa saat bertemu dengan orang baru, mereka bertukar kartu nama. Sepulangnya dari Cina, ia langsung diberi tawaran untuk mengikuti audisi yang diadakan oleh SCTV, khususnya audisi news anchor untuk Liputan 6 SCTV.

“Yaudah ketika itu mencoba di Liputan 6, dan kebetulan ternyata setelah mengikuti beberapa tes tes , terus yaudah deh akhirnya keterima di sini (Liputan 6)” kenangnya sambil tertawa renyah.

Saat itu Nacita tidak langsung melaksanakan pekerjaannya, karena kebetulan ia harus menyelesaikan kontrak terlebih dahulu dengan Abang None Jakarta, jadi ia mulai bekerja sebagai news anchor di SCTV beberapa bulan setelah tidak terikat dengan Abang None.

Bukan hanya SCTV saja stasiun televisi yang ia coba untuk melaksanakan audisi. Nacita juga mengikuti audisi yang diadakan oleh beberapa stasiun TV lain, dan kebetulan ia juga diterima di stasiun televisi lainnya. Saat itu, Nacita berada di ambang dilema yang cukup memusingkan, karena ia bingung harus memilih bekerja di stasiun televisi mana.

“Awalnya emang sempet bingung mau milih SCTV atau stasiun TV lain, tapi ya akhirnya memilih di sini dan bertahan sampai sekarang,” tambahnya.

Tidak memiliki bekal sedikitpun terhadap ilmu jurnalistik, Nacita bisa dibilang merupakan perempuan yang beruntung, karena ia tidak perlu menjalani kariernya dari seorang reporter terlebih dahulu untuk menjadi seorang news anchor di Liputan 6. Banyak yang mengira kalau ia bisa diterima sebagai news anchor karena ia merupakan anak seorang aktor ternama, namun Nacita tidak terlalu menganggap pusing omongan-omongan dari luar. Karena menurutnya, ia menjalani kariernya karena usaha dari diri sendiri.

Namun itu tidak menjadikan Nacita merasa kesulitan dalam membawakan berita secara live di depan kamera. Terlebih lagi pada saat itu ia masih menjadi mahasiswi ekonomi dan ia sudah mulai bekerja menjadi news anchor di Liputan 6. Berbagai cara selalu ia lakukan untuk melatih agar tidak grogi dan salah tingkah di depan kamera.

“Bisa karena terbiasa. Karena setiap orang pasti pertamanya ada kagoknya dulu, ada nervousnya. Tapi seiring dengan kita latihan terus, kemampuannya jadi meningkat dan percaya dirinya juga meningkat,” ucap Nacita yang sedari awal saya wawancara selalu tersenyum dan tertawa riang.

Nacita bisa dibilang termasuk cepat dalam menangkap apa yang harus ia lakukan, hampir beberapa kru Liputan 6 sudah hafal dengan sikapnya.

“Nacita itu selain periang dan energik, dia juga pinter dan cepat tangkap. Dulu dia nggak terlalu bisa banget baca berita. Tapi karena dia sering latihan dan belajar, dia jadi bisa jago seperti sekarang,” ujar Momon selaku kru Audioman di Liputan 6 SCTV.

Tak jarang ia dengan rekan kameraman selalu melakukan latihan me-report suatu kejadian di depan kamera. Hal itu sering ia lakukan untuk melatih kefasihannya dalam berbicara dan tidak grogi berada di depan kamera.

“Kita sering kerjasama dengan kameraman, ‘eh ayo yuk kita latihan on-cam’, nah nanti hasilnya baru kita evaluasi bersama,” jelasnya.

Bekerja di Liputan 6 ternyata membawa berkah bagi Nacita.  Setelah sekitar 1 tahun berada di Liputan 6, ia menjalin hubungan dengan Ajie Prasetyo yang merupakan putra dari aktris senior Lenny Marlina. Nacita bertemu dengan Ajie di saat-saat terakhir Ajie menjadi Kru Liputan 6 SCTV.

Jumat, 2 November 2012, merupakan hari bersejarah bagi Nacita. Bertempat di Masjid At-tin Jakarta, Nacita resmi sudah menjadi istri dari Ajie Prasetyo. Kisah percintaan Nacita dan Ajie bisa dibilang hampir mirip dengan kisah dari orang tuanya terdahulu. Dulu Deddy Mizwar bertemu dengan Gisela saat berada di lokasi syuting, dan sekarang Nacita bertemu dengan suaminya di lokasi kerja.

Unik memang, jika dulu di kala muda Deddy Mizwar kerap bertemu dengan Lenny Marlina di layar lebar, saat ini keduanya memiliki hubungan yang semakin erat. Dikarenakan status yang kini sudah berubah, yakni menjadi besan.

Ajie selayaknya seorang suami, selalu mendukung karier Nacita sebagai jurnalis. Tak jarang ia harus meninggalkan sang suami demi bertugas mencari berita atau bahkan pulang larut malam dan harus berangkat kerja lagi pada pagi hari.

Seorang jurnalis harus siap kapanpun dan kemanapun ia akan ditugaskan. Begitu pula yang dirasakan oleh Nacita. Seringkali hari liburnya terpakai untuk menjalankan tugas atau melakukan liputan ke lapangan. Terlebih lagi dengan berita yang berkaitan dengan bencana, yang memang waktu kejadiannya tidak bisa diprediksi sebelumnya.

“Waktu itu saya juga pernah habis kerja, habis siaran, dan selesai dari meja siaran, lepas mic, dan tiba-tiba ‘Nacita sore ini berangkat ya, pergi ke sukhoi’. Jadi ya pulang, packing, balik ke kantor lagi dan langsung berangkat” ujarnya.

“Ya ini bisa dianggap sebagai sebuah adventure lah,” tambahnya.

Salah seorang dosen teknik interview dan reportase saya yang juga merupakan kepala Liputan 6 SCTV yakni Bapak Raymon Kaya pernah mengatakan ketika memberikan materi di kelas. Bahwa jika kita menjadi seorang news presenter atau news anchor kita harus siap untuk diminta tugas kapanpun dan dimanapun. Saat itu ia menceritakan sosok Senandung Nacita yang memiliki tanggung jawab dan kesiapan yang baik.

“Waktu itu pernah ada yang meminta foto seluruh badannya Nacita, saya langsung hubungin dia. Nah pas di hubungin dia bilang ‘wah bang , saya ga punya kalau seluruh badan. Atau ini saya foto dulu sebentar nanti dikirim ya bang lewat e-mail’ begitu katanya,” cerita bapak Raymon yang kebetulan saat itu sedang memberikan materi perkuliahan mengenai How To Be A News Presenter.

Suasana di lantai dua dari kantor Liputan 6 mulai sepi. Hanya ada beberapa orang saja yang masih berkutik di meja kerja nya. Kebetulan saat itu waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Di sekeliling saya terdapat sekitar lima hingga enam kru Liputan 6 yang sedang menyantap makan malamnya.

Sembari Nacita menceritakan kisah hidupnya khususnya di bidang news anchor, ia juga seringkali menyapa dan bercanda dengan para kru yang ada di sana. Mereka terlihat sangat akrab dan begitu dekat satu sama lain, seperti tidak ada yang menjebatani antara kru dengan news anchor.

Setelah hampir satu jam berbincang-bincang, kami memutuskan untuk pamit dan meminta waktu untuk foto bersama. Di saat meminta foto bersama, Nacita meminta salah satu kru yang sedang sibuk mempersiapkan syuting untuk acara ulang tahun Liputan 6 siang pada hari Seninnya.

“Eh mas ayo dong fotoiiiin!” ujarnya sambil tertawa.

“Waduh yaudah sini deh sini”

Karena hasil jepretan salah satu kru tersebut blur dan kurang bagus, Nacita langsung meledek kru tersebut.

“Ah payah ah nih! Sini sini aku ajarin” candanya.

Walaupun pada hari itu Nacita telah bekerja seharian, namun ia sama sekali tidak memperlihatkan bahwa dirinya sedang lelah. Padahal saya tahu jadwalnya pada hari itu sangat padat sampai sore tadi. Bahkan sebelum pulang ke rumah ia harus bertemu dengan saya dan kedua teman saya. Namun, wajah letih dan kucel sama sekali tidak ditunjukkannya.

Selama ia menekuni bidang Jurnalistik, hanya satu yang selalu ia pegang.

“Kalau memang passion kita di situ, semuanya jadi seneng aja deh buat ngelakuinnya,” ujarnya sambil tersenyum kepada saya.

This entry was posted in Profil, Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s