Siapapun Bisa Jadi ‘Orang’

oleh Yardenia Apriliani – NIM 11140110229

 

Siapapun Bisa Jadi ‘Orang’

Nama Indonesia tercoreng.
Masih ingatkah kita dengan tragedi pahit yang terjadi pada tahun 2002 lalu? Indonesia berduka, banyak warga asing yang meninggal dan nama Indonesia-pun tercoreng. Terorisme terparah dalam Indonesia terjadi. Sebuah pulau indah yang ramai dikunjungi para turis asing, sesaat menjadi kota mati. Ya, tragedi Bom Bali pada 12 Oktober 2002 lalu masih menyimpan duka dan sempat membuat Indonesia menjadi negara ‘teroris’. Seperti yang dilansir Wikipedia, sebanyak 202 korban meninggal dan 209 lainnya mendapat luka berat ataupun ringan. Kala itu, sejumlah kelompok masyarakat muslim menjadi tersangka pelaku pemboman Bali. Sempat membuat heboh, sebuah keluarga Indonesia yang tinggal di Perth, negara bagian Australia Barat diduga terlibat dalam Bom Bali 2002.
Raymond Kaya, seorang jurnalis SCTV yang sedang mengambil short course di RMIT University Melbourne, mendapat tugas untuk mewawancarai keluarga Taufik Abdap, orang yang diduga menjadi anggota Jamaah Islamiah dan terkait dalam pemboman Bali 2002. Media Australia sendiri pada saat itu tidak dapat mewancarai keluarga Taufik. Tentu saja ada perasaan khawatir dan rasa tidak aman jika Taufik membuka diri terhadap media asing. Karena keberadaan Raymond di Australia saat itu menjadi peluang yang pas bagi SCTV untuk dapat mewancarai keluarga Taufik.
Senang, tentu hal ini yang dibanggakan oleh Raymond ketika tugas dihibahkan ke dirinya. Tetapi, saat itu dia hanya seorang diri, tidak ada kawan- kawan jurnalis yang bersamanya. Dengan modal nekat, Raymond yang merantau di negeri kanguru itupun berangkat dari Melbourne ke Perth sendirian. Ia menyewa seorang kameramen berkewarganegaraan Australia untuk menjadi partnernya. Sesampai di Bandar Udara Perth, Raymond bertemu dengan kameramennya. Kemudian melanjutkan perjalanan ke kediaman Taufik Abdap.
Siang itu panas tidak terlalu menyengat, Raymond berjalan memasuki rumah Taufik Abdap. Raymond tidak terlalu menerangkan spesifikasi rumahnya, untuk masalah perlindungan hak narasumber. Namun Raymond membeberkan bahwa keadaannya sunyi senyap, rumahnya tertutup rapat, mulai dari jendela, pintu, dan lain- lain, tak ada celah untuk orang mengintai dari luar. Memang benar, keluarga Taufik merasa disudutkan oleh peristiwa yang terjadi di Indonesia Oktober itu. Kedatangan Raymond disambut hangat oleh keluarga. Rasa pembelaan dan latar belakang dari negara yang sama membuat mereka saling nyaman dan bercerita apa adanya.
Raymond-pun berhasil mewawancarai keluarga Taufik yang kemudian disiarkan secara ekslusif oleh SCTV. Raymond kembali ke Melbourne dan kameraman asing itu kembali ke tempatnya yang tidak Raymond ketahui. Hubungan mereka hanya sebatas customer dan pelanggan yang membutuhkan jasa, selepas itu tidak ada contact dari keduanya.
Pemilik nama lengkap Raymond Simon Antonius Kaya yang akrab disapa Raymond Kaya ini mengaku menyelesaikan S1-nya selama 7 tahun di Universitas Parahyangan Bandung. “Gue udah hampir di DO (drop out) loh waktu itu. Dari tahun 1987 sampai 1994, baru deh gue lulus tahun itu.”
Pria kelahiran Bandung, 26 Agustus 1968 ini mengambil jurusan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) dan lulus dari SMA Yahya Bandung dengan peringkat 30 dari 33 murid yang ada. Bukan suatu hal yang perlu Raymond banggakan, tetapi Dia menjelaskan memang dirinya lemah dalam hal pelajaran dan berlanjut sampai Dia masuk ke tingkat perkuliahan. Raymond muda mengambil HI (Hubungan Internasional) sebagai jurusan kuliahnya.
Ketertarikannya pada peristiwa di luar negeri membuat ia banyak mengukir karya tulis, salah satu tulisannya ‘Perjanjian Paris, Perdamaian di Kamboja’. Akhirnya, setelah mengalami 30 kali penolakan, kali ini berbuah manis. Gala Media, sebuah koran atau majalah daerah Bandung memuat tulisan Raymond mengenai ‘Perjanjian Paris, Perdamaian di Kamboja’. 1 minggu kemudian, tulisannya mengenai ‘PM (Perdana Menteri) Australia Paul Keating’ dimuat pada Pikiran Rakat, koran daerah Bandung. “Dulu waktu kuliah, gue aktif ikut banyak kegiatan. Dulu kan tiap ada kegiatan dikasih makanan gratis gitu dari kampus, pokoknya asal ada makanan gratis, semua kegiatan kampus gue ikutin deh”, kata Raymond sembari senyum kecil terlukis di wajahnya ketika Dia mengingat memorinya. Karena banyak organisasi yang ia jalani, hal ini membuat pengetahuannya makin bertambah. Sekitar tahun 1990, teman- teman kuliahnya banyak mendukung Raymond untuk menulis dan mengirimkannya ke koran dan majalah. Iseng- iseng berbuah manis. Walaupun sempat harus gagal sampai 30 kali, Raymond tidak patah semangat dan berkecil hati. Justru karena penolakan itu, Dia semakin giat mengirimkan tulisannya ke koran dan majalah Bandung setempat. Terhitung sampai saat ini sudah ada 250 karya tulisnya yang sudah terbit di berbagai koran. Tulisan terakhirnya di muat pada Media Indonesia beberapa waktu yang lalu mengenai pemilu di Amerika, yaitu ‘Teori dramatugi yang dilakukan Hillary Clinton pada pemilu AS’. Ditanya mengenai tulisan tentang dalam negeri, Raymond berkomentar, “Indonesia? Puyeng deh”. Raymond lebih tertarik untuk menulis sesuatu yang berbau Internasional, karena mungkin dengan ilmu yang ia dapat berkaitan dengan Internasional.
Ditemui usai mengajar mata kuliah Teknik Interview dan Reportase di UMN (Universitas Multimedia Nusantara) Tangerang, Raymond yang saat itu mengenakan kemeja putih berbalut jeans ini menceritakan masa kuliahnya dulu.
“Gue udah hampir di DO (drop out) loh waktu itu. Dari tahun 1987 kuliah sampai 1994, baru deh gue lulus tahun itu.”
Raymond duduk sambil makan keripik pisang bersama beberapa mahasiswa yang sekedar ingin sharing bersama. Sembari menggenggam handphone-nya, Dia mulai bercerita. “Dulu, walaupun gue sering nulis dan tulisan gue udah sering dimuat di koran- majalah, lucunya mata kuliah Bahasa Indonesia gue dapet E loh. Kalau dapat E ya ga lulus dong. Gue sampai ngulang 3 kali itu Bahasa Indonesia dan semuanya dapat E mulu”. Raymond ingat betul, saat itu dirinya bersama 2 mahasiswa lainnya dipanggil ke sebuah ruangan untuk disidang menentukan lulus atau drop out-kah mahasiswa tersebut. Walaupun Raymond telah lulus dalam skripsi dan mendapatkan A, rupanya mata kuliah Bahasa Indonesia yang E inilah membuat Dia harus mendekam lama di Parahyangan. Raymond yang duduk di bagian paling pojok ditanya terlebih dahulu oleh Dosen, Ketua Jurusan dan Rektor yang ada. “Nama kamu siapa?”, dengan tegas Raymond menjawab, “Raymond Kaya, Pak”. Spontan, para Dosen dan Ketua Jurusan yang ada di ruangan itu kaget. Nampaknya mereka sudah sering mendengar nama Raymond Kaya di berbagai koran dan majalah yang mereka baca. Untuk memastikan, Dosen, Ketua Jurusan, dan Rektor-pun menanyakan lagi, “Kamu Raymond Kaya yang tulisannya ada di koran- koran itu kan?”, “Ya, itu saya pak”. Suasana ruangan yang saat itu kaku, dingin, dan terlihat seram itupun berubah menjadi sedikit lunak karena tawa yang datang dari para Dosen yang ada. Akhirnya, Raymond-pun lulus. Dirinya merasa terselamatkan karena karyanya yang terus Dia tekuni.
Setelah lulus dan menjadi sarjana S1 pada tahun 1995 akhir, Raymond bekerja di tempat penelitian. Karena ingin mencari pengalaman yang lain Dia pun mencoba masuk ke media di SCTV.
“Buat gue, jurnalistik itu menarik. Gue kagum”
Keinginannya untuk berkecimpung di dunia jurnalistik sudah ia minati dari muda. Saat itu TVRI (Televisi Republik Indonesia) adalah satu- satunya stasiun TV Indonesia yang mengudara. Kehadiran para presenter TVRI membuat decak kagum Raymond. Tidak heran jika tulisannya mungkin menjadi nilai tambah dan bekal untuk Dia terjun ke dalam dunia jurnalistik, dunia broadcasting/ siaran.
Febuari tahun 1996 Raymond mulai bekerja di SCTV. Dia bersama 30 rekan lainnya dilatih untuk menjadi reporter. Mulai dari reporter biasa, reporter kriminal, dan reporter istana pernah Dia tempuh. Dr. Sumita Tobing, seorang doctor dengan gelar broadcasting journalism selaku pimpinan redaksi SCTV saat itu melatih Raymond dan rekan- rekannya. Raymond bercerita, saat itu SCTV tengah baru berdiri. Gedung yang mereka tempati pun tidak besar seperti sekarang ini. Raymond seorang keturunan Ambon- Makasar dan Tionghoa Bandung ini merasa gampang bergaul dan beradaptasi dengan suasana yang ada. Raymond menyenangi pekerjaannya ini, meskipun pada awalnya dia sempat dijadikan ‘tumbal’ oleh teman- temannya. Sebuah pengalaman yang unik, karena Raymond beragama Katolik, diantara teman- temannya Dia yang tidak puasa pada bulan puasa, sehingga Raymond dijadikan ketua kelas yang sering mendapat tugas lebih. Raymond menerima hal itu dengan lapang dada. Semisal ada salah satu pekerjaan yang salah dan tidak berespun, Raymond yang selalu kena ‘semprot’. Namun, karena kegigihan dan keuletannya yang didasari dengan sikap tanggung jawab ini, pada tahun 2001 Raymond ditunjuk menjadi assisten Producer.
Pada tahun yang sama inilah, Raymond menemukan tulang rusuknya. Seorang penyiar Radio Sonora, Christina Yulia Sari atau yang biasa dipanggil Lisa menikah dengan Raymond Kaya. Awal pertemuan mereka saat sedang bersama- sama ada di lapangan meliput bersama, dari situ mereka berkenalan dan melanjutkan hubungan sampai ke jenjang pernikahan. Persamaan keyakinan dan prinsip- prinsip yang mereka punyai membuat mereka klop. Raymond membutuhkan seseorang yang mengerti tentang pekerjaannya. “Ya pokoknya istri gue ngerti lah tentang pekerjaan gue. Dia bukan tipe orang yang dikit- dikit nanya kamu dimana, lagi apa, sama siapa. Paling ga bisa deh gue kalo digituin”. Mereka telah dikaruniai 2 anak, yang pertama perempuan berusia 11 tahun dan yang kedua laki- laki berusia 7 tahun.
Pada tahun 2002, Raymond Kaya mendapatkan beasiswa dari Australian Aid. Dia mendapat short course di RMIT University Melbourne mengenai Peace Journalism selama 9 bulan. 4,5 bulan dilakukan di Indonesia dan 4,5 bulan lainnya dilakukan di Australia. Mulai dari biaya hidup, biaya tempat tinggal, dan uang saku diberikan kepada Raymond secara cuma- cuma. Raymond-pun melihat hal ini sebagai peluang untuk mengasah dirinya lebih lagi. Kepulangannya ke Indonesia pada tahun 2003 membuat Dia dipuji teman- temannya mengenai wawancara ekslusif dengan keluarga Taufik Abdap. Lalu Dia diangkat menjadi Producer. Tahun 2005, Dia kembali naik ke level yang lebih tinggi, Dia menjadi Excecutive Producer. Pada tahun 2009, Raymond mendapat tanggung jawab yang lebih lagi, Dia dipercaya untuk menjadi Departemen Head SCTV. Tentu saja, kenaikan jabatan Raymond ini berlangsung lama, karena setiap hal pasti memiliki proses. Raymond bukanlah orang yang ada di depan layar dan sering di lihat oleh publik. Namun Raymond lebih sering berada di belakang layar, menjadi seorang pemimpin yang mengkoordinasi semuanya.
Pada tahun 2012 lalu, Raymond lulus S2 dengan gelar master dari UMB (Universitas Mercu Buana) Jakarta. Raymond memilih Ilmu Komunikasi sebagai jurusan S2nya. Dengan bangga hati, Raymond bisa memamerkan IPnya sekarang ini. “IP gue 3,75. Ya terbaik 3 di kelas deh. Beda sama dulu waktu S1”. Karena ilmu yang didapatnya saat ini bertambah, Raymond berbagi bukan dengan hafalan semuanya ingat sampai sekarang, tetapi mengerti tentang suatu teori lah yang membuat dirinya dapat memahami semua teori. Tulisan yang Dia buat sekarang inipun semakin bervariasi namun tetap seputar luar negeri. Seperti mengenai pengalaman perkembangan politik di Eropa, Pemikiran Webber yang masuk pada abad 21, dan lain- lain.
Saat ini Raymond menjadi Gendral Relation Officer di SCTV, Dia mengurusi perihal liputan 6 dengan hubungan rekan- rekan luar. Dirinya tengah disibukan dengan acara SCTV Goes to Campus yang dilaksanakan pada bulan Mei- Juni 2013 ini. Sejumlah kampus ikut berpartisipasi dalam acara yang diselenggarakan oleh Liputan 6 SCTV ini.
Sedih.
Liputan paling membawa duka baginya ialah saat ia meliput di daerah konflik, di Ambon selama 12 hari. Merasa ada darah Ambon melekat dalam dirinya, hatinya miris melihat banyak warga Ambon yang tewas. Walau Dia tak mengenal betul tentang daerah nenek moyangnya berasal, namun konflik yang terjadi membuat hatinya pilu.

Aside | This entry was posted in Profil, UAS. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s