Tak Perlu Datang untuk Berterimakasih

Mereka tak akan berkomentar. Hanya bisa diam, dan menerima apa saja yang dilakukan wanita itu. Wajahnya, rambutnya, tubuh, dan pakaiannya semua diserahkan begitu saja seluruhnya, dirias sesuai kehendak wanita berambut putih itu.

Pagi itu Bu Marni mendapatkan dua pelanggan. Satu wanita muda, satu lagi wanita paruh baya.  Kedua wanita itu dimandikan secara bergantian. Pertama Christie. Wanita muda ini telah lama mengidap penyakit leukemia/kanker darah. Sejak kecil Ia sudah biasa mengonsumsi obat-obatan untuk kesembuhannya. Segala macam terapi juga telah Ia coba untuk mempertahankan hidupnya. “Kami selalu memperjuangkan kesembuhannya. Segala macam cara telah kami coba. Pengobatan-pengobatan di luar negeri pun telah dijalani. Namun, Tuhan berkehendak lain. Tuhan tahu mana yang terbaik untuk Christie, juga untuk kita semua” ujar ibunda Christie menitikan airmata.

Christie dibawa ke sebuah ruangan kosong. ibu Marni segera memasang selang panjang dan menyalakan sebuah keran. Rupanya Ia akan memandikan Christie disana. Semua penutup lubang di tubuh Christie dibuka satu-persatu, lalu dibersihkan. Darah segar mengalir dari telinga dan lubang hidungnya. Bagi bu Marni, itu bukanlah hal yang aneh. Ketika lubang-lubang yang terdapat pada tubuh dibuka, semua lubang akan mengeluarkan kotoran-kotoran. Lain halnya ketika jenazah yang meninggal karena penyakit. selain kotoran, darah segar pun akan keluar melalui lubang-lubang tersebut.

Seluruh tubuh Christie dibersihkan dengan penuh kelembutan. Dari ujung kepala hingga ujung kaki, semuanya dibersihkan tanpa ada sedikitpun kotoran yang tersisa. Matanya dibiarkan tertutup, namun kedua ujung mata dibersihkan. Penutup telinga, hidung, dan penutup lubang-lubang yang lainnya dibuka kembali, lalu kotoran-kotoran dibiarkan terbuang bersama aliran air.

Rambut Christie diberi shampoo dan conditioner, lalu dikeringkan. Setelah rambut itu kering, bu Marni menyisir rambut pendek Christie dengan sangat hati-hati. kemudian diberi sedikit hairspray agar rambutnya yang sudah rapih tidak mudah berantakan.

“Hmmmmh sekarang Christie sudah wangi, sudah bersih,” ujar bu Marni pada Christie.

Bu Marni berjalan meninggalkan Christie sendirian diruangan kosong itu. Kemudian dia mengambil beberapa gaun yang telah Ia siapkan untuk Christie dan klien-klien lainnya.

 “Christie mau gaun yang mana? Hmm coba biar ibu yang pilihkan yaa gaun cantik buat Christie yang cantik,” kata bu Bu Marni sambil melihat gaun-gaun itu kemudian tersenyum ke arah Christie.

 Sejak awal mereka bersama, Bu Marni selalu mengajak mereka bicara “Apa hal yang paling membahagiakan yang pernah kamu rasakan?” “Apa saja yang telah kamu lakukan untuk membahagiakan orang-orang disekitarmu?” “Apa saja yang sudah kamu persiapkan untuk bertemu dengan Tuhan?” “Apa kamu sudah mengikhlaskan semuanya? Termasuk hidup dan matimu ini”, Bu Marni tahu akan hanya ada diam sebagai jawabannya. Namun, perempuan ramah itu tidak pernah berhenti mengajak klien-kliennya berbincang.

Diperlakukan dengan sangat lembut seperti bayi, Bu Marni takut Christie terluka. Kemudian Christie dipakaikan gaun yang telah dipilihkan bu Marni, gaun yang sangat indah. “Christie sekarang tambah cantik kan ka?” Tanya bu Bu Marni padaku. “Ha? Iya bu, cantik” jawabku sedikit gemetar. “Kamu gak perlu takut, ibu percaya Christie anak yang baik dan pintar,” ujar bu Bu Marni sedikit menenangkan.

Menurut Bu Marni sebenarnya ini benar-benar pekerjaan yang sangat sulit dan bermodalkan cukup besar. Bagaimana tidak, dia harus membeli bedak dan alat-alat make up produk luar. Jika tidak ,sama saja dia telah mengecewakan klien-kliennya. “Tapi saya bersyukur karena pekerjaan inilah yang membuat saya membuka mata bahwa saya sebagai makhluk Tuhan sangat dekat dengan kematian.” Tambahnya.

Kulit Christie sekarang sudah berbeda, sensitive, sulit untuk ditaburi bedak yang pada dasarnya seperti debu yang  halus. Pori-pori kulitnya sudah tertutup,  itulah yang membuat wajahnya sulit dirias. Jika ditaburkan di pipi mereka, bedak lokal hanya akan menjadi seperti bercak di wajahnya.

Tujuan awal Bu Marni sebenarnya tak ingin hanya sekedar mencari uang, melainkan memberikan kebahagian terakhir. Menjadi tampan atau cantik salah satu kebahagiaan. Dan melihat seseorang yang tampan atau cantik juga bisa membuat kita bahagia bukan? Itulah tujuan Bu Marni, memperindah diri seseorang agar siapa saja yang melihat dan berada di dekatnya tidak terlalu lama terpuruk di dalam kesedihan.

Bu Marni mulai menaburkan foundation ke wajah Christie, lalu memberikan bedak padat di wajah dan leher Christie. Kemudian dibubuhkan bedak tabur agar bedaknya sedikit lebih tebal dan tak mudah luntur. Alis matanya diperjelas menggunakan pensil alis, dan diberi sedikit sentuhan blush on di kedua pipi, ditambah lipstick senada di bibir agar mereka tidak terlihat pucat. Itu semua dilakukan agar mereka yang sudah tertidur untuk selama-lamanya, terkesan hanya tidur sementara. Bu Marni memperlakukan Christie seperti anak kandungnya sendiri.  Christie diperlakukan dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.

“Dulu, saya punya anak perempuan. Kalau dia masih hidup, umurnya udah 13 tahun. Kemarin hari ulangtahunnya. Anak saya, Joce. Dia meninggal karena sakit TBC. Dulu saya tidak bisa apa-apa. Itulah yang menyebabkan Joce pergi meninggalkan saya untuk selamanya.” Ungkapnya.

Bu Marni pernah lama terlarut dalam kesedihan, dan penyesalan. Hingga akhirnya beliau sadar, semua yang telah terjadi tidak perlu ada yang di sesali. Karena apa yang telah digariskan Tuhan, itulah yang terbaik.

“Saya yang mengurus semua prosesi pemakaman anak saya. Mulai dari awal hingga akhir. Memandikannya, merias, memberi gaun terindah, dan menguburkannya. Hanya itulah kebahagian duniawi terakhir yang saya berikan untuk Joce.” Ujar bu Marni sambil terisak.

Ketika Joce selesai dimakamkan, Joce hadir di mimpi ibunya, Bu Marni. Di dalam mimpi bu Marni, joce tersenyum dan berkata “Terimakasih ibu, aku cantik karena ibu, aku tenang karena ibu, aku bahagia karena ibu, dan akan selalu bahagia untuk ibu” sambil melambai-lambaikan tangan kemudian pergi. Sejak saat itulah bu Marni ingin memberikan setitik kebahagiaan bagi siapapun, termasuk klien-kliennya.

Setelah selesai dirias, Christie dimasukkan kedalam peti dan dibawa pulang oleh keluarganya. “ini memang pertemuan yang sangat singkat. Tapi saya merasa dekat. Seperti sudah mengenalnya dua tahun.” Ujar bu Marni sambil melihat peti itu di angkut ke dalam ambulance

Ngiungg… Ngiunggg… Ngiunggg… Ngiunggg.. ibu Marni baru akan masuk setelah bunyi sirine mobil ambulance itu benar-benar hilang.

“Satu lagi!” ujar bu Marni bersemangat.

Berbeda dari klien yang pertama. kliennya yang satu ini jauh lebih tua, kurang lebih 55 tahun lebih tua dari Christie. Bu Marni harus extra hati-hati. Khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

 Bu Marni dibantu dengan tiga orang pria memindahkan nenek Jesi ke tempat ia akan dimandikan.  Hal sama pun dilakukan bu Marni. Mulai dari menyabuni seluruh tubuh nenek ini, memberi shampoo dan conditioner pada rambutnya,  mengeringkan, lalu meriasnya. Semua bu Marni lakukan secara perlahan. Karena diumurnya yang sudah sangat tua, tubuhnya  sudah sangat rapuh.

Tubuhnya terbujur kaku, suhu tubuhnya pun sangat dingin. Nenek ini meninggal hanya karena umurnya saja yang sudah sangat tua. Bukan karena sakit, atau karena kecelakaan.

“Kemarin istri saya baik-baik saja. Masih masak buat malem saya makan. Tau-tau pas pagi saya bangunin udah gak bisa bangun lagi” kenang suami Jesi sambil menangis.

“Sabar toh pak, umur memang gak ada yang tahu. Ncik Jesi aja sudah tesenyum. Masa bapak mau terus-terusan menangis?” hibur bu Marni.

Sudah 13 tahun bu Marni menjadi seorang perias mayat. Ribuan klien Ia layani semaksimal mungkin. Keluarga dari klien-klien merasa sangat puas dengan pekerjaan yang bu Marni lakukan. Bahkan seringkali kliennya datang hanya untuk sekedar berterimakasih. Ada yang datang lewat mimpi, ada juga yang datang langsung datang di hadapan bu Marni.

“awalnya saya takut sekali jika mereka datang. Namun setelah saya piker-pikir lagi kenapa harus takut? Toh saya hanya melakukan kebaikan tanpa maksud apa-apa. Saya tidak berbuat jahat, mereka juga pasti tidak akan berbuat jahat pada saya. Tinggal di dunia yang berbeda tapi harus menghormati satu sama lain. Itu saja.”

Bu Marni kembali merias wajah bu Jesi. Alisnya, mata, pipi, bibir, tidak ada yang luput dari perhatiannya. Suaminya masih terus memperhatikan wajah istrinya, sesekali tersenyum lalu menitikkan air mata.

“Ncik.. Suaminya terpesona tuh, katanya ncik cantik sekali. Ncik yang tenang ya disana, bahagia. Biar suami ncik juga bahagia nih. Tuh liat, suaminya senyum-senyum tapi masih netesin airmata aja. Lucu ya ncik si bapak” ujar bu Marni pada Suami kliennya sambil tertawa kecil.

Setelah semuanya selesai, bu Marni merapikan kembali rambut bu Jesi. Lalu dimasukan ke dalam peti yang sudah disiapkan keluarganya. Dan membiarkan ibu Jesi dibawa pergi oleh keluarganya.

Sebelum pergi suami bu Jesi menghampiri bu Marni yang sedang menutup peti. “Terimakasih bu, kini saya rela istri saya pergi. Tadi dia tersenyum, pasti dia bahagia. Dia sangat cantik bu, sama seperti dulu ketika dia masih muda” ujar suami bu Marni sambil tersenyum lalu masuk ke dalam ambulance.

 Cantik itu relative. Semua pasti mempunyai penilaian yang berbeda. Untuk itu bu Marni selalu menanyakan kepada keluarga atau kerabat mengenai gaya kliennya semasa hidupnya. Bagaimana cara ia berdandan, bagaimana cara berpakaian, bagaimana cara ia menata rambutnya, dan sebagainya. Karena itulah yang bisa menuntun bu Marni untuk merias kliennya seperti biasanya, seperti gambaran dirinya sendiri. Bukan gambaran bu Marni atau siapapun.

“Kita datang secara alami, polos, kemudian kita memilih ‘gaya’ yang cocok untuk diri kita sendiri, lalu menjadikan itu sebuah ciri khas diri. lalu biarkan orang seperti saya mengantarkan mereka pulang dengan jati diri yang sama, sebagaimana mereka biasanya. Agar mereka bisa merasakan sebuah kebahagiaan kecil yang sama dengan menjadi diri sendiri” ujar bu Marni

“Mereka memang hanya mayat. Namun, mereka juga tetap ingin tampil cantik agar orang-orang disekitarnya tidak bersedih.” tambahnya

“Aku hanya bisa menghantarkan mereka dengan sebuah doa. Pergilah dengan tenang, semoga kalian mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Tak perlu datang untuk berterimakasih. Temui saja Tuhan….” Tambahnya sambil meng-’amin’kan.

karya: Nadina Sabilla (11140110139)

Aside | This entry was posted in Profil. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s