Pejuang Tanjung Pasir

Garis Pantai Tanjung Pasir

Garis Pantai Tanjung Pasir

Imanuel Krisma Hutama – 11140110221

Pohon kelapa masih menjulang tinggi seperti biasanya. Angin yang berhembus tidak hanya mengibarkan rambut, tetapi juga turut menggoyangkan daun kelapa yang kesana kemari sesuai arah angin. Ada deretan jejak kaki di pasir, ada yang telihat jelas, tetapi ada juga yang samar-samar. Terlihat hembusan angin juga menerbangkan butiran-butiran pasir dan entah terbawa sampai kemana. Butiran ini terpisah dengan butiran yang lain, terbang terhempas angin dan jatuh kembali ke pasir, bertemu dengan butiran lainnya

Siang ini sekitar pukul sebelas, dimana sedang terjadi angin laut, yaitu angin yang berhembus dari laut ke darat dan biasanya dimanfaatkan oleh nelayan untuk pulang dari perburuan ikan. Tetapi, terlihat nelayan disini tidak lagi memanfaatkan angin laut. Perahu kayu mereka sudah menggunakan mesin diesel. Akibatnya, tidak ada lagi suara khas burung dan deburan ombak yang mewarnai suasana pantai, melainkan suara mesin berbahan bakar solar yang dominan di pantai ini.

Selain itu, terik matahari ternyata mampu menggerakkan hati saya untuk membeli sebuah es kelapa di salah satu warung. Kebetulan saya lewat dan ditawari oleh seoarang perempuan muda, pemilik warung itu.

“Mas boleh mas es kelapanya, mampir dulu mas,” ajak Anis, prempuan muda asal Bogor. Saya pun tertarik oleh suara ramahnya. “Iya mbak, satu ya mbak,” balas saya dengan ramah.

Saya pun dipersilahkan duduk di sebuah saung yang tidak jauh dari warung, jaraknya hanya dua langkah kaki. Saung itu sebagaian besar terbuat dari bambu. Tiang penyangga yang digunakan terbuat dari bambu, lalu atap terbuat dari daun kelapa kering yang sudah dianyam sedemikian rupa, dan alas duduk terbuat dari bambu juga. Ketika saya duduk, suaranya khas, berbunyi seiringan dengan membengkoknya batang bambu ketika saya duduki.

Ketika duduk, seketika mata saya diperlihatkan pemandangan laut dengan warna birunya. Lalu, terlihat beberapa gundukan pulau yang samar dan perahu-perahu yang sedang melaut. Garis antara cakrawala dan ujung laut terlihat sangat jelas, seakan langit dan laut bertemu di ujung sana.

Namun, saya menurunkan pandangan saya ke bibir pantai. Sempat tersentak di benak saya, karena sangat berbeda dari apa yang saya lihat sebelumnya. Ternyata di bibir pantai tidaklah sebiru di tengah laut. Air berwarna coklat muda yang keruh dan berbagai sampah plastik maupun organik seperti batang kayu, turut menghiasi pemandangan bibir pantai.

Ya, inilah Pantai Tanjung Pasir yang berada di Kelurahan Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Tangerang. Sepintas terlihat indah, namun ada juga yang tidak.

“Ini mas es kelapanya,” ucap Anis sambil menaruh sebuah kelapa utuh yang di dalamnya ada es di dekat saya.

Sembari minum es kelapa, saya juga berbincang dengan Anis mengenai keadaan pantai di sini. Ternyata ada banyak warung yang berjejer rapi di sekitar pinggir pantai ini. Tidak hanya menjajakan berbagai minuman dingin, tetapi ada juga yang menjajakan berbagai hidangan laut, seperti ikan bakar atau ikan goreng, udang bakar, cumi-cumi dengan berbagi sausnya, cah kangkung, dan berbagai hidangan khas laut lainnya.

Namun, menurut Anis, bangunan warung disini tidak lah permanen. Hal ini dikarenakan fungsi dari pantai ini sebenarnya adalah sebagai tempat latihan untuk TNI AL, bukan lah sebagai tempat wisata. Sehingga, sewaktu-waktu warung yang ada di sini bisa dibongkar untuk kepentingan TNI AL.

“Iya mas, disini dikelola sama TNI. Saya nggak tau dari kapan, saya juga pendatang di sini,” jawabnya ketika saya tanyai tentang keberadaan TNI AL.

Selembar uang senilai sepuluh ribu saya keluarkan untuk harga es kelapa ini. Setelahnya, saya berjalan lagi menyusuri pinggir pantai.

Tidak jauh dari saya berdiri, sekitar lima meter terlihat ada beberapa bangunan di samping kanan saya, mungkin kantor pengelola pantai ini. Bangunan ini tidak besar, lebih nampak seperti rumah kecil dengan cat temboknya yang berwarna biru muda. Saya dekati dan ternyata ini adalah tempat TNI AL yang dibicarakan oleh Anis tadi.

Di depan bangunan tidak lagi berupa pasir, tetapi sudah merupakan jalan aspal kecil sebagai jalur lalu lintas. Disitu saya bertemu dengan Supri, yang kebetulan sedang nongkrong bersama dengan orang-orang TNI AL. Ia merupakan salah satu tokoh masyarakat di Desa Tanjung Pasir ini. Orangnya sederhana, terlihat dari kaos berkerah dan celana bahan hitam yang dikenakan, ditambah sandal jepit dan topi coklat yang menutupi kepalanya dari terik matahari.

Sudah 37 tahun Supri tinggal di sini dari kecil, namun orang tuanya bukan lah asli dari Desa Tanjung Pasir, terutama ayahnya. Suharsono, ayah dari orang tua Supri berasal dari Yogyakarta.

Pada 1971, Suharsono diusianya yang masih bujangan, beserta kedua saudaranya pergi merantau ke daerah Tanjung Pasir. Menurut Supri, seperti yang diceritakan oleh ayahnya, awalnya pantai ini hanya disisi oleh tumbuhan ilalang dan beberapa bangunan kecil (tempat TNI AL sekarang), yaitu stasiun radio yang dimiliki oleh Elnusa, anak perusahaan Pertamina. Fungsi dari stasiun radio ini sendiri adalah sebagai tempat komunikasi antara pertambangan minyak di laut dengan pihak pusat Pertamina.

“Dulu kalo kata bapak, ngeri lewat sini. Disini kan dulu cuma ilalang, kalo ada orang, cuma keliatan kepalanya. Soalnya ilalangnya tinggi-tinggi,” kisah Supri.

Ternyata Suharsono tidak hanya merantau seperti kebanyakan perantau lainnya. Beliau juga mengajar baca tulis untuk penduduk asli yang tidak bisa baca dan menulis. Sehingga, sampai sekarang, beliau dianggap sebagagi pejuang bagi penduduk asli Tanjung Pasir.

Selain mengajar untuk warga sekitar, Suharsono diangkat sebagai pegawai honorer di Elnusa sebagai pihak keamanan. Namun, semenjak ada proses didirikannya Bandara Soekarno-Hatta pada 1975, ternyata keberadaan bandara ini dapat mengangu proses komunikasi dengan pihak pusat Pertamina. Sehingga setelah mengalami beberapa proses, pada 1984 terjadi tukar kekuasaan dengan TNI AL.

Kenapa TNI AL?

Hal ini dikarenakan saat itu banyak terjadi kasus penyelundupan barang dan TNI AL, selain menjaga dan mengawasi daerah Tanjung Pasir, sekaligus juga mengelolanya.

Perginya Elnusa dari Tanjung Pasir berdampak kepada para pegawainya, rata-rata para pegawai dipindahtugaskan, tetapi Suharsono tidak mau. Beliau ingin menetap dan diangkat kembali menjadi pegawai honorer oleh TNI AL.

“Bapak akhirnya ngerapiin tempat ini, dibersihin. Soalnya abis kejadian itu, ada orang yang berkunjung, dan makain lama makin banyak,” kata Supri.

Sebagai pekerja honorer, tidak lah cukup untuk menghidupi keluarga. Oleh karena itu, semenjak banyak orang yang berkunjung ke pantai ini, oleh beliau dimintai uang kebersihan. Lagi pula hal ini sudah mendapat izin dari komandan TNI AL saat itu.

Tanjung pasir pun semakin ramai dikunjungi, sehingga pada tahun 1993, Tanjung Pasir diangakat statusnya sebagai tempat wisata dengan pengelola dari TNI AL dan warga sekitar. Suharsono dikenal sebagai pelopor terciptanya tempat wisata Pantai Tanjung Pasir. Menurut Supri, ayahnya selalu memimpin desa ini untuk selalu menjaga kebersihan dengan mengajak warga sekitar.

Hingga, sekitar delapan tahun kemudian, yaitu pada tahun 2001, masuk lah para pedagang yang sebagaian besar merupakan penduduk asli. Setelah ada pedagang, dirasakan ekonomi penduduk Desa Tanjung Pasir meningkat. Dahulu rata-rata profesi dari penduduk adalah nelayan dan petani. Sekarang, sekitar 60 % penduduk Tanjung Pasir berprofesi sebagai pedangang. Sisanya adalah nelayan dan penyebrang untuk ke beberapa Kepulauan Seribu.

Saat awal berdiri, Pantai Tanjung Pasir memang hanya sebagai termpat wisata pantai. Namun, setelah adanya jasa penyebrangan ke Kepulauan Seribu, pantai ini hanyalah menjadi tempat persinggahan sementara. Karena ternyata para pengunjung lebih senang untuk pergi ke Pulau Untung Jawa, salah satu pulau dari Kepulauan Seribu.

“Ya kalo saya liat, sekitar tujuh puluh persen orang-orang pergi ke Pulau Untung Jawa,” jelas Supri.

Semakin bertambahnya waktu, ada juga pihak lain yang peduli dengan kondisi di Tanjung Pasir, yaitu dari Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu. Pada akhir Desember tahun 2010, mereka datang untuk membangun lebih baik lagi kondisi masyarakat Tanjung Pasir. Dengan diketuai oleh Ibu Ani Yudhoyono, banyak yang telah di lakukan, seperti pembangunan rumah komputer, yaitu rumah yang didirikan sebagai tempat untuk belajar komputer.

Lalu ada juga rumah pintar, yaitu berisikan buku-buku bacaan untuk anak-anak Tanjung Pasir yang tidak mampu menlajutkan pendidikannya dan mendirikan beberapa MCK. Program ini tidak dipungut biaya sama sekali, sehingga anak-anak hanya perlu mendaftar dan bisa belajar dengan tanpa tanggungan biaya sedikit pun.

Saat ini, Desa Tanjung Pasir lebih baik dari pada sebelumnya. Kini, sejak kedatangan Suharsono, yang dulunya hanyalah tempat kosong berupa tumbuhan ilalang, sekarang merupakan tempat wisata yang ramai dikujungi banyak orang. Tidak hanya dalam segi ekonomi, namun hal ini juga membawa dampak positif dalam dunia pendidikan. Dahulu beliau mengajar masyarakat seorang diri, kini dengan adanya program dari Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu, anak-anak dapat mengenyam pedidikan dengan baik.

Sekilas saya melihat beberapa orang bermain pasir, sehingga pasir itu beterbangan entah kemana. Warga di sini seperti pasir itu, terbang terbawa angin, namun bisa kembali lagi bersatu dengan pasir yang lain. Supri berharap apa yang ada sekarang tidak perlu dirubah. Apa pun itu baik berupa rencana dari pemerintah atau pun ada pemodal asing yang turut ingin merubah tempat wisata ini menjadi lebih modern.

Menurutnya, dengan berkembang lebih modern, ia tahu, warga sekitar akan kehilangan mata pencahariannya dan Supri tidak mau itu terjadi. Ia yakin, sebagai penerus ayahnya yang telah meninggal, dapat selalu menyatukan warga disini walau banyak halangan yang akan datang di kemudian hari.

Pasir akan terbang dan kembali lagi oleh angin. Supri seperti angin, yang dapat kembali menyatukan warga Desa Tanjung Pasir.

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, waktu di ponsel saya menunjukkan pukul setengan empat sore. Setelah saya berbincang cukup banyak, saya memutuskan untuk kembali berjalan, menyurusi garis pantai.

Dengan menikmati sebotol air mineral yang telah saya beli, saya duduk di pinggir pantai di atas pasir sambil melihat beberapa anak kecil yang senang bermain air di pinggir pantai. Saya pun berpikir, apakah yang terjadi apa bila tidak ada Suharsono di sini?

This entry was posted in Perjalanan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s