Si Cantik Kerajinan Batik

Nandya Utami Putri Bachtiar/ 11140110135

Sebuah gardu besar bertuliskan “Kawasan Sentra Batik Laweyan Solo” yang sudah terlihat tua, karena usang dan karatan namun masih tetap berdiri kokoh itu seakan menyambut kedatangan para penggemar batik, termasuk saya. Dari kejauhan tujuh meter sebelum gardu, sudah dapat dipastikan bahwa itu merupakan jalan masuk Kampung Batik Laweyan dan gardu tua itu adalah sebagai tanda bahwa kita sudah memasuki kawasan Kampung Batik Laweyan.

Pemandangannya sangat berbeda dengan ibukota. Sebuah perkampungan yang jauh dari kata kotor, berbau tidak sedap, berhawa panas, atau apapun yang biasa kita rasakan saat berada di sebuah perkampungan di Jakarta. Pepohonan yang tumbuh di sepanjang jalan membuat kampung ini terasa sejuk walau cuaca terik. Bangunan rumah bergaya jawa disekitar kampung menjadi pemandangan yang sudah biasa. Namun, kecantikan batik yang terpajang di balik kaca disetiap rumahlah yang membuat perkampungan ini tampak luar biasa.

Tidak pernah saya melihat kendaraan umum beroda  empat seperti mobil atau beroda dua seperti motor sekali pun yang ngetem atau bahkan hanya sekedar lewat. Yang ada hanyalah kendaraan pribadi. Berkeliling kampung untuk hunting batik dari rumah yang satu ke rumah yang lain atau dari toko ini ke toko itu, hanya mempunyai dua pilihan: naik becak atau jalan kaki. Saya memilih naik becak.

Bangunan kuno yang tertutup dengan tembok-tembok yang menjulang  tinggi menjadi pemandangan yang bisa memanjakan mata setiap menelusuri jalan di kampung ini. beberapa toko yang menjual batik sudah saya lewati, sampai akhirnya saya memilih sebuah toko yang letaknya berada di depan sebuah monumen dari kampung ini.

Selain mata dimanjakan dengan bangun kuno dengan tembok-tembok yang menjulang di sepanjang jalan tadi, mata juga dimanjakan dengan berbagai macam kerajinan batik, seperti baju, sendal, tas, kipas tangan, dan berbagai kerajinan lain yang ditawarkan. Tentunya dengan harga yang sesuai.

Ini adalah sebuah perkampungan yang luas wilayahnya diperkirakan 24.83 ha dengan jumlah penduduk di dalamnya sekitar 2500 jiwa. Oleh karena itu, tidak cukup sehari atau dua hari untuk dapat menikmati dan melihat berbagai kerajinan batik di Kampung Batik Laweyan secara keseluruhan.

Kampung Batik Laweyan ini merupakan kampung batik tertua se-Indonesia. Jelas saja nuansa masa lalu masih sangat terasa di kampung ini. Selain bangunan tua dengan tembok yang menjulang tinggi, bangunan rumah para penduduk pun juga terlihat tua, tembok yang sudah berwarna usang dihiasi dengan bercak hijau karena lumut.

Saya mendapatkan kesempatan untuk masuk kedalam rumah seorang penduduk bernama ibu Marni yang kebetulan beliau adalah sodara jauh dari istri paman saya di Solo. Di luar memang tampak kuno, namun nyatanya di dalam rumah tidak sekuno tampak luarnya. Sudah menggunakan ubin, di ruang tamu menggunakan sofa, selayaknya rumah di masa kini, tapi tidak di dapur kotor mereka. Berubinkan tanah dan alat bakar yang tidak menggunakan kompor, namun masih menggunakan kayu bakar.

Memasuki toko batik ke toko batik lainnya atau pun hanya sekedar mampir ke rumah kerabat tentu saja membosankan. Usai berpamitan dengan ibu Marni setelah kurang lebih satu jam berada di rumahnya, otak saya mengelurkan ide yang cukup cemerlang. Setelah keluar gang rumah bu Marni, pandangan saya tertuju pada sebuah plang petunjuk jalan yang bertuliskan Workshop Cempaka.

Untuk menuju Cempaka, saya harus menelusuri gang-gang sempit yang hanya bisa dilewati oleh kendaraan beroda dua seperti sepeda atau motor. Sebuah plang dari kayu tergantung di sebuah tembok semen bertuliskan Cempaka. Bentuknya seperti rumah biasa yang tidak terlalu besar. Di sebelah rumah untuk tinggal, terdapat sebuah rumah yang digunakan sebagai toko untuk menjual beragam kerajinan batik, seperti: baju, selendang, sepatu, kain batik, dan kerajinan lainnya.

Berbeda dengan toko batik lain, ketika saya mengeluarkan kamera untuk memfoto berbagai kerajinan batik di Cempaka ini, ibu Eni Susilo selaku pemilik dari Cempaka melarang saya untuk mengambil gambar.

“Bukannya apa-apa, tapi saya tidak mau motif batik di sini di plagiat sama orang yang tidak bertanggung jawab. Karena di sini banyak batik tulis, jadi semua motif batik tulis ga ada yang sama, kecuali batik cap. Itu juga bisa menjatuhkan harga pasar” ujar ibu Eni ramah. Karena seorang pendatang, saya pun menuruti peraturan yang ada di Cempaka.

tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang semakin sore, saya segera mendaftarkan diri untuk belajar membatik. Hanya dengan mengeluarkan kocek sebesar 25.000 rupiah, perlengkapan membatik pun siap digunakan. Seorang pria yang merupakan karyawan di Cempaka bernama Tarno nantinya akan membantu dan membimbing saya dalam membatik.

Di awal, sebelum membatik dimulai, ia menjelaskan bahwa batik yang akan saya buat bernama batik tulis. Mendengar kata batik tulis, seketika mengingatkan pada ucapan ibu Eni saat di galeri mengenai batik tulis. Sebagai orang awam yang ingin belajar, tentu saya mempunyai beberapa pertanyaan di otak yang ingin segara di keluarkan. Namun, pertanyaan mendasar saya mengenai apa itu batik tulis pun sudah terjawab.

“Batik tulis adalah jenis batik yang dikerjakan atau dibuat dengan menggunakan tangan dan canting, seperti layaknya kita menulis” jelas mas Tarno sambil menyalakan api di kompor kecil.

Setelah selesai menjelaskan apa itu batik tulis, ia memperkenalkan saya kepada alat-alat yang akan digunakan pada saat membatik. Pertama, alat yang sudah sedari tadi ia pegang adalah canting. Mas Tarno menjelaskan bahwa fungsi canting itu seperti pena yang tintanya merupakan malam. Malam di sini maksudnya bukanlah kerabat dari bulan, namun adalah sebuah lilin yang nantinya akan di lelehkan. Lelehan dari malam tersebutlah yang nantinya akan berfungsi sama seperti tinta pada pena.

Selain canting dan malam, alat penting lainnya adalah sebuah pemanas, seperti kompor kecil seperti kompor mainan yang menggunakan arang sebagai pemanasnya. Kompor ini digunakan untuk mencairkan malam. Kemudian pewarna. Pewarna ini yang akan membuat corak batik yang kita buat tampak lebih hidup. Karena saya masih tahap belajar membatik, pewarna yang digunakan adalah pewarna buatan yang disebut tilo. Perlatan terakhir yang tentunya paling penting dalam membatik adalah kain putih. Untuk lebih memudahkan kita dalam membatik, sebaiknya kain putih tersebut sudah diberi corak tipis dengan pensil.

Saat yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang. Setelah mas Tarno memperkenalkan peralatan membatik sambil melelehkan malam, akhirnya saya pun mulai membatik. Dalam proses membatik, langkah pertama yang dilakukan adalah membuat motif atau corak di atas kain putih dengan menggunakan pensil, namun karena masih pemula, kain putih yang saya pegang sudah mempunyai motif atau coraknya.

Sudah siap kain putih, saya mengambil canting yang sepertinya sudah pernah dipakai sebelumnya, karena ada sedikit malam yang tersisa di canting dan sudah menutup ujung canting. Oleh karena itu, untuk membuka ujung canting agar enak dipakai, maka canting dicelupkan ke dalam lelehan malam yang panas hingga malam yang mengering ikut meleleh.

Setelah itu, mulailah membatik dengan mengambil lelehan malam menggunakan canting. Kemudian, tiup-tiup sebentar lelehan malam yang ada di canting agar tidak terlalu panas. Setelah itu, goreskan ujung canting ke kain putih, mengikuti motif atau corak yang sudah tergambar di kain tersebut. Lelehan malam yang terlalu cair dan panas akan membuat goresan yang mengikuti motif atau corak di kain berantakan, itulah alasannya mengapa lelehan malam yang telah diambil dengan canting harus ditiup-tiup sebentar.

Menutupi motif atau corak dengan malam, bukanlah hal yang mudah semudah membalikan telapak tangan. Benar-benar membutuhkan kesabaran yang ekstra untuk melakukannya. Selain tangan dan badan yang terasa pegal, mata bahkan otak pun ikut terasa lelah, karena membutuhkan konsentrasi penuh  pengelihatan yang tajam. Oleh karena itu, kebanyakan dari pengrajin batik di Kampung  Batik Laweyan ini adalah seorang wanita, karena dianggap wanita memiliki tingkat kesabaran yang lebih dari kaum pria.

Selesai menutup semua motif dan corak dengan lelehan malam, saya bergegas melanjutkan ke proses selanjutnya, yaitu proses pewarnaan. Masih dengan alasan yang sama, sebagai seorang pemula, proses pewarnaan tidak dilakukan dengan mencelup-celupkan kain ke dalam ember yang di dalamnya sudah diberikan air pewarna, namun mas Tarno hanya menyiapkan beberapa warna dari cat tilo, seperti: merah, hijau, kuning, dan biru dongker, dan beberapa cotton buds untuk memoles-moleskan cat tilo ke kain yang sudah di beri malam.

Proses selanjutnya, setelah pemberian cat tilo, kain di jemur di tempat yang terkena sinar matahari agar cat tilo cepat meresap kedalam kain dan cepat mengering. Setelah menunggu selama 30 menit, proses selanjutnya adalah melepaskan malam yang sudah keras dari kain dengan memasukannya ke air panas dan mengaduk-aduknya dengan kayu berukuran kecil. Setelah semua malam terlepas dari kainnya, jemur di tempat panas.

Sambil menunggu hasil batik yang barusan dibuat, saya melihat sebuah pajangan dinding yang cukup besar, dimana terpajang beberapa potongan kain batik dengan motif-motif yang berbeda. Dalam setiap motif terpampang sebuah tulisan berukuran kecil, seperti: Pintu Retno, Pisang Bali, Ceplok Tringgeling, Parang Barong, Suryo Kusumo, dll. Mengenai hal tersebut, saya hanya mendapatkan sedikit informasi mengenai beberapa motif batik, seperti: motif Pisang Bali tercipta karena seorang penemu motif ini menyukai tamanan pohong pisang di Bali. Dalam motif ini tergambar sebuah hiasan daun-daun pisang dengan ranting-ranting yang mejular ke atas dihiasi dengan bunga-bunga yang bermekaran.

Merasa bosan karena menunggu, saya keluar galeri Cempaka hanya sekedar melihat-lihat hal lain di luar galeri. Kebetulan sekali saya melihat seorang pria tua sedang asik dengan pekerjaannya. Rasa ingin tahu yang besar, membawa saya kehadapan pria tua itu. Awalnya, hanya ingin melihat lebih dekat, namun sebuah pertanyaan muncul dari otak saya mengenai apa yang sedang pria lakukan itu. Namanya bapak Sujono.

“Lagi ngecap, non. Ini namanya batik cap. Nah, ini alat capnya terbuat dari tembaga” ucap pak Sujono sambil memperlihatkan motif yang ada di alat capnya tersebut. Ia sudah 21 tahun bekerja menjadi seorang pengrajin batik cap, jadi ia terlihat sangat mahir dalam mengerjakannya.

Tidak sesulit pengerjaan pada batik tulis. Di batik cap ini, prosesnya terlihat lebih mudah. Kain putih tidak terlihat sebuah motif atau corak yang dibuat dengan pensil, semuanya polos. Alat cap dengan berbagai bentuk, seperti kotak dan trapesiumlah yang akan langsung membentuk motif atau corak pada kain.

Prosesnya pun mudah. Alat cap pada bagian motif atau corak dicelupkan ke dalam lelehan malam, kemudian diangkat dan ditiup-tiup sebentar, lalu dicapkan ke kain putih dengan rapi.

Setelah melihat proses kerajinan batik cap dan sedikit berbincang-bincang oleh pak Sujono, pertanyaan pun terlontar dari bibir saya mengenai jenis-jenis batik menurut cara pembuatannya dan perbedaan-perbedaan apa saja yang ada di masing-masing jenis batik tersebut.

Sambil sedikit mengingat-ingat, pak Sujono pun menjawab, “Satahu saya, jenis batik itu ada batik tulis, batik print, dan batik cap seperti batik yang sedang saya buat ini. ya kalo ditanya apa bedanya sih ya, saya kurang bisa menjelaskan, tapi saya tau mana yang batik tulis, batik print atau batik cap.”

Setelah asik mengobrol mengenai batik dengan pak Sujono, saya kembali ke Cempaka untuk mengambil hasil batik yang telah dibuat tadi. Dengan sedikit bekal pengetahuan mengenai jenis batik dari pak Sujono, saya mulai memperhatikan setiap detail motif atau corak batik yang ada di galeri Cempaka. Belum bisa membedakan, saya mulai bertanya-tanya kepada ibu Eni mengenai perbedaan batik tulis, batik cap dan batik print.

Dapat saya simpulkan perbedaan ketiga jenis batik tersebut setelah berbincang-bincang cukup lama dengan ibu Eni bahwa Batik Tulis mempunyai ornamen yang berbeda meskipun bentuknya sama. Proses pengerjaannya pun dikerjakan secara manual sehingga membuat batik tulis ini terkenal dengan harga yang mahal.

Pada Batik Cap mempunyai ornamen yang sama dengan bentuk yang sama pula, karena menggunakan alat cap yang telah terpola batik sehingga ornamennya tidak lagi dapat diubah dengan mudahnya. Proses pembuatannya lebih mudah dari proses batik tulis.

Pada Batik Print sebenarnya hampir sama dengan proses sablon, karena prosesnya menggunakan mesin pembuatan textile yang sudah computerized sehingga motif atau corak sesusah apapun tetap bisa dibuat.

Hari semakin larut, hasil batik buatan pun sudah saya genggam erat di tangan kanan. Sebelum pulang, saya berpamitan kepada ibu Eni dan Mas Tarno, karena merekalah saya mendapatkan pelajaran yang begitu bermanfaat. Namun, sosok pak Sujono tak lagi tampak di tempat saya bertemu tadi, mungkin ia sudah kembali kerumahnya.

Begitu beragam  jenis batik yang ada di Indonesia tercinta ini. Oleh karena itu, kita harus selalu menjaga kelestariannya dengan selalu membudayakan batik dan kita harus selalu mencintainya agar tidak ada negara lain yang mencuri dengan cara selalu dan tidak malu menggunakan batik, salah satu kerajinan milik Indonesia.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s