‘Saya kuliah di subsidi oleh rakyat, maka itu saya harus berjuang untuk rakyat’

‘Saya kuliah di subsidi oleh rakyat, maka itu saya harus berjuang untuk rakyat’

Oleh : David Jonathan – 11140110116

Minggu lalu kami ke makam, langit cerah di sore hari, beberapa masyarakat lain terlihat juga turut datang membersihkan makam keluarganya. Dikala senja ibu duduk termenung, melihat tiang dan bendera merah putih, ciri khas Republik Indonesia yang berdiri tegap di makam anaknya. Mengenang peristiwa terakhir kali ia melihat anaknya. Terpahat kalimat yang berbunyi “Saya kuliah di UI di subsidi oleh rakyat, maka itu saya harus berjuang untuk rakyat” di batu nisan makamnya.

“Negara telah melupakan anak saya,  sampai hari ini tidak ada jawaban pasti siapa dalang dibelakang skenario ini. Bantuan hukum, penghargaan, kompensasi, duit sepeser pun tidak ada yang kami terima dari pemerintah” Ho Kim Ngo Ibunda Yun Hap.

Image

Indonesia saat itu masih dalam masa-masa kelabu dan sulit. Setelah lengsernya Presiden Soeharto, lalu tidak langsung merdeka bebas (orde baru), tetapi masih dalam kondisi masa transisi yang sangat sulit. Kepemerintahan dilanjutkan oleh B. J. Habibie, sebagai presiden yang sebelumnya menjadi wakil Soeharto. Tidak sedikit masyarakat dan mahasiswa yang lalu menentang kepemerintahan B. J. Habibie, menuntut harus segera diganti presidennya. Waktu itu tanggal 23 September 1999 dimana mahasiswa se-Indonesia bersatu berdemo dan bergerak bersama untuk mengagalkan pengesahan rancangan UU Penanggulan Keadaan Bahaya (PKB) dimana isinya menurut banyak kalangan sangat memberikan keleluasaan kepada militer untuk melakukan keadaan negara sesuai kepentingan militer. Secara tidak langsung kebijakan ini memberikan kapasitas dan pintu yang lebih lebar kepada militer untuk melawan, seperti kejadian 1 tahun sebelumnya tragedi mei 98. Sehingga dikahwatirkan akan semakin banyak korban mahasiswa yang berjatuhan ketika melakukan aksi unjuk rasa.

Hari itu Yun Hap berpamitan untuk kegiatan rutinitas kampus pada tangal 22 September 1999. Memang ada wacana ia akan ikut turun berdemo, ia hari itu mengenakan kaus putih layknya anak muda, dengan celana jeans. Ia seorang teknik electro yang cemerlang, ini ditunjukan dari hasil belajarnya yang mampu membuat ia layak menerima beasiswa dari Universitas Indonesia. Selain itu menjadi suatu kebanggan tersendiri bagi Yun Hap yang bisa menembus Universitas Negeri, dengan menyandang etnis Tiong Hua. Ia lah orang satu-satunya keturunan Tiong Hua yang saat itu menerima beasiswa 100 persen dari UI.

Di malam harinya Yun Hap mengabarkan kepada keluarga dirumah, bahwa ia belum bisa pulang berhubung jalanan ramai, banyak yang di tutup dan resiko yang sangat besar. Tanggal 23 nya lalu disusul ia akhirnya sempat pulang krumah, untuk mandi, makan dan berberes diri. Tanggal 24 paginya ia melakukan aktivitas rutinannya. Agenda hari itu ialah belajar bersama temannya di kampus. Tetapi beliau tidak mengatakan bahwa akan ada aksi turun jalan. Hari itu memang menjadi hari penentu keputusan rancangan UU PKB tersebut disahkan atau tidak. Menjelang sore Yun Yie, adik kandung Yun Hap mengintai bentrokan dari jembatan penyeberangan semanggi. Hingga pukul 7 malam Yun Yie pulang ke rumah.

Image

Namun Yun Hap masih di jalan raya, dimana terdengar kabar bahwa keputusannya UU PKB tidak jadi disahkan alias batal. Seruan dan teriakan merdeka memenuhi jalan – jalan yang mereka lalui. Tiba-tiba sekitar pukul 8 malamnya sepanjang jalan semanggi di kedua arah padam listrik sehingga jalan tersebut gelap gulita. Serangan dan gerakan tentara menyerbu tiada angin tiada topan, disaat mahasiswa sudah mulai berpulang dengan sukacita. Tentara-tentara ini menggunakan mobil dan berada pada jalur yang berlawanan arah di kedua arah baik itu semanggi menuju grogol dan sebaliknya. Tembakan demi tembakan di lontarkan sepanjang jalan itu seakan aparat membabi buta dalam penyerangannya. Kondisi yang gelap gulita dan serangan mendadak membuat Yun Hap tidak bisa bergerak bebas. tepatnya di depan Universitas Katolik Atma jaya Yun Hap ditemukan dalam kondisi sekarat, setelah 2 jalan semenjak serangan tersebut. Keterlambatan penanganan medis akhirnya membuat Yun Hap harus mengahiri nafasnya di dalam ambulance menuju RSCM. Banyak suara yang mengatakan bahwa Yun Hap terkena peluru nyasar dikarenakan ia melindungi seorang pengamen anak kecil yang tengah duduk dipinggir jalan. Meskipun bgtu pengamen ini tetap terkena peluru nyasar di bagian paru-parunya. Tetapi keberuntunganlah yang ia dapatkan, karena ia masih hidup sampai hari ini. menurut pengakuan keluarga Yun Hap, pengamen ini sering mendatangi makam Yun Hap untuk merawat makam Yun Hap, sekligus membantu Kel. Yun Hap.

Sekitar pukul 11 setengah 12 malam terdengar suara dering telepon rumah. Kabar dukacita menyelimuti keluarga, ayahnya segera bergegas ke RSCM (Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo) bersama Yun Yie, untuk memastikan bahwa anaknya telah berpulang. Sesampainya di RSCM, di leher korban terdapat jaitan yang merupakan bekas diambilnya sisa peluru yang tersangkut di lehernya. Yun Hap terkena peluru bertipe ss1 yang biasa digunakan untuk menembaki Tank, masuk dari punggung kiri belakang hingga tersangkut di bagian depan terggorokan (Leher).

Naas dan sangat disayangkan anak kelahiran Pangkal Pinang ini meninggalkan keluarganya sebelum ia lulus kuliah. Satu semester lagi ia akan lulus tetapi lalu berhenti dan berpulang. Kedatangan Ibu bersama ke 2 anaknya kali ini sekaligus juga mengunjungi makam bapak, yang sudah satu tahun berpulang. Ayahanda Yun Hap meninggal pada tanggal 15 septermber 2012 yang lalu. Selisih beberapa hari dengan tanggal berpulangnya Yun Hap.

Image

Yang menarik keluarga Yun Hap sampai hari ni tidak ada mengeluarkan uang sedikit pun untuk masalah peti mati, tanah tempat pemakaman, biaya rumah duka dan rumah sakit. Semuanya berjalan begitu saja, dan mengalir. Bahkan keluarganya mendapatkan sebuah rumah, dari para simpatisan selang 2 tahun dari kejadian itu. Saat-saat dirumah duka pun sama, 3 ruang dibuka karena saking ramainya para masyarakat berdatangan. Baik itu warga Etnis Tiong Hoa dan muslim.

Pria kelahiran 17 Oktober 1977, seorang yang idealismenya tinggi. Di rumah ketika ia bilang A maka akan terjadilah A, ketegasan dan idealisme ini yang membuat anak ini disukai oleh teman-teman sperjuanganya. Ia pun pernah berpesan sebelum kejadian ini yaitu, ia minta namanya untuk dijadikan nama jalan disuatu jalan, ini diungkapkan Yun Hap kepada teman-temanya.

Satu hal yang membuat keluarga tetap bisa bertahan dan tegar yaitu keikhalasan dan kebesaran hati dari ibunda dan kedua adik kandung Yun Hap. Mereka mengaku, jika diturut emosi dan jiwa, maka tidak akan pernah selesai masalah ini. banyak bantuan datang dari Komnas Ham, tetapi itu semua tidak terlalu membantu. Bahkan pemerintah yang sehrusnya melayani dan bertanggung jawab atas keputusan yang dibuat malah menjadi resisten kepada pihak korban. Keluarga menyadari bahwa etnis Tiong Hoa masih dipandang sebelah mata di negara ini, sehingga percuma saja kita menuntu ksana kemari, yang ada lelah fisik.

Satu-satunya yang menjadi jalur bagi keluarga untuk terus mengenangkan Yun Hap kepada masyarakat yaitu melalui kamisan. Yang diadakan di Monas setiap kamis. Mereka sadar kerusuhan Mei 98 lebih mengerikan, dan sampai hari ini belum terungkap siapa dalangnya. Lalu apa lagi ini tragedi semanggi 2 tahun 1999.

Beberapa penghargaan Yun Hap dapatkan yaitu dari Universitas Indonesia, yang memasukan namanya sebagai pejuang keadilan dan melawan tirani militerisme saat itu. Selain itu IP-PSMTI (Ikatan Pemuda – Paguyuban Sosial Marga Tiong Hoa Indonesia) memberikan kenangan pengahargaan dengan tulisan huruf mandarin. Selain itu beberapa program kunjungan ke makam Yun Hap.

Rumahnya cukup sederhana bertempatkan di Tanjung Duren Gang Manggis. Gang yang hanya selebar 3 meter ini tempat dimana Ibu dan Keluarga Yun Hap terus melanjutkan hidup dalam semangat dan visi misi kedepan yang lebih baik. Masa lalu tiada guna disesali, tetapi justru menjadi bahan motivasi bagi kita semua untuk kehidupan yang lebih baik. Meja makan berbentuk lonjong, terbuat dari kayu. Berlampukan TL, kini hanya tiga kursi yang dipakai. Ibu, adik Pria dan adik perempuan dari Yun Hap. Ayahanda meninggal karena penyakit hati yang sudah lama mengerogoti tubuhnya.

This entry was posted in Peristiwa. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s