PEMBANTAIAN RAWA GEDE

PEMBANTAIAN RAWA GEDE

KARYA NICHOLAS RHINO

11140110163

Kami cuma tulang tulang berserakan

Tapi adalah kepunyaanmu

Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan

Kemenangan dan harapan atau tidak untuk apa-apa

Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata

Kaulah sekarang yang berkata

Dua penggal bait puisi karawang-bekasi karya sang penyair ternama Chairul Anwar menghiasi  patung seorang ibu. Ibu yang sedang memangku dua anaknya yang tewas dalam kejadian pembantaian yang menewaskan empat ratus tiga puluh satu orang yang diantaranya terdapat pejuang dan warga sipil.

Ibu itu ibu martem dan dua anaknya adalah atung dan adul. Dibawah mata ibu martem terlihat garis-garis kecil yang menggambarkan airmata yang berlinang. Hanya dengan melihat  patung itu cukup untuk menggambarkan kekejaman, kesedihan yang terjadi di Rawa Gede

Image

Patung ini berada di lantai dua dari monumen Rawa Gede. Monumen ini unik karena seperti lambang garuda indonesia yang ada hubungannya dengan tanggal kemerdekaan indonesia, begitu juga dengan monumen ini. Monumen ini memiliki dua lantai, lantai bawah merupakan diorama dengan isinya boneka patung belanda dan warga desa. Diorama ini dilapisi kaca sepuluh milimeter. dan lantai atas ada patung ibu martem. Tangga menuju lantai keatas berjumlah 17 anak tangga, lantai dasar bersisi 8, bagian atas seperti piramid bersisi 4 dan tinggi monumen 5 meter. Monumen ini diresmikan 12 juli 1996

Image

****

Soeroto Koento pria kelahiran bandung 1922 tumbuh besar di jogja, mahasiswa UI angkatan 42. Menolak menjadi anggota PETA karena jepang licik membuat PETA untuk melindungi Jepang sehingga Soeroto Koento membuat PETA yang berani melawan Jepang. Akibat keberaniannya ini Soeroto Koento diangkat menjadi komandan resimen jakarta dengan pangkat letnan kolonel. Markas besar tentara dulu berada di cikampek karena Jakarta saat itu hanya kresidenan dimana baru pada tahun 1967 dijadikan provinsi dengan gurbernur Ali Sadikin.

15 september 1945 belanda masuk diboncengi oleh sekutu. 5 Oktober 1945 Soeroto Koento menyatukan semua laskar laskar rakyat yang kemudian berganti nama jadi tentara keamanan rakyat, oleh sebab itu 5 oktober dijadikan hari ABRI. Tahun 1946 sekutu meninggalkan indonesia.

25 november tahun 1946 Soeroto Koento diundang ke Jakarta didampingi dua ajudannya yaitu kapten mursid dan kapten sofyan dan dua prajurit lagi. Soeroto Koento diundang untuk membahas kedatangan belanda yang akan melakukan agresi militer.

Pak mursid yang pulang duluan menanti kabar kepulangan atasannya. Jam sepuluh malam belum ada kabar, jam sebelas belum ada kabar. Kapten mursid menyusuri jalan perbatasan karawang bekasi lebih tepatnya di rawa gabus warung bambu dan jam  satu malam menemukan mobil kosong penuh dengan noda darah dan kaca pecah tertembus peluru namun mayat Soeroto Koento tidak pernah ditemukan. Pembunuhan sang komandan ini diduga oleh orang indonesia yang pro terhadap belanda. Kapten mursid kemudian meninggal tahun 2011. Patung Soeroto Koento dibangun didepan BNI cikampek yang diresmikan oleh jendral Wiranto pada tahun 1998.

Kematian sang komandan menjadi titik awal dari kejadian pembantaian di Rawa Gede. Setelah kematian Soeroto Koento, Komandan kompi karawang bekasi, Lukas Kustario yang masih satu mertua dengan jendral Kharis Suhud, ketua dpr mpr tahu 1987-1992 yang juga pernah menjadi prajurit kompi Lukas Kustaryo. Minimnya senjata pada saat itu membuat Lukas Kustaryo harus merebut senjata dari markas tentara Belanda.

“Ya kalo ada markas belanda 8-10 orang di cikampek, ditembak satu!, Baju belandanya di pake mendeketin belanda yang lain,” kata seorang bapak tua kelahiran tahun 1949, Pak Karman, mantan lurah, anggota legislatif sekaligus pekerja sosial yang memperjuangkan kasus rawa gede ke negeri kincir angin.

“Pernah  di Pabuaran, dia ngehantem belanda, malah anak buahnya seorang letnan namanya pak sanib pernah nembak 20 meter kok ini belanda kecil gak taunya komandannya kan?” cerita pak Karman kepada saya.

Saya yang terjekut dan bertanya “yah, ketembak?”

“woo gak kena kena” kata pak karman.

“Hah kok bisa?” saya lanjut bertanya, pak karman sambil menyentuh bahu saya dia mengatakan, “ya gatau ya faktor x mungkin ya”. Yang langsung terlintas dikepala saya Lukas Kustaryo ini kebal peluru tapi ada kemungkinan pak sanib meleset. Karman yang dia dapati langsung dari pak sanib sendiri. Pak sanib lantas langung meminta maaf kepada komandanya.

600 militer pasukan belanda siap dikirim ke Jakarta dari Surabaya menggunakan kereta api. Begitu mendengar tentang kabar ini Lukas Kustaryo mengumpulkan anak buahnya untuk siaga di cikampek dan setelah itu dia langsung pergi stasiun kereta Cipinang. Satu lokomotif dengan tujuh gerbang kosong sedang parkir disana. Masinis yang berhadapan dengan orang bersenjata langsung menurut saja begitu diperintahkan untuk menajalankan kereta.

Pasukan-pasukan Lukas sudah disiagakan dicakmpek. Sesampainya distasiun gede citarum, lukas yang seorang diri lapor ke kepala stasiun untuk menanyakan kapan kereta dari surabaya yang mengangkut militer belanda sampai disini. Karena  kepala masinis menganggap Lukas itu seorang masinis ya di kasih tau menit berapa jam berapa. Tidak lama setelah itu kereta Lukas keluar dari karawang, di tanjung pura kereta langsung di inhalekan ke jalur yang berlawanan. Memasuki jembatan citarum kereta langsung dipercepat ke kecepatan maksimum, tepat ditengah jembatan citarum kedua kereta tersebut bertabrakan.

“tetapi pak lukas tuh loncat ke atas, nyebur ke air, diam di air aja” kata pak karman yang terlihat asik menceritakannya kepada saya.

Tentara pak lukas yang sudah bersiaga lantas menjarah isi kereta tersebut, oleh sebab itu persediaan senjata mulai banyak. Banyak orang yang mengira pak lukas meninggal pada kejadian itu, tapi faktanya dia masih hidup. Tindakan-tindakan heroiknya ini yang membuatnya dicap sebagai “Begundal dari Karawang” oleh belanda, bahkan di salah satu gedung di belanda tepatnya di denghag ada patung setengah badan Lukas dengan julukan Begundal dari karawangan.

Belanda mulai memburu Lukas, dimana terdengar ada keberadaan lukas, militer belanda langsung dikerahkan untuk mencarinya. Desa Rawa Gede, karawang, sebuah desa yang menjadi tempat berkumpulnya laskar laskar rakyat karena didesa ini banyak berkelimpahan atau banyak orang kaya. Logistik tidak menjadi persoalan bagi desa ini sehingga satu rumah mampu menampung sepuluh sampai dua puluh pejuang untuk tinggal disitu.

Tanggal 7 desember 1947, Lukas melarikan diri dari Pamanukan ke Pabuaran dan sampai di Cikampek  sore hari dia pergi jalan kaki ke desa lebang melalui jalan wadas terus ke telaga sari lalu sampai di desa rawa gede pukul tujuh pagi tanggal 8 desember 1947. Lukas bergabung dengan pejuang yang ada dirawa gede. Di rawa gede Lukas mengatur penyerangan lapangan udara Cililitan yang sekarang menjadi bandara Halim Perdana Kusuma.

Senjata yang ada di desa itu hanya 4 senapan. Lukas hanya membawa sebagian dari pejuang pejuang yang ada di situ. Jam 3 sore Lukas dan anak buahnya berangkat menuju suka tani sampai jam 6 sore. Rombongan Lukas berhenti istirahat untuk makan dan jam 7 malam perjalanan kembali dilanjutkan menuju cibarusah bogor sampai tengah malam, dari cibarusah bergerak ke pondok gede sampai pagi dan menyerang lapangan udara cililitan. Pak lukas tidak tahu rawa gede diserang saat dia menyerang lapangan udara cililitan 9 desember 1947.

8 desember 1947 jam 9 pagi mata mata belanda mengetahui ada Lukas bergabung dengan para pejuang di Rawa Gede. Markas belanda satu satunya di karawang ada dibelakang alun alun karawang yang sekarang menjadi asrama polres karawang. Begitu ada laporan masuk, markas belanda karawang merasa tidak mampu dan melapor ke kantor pusat.

“ jam 3 jam setengah 4 surat perintah datang, surat perintah kalau begitu rawa gede harus dibumihanguskan malam ini” kata pak karman menceritakan kronologisnya.

Di karawang ada lurah tanjung pura,pak Sokin, lurah yang diangkat oleh belanda yang masih memiliki jiwa patriot begitu mendengar kabar bahwa rawa gede akan dibumihanguskan, ia langsung naik sepeda untuk memperingati lurah desa rawa gede.

TKR TKR yang ada di rawa gede langsung bergegas membongkar jalan agar tidak dapat dilalui kendaraan belanda. Jam 5- 6 sore TKR mulai membongkar namun jam 7 malam hujan deras. Jam 10 malam hujan pun mereda, jam setengah sebelas malam mobil belanda ke kalangsari, rengas dengklok berjalan kaki berseragam militer belanda bersepatu boot, baju putih krem dengan loreng loreng coklat membawa senjata menembus pekat malam dan melewati hutan dan sawah.

9 desember setengah satu malam 300 tentara belanda sudah melingkari desa rawa gede. Bulan desember adalah bulan penggarapan sawah, masyarakat rawa gede sudah bersiap untuk membajak sawah subuh jam 4 pagi. Dimana-mana mereka bertemu dengan tentara belanda. Ditinggalnya seluruh peralatan dan kerbau mereka untuk memperingati pejuang-pejuang untuk menyembunyikan diri.

Image

Sebagian besar pejuang jam 4 subuh mereka masuk ke kali rawa gede, mereka berkelompok bersembunyi 20 orang 30 orang ngumpet dibawah semak semak, enceng gondok. Sekitar dua ratus orang bersembunyi sepanjang kali itu.

20 pejuang bersembunyi dirumah warga, mereka bersembunyi dibelakang benda benda yang ada dirumah itu. karena pintu dibuka dan jendela dibuka, belanda mengira rumah itu rumah kosong yang ditinggalkan pemiliknya. Namun warga yang panik bersembunyi dengan mengunci rumahnya. Hal ini membuat belanda berpikir mereka menyembunyikan lukas dirumah ini. Didobrak pintu kayu rumah itu, didapatinya orang orang yang bersembunyi. Semua laki laki berumur 14 tahun keatas di kelompokan sementara dibawah 14 tahun dibiarkan bersama para wanita.

Belanda menanyakan keberadaan pejuang dan keberadaan pak Lukas. Namun mereka semua menjawab tidak tahu walaupun mereka tahu dimana pejuang bersembunyi dan mereka tahu bahwa lukas sudah tidak ada di rawa gede. Hal ini membuat gerang belanda

30 orang laki laki berjejer menghadap tembok, suara letusan senapan api mengelora hingga kepenjuru desa. Satu demi satu orang berjatuhan setelah badan mereka dihujam peluru. Belanda terus melanjutkan penyisiran mereka, masih ada 8 kelompok lagi yang akan dibantai namun mereka tidak tahu karena sistemnya dikumpulkan. Rumah yang tetap dikunci rumahnya dibakar, lebih dari duapuluh rumah dibakar.

Pembantaian terus berlanjut, kira kira jam 8 pagi pengantin baru bu Ini(14) keluar dari rumah dan melihat kejadian pembantaian tersebut. Lekas ia masuk lagi dan memberi tahu suaminya pak Ridam(18) agar jangan keluar karena laki laki sedang dibantai. Pak ridam memakai baju kebaya pengantin wanita dengan penutup kamar dan tetap berada di kamar. Naas, disaat sedang bersembunyi, rumah yang berada dibelakang rumah mereka terbakar dan menyambar rumah mereka. Lantas pak ridam keluar rumah melarikan diri. Tidak jauh dari rumah pak ridam bertemu belanda dan langsung ditembak. Pak ridam pun tewas

Jam 12 siang, 20 pejuang yang bersembunyi tetapi pintu dan jendela rumah dibuka tadi diketahui oleh belanda. 30 prajurit belanda langsung memaksa keluar pejuang itu dan menjajarkan ke tembok satu persatu ditembak

“malah suaranya tekdung tekdung” kata pak karman. Saya merasa geli dengan suara yang dia keluarkan tapi disatu sisi saya bisa merasakan kengerian dari peristiwa itu.

Image

Surya suanda, laki laki terakhir dari barisan yang akan ditembak, dia berlari meloncat pagar namun tertembak pahanya. Dia merayap ke kali rawa gede yang tidak jauh dari situ. Satu jam belanda mencari surya suanda namun nihil hasilnya. Sejak saat itu belanda mulai berpikir banyak pejuang yang bersembunyi di kali ini.

Dari 300 prajurit belanda diantaranya membawa anjing pelacak 3. Setiap kali anjing pelacak menggonggong di sekitaran kali, prajurit belanda langsung memberondong kali itu tanpa sasaran yang pasti. Mayat mayat mulai bermunculan, belanda menyisir sepanjang kali itu dan menembaki ratusan dari pejuang

“dua puluh paling nyisa tiga, sepuluh paling nyisa satu atau dua” kata pak karman.

Seratus delapan puluh satu makam dengan batunias putih berbaris di belakang monumen rawa gede. Meskipun yang terhitung 181 makam namun jumlah korban sebenarnya adalah 431 orang. Lebih dari dua ratus orang yang terhanyut.

Image

 Sekitar jam 4 sore belanda menyudahi pembantaian ini dan pulang kembali ke markasnya. Para wanita berhamburan dijalanan mencari suami, anak dan kerabat mereka. Dari hari rabu sampai jumat proses pemakaman belum selesai karena menggali tanah para wanita ini menggunakan golok.

Pak karman sebagai anak dari janda akibat pembantaian dan ayahnya seorang pejuang yang selamat dari penembakan di kali tidak tinggal diam. Beliau menggugat Ham ke negara belanda dengan modalnya sendiri dan tanpa ada bantuan diplomatis dari negara indonesia. Bahkan kedutaan indonesia di belanda menolak kehadiran pak karman. Usaha pak karman tidak sia sia, dari empat gugatan yang diajukan diantaranya belanda harus mengakui kemerdekaan indonesia secara de facto, mengakui agresi militer belanda ke satu dan ke dua, mengakui pembantaian rawa gede(karawang), westerling(sulsel) dengan korban 40 ribu jiwa dan peristiwa bondowoso,meminta dana kompensasi atas korban pembantaian, pak karman memenangkan gugatan belanda mengakui pembantaian rawa gede dan bersedia memberikan kompensasi kepada 9 janda yang masih hidup pada waktu gugatan itu dimenangkan. Belanda memberikan kompensasi senilai 20 ribu euro atau sekitar 240 juta rupiah.

Pak Lukas Kustaryo hadir saat monumen rawa gede diresmikan tahun 1996, ada kejadian rutin yang dimulai sejak saat itu yang dilakukan oleh pak Lukas. Setiap kali dia melihat boneka belanda di ruang diorama, pak Lukas selalu menonjok kaca itu dan meludah ke arah boneka itu. 8 januari 1997 pak Lukas Kustaryo meninggal dengan pangkat terakhir sebagai Brigadir Jendral

Image

This entry was posted in Peristiwa, UAS and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s