TITIK TEMU

03

Oleh Merry

‘Wanita’ paruh baya itu sedang duduk di depan salah satu warung makan. Entah apa yang dia lakukan. Dengan pakaian rapih dan juga terlihat make-up tebal di wajahnya dengan rambut diikat. Baju biru dengan motif bunga  terlihat menutupi tubuhnya yang kurus tetapi agak berotot itu.

Debar jantung mulai terasa cepat ketika melewati jalan ini, rindangnya pepohonan menambah kecemasan akan ada hal lain yang menunggu yang tidak bukan adalah ‘penghuni’ jalan, yang berdiri sepanjang jalan menyapa para pengguna jalan yang melintas. Menjadikan Jalan Latuharhary sebuah jalan yang seakan tanpa akhir. Jalan yang cukup luas dengan latar belakang rumah mewah ini memang membuat pengguna jalan yang melintas merasa ingin cepat-cepat melewati jalan tersebut. Bukan karena angker ataupun ada setannya. Tetapi, karena ‘penghuni’nya.

Jalan Latuharhary di malam hari memang sedikit menakutkan. Dengan penerangan yang minim, dan banyaknya ‘penghuni’ yang adalah waria. Mereka berdiri di sepanjang trotoar jalan tersebut. Taman Lawang yang terletak di Jalan Latuharhary ini, sangat terkenal dengan salah satu komunitas pekerjanya yaitu PSK atau Pekerja Seks Komersial. Tidak hanya itu, PSK yang berada di sini, tentunya akan berbeda dengan PSK normal lainnya. PSK yang lazimnya adalah seorang wanita di sini bukan lagi wanita biasa melainkan “Wanita transgender”. Jadi, para ‘wanita’ tersebut, pada awalnya adalah laki-laki atau mereka dilahirkan dengan kelamin dan tubuh laki-laki, tetapi jiwa mereka adalah perempuan sehingga keputusan untuk transgender dan menjadi waria atau wanita pria tidak bisa terbendung.

Bagi sebagian orang menjadi seorang pekerja seks komersial bukanlah mudah mengingat agama yang melarang keras adanya perzinahan. Tetapi, bagaimana dengan mereka yang memang terpaksa? Terpaksa melakukannya demi mendapatkan uang. Di Jakarta sendiri, banyak yang bilang bahwa Jakarta adalah tempat dimana kita bisa memenuhi keinginan kita. Apakah itu benar?

Banyak dari warga Jakarta yang pastinya adalah perantau yang berasal dari berbagai daerah. Mereka bersama-sama datang ke Jakarta untuk mengadu nasib. Mungkin, ada yang berhasil namun ada juga yang gagal. Mereka yang berhasil pastinya memiliki kemampuan sehingga bisa bekerja. Lain halnya dengan mereka yang tidak mempunyai kemampuan sama sekali, persaingan yang ketat mungkin saja menyingkirkan mereka menjadikan mereka tinggal di bawah jembatan dengan mencari uang di lampu merah, mengemis dan mengamen.

Orang perantau tersebut tentunya belum mengetahui secara jelas mengenai kota Jakarta ini. Mereka hanya dipengaruhi dengan pemberitaan yang ada di media. Itulah yang membuat mereka penasaran dan ingin mencoba keberuntungan mereka di sini, di Jakarta. Tidak hanya dari pemberitaan di media yang selalu menampilkan bahwa Jakarta adalah kota yang ‘wah’ dengan segala yang ada, tetapi ada pula dukungan dari orang di sekitarnya yang membuat mereka selalu berani untuk mengadu nasib di Jakarta.

Pekerja Seks Komersial, merupakan salah satu pekerjaan yang acap kali menjadi suatu pilihan terakhir dari seorang perantau yang malu terhadap keluarga di kampung, apabila pulang tidak membawa banyak uang, seperti yang sudah dibayangkan. PSK menjadikan bayangan itu menjadi kenyataan palsu nan sementara untuk menutupi rasa malu sang perantau. Walaupun bekerja menjadi PSK selalu di pandang sebelah mata oleh masyarakat, pada umumnya dan tak jarang PSK dianggap menjadi sampah masyarakat. Masih banyak orang yang ingin menjadi PSK dengan alasan klasik yaitu ekonomi. Mereka yang awalnya hanya coba-coba, banyak yang terjerumus dan hanyut dalam nikmatnya uang instan yang didapat dari pekerjaan ini.

“Saya kerja begini udah 15 tahun,” ujar salah satu waria yang berada di Taman Lawang.

Para waria yang menjajakan diri di sini berusia mulai dari belasan hingga ada yang sudah kepala empat. Mereka menarik para lelaki hidung belang yang melintas dengan memamerkan lekuk tubuhnya dengan pakaian minim dan seksi.

Waria di Jakarta sendiri sering kali mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan, dikarenakan anggapan masyarakat bahwa waria adalah sesuatu menyimpang baik secara norma maupun agama. Padahal waria itu sama dengan kita semua. Hanya saja, pada umumnya kita hanya mengenal dan mengakui dua kelamin yaitu laki-laki dan perempuan, serta identitas gender yaitu maskulin dan feminim. Itulah yang membuat para waria, laki-laki yang berjiwa dan bernaluri perempuan ini selalu dipandang sebelah mata, karena di anggap manusia “abnormal”.

Indonesia seharusnya melegalkan itu dalam hukum, agar semua waria dapat mendapatkan hak dan kewajiban mereka. Bahkan di negara tertentu, seperti Thailand, gender waria sudah diakui oleh negaranya, dan menjadi sebuah hiburan untuk turis maupun masyarakat lokal. Banyak dari masyarakat sendiri yang selalu meremehkan atau selalu menganggap kalau waria adalah tidak sama dengan manusia normal. Dan waria selalu dianggap menyimpang dari norma hukum, budaya, dan agama.

Tidak semua waria bisa dipandang sebelah mata, setelah berbicara dan saling bertukar pikiran dengan salah seorang waria, saya mendapat kejutan dari jawaban dari pemikirannya yang selalu saja mempunyai tekat dan cita-cita mulia. Walaupun dengan keadaan yang sekarang ini, tinggal di sebuah kontrakan di pinggiran Jakarta yang hanya berukur 2 x 3. Kontrakannya memang sangat kecil, tetapi sempat membuat saya kembali terkejut dengan isi kontrakan tersbut. Ada TV LCD 32”,  lemari es satu pintu, dan yang paling mengejutkan adalah adanya kaligrafi Bahasa Arab yang dibingkai bergantung manis di dinding berwarna pink itu. Walaupun dia mengaku bahwa barang elektronik itu masih menyicil.

Berbeda dengan kontrakan temannya yang bersebelahan dengan kontrakannya. Dimana kontrakan temannya yang berukuran kurang lebih sama dengan kontrakannya, tetapi isinya tidak seperti di kamarnya. Hanya kasur, lemari pakaian dan TV kecil yang terlihat sudah jadul. Kontrakannya dempet dengan kontrakan temannya, sehingga kita masuk ke sana dengan melewati pintu kontrakan temannya itu.

“Biarpun aku begini. Aku tetep bersyukur. Alhamdulilah. Bisa bantu keluarga aku yang susah, bisa negbahagiain kedua orang tuaku,” tutur waria itu sambil menyuguhkan minuman.

Dengan penghasilan yang tak menentu,  dia selalu bersyukur. Penghasilan yang didapat pun tergantung dari banyaknya pelanggan yang menginginkan jasanya. Harga yang dia tawarkan juga berbeda-beda. Mulai dari yang naik motor Rp50.000,- ; naik mobil sekitar Rp100.000,- sampai Rp200.000,- . Dia juga mengaku, pernah dibawa hingga ke luar negeri, tentu saja dengan harga yang berbeda.

Yudi, adalah nama asli dari salah satu waria yang berada di Taman Lawang itu. Dia tinggal ditengah warga pada umumnya. Jadi yang tinggal di kampung tersebut, hanya dia dan temannya saja yang waria, sebelah-sebelahnya adalah warga biasa.

Yudi atau yang dikenal dengan temannya dengan nama Yola ini sudah bekerja selama 15 tahun sebagai Pekerja Seks. Dia mengaku, mulai merasakan naluri wanita ini sejak dia masih duduk di bangku sekolah dasar.

“Aku ngerasa kaya gini tuh pas masih kecil. Dulu pas SD aku dipakein celana sama orang tuaku, tetapi naluri aku tuh cewe banget,” ungkapnya.

Merasa nalurinya untuk menjadi seorang perempuan, Yola pun merubah dirinya menjadi perempuan dan mengaku sudah mempunyai kekasih. Ketika di Tanya perihal foto pria yang di gantung di kontrakannya dia menjawab dengan malu-malu dan mengakuinya.

Terlihat sebagai seorang waria, nampaknya Yola sangat sayang sekali kepada kedua orang tuanya. Sampai sekarang pun dia mengaku, bahwa kedua orang tuanya masih ada dan sehat. Tak hanya itu saja, bukti kasih sayang terhadap kedua orang tuanya, walaupun ditengah kesulitan ekonomi dia masih mengirimkan uang setiap bulannya untuk keluarganya di kampung.

“Yah, cukup gak cukup harus di cukup-cukupin. Kan aku juga banyak kebutuhannya, bayar kontrakan, beli make-up. Ini aja make-up nya yang murah-murah.”

Selama bekerja sebagai pekerja seks, Yola juga belajar bahasa kaum waria. Dalam bahasa waria, bekerja adalah mejeng. Jadi jika mereka berbicara dengan sesama waria, bahasa gaul warianya keluar dan bagi kaum adam mungkin agak sulit dimengerti

Capung ekikot mo mekong,” katanya sambil tertawa lepas.

Pekerja seks komersial sangat rentan terhadap penyakit, khususnya penyakit kelamin. Penyakit yang menular dalam hubungan seksual, dikarenakan seringnya berganti pasangan. Penyakit HIV/AIDS identik dengan pekerja seks dalam hal ini waria. Penyakit menular dan mematikan ini, selalu membuat semua orang takut dan cemas akan bahayanya. Penyakit yang disebabkan oleh virus ini, di Indonesia sendiri tidak kurang dari 30 orang terinfeksi HIV/AIDS. Resiko penularan sendiri berasal dari, heteroseksual (58,7%), Injecting Drug Users (17,5%), penularan perinatal (2,7%), dan homoseksual (2.3%). Data tersebut per 4 April 2013.

Rata-rata waria bekerja sebagai pekerja seks, ketakutan akan virus mematikan ini menjadikan beberapa waria di Taman Lawang menggunakan pengaman. Salah satunya adalah Yola. Dia mengaku selalu menggunakan kondom pada saat ingin memenuhi keinginan pelanggannya. Di kontrakannya juga tersedia, karena kadang dia membawa pelanggannya ke sana atau sesuai dengan keinginan sih pelanggan.

“Oh iya dong, aku pake setiap kali sama pelanggan. Biar aman dan gak kena penyakit menular. Kan takut tuh.”

Ketakutan yang dimiliki oleh para waria tidak hanya soal penyakit menular yang mematikan, melainkan mereka juga memiliki kemungkinan memiliki trauma khusus karena perubahan kelamin dan prilaku menyesuaikan gender yang dipilih.

“Dari segi fisik dan psikis akan berubah total menjadi yang bukan mereka. Dari segi penampilan dituntut tampil sebagai perempuan, menyembunyikan atau menghilangkan otot mereka, mengganti suara, bahkan ada yang suntik implant payudara,” kata wanita yang melanjutkan S2-nya di Universitas Indonesia ini.

“Dari psikis mungkin mereka akan ada perasaan insecure, karena banyak pihak yang mencibir dan memandang sebelah mata, belum lagi korban pelecahan atau penganiayaan fisik maupun verbal dari lingkungan sekitar yang menganggap hal tersbut menyimpang,” tambahnya

Ternyata tidak berhenti sampai dicibir dan dihina, dibuang orang, ditinggal orang, bahkan sampai di todong saat dinas. Itu semua dirasakan oleh waria yang satu ini. Mulai dari mencoba-coba untuk bekerja, tetapi kenyataannya mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakan.

“Ditinggal di Cinere. Yah gitulah, kali-kali dia disakitin sama temen aku, ada masalah sama dia, tapi imbasnya kena ke aku,” kata Yola dan kemudian hening sesaat. “Kalo di todong itu, aku dibawanya. Terus, enggak tau menau main todong aja dianya,” tambahnya.

Tidak adanya hukum yang melindungi mereka, menjadikan mereka bulan-bulanan bagi orang yang tidak bertanggung jawab menghina dan merendahkan mereka.

“Karena mereka berbeda dari masyarakat pada umumnya, lebih tepatnya melanggar norma yang berlaku di negara tertentu, termasuk Indonesia. Apalagi kita negara beragama dimana hal tersebut bertentangan dengan takdir atau kuasa Tuhan. Jadi, dirasa itu penyimpangan gender yang masuk kategori abnormal,” ucap Metta Sylvana yang menyelesaikan S-1 Ilmu Psikologinya di Universitas Pelita Harapan.

Tindakan yang tidak mengenakan seolah menjadi teman di tengah gelapnya malam yang selalu ada dan menghiasi perjalanannya selama 15 tahun bekerja sebagai Pekerja Seks. Hal tidak mengenakan itu selalu menjadi pelajaran buat dirinya. Bagi sebagian orang, waria mungkin wajar dan layak untuk dibersihkan oleh Trantib ataupun Satpol PP. dan bagi waria itu sendiri memang sudah biasa. Menurut mereka, perlakuan seperti itu sudah menjadi bagian hidup yang harus dijalani oleh seorang waria, hanya bisa menerima dan menerima karena tidak ada pilihan. Walaupun harus lari-lari, untuk kabur agar tidak tertangkap, tetapi itu semua mereka lakukan.

“Pernah di kejar Pron, di kejar Kantib. Yah kita masuk ke warga. Di sana kita di binalah, ada promnikasi warianya. Paling kita kalo di situ, kalo ada kegaiatan empat hari, tapi kalo gak ada kegiatan satu hari, di tebus sama ketua kita, gitu,” ujar Yola yang mengaku ‘Mami’nya hanya seminggu sekali mengunjunginya.

“Dulu mah sering ketangkep, kalo sekarang jangan sampai deh,” ujarnya sambil tertawa.

Tidak hanya mendapatkan binaan saja, tetapi Yudi atau nama warianya adalah Yola ini, berbicara jika di waria itu ada Promnikasi warianya yang dimana , waria itu mendapat kartu identitas sebagai waria, jadi waria itu tidak dianggap gelap setidaknya di kalangan sesama waria.

Ada pula kegiatan yang dia terima adalah kegiatan seperti seminar dan penyuluhan yang sangat di butuhkan oleh para pekerja seks. Dalam komunitasnya itu, sering di adakan seminar-seminar tentang berbagai hal. Seminar-seminar yang diadakan diharapkan akan menambah pengetahuan para waria tersebut mengenai penyakit berbahaya yang ada

“Seminar. Seminar tentang alat kecantikan, ada juga yang membahas HIV penyakit.”

Jika disuruh memilih, waria itu pasti tidak ingin bekerja seperti ini, tetapi semua karena faktor ekonomi yang membelit. Semua orang membutuhkan uang, sehingga waria itu berpikir dengan kondisinya yang seperti itu pekerjaan yang dia bisa hanya sebagai pekerja seks, memuaskan para lelaki hidung belang. Namun tidak jarang ada waria yang memang sudah terhanyut dan menikmati pekerjaanya.

“Selain segi financial, bisa dari social learning (lingkungan waria yang akan mempengaruhi non-waria menjadi waria) atau kenyaman diri sendiri, kepuasan diri sendiri. Mereka memiliki gender identitiy disorder yang udah termasuk perilaku menyimpang,” tutur Metta Sylvana yang sekarang berumur 24 tahun.

Waria juga sering dianggap sebagai sosok yang menakutkan. Konon katanya, kekuatan waria lebih kuat dibandingkan kekuatan laki-laki normal lainnya. Tidak hanya itu, waria yang ada di Taman Lawang juga, kadang-kadang meresahkan pengguna jalan dengan perilaku mereka. Perilaku anarkis, ataupun bergoyang di jalanan dengan musik yang volumenya cukup besar dan tidak jarang dengan tanpa busana.

Semua pilihan tergantung dari diri mereka masing-masing. Yola selalu saja ingin beralih profesi, tidak lagi seperti ini. Walaupun, kedua orang tuanya menerima dia dengan kondisinya sekarang, tetap saja ada resiko yang dia hadapi, baik penyakit, pandangan masyarakat, maupun kekerasan yang ia terima.

“Yah, sebenarnya kepingin banget, pingin merubah nasib gitu,” ucapnya dengan nada rendah.

“Tergantung kitanya juga, kalo kita kepingin kita jangan balik lagi begini. Makanya ikutin aja ibarat air mengalir dulu. Bagaimana. Sampai dimana dia,” tutur Yola sambil menutup pembicaraan.

Banyak pelajaran yang di dapat dari seorang yang selalu dipandang sebelah mata, yang selalu dianggap remeh oleh sebagian orang, yang selalu dianggap kotor karena pekerjaannya. Tidak semua waria pantas mendapatkan ejekan, waria juga sama seperti manusia normal lainnya. Yang membedakannya hanya statusnya sosialnya ‘Waria’.

This entry was posted in Profil and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s