Kenyataan dan Kekuatan Diri

Martina Andriani-11140110171

Image

Waktu disini telah menunjukan pukul 15.30. Pintu bertanda “Closed” ini , ternyata masih dipenuhi pasien dari berbagai kalangan. Mulai dari tukang bangunan, pembantu, hingga orang mampu pun datang kesana sekadar untuk membeli obat atau memang datang berobat. Sakitnya pun macam-macam. Batuk pilek, muntaber itu sudah biasa. Tetapi, kalau berurusan dengan “turun bero”, apa masih harus juga datang ke dokter umum? Karena tertulis di daftar dokter-dokter yang praktik disana adalah masih dokter umum, bukanlah dokter spesialis. Walaupun begitu, senyum dan ramah tamah yang ia berikan tidak terlihat bahwa ia lelah.

Sebagai seorang wanita, teringat pada sejarah dan perbuatan Kartini, sosok perempuan muda yang sangat inspiratif. Sebagai anak dari seorang bupati, anak kalangan atas pada zaman saat itu, ia tidak merasa bebas dalam hidupnya. Ia harus dipingit karena adat Jawa yang membatasi hal itu. Perempuan kelahiran Rembang ini tidak mau menghabiskan hidupnya dengan berada di dalam kamar terus menerus. Bersama saudari-saudarinya, ia berjuang untuk keluar dan mendobrak batasan bahwa wanita tidak boleh di kamar saja dan tidak berkepentingan.  Membuat “sekolah rakyat”, dan mengirim surat kepada sahabat penanya, Estelle “Stella” Zeehandelaar, dan menjadikan bukunya yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang” menjadi bagian dari sejarah yang tidak terlupakan.

Namun, bukan berarti sosok Kartini telah tiada, bukan berarti tidak ada “Kartini-Kartini” lain. Saya temukan hal tersebut di dalam sosok dr.Ingrid Jesica, dokter umum bertangan dingin dan memiliki jiwa sosial yang tinggi.  Berperan dalam berbagai hal : dokter, istri, pebisnis. Semua julukan tersebut terasa biasa baginya karena semua orang terdekatnya sudah tahu. Namun, ia sejatinya ingin disebut sebagai “Ibu” karena, menurutnya, status tersebut sangatlah special untuknya. Selain itu, disini, ia juga membuktikan, bahwa perempuan tidak harus merasa “dibatasi” oleh apapun ketika mereka tidak mampu melakukan berbagai hal.

Sebenarnya, ia baru saja pulang dari tiga pasien yang sudah ia tangani. Ia menceritakan, bahwa pasien-pasien yang ia obati bukan sakit yang terlalu serius. Namun, sebagai seorang dokter, naluri tentang bagaimana harus menjaga kesehatan yang baik pun harus keluar.

“Pasien itu macam-macam sakitnya, macam-macam pula sikapnya. Jadi, harus diterima saja apa adanya.”

Resiko seperti ini sudah siap ia hadapi. Pelatihannya semasa di kampus dahulu, membuatnya ia sudah kebal dan terbiasa dengan hal tersebut. Namun, bukan berarti ia mengeluh dan berhenti sampai disini. Kalau ia berhenti, ia mengakui kesulitan bagaimana bisa makan dan memenuhi kebutuhan hidup yang begitu banyak dan selalu merangkak naik harganya.

Maria Magdalena Ingrid Jesica, atau yang lebih sering disapa Inge ini lahir di Purwokerto, 5 Oktober 1977. Ia merupakan anak pertama dari dua bersaudara pasangan Hermanto Purwanegara dan Sri Pudjiastuti. Ayahnya adalah seorang purnawirawan TNI Angkatan Darat, dan ibunya bekerja sebagai ibu rumah tangga. Sesekali, ibunya melayani pembuatan kue . Ia berasal dari keluarga sederhana

Mempunyai sosok seorang ayah yang bekerja sebagai TNI Angkatan Darat, membuat Inge terbiasa hidup dalam kedisplinan yang mendalam. Ia terbiasa melakukan sesuatu sendiri. Tidak ada pembantu, ataupun pelayan yang membantunya setiap hari.

“Kami harus terbiasa lakukan sesuatu sendiri, dan Inge cukup mandiri untuk hal tersebut.” kata Vivi, adik satu-satunya.

Di sekolah, Inge termasuk murid yang berprestasi. Di setiap tingkat sekolah, ia tidak pernah lepas dari tiga besar di kelasnya. Penyuka segala sayuran ini mengakui bahwa ia tidak begitu banyak bergaul dengan teman-teman di sekolahnya, karena terlalu sibuk belajar, sehingga ia merasa kurang dekat dengan teman-temannya. Ia hanya punya beberapa diantaranya.  Daripada keluar, Inge lebih memilih untuk membaca buku, nonton TV atau belajar memasak dengan mamanya. Inge senang membuat makanan-makanan manis ataupun olahan makanan laut. Sosoknya tidak terlihat seperti kutu buku.

“Saya senang memasak. Biasanya saya membantu mama saya kalau ada pesanan.”

Selepas SMA di salah satu sekolah katolik di Purwokerto, SMA Bruderan,  Inge memilih untuk melanjutkan pendidikan perguruan tinggi. Namun, cobaan yang datang padanya seolah “membangunkan” dari mimpi indahnya. Orangtuanya berpisah dan tidak tinggal serumah lagi. Perasaan Inge cukup terluka, tetapi, luka tersebut ia biarkan.

“Saya seperti kehilangan arah. Tidak ada panutan. Tetapi, ini urusan orangtua saya, saya lebih memilih untuk cari masa depan diri sendiri.”

Perpisahan orangtua Inge sendiri terjadi pada sekitar tahun 1996. Setelah itu, Inge dan Vivi, adiknya, lebih memilih untuk mengikuti ibunya daripada ayahnya, karena, pada saat itu, ayahnya ingin menikah dengan orang lain, dan pada tahun itu juga, akhirnya ia masuk kuliah jurusan Kedokteran Umum Universitas Tarumanegara, Jakarta. Lagi-lagi, Inge berhasil meraih peringkat pertama untuk tes masuk dan tidak membayar uang pangkal sama sekali.

Alasan ia memilih untuk masuk jurusan yang berhubungan dengan kesehatan manusia ini adalah karena ia merasa terpanggil untuk membantu orang-orang yang tidak memiliki kemampuan finansial lebih untuk berobat. Pada dasarnya, semua manusia perlu dibantu apabila berurusan dengan kesehatan.

“Manusia perlu sehat, dan berhak untuk mendapatkan yang sama dengan yang mampu.”

Di tahun kedua ia kuliah, 1998. Pada saat itu, Jakarta sedang mengalami krisis moneter, yang berimbas pada kehidupan masyarakat, dan berpengaruh pada gerakan yang akhirnya menjadi demonstrasi besar-besaran yang dimiliki oleh  Universitas Trisakti, Jakarta, yang pada saat itu, dan sampai sekarang bersebelahan dengan kampus Tarumanegara. Karena merasa bahwa situasi tidak kondusif, sebenarnya, Inge ingin kembali ke Purwokerto, namun, belum ada ongkos pada saat itu.

Tragedi 1998 Trisakti menyebabkan proses belajar menjadi terhambat dan sempat membuat beberapa mahasiswa kampus Inge ini ketakutan. Hal ini pun juga diakui oleh Inge dan salah seorang temannya, Angel.

“Tragedi Trisakti benar-benar membuat ketakutan, khususnya buat saya yang orang luar Jakarta. Polisi dan Satuan Keamanannya ternyata juga masuk sampai ke gedung universitas kami. Pada saat itu, saya sedang ada kegiatan belajar. Jadi, sebenarnya, ada demo, tetapi, dibubarkan dengan paksa, sehingga dikejar dan mengeluarkan bunyi tembakan peluru.”

Salah satu yang mengakui bahwa ia pernah menjadi saksi mata dari tragedy ini adalah Diana, keturunan Chinese asal Pati, Jawa Tengah. Pada saat itu, ia masih bekerja di salah satu hotel di Jakarta, dan ia mengakui bahwa ia sempat melihat kejadian tersebut.

“Waktu saya mau pulang, saya merasa ada yang kurang enak, dan jadinya, pas di dekat jalan yang menuju ke arah jalan yang berada di depan gedung Central Park (yang sekarang, dulu belum ada Central Park), saya sudah kaget, karena ribuan mahasiswa turun ke jalan, berteriak melakukan berbagai orasi. Membawa spanduk dan berbagai macam peralatan.” akunya.

Saya tidak pernah merasakan kejadian ini secara langsung, karena belum cukup dewasa. Namun, satu hal yang pasti, bahwa saya hanya bisa merasakan kejadian ini lewat saksi mata yang masih hidup atau hanya tertempel di buku-buku pelajaran sejarah saja.

Setelah lulus belajar kedokteran, Inge mulai diterjunkan ke masyarakat untuk memulai awal karier sebagai dokter. Awalnya, perempuan penyuka anjing ini merasa kelelahan dan tidak ada waktu untuk istirahat. Bahkan, ia pernah menjadi “bulan-bulanan” para seniornya. Sebagai dampaknya, ia sempat jatuh sakit. Selain itu, Inge harus menghadapi berbagai macam sifat pasien. Namun, karena kegigihan Inge untuk menyelesaikan kuliah prakteknya,  determinasi untuk tidak buang-buang uang, maka, akhirnya, Inge lulus pada tahun 2004.

Image

Seperti dalam sepenggal bait lagu Chrisye “Kisah Kasih di Sekolah.” : Ttiada kisah paling indah, kisah kasih di sekolah” , ia akhirnya bertemu dengan pacar di SMA, namanya Roky Setiawan, yang biasa dipanggil Oki. Mereka seangkatan di satu sekolah yang sama. Secara fisik, pada saat itu, pacarnya memang memiliki tinggi yang ideal. Selama berpacaran saat itu, orang tua Oki sangat senang dengan Inge. Putus sambung tidak dapat dihindari.

“Papanya Oki, dulu, waktu pacaran sama Inge semasa SMA, senang sekali. Inge itu dianggap calon menantu idaman. Dia sopan, baik sama orang tua. Tidak seperti perempuan lain yang pernah jadi pacarnya Oki.” Kata Ami, mama mertua.

Tiga bulan setelah lulus kedokteran, tepatnya pada tanggal 11 September 2004, Inge dan Oki akhirnya menikah, setelah sekitar 9 tahun berpacaran. Mereka menikah di Purwokerto, tempat mereka berdua berasal.

ImageSegera setelah berumah tangga, ia membuka praktek dokter di rumah, dan Inge mengakui, pada saat itu luas rumahnya belum seberapa, belum bisa menampung banyak pasien.

Inge ingin segera memiliki anak yang akan “menghiasi” rumah mereka, namun, hal tersebut tampaknya tidak terjadi pada tahun 2005. Kurang dari dua bulan usia kehamilannya, saluran indung telurnya telah diangkat, dan ia juga kehilangan calon buah hati. Hal tersebut merupakan cobaan yang terasa berat, seperti orang dipaksa membawa karung beras. Inge menjelaskan.

“Tahun 2005, tepatnya pada bulan Mei, saya telat haid satu bulan. Saya cek ke dokter, dan akhirnya saya dinyatakan hamil kembar oleh dokter. Namun, setelah dua minggu pemeriksaan, saya sakit perut, dan rasanya luar biasa. Lima hari kemudian, saya kembali ke dokter, dan dinyatakan bahwa salah satu dari calon anak kembar saya tidak berada di indung telur. Itu tidak normal, disebut hamil anggur. Lima hari kemudian, saya balik lagi ke rumah sakit, dan sudah terjadi pendarahan yang hebat, karena saluran indung telur yang sebesar sedotan itu ditempati oleh calon anak bayi, dan jebol. Saya langsung dioperasi.”

Kehilangan calon buah hati merupakan salah satu kehilangan terbesar dalam hidupnya. Susah untuk Inge, pada saat itu, keluar dari rumah dan bertemu orang, selain istirahat karena pendarahan. Untuk menghilangkan rasa stress yang ada, Inge lebih memilih untuk memasak atau bermain dengan anjing Golden Retriever kesayangannya, Cherry. Hingga tahun 2013, masih belum ada anak, dan sekarang sedang menjalani pengobatan.

“Walaupun belum ada anak, dunia tidak berhenti disini. Saya masih bisa lakukan hal lain. Mungkin karena belum dikasih.”

Obsesi berikutnya adalah : Mempunyai apotik sendiri. Cerita dibalik dari obsesi ini adalah, ketika Inge masih bekerja di salah satu apotik di Bekasi pada tahun 2007. Inge melihat ada seorang pemulung yang kepalanya berdarah akibat terkena lemparan botol kaca, yang tidak jauh dari tempatnya bekerja.

“Segera setelah itu, saya bawa masuk dan saya obati dia. Namun, ketika mau membayar sebesar Rp 100,000, dia hanya punya Rp 15,000 , hasil dari ia memulung. Saya berusaha untuk berbicara dengan kepala dokter, dan terdapat negosiasi yang sedikit alot, karena tidak bisa apabila seorang pasien membayar kurang. Saya mengakui juga bahwa obat bius dan tarif dokter cukup mahal. Maka dari itu, saya yang nombok.”

Pada tahun 2007, Inge  memutuskan untuk keluar dari apotik tersebut setelah tidak tahan dengan keputusan akhir, karena geram bahwa orang miskin tidak bisa berobat, dan setelah itu memulai sedikit demi sedikit. Dengan cara : berhubungan dengan pemasok obat di tempat kerja sebelumnya

“Kalau sore, saya kadang suka sembunyi-sembunyi untuk keluar dan bertemu pemasok obat. Bertanya tentang stok obat, bagaimana cara dapat izin membangun apotik, cara pemesanan.”

Image Dengan modal seadanya dan ilmu bisnis apotek yang nol, perempuan yang mempunyai dua keponakan laki-laki ini, ia mulai membeli stok obat sedikit demi sedikit. Inge tidak mau memberitahu jumlahnya, karena itu bersifat privasi. Dari uang itu, Inge kumpulkan untuk membeli stok obat dan menyewa ruko. Pada saat itu, ada hambatan yang mulai terasa. Salah satunya, memilih lokasi yang strategis dan terjangkau. Suaminya sempat ribut karena tidak mencukupi. Namun, dengan kerja keras, akhirnya ruko berhasil didapat, dan memulai usaha apotik, walaupun awalnya sepi, karena masih lokasi baru.

Image  Usaha apotik tersebut dibangun pada 4 Februari 2009 dan diberi nama Apotik Berkat, dengan tiga dokter, termasuk Inge, satu orang apoteker, dan empat karyawan .  Alasan memberi nama Berkat, tidak lain adalah karena ia percaya bahwa berkat itu selalu ada dan memberi kepada orang lain. Selama dalam menjalankan usaha apotiknya, tidak terlihat sama sekali CCTV ketika saya mengunjungi, dan fasilitas wi-fi yang sekarang sedang booming. Belum terpikirkan oleh Inge untuk memakai fasilitas tersebut, padahal kejahatan bisa ada dimana saja.

Berbagai organisasi pun Inge ikuti. Seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dan organisasi-organisasi lainnya yang berhubungan dengan kemanusiaan. Inge menyukai kegiatan sosial karena hal itulah yang ingin dilakukan dalam perjalanan hidupnya.

Satu hal yang jelas Inge katakan, bahwa : “Memang ketika perempuan sudah bisa memiliki anak, dianggap sempurna. Namun, bukan berarti bahwa yang tidak bisa punya anak, tidak sempurna dan stuck hanya disitu saja. Berkat itu bentuknya banyak.”

This entry was posted in Profil, UAS. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s